Murid Aneh!

Murid Aneh!
Ch. 2 - Murid Terjujur


__ADS_3

Kami adalah sampah di tumpukan berlian.


Kata-kata itu barang kali tidak berlebihan, karena memang begitu adanya. Kami adalah murid-murid udik di antara murid-murid elit.


Sejak munculnya kutukan kami satu tahun lalu, pihak SMA Subarashii memang sudah merencanakan untuk memasukan kami ke kelas yang sama di sekolah ini. Kami diterima secara cuma-cuma. Bukan lewat jalur rapot atau ujian tulis, melainkan lewat jalur kutukan.


Kami bahkan diberi beasiswa sampai lulus, diberi uang sewa tempat tinggal, juga mendapat jatah uang jajan setiap bulannya.


Hal ini membuat murid-murid kelas lain iri dengki, dan tidak mau mengakui keberadaan Kelas 1-F.


...×××...


Bicara soal anggota kelas yang bobrok, aku akan menceritakan salah seorang murid yang ada di sini, namanya Hoshi.


Hoshi punya kebiasaan buruk yang sangat melanggar etika murid SMA Subarashii, yaitu sering datang terlambat.


Terlambat lima atau sepuluh menit masih bisa dimengerti, tapi yang dilakukan Hoshi benar-benar keterlaluan. Pelajaran dimulai jam sembilan, Hoshi baru datang jam empat.


Baru masuk langsung piket.


Jika menurut peraturan yang ada di sekolah ini, Hoshi seharusnya sudah dikeluarkan karena sudah terlambat lebih dari tiga kali. Untungnya murid kelas kami lebih ditolerir oleh kepala sekolah.


Katanya. "Mereka murid-murid terbelakang, tidak usah dipikirkan."


Pagi ini pun, Hoshi terlambat lagi. Waktu sudah menunjukkan jam sepuluh, tetapi dia baru masuk.


Guru kimia yang sedang mengajar marah besar padanya.


"Kenapa kau terlambat?!"

__ADS_1


"Maaf Sensei, tadi saya jatuh ke selokan." Kepala Hoshi bersinar.


"Bohong!"


"Maksudnya tadi ada buaya lepas di dekat rumah, saya tidak bisa keluar." Kepala Hoshi kembali bersinar.


"Bohong!"


"Tadi rumah saya kebakaran!" Kepala Hoshi semakin bersinar.


"Bohong!"


"Maaf, Sensei, saya telat bangun." Kali ini kepala Hoshi tidak bersinar.


"Kau ini, ya. Sudah berapa kali kau terlambat? Pergi sana ke ruang BK!"


"Saya ke sini karena diusir dari ruang BK."


Biar aku jelaskan.


Hoshi memiliki sebuah kutukan. Jika dia berkata bohong, kepalanya akan langsung bersinar.


Apa pun yang dia katakan, selama itu bukan sebuah kebenaran, maka kepalanya akan bersinar. Itulah mengapa Kaga-sensei bisa tahu jika Hoshi sedang berbohong.


Aku benar-benar kasihan pada anak itu. Tidak membuat kebohongan itu adalah hal yang sulit.


Misal kau diam-diam mencontek saat ujian, lalu guru bertanya padamu.


"Apa kau mencontek?"

__ADS_1


Murid normal pasti akan menjawab "kAmu NanYea" dan akan aman dari tuduhan.


Sedangkan Hoshi, meskipun berbohong, pasti akan ketahuan.


"Hoshi, apa kau mencontek?"


"Tidak." Kepalanya bersinar.


...×××...


Meskipun bagi Hoshi merepotkan, tapi bagi kami kutukannya adalah berkah. Kami jadi tidak perlu takut pada Hoshi, karena dia akan selalu berkata jujur.


"Hoshi, kau punya pacar?"


"Tidak." Kepalanya tidak bersinar.


"Kau tidak mencuri pensil goyang warna biru favoritku, kan?"


"Tidak." Kepalanya tetap tidak bersinar.


Sungguh lega rasanya punya teman sejujur Hoshi. Aku tidak perlu takut dia menyembunyikan sesuatu dariku.


Apalagi, dia juga anak yang sangat baik. Dia sering membagi makanannya padaku.


"Erza, ambil roti ini, aku tidak menyukainya." Hoshi memberiku sebuah roti kemasan.


"Wah, serius? Lucky! Terima kasih, Hoshi." Aku mengambil roti itu dan segera memakannya.


Saat mengunyah, aku merasa roti yang kumakan rasanya agak aneh. Aku pun bertanya padanya.

__ADS_1


"Hoshi, roti ini belum kadaluarsa, kan?"


"Belum." Kepalanya bersinar.


__ADS_2