
(POV Erza Junisar)
Penghujung bulan ketujuh, ketika ujian semester pertama kulalui dengan susah payah, di pertengahan musim panas yang sangat terik, aku seharusnya istirahat di kos-kosan dan menikmati udara AC yang dingin.
Namun, yang kulakukan sekarang malah jalan-jalan di luar sembari menggendong Akemi yang sedang berada dalam wujud kucing. Aku bertemu dengannya sepulang dari supermarket, dan dia bilang ingin datang ke tempatku.
Aku hampir saja pulang, tapi Yurina tiba-tiba menelpon, memintaku untuk datang ke tempatnya. Dia bilang baru saja membeli buah semangka, dan tidak bisa menghabiskannya sendirian.
Aku yang hampir pulang dan membawa Akemi masuk ke kamar, mengganti rencana dan berbalik arah menuju tempat pemberhentian bis. Aku sebenarnya ingin menolak, tapi nanti Yurina pasti marah dan menerorku lewat telepon. Dia sudah seperti pacar galak saja, padahal kami hanya teman.
Di depan pintu apartemen Yurina yang mahal, aku memencet belnya, masih dalam keadaan menggendong Akemi. Dia tidak mau turun meski aku memaksanya. Kalau aku turunkan, dia akan merajuk, dan tidak mau berjalan.
"Haloo Erzaa...."
Saat Yurina membuka pintu, tubuh Akemi kembali ke wujud manusianya. Aku jadi menggendong Akemi yang asli sekarang, bukan Akemi dalam wujud kucingnya lagi.
Bukannya malu, Akemi malah melambaikan tangannya pada Yurina dengan wajah cueknya yang khas. Yurina yang awalnya tersenyum, menggeram padaku tanpa mengatakan apa-apa.
"Ka-kami datang...."
Ini bukan pertama kalinya Akemi berubah menjadi manusia ketika aku sedang menggendongnya. Sebelum ini juga pernah beberapa kali, tapi baru kali ini ada yang melihat, dan rasanya agak memalukan.
Akemi lalu turun sendiri, mengepruk-ngepruk pakaiannya sendiri. Dia sedang mengenakan gaun one piece warna putih, dan tidak mengenakan syal. Dia pasti berubah saat sedang bersantai di rumahnya.
"Akemi tidak boleh masuk. Saya hanya mengundang Erza," ucap Yurina.
"Kalau begitu, aku dan Erza balik lagi. Ayo Erza, kita pulang." Akemi menarik lengan kiriku.
"Hah? Tunggu!" Yurina menarik lengan kananku.
Aku ditarik dan diperebutkan oleh dua gadis sekaligus, sudah seperti tokoh protagonis anime saja.
"Aku yang ada acara duluan dengan Erza, akulah yang akan menghabiskan waktu dengan Erza," ucap Akemi.
"Apa?! Saya ini sahabat dekatnya, sayalah yang lebih pantas menghabiskan waktu dengan Erza!"
Aku lelah menghadapi mereka berdua. Tidak aneh melihat Yurina yang bersikap agresif begini, tapi Akemi, dia yang awalnya diam-diam, kini mulai sering perhatian juga. Dia sudah jelas menyukaiku meski tidak pernah mau mengatakannya.
Setelah lama berdebat, mereka pun akhirnya berdamai.
"Ya sudah, ayo kita habiskan waktu di sini. Akemi juga boleh ikut."
"Nah, begitu dong." Akemi tersenyum.
Saat aku masuk, kupikir hanya ada Yurina sendiri di dalam. Ternyata, di sana ada seorang gadis bule yang aku pernah lihat di sekolah, tapi tidak tahu namanya. Aku tak menduga dia ternyata berteman dengan Yurina.
"Halo Erza." Dia menyapa.
__ADS_1
"Kau tahu aku?"
"Tentu saja, Yurina sering cerita."
"Oh, kau ini...."
"Aku Christina Statzfeldt, murid Kelas 1-A. Salam kenal."
Aku merasa pernah mendengar namanya, tapi tidak ingat di mana.
Dia berganti menatap Akemi.
"Halo Yoshino Akemi, sebuah kehormatan bisa bertemu denganmu." Dia bersikap sopan, bahasa Jepangnya sangat lancar, jauh melebihi Yurina.
"Halo." Akemi membalas singkat.
"Sudah, sudah, ayo kita makan semangkanya, sudah aku potong." Yurina menaruh beberapa potong semangka di piring.
Kalau dipikir-pikir, aku ini sama sekali tidak punya teman yang berasal dari Kelas 1-A. Mereka terlalu memasang jarak, atau bahkan memandang rendah setiap kali melihatku. Jangankan bisa berteman, diakui sebagai rekan seangkatan saja sulit.
Tapi Christina terlihat berbeda dengan murid-murid Kelas 1-A yang lain. Dia begitu ramah. Apa mungkin dia akan jadi teman Kelas 1-A pertamaku?
Dengan penasaran, aku pun bertanya.
"Christina...."
"Anu, Tina... kenapa murid-murid Kelas 1-A selalu memandang rendah kami? Aku tahu mereka sekumpulan orang hebat dan terpilih, tapi, kalau sombong begitu...."
"Tidak semuanya begitu, kok," jawabnya. "Aku tidak begitu. Kaoru-kun juga tidak. Tapi kebanyakan memang begitu, terutama ketua kelas kami, Eguchi Kyouya."
"Kenapa bisa begitu?"
"Ya, soalnya, mereka dendam pada kalian, karena kalian telah merebut Jui-sensei. Itu alasan utamanya. Alasan lainnya, karena kalian murid-murid payah yang tidak punya keunggulan apapun dibanding murid-murid SMA Subarashii lainnya. Kalian tidak pintar, tidak berbakat, tidak kaya, lantas apa yang membuat kalian layak untuk bersekolah di sana? Ah, dan juga, kutukan kalian sering menimbulkan masalah bagi murid lain, itu sangat mengganggu mereka."
Christina menjelaskannya dengan gamblang.
Untuk alasan pertama dan kedua, aku masih bisa mengerti. Tapi, alasan ketiga? Itu hanya terjadi di bulan-bulan awal saja. Sekarang kutukan kami sudah jarang menimbulkan masalah lagi karena Akemi telah berhasil menemukan berbagai cara untuk mencegahnya aktif.
Namun, tetap saja, dipikir bagaimanapun, kami ini memang bukan murid biasa. Mereka pantas bersikap waspada.
"Dan juga, kalian dapat uang bulanan dari sekolah, kan? Hal itu juga membuat mereka sebal," tambah Christina.
"Jadi intinya mereka kecewa karena kami lebih dispesialkan?" Akemi ikut bicara.
"Begitulah." Christina memejamkan matanya. "Tapi, aku tidak berpikir begitu, kok. Kalian diperlakukan spesial, karena kalian memang orang spesial. Tidak ada loh murid di dunia ini yang punya kutukan selain kalian. Jadi, aku pikir, tidak seharusnya kalian dibenci. Toh, Yurina juga baik dan sering mentraktirku. Aku senang berteman dengannya."
Yurina langsung nyengir setelah dipuji oleh Christina. Dia ternyata berasal dari Canada. Masuk sekolah ini lewat jalur ujian tulis.
__ADS_1
"Siapa murid Kelas 1-F yang paling disukai?" tanya Yurina.
"Tentu saja Honma dan Teruaki. Mereka berdua seharusnya masuk kelas kami. Banyak yang menyayangkan karena keduanya memiliki kutukan. Terutama Teruaki, dia bahkan tidak bisa disentuh. Kasihan."
Siang itu, kami membicarakan banyak hal tentang Kelas F dan juga Kelas A. Setelah mendengar dari Christina, Kelas A itu ternyata memang berisi orang-orang spesial. Sekelompok generasi emas yang nantinya akan berpengaruh pada kehidupan sosial Jepang, terutama dalam bidang pendidikan.
"Aku berminat jadi duta besar Kanada untuk negara Jepang di masa depan. Aku suka budaya negara ini dan juga orang-orangnya."
Jadi duta besar? Tinggi sekali impiannya. Yang ada di benakku sekarang bahkan cuma lulus sekolah dan jadi pekerja kantoran biasa setelah lulus kuliah nanti.
Orang-orang berprestasi tinggi memang beda pemikirannya. Aku jadi penasaran dengan impian Akemi.
Aku langsung menoleh ke arahnya.
"Apa? Aku? Aku cuma ingin jadi istrimu."
"Heee?!!!" Aku terkaget, begitu pun dengan Yurina dan Christina.
"Tentu saja itu cuma bercanda. Aku sama sekali belum memikirkan masa depan." Akemi menjulurkan lidahnya.
Dia... benar-benar bisa bikin orang jantungan.
"Kalau Yurina apa?" Aku menatapnya.
"Saya ingin jadi dokter hewan, kan pernah bilang."
"Oh, iya, aku lupa."
"Kalau kau? Apa impianmu, Erza?" Akemi menatap ke arahku.
Ingin sekali kubalas leluconnya, dan bilang ingin jadi suaminya di masa depan. Tapi aku khawatir Akemi menanggapinya dengan serius.
Dan di sini juga ada Yurina, aku tidak mau memancing keributan.
"Aku... pokoknya lulus dulu, deh. Setelah itu kuliah di jurusan apapun yang bisa membuatku dapat pekerjaan di kantoran. Kurang lebih begitu."
Mereka menatap bosan, mungkin karena jawabanku terlalu biasa.
"Begitu, ya."
"Semoga berhasil."
"Cih, padahal aku mengharapkan jawaban yang lain."
Mereka bertiga memberi jawaban yang berbeda.
Liburan semester ini, aku memang memutuskan untuk tidak pulang ke Indonesia. Aku ingin menghabiskan waktu liburan di sini bersama teman-teman sekelas. Alasan itu juga yang membuat Yurina tidak pulang ke Rusia.
__ADS_1
Selain itu, aku ingin menikmati waktuku yang berharga, ketika aku sedang berada di mimpi yang indah ini. Suatu hari, ketika aku sudah beranjak dewasa dan disibukkan oleh pekerjaan, aku pasti akan merindukan hari-hari tenang seperti sekarang.