Murid Aneh!

Murid Aneh!
Ch. 52 - Toko Buku


__ADS_3

(POV Tamaki Hoshi)


Aku tahu, seharusnya aku tidak boleh menyukai Akemi. Tapi kenapa... kenapa aku selalu berdebar setiap kali melihatnya?


"Se-sedang cari buku apa?" Aku menyapa Akemi yang sedang berdiri di hadapan rak buku.


"Hoshi... aku sedang cari buku resep."


"Buku resep? Kau ingin belajar memasak?"


"Ya."


"Heee... ya sudah, semoga ketemu, ya."


"Hoshi, kau mau beli buku apa?" Perkataan Akemi menghentikan langkahku.


"Aku mau beli komik."


"Oh, begitu, ya sudah. Semoga ketemu juga."


"Y-ya."


Hanya bicara sesedikit itu saja sudah membuatku berbunga-bunga. Aku ternyata memang menyukai Akemi. Ah, sial, hari ini pun dia begitu cantik.


Sembari memilah-milih komik incaran, aku sesekali mengintip ke tempat Akemi. Melihatnya yang fokus mencari buku. Wajah fokusnya itu, benar-benar cantik.


Ah ya, Akemi memang gadis idamanku. Cewek berambut panjang yang dingin dan berotak genius. Daya tariknya begitu kuat.


Selain itu, tubuhnya juga langsing, kakinya ramping, dan bagian dadanya cukup menonjol. Gadis macam apa sebenarnya Akemi itu? Kenapa dia memiliki semua aspek yang aku sukai?


Ah, tapi di antara semua itu, yang paling aku sukai memang kepribadiannya. Akemi sangat keren dengan sifatnya yang pendiam itu. Definisi cool beauty. Aku tidak mengerti kenapa malah Sera yang lebih populer di sekolah.


"Hoshi, apa kau sudah mendapat komik incaranmu?"


Saat aku sedang memikirkannya, Akemi tiba-tiba ada di sebelahku, sudah mengambil buku yang dia inginkan.


"Ah, y-ya sudah dapat, tapi aku masih ingin lihat-lihat." Aku berkata jujur.


"Kalau begitu, aku duluan, ya."


"Ya."


Tak kusangka Akemi akan datang dan pamitan padaku. Mengingat sifatnya yang cuek, kupikir Akemi akan langsung pulang tanpa menyapaku terlebih dahulu.


Aku pun tak mau berlama-lama di sini. Setelah mendapat tiga volume komik incaranku, aku langsung pergi ke kasir, dan membayar semuanya.


Kupikir itu akan menjadi saat terakhirku bertemu Akemi hari ini, namun rupanya dia masih ada di tempat ini, duduk di kursi panjang dan menjilat-jilat sepotong es krim.


Meski berteduh, Akemi terlihat kepanasan. Setetes keringat mengucur dari sisi lehernya. Dia melepas syal merahnya sehingga aku dapat melihat tanda bintang besar yang selama ini selalu tersembunyi. Aku baru pertama kali melihatnya.


Tanpa mengatakan apa-apa, aku pun membeli es krim di mesin penjual otomatis, dan duduk di sebelahnya. Aku terlalu gugup untuk menyapa, jadi hanya diam.


"Hoshi, kenapa duduknya jauh gitu?" Akemi menoleh ke arahku.


"Ah, maaf, maaf." Aku pun menggeser posisi dudukku.

__ADS_1


Akemi beranjak dari tempatnya, dan membeli sebungkus lagi. Lalu kembali duduk.


"Akemi, kau sangat menyukai es krim, ya?"


"Ya."


Dia lalu menjilat-jilat lagi es krimnya.


Posisi ini, posisi ini, aku duduk berdua di sebelah Akemi. Sesuatu yang sangat jarang terjadi. Akemi ada di sebelahku. Kami hanya berduaan. Ayo Hoshi, katakan sesuatu, ajak dia bicara!


"Akemi... apa di sekolah banyak yang mengajakmu pacaran?"


"Aku tidak tahu banyak atau tidak, tapi ada beberapa."


"Apa ada yang dari kelas kita?"


"Ada."


"Siapa?"


"Aku tidak bisa bilang."


"Baiklah...."


Keadaan kembali hening. Aku menjilat-jilat es krimku, Akemi juga.


"Kenapa tiba-tiba bertanya hal itu?" Akemi menoleh ke arahku.


"Ah, tidak, aku hanya penasaran. Kau kan mendapat peringkat satu saat UTS kemarin. Kupikir orang-orang mungkin mulai menyukaimu."


"Berarti sekarang kau tidak punya pacar?"


"Ya."


Jawaban singkat itu membuatku tenang dan lega. Setidaknya, saat ini, Akemi bukan milik siapa-siapa, dan aku masih berhak untuk berharap.


"Kau sendiri bagaimana Hoshi? Apa kau punya pacar?"


"Aku? Punya pacar? Jangan bercanda, Akemi. Melihat wajahku saja para gadis langsung tertawa. Ah, andai saja rambutku bisa tumbuh seperti dulu." Aku mengusap-usap kepalaku sendiri.


"Menurutku tidak begitu, kok. Bagiku, kau laki-laki yang menarik, Hoshi."


"Menarik bagaimana?"


"Berbeda denganku, kau adalah pribadi yang menyenangkan. Orang-orang yang hadir bersamamu akan merasa senang karena sifat jenakamu itu. Kau menyebarkan kebahagiaan. Dan orang sepertimu, saat sudah mendapatkan pasangan, pasti akan setia sampai mati. Menyayangi pasangannya dan rela berkorban untuknya. Menurutku, kau tipe orang seperti itu, Hoshi."


Akemi tiba-tiba memuji. Aku jadi salah tingkah. Ah, sial, sial, sial, aku terlalu senang mendengarnya.


"Ka-kau berlebihan ah, Akemi. Aku ini tidak sebaik itu, kok. Pikiranku itu agak ngeres, kau tahu sendiri, kan. Shino sering mengumumkannya di kelas."


Aku jadi ingat saat Shino masih menjadi murid liar dan mengumumkan bahwa aku menonton film dewasa semalam. Aku dibuat malu di kelas.


"Tidak apa-apa, Hoshi. Anak laki-laki kan pikirannya memang ngeres. Aku paham, kok."


"To-tolong jangan bilang begitu. Kesannya kau menganggap aku ini orang yang mesum!"

__ADS_1


"Tidak, kok."


"Baguslah."


Akemi lalu berdiri dari tempat duduknya. Memasang kembali syal merahnya.


"Soal itu, kau tidak perlu khawatir, Hoshi. Sungguh. Soalnya, pikiranku juga ngeres, kok. Terkadang."


"Ha-hah?!"


Kenapa Akemi tiba-tiba bilang begitu? Aku tidak dapat melihat wajahnya karena dia menghadap ke depan. Apa wajahnya memerah? atau datar seperti biasa?


"Pokoknya, kau harus percaya diri. Kau laki-laki yang layak. Akemi yang cantik ini bisa menjamin."


"Y-ya, terima kasih, Akemi."


Kenapa dia tiba-tiba memuji dirinya sendiri?!


"Aku pulang dulu, ya."


"Y-ya."


Jantungku berdegup kencang tak karuan. Aku mengobrol akrab dengan Akemi barusan. Aku sudah kehabisan energi, rasanya tidak kuat lagi untuk mengobrol dengannya. Jiwaku bisa melayang.


"Hah...."


Akemi tiba-tiba berbalik arah. Dia berjalan ke mesin penjual otomatis dan membeli es krim lagi. Bahkan dua langsung.


"Akemi, kau ini benar-benar suka es krim, ya!"


Dia berjalan ke arahku.


"Untukmu." Dia memberiku satu.


"Kenapa?"


"Tidak apa-apa. Ambil saja."


"Tidak, aku tidak mau."


"Eh...." Wajahnya cemberut.


"Aku sudah kenyang. Makan satu es krim sudah cukup."


"Eh...." Ekspresinya tidak berubah.


Aku tidak tahan melihat wajahnya. Cemberut pun dia masih terlihat imut.


"Iya, iya, aku ambil. Terima kasih, ya."


"Sama-sama." Dia tersenyum kecil.


Ha, hah... kenapa dia bersikap baik seperti itu. Aku tahu, dia hanya menganggapku teman, tidak ada maksud apa-apa, karena yang dia suka cuma Erza. Tapi, apa dia tidak mengerti kalau sikapnya itu bisa membuat orang salah paham?


Aku ini ternyata memang menyukai Akemi. Sebagaimanapun aku berusaha membuangnya, tetap tidak bisa.

__ADS_1


Ya sudah, perasaan menyenangkan ini, meski nantinya berujung menyakitkan, aku simpan saja.


__ADS_2