Murid Aneh!

Murid Aneh!
Ch. 6 - Murid Tertampan


__ADS_3

"Lev, ayo pindah kelas."


"Aku kangen satu kelas denganmu."


"Kapan kita ngafe bareng lagi?"


Lev sedang dikerumuni oleh tiga murid gadis dari kelas lain. Yuzuki si murid sultan, Inaba si atlit basket, serta Kugimiya si anak wakil kepala sekolah.


Hampir setiap hari mereka bertiga datang untuk bertemu dengan lelaki tampan itu. Mereka sering memberinya bekal makan siang sembari terus berusaha untuk mengajaknya pindah kelas.


Lev adalah alumni SMP Subarashii, jadi tidak heran banyak murid kelas lain yang mengenal dirinya.


"Maaf, tapi sudah kubilang sebelumnya, aku tidak bisa pindah karena kutukan yang kumiliki. Aku tidak ingin kalian melupakanku."


Ketiga gadis itu cemberut.


"Aku lebih senang seperti ini saja, tetap bertemu dan mengobrol setiap hari." Lev tersenyum, membuat ketiga gadis itu tersipu malu.


"Aaa!!! Aku ingin memelukmu, Lev!" Inaba berlari ke arahnya, tapi Lev menghindar.


"Ja-jangan Inaba... aku masih ingin berteman denganmu."


Yuzuki dan Kugimiya langsung menangkap Inaba dan menjauhkannya dari Lev. Mereka langsung berpamitan saat itu juga.


"Kami pergi dulu, Lev."


"Sampai jumpa besok."


Setelah ketiga gadis itu pergi, Lev masuk dengan membawa tiga kotak bekal makan siang di tangannya.


Roman dan Hoshi langsung menghampirinya bersama-sama. Wajah mereka seperti anak anjing yang tidak sabar ingin diberi makan oleh tuannya.


"Iya, iya, ini ambil."


"Hore!!!"

__ADS_1


Dua kotak bekal makan berhasil diamankan oleh Roman dan Hoshi.


"Terima kasih kawan, kau ini memang teman yang bermanfaat!" Roman menepuk-nepuk pundak Lev.


"Makan enak dan gratis lagi... hehehe." Hoshi begitu sumringah.


Lev lalu berjalan ke arahku, dan menyerahkan satu kotak bekal yang dia pegang dengan erat.


"Ini buatmu, Erza." Lev menaruh kotak bekal itu di atas mejaku.


"Buatku?"


"Ya, aku simpan yang paling mewah untukmu. Itu bento buatan keluarga Yuzuki."


Saat aku membukanya, benar saja, isinya adalah makanan-makanan mahal seperti truffle, telur salmon, wagyu, kepiting, dan berbagai masakan laut lainnya. Kalau aku rupiahkan, bento ini bisa seharga satu juta rupiah.


Kapan lagi aku bisa makan semewah ini?


"Ini terlalu banyak, Lev. Ayo kita habiskan bersama."


Temanku ini namanya Lev, seorang lelaki berambut silver yang punya garis keturunan Jepang - Rusia. Dia adalah anak lelaki yang menurutku lebih dewasa dari umurnya.


Terlepas dari parasnya yang tampan, saat ini Lev tidak punya pasangan, dan tidak terlihat sedang ingin mencarinya. Lev bersikap ramah pada semua orang baik laki-laki maupun perempuan, membuat dia mudah disukai oleh orang-orang.


"Lev, di antara tiga gadis itu siapa yang akan kau pilih?" tanyaku setelah menelan daging lobster.


"Tidak ada."


"Kalau menurutku, kau sangat cocok dengan Kugimiya. Dia anak atasan sekolah, jadi kalau kelas kita terkena masalah, kau bisa minta dia untuk membereskannya."


"Itu namanya memanfaatkan orang."


"Tidak apa-apa."


"Kalau berguna untuk kelas sih aku lakukan, tapi kalau aku berpacaran dengan Kugimiya, suatu saat kami pasti akan bersentuhan, dan dia akan melupakanku. Kelas kita malah akan rugi."

__ADS_1


"Hahaha, benar juga."


Kutukan Lev memang sangat merepotkan. Kutukan miliknya membuat dia harus menjaga jarak dari orang lain.


Kutukan milik Lev adalah jika dia bersentuhan dengan orang lain, orang itu akan lupa pada Lev.


Misal begini, Lev punya sahabat yang sudah dia kenal sejak kecil. Jika mereka bersalaman, maka orang itu akan langsung lupa pada Lev seolah-seolah tidak pernah kenal.


Misal Lev tidak sengaja bertubrukan bahu dengan tetangganya, orang itu juga akan langsung lupa pada Lev.


Untungnya kutukan milik Lev tidak berpengaruh pada orang-orang yang juga punya kutukan. Jadi, murid-murid Kelas 1-F masih bisa melakukan tos dengannya tanpa takut melupakan dirinya.


"Padahal bisa loh pacaran sama Yuzuki. Keruk uangnya dulu, lalu buat dia amnesia. Untung besar, loh!"


Lev menatap aneh padaku. "Kau jahat juga ya, Erza."


"Hahaha."


Pergerakan Lev memang terbatas semenjak dapat kutukan tersebut. Dia bilang, lima puluh persen temannya sudah lupa padanya gara-gara tidak sengaja bersentuhan.


Tabrakan bahu, amnesia. Kesenggol badan, amnesia. Lev benar-benar tidak boleh berkontak fisik dengan orang normal.


Jui-sensei yang menjadi wali kelas kami sudah melupakan Lev berkali-kali. Untungnya dia masih mau menerima Lev di kelas, dan tidak mendeportasinya.


"Kalau misal kutukanmu tidak pernah hilang, berarti kau harus menikah dengan murid kelas ini, dong. Siapa yang kau pilih Lev?" tanyaku.


"Siapa ya, bingung juga. Siapa pun boleh deh, asal mau denganku."


"Oi, jangan merendah begitu, aku jadi sakit hati, nih."


"Ke-kenapa sakit hati?"


Lev benar-benar anak yang baik. Sulit untuk tidak berteman dengannya. Hanya saja, dia cenderung menutup diri dari orang lain. Lebih sering mengalah, dan jarang mengekspresikan diri. Aku tidak pernah melihat Lev tertarik atau mengatakan sesuatu yang dia sukai.


Mungkin hal ini yang membuat para gadis penasaran padanya.

__ADS_1


__ADS_2