Murid Aneh!

Murid Aneh!
Ch. 55 - Mihama Tenri


__ADS_3

"Shuu, aku menyukaimu, jadilah pacarku."


Di tempat yang tidak tepat, di saat yang tidak tepat, bersama orang yang tidak tepat, Tenri menyatakan cintanya pada Shuu ketika mereka sedang mengantri membeli makanan di kantin.


"Orang gila," jawab Shuu.


"Aku bukan orang gila. Aku Tenri. Aku menyukaimu. Jadilah pacarku, Shuu." Tenri kembali menyatakan perasaan.


"Tidak mau, dadamu rata."


Tenri hendak menyatakan perasaan lagi, tapi antrian keburu maju, dan Shuu mulai memesan makanannya.


"Tenri... sampai kapan kau akan mengejarnya?"


"Dia itu tidak menyukaimu... jangan dipaksa."


Dua teman yang datang bersamanya, Koyomi dan Ruka memberi komentar.


Tenri menggeleng.


"Shuu menyukaiku, dia hanya malu."


Ruka membuka kamera depan, dan membuat Tenri bercermin di handphone-nya.


"Lihat... wajahmu sangat cantik, Tenri. Kau seharusnya mencari pria yang setara denganmu. Jangan malah mengejar pria itu terus."


Tenri merengut.


"Tidak, aku hanya mau dengan Shuu! Dia adalah Pangeranku!"


Koyomi dan Ruka menghela napas. Mereka mulai menyerah untuk meminta Tenri mengejar dirinya. Mereka diberitahu Tenri bahwa Shuu pernah menyelamatkan dirinya saat hampir dipatok ular saat sekolah dasar. Sejak saat itu, Tenri mulai menyukai Shuu, dan menganggapnya sebagai Pangeran penyelamatnya.


"Dia mungkin teman masa kecilmu, tapi kalau tidak mau jangan dipaksa. Kau mungkin memang cantik, pintar, kaya, dan jenius dalam bela diri. Tapi bukan berarti dia mau denganmu, Tenri." Koyomi kembali menasehati, walau aslinya sudah lelah.


"Ah, mungkin Shuu menyukai Tenri juga, tapi karena Tenri terlalu gemilang, Shuu jadi minder dan memilih untuk menjauh. Masuk akal, kan?" Ruka menoleh pada keduanya.


Tenri menggeleng.


"Tidak... Shuu bilang dia suka gadis yang jago beladiri. Aku sudah berhasil mendapat banyak penghargaan di taekwondo. Seharusnya Shuu sudah menyukaiku sekarang. Dia hanya malu. Makanya menolak terus."


Koyomi dan Ruka benar-benar menyerah kali ini.


Tenri, Koyomi, dan Ruka adalah tiga murid Kelas 1-A yang akrab satu sama lain. Tenri dan Koyomi kemarin masuk rangking sepuluh besar dan mendapat pin emas. Sedangkan Ruka harus gigit jari karena hanya mendapat peringkat dua puluh.


Mereka bertiga memiliki keahlian masing-masing di samping nilai pelajarannyan yang tinggi. Tenri jagoan taekwondo, Koyomi jawara renang, dan Ruka atlet lari perempuan terbaik di angkatannya.


Mereka bertiga adalah manusia-manusia langka yang penuh akan potensi dan memiliki IQ yang tinggi. Mereka sering disebut 'maruk' karena selain berbakat juga memiliki otak yang cerdas. Tenri dan Koyomi juga merupakan orang kaya sehingga melengkapi kecemburuan murid-murid lain.


"Minggu depan sudah mulai pekan olahraga, ya." Koyomi bicara sembari berjalan menuju kelasnya.


"Iya, kelas kita tentunya yang akan juara." Ruka menegaskan.


"Tenri mau ikut apa?" tanya Koyomi.


"Aku mau nembak Shuu."


Koyomi dan Ruka tertunduk lesu.


***


Di tempat lain, sepulang sekolah, di kelas paling pojok dan paling butut, yang berisi murid-murid madesu, Roman berdiri di depan bersiap menjelaskan sekaligus menetapkan strategi untuk pekan olahraga minggu depan. Jui-sensei duduk di depan, ikut memperhatikan.


"Sera, tolong tuliskan dulu cabang olahraga apa saja yang akan dipertandingkan nanti," pinta Roman.


Sera mengangguk dan mulai menuliskan daftar lomba-lomba yang akan dipertandingkan.


Beregu:

__ADS_1


● Bola Basket (Putra - Putri) - Senin


● Bola Voli (Putra - Putri) - Selasa


● Mini Soccer (Putra - Putri) - Rabu


● Lari Estafet (Putra - Putri) - Kamis


● Tarik Tambang (Putra - Putri) - Kamis


● Three-Legged Race (Putra & Putri) - Kamis


● Scavenger Hunt (Putra & Putri) - Jumat


● Cavalry Battle (Semua Murid) - Jumat


Individu:


● Shogi - Senin


● Catur - Senin


● Lari 100M (Putra - Putri) - Selasa


● Renang (Putra - Putri) - Selasa


● Tenis Tunggal (Putra - Putri) - Rabu


● Badminton Tunggal (Putra - Putri) - Rabu


● Town Fighter X - Kamis


● Zero Skill 3 - Kamis


Para murid melongo dengan begitu banyaknya pertandingan yang akan dilombakan. Selama satu minggu penuh akan diadakan pekan olahraga yang mana kegiatan dari pagi sampai sore hanya mempertandingkan olahraga antar kelas.


"Ada satu kerugian yang kita miliki dibanding kelas lain. Kalian sadar akan hal itu, kan?" Roman menatap sekeliling.


"Kelas kita jumlah muridnya hanya sedikit?"


"Benar. Murid-murid kelas lain jumlahnya ada 40 sedangkan kita cuma setengahnya. Selain itu...." Roman menjeda. "Yah... kalian tahu sendiri sekolah ini seperti apa. Kita akan menghadapi murid-murid berbakat dari kelas lain."


Suasana mendadak jadi pesimistis.


Jui-sensei berdiri dan mengambil alih komando dari Roman. Dia menepuk papan tulis dengan tangannya.


"Tidak perlu ragu, anak-anak. Kita ini orang-orang hebat. Kita pasti bisa memenangkan perlombaan ini!"


Semangat Jui-sensei yang membara sayangnya tidak menular pada para muridnya.


"Sungguh, kalian tidak usah khawatir. Di kelas kita ada si "Monster Olahraga" kita pasti bisa menang!"


Lev tersentak.


Para murid kebingungan dengan apa yang dimaksud oleh Jui-sensei.


"Jelaskan, Sera."


Sera berdehem.


"Waktu SMP, Lev dapat julukan Monster Olahraga. Kenapa? Karena dia memang jago di berbagai bidang olahraga. Voli, basket, sepak bola, renang, tenis, dan lain-lain. Aku mungkin terlihat seperti melebih-lebihkan, tapi memang seperti itu adanya. Lev ikut ekskul basket, tapi sering dipanggil klub olahraga lain untuk ikut ke turnamen. Lev itu... asalkan belajar dulu soal olahraga yang akan dia mainkan, dia akan cepat belajar dan bisa menguasai dalam waktu yang singkat. Kalian mungkin berpikir Lev itu populer hanya karena tampan, tapi bagi kami para alumni SMP Subarashii, Lev jauh lebih dari itu. Dia benar-benar sosok yang hebat."


Pidato panjang lebar Sera membuat para murid menoleh padanya. Wajah Lev agak memerah sedikit.


"Kau terlalu berlebihan Sera...."


Sera hanya tersenyum.

__ADS_1


"Untuk itu, kita taruh Lev di lari 100M, renang, badminton, tenis, lari estafet, dan bola voli. Dia tidak diperkenankan main basket atau mini soccer karena bisa membuat dirinya bersentuhan dengan orang lain. Kau siap, Lev?" Jui-sensei menatap ke arahnya.


"Lari Erza lebih cepat dariku. Lari 100M biar diwakili dia saja."


Erza tersentak.


"Oi, kau tau dari mana lariku cepat?"


"Kau pernah bilang ingin masuk klub lari, kan? Itu berarti larimu mungkin cepat."


"Tidak kok, tidak juga. Nanti kita balapan dulu Lev. Yang menang mewakili, oke?"


"Siap."


Sera mencatat. Lari 100M akan dilakukan oleh Erza atau Lev.


"Bukan hanya Lev, kita juga punya senjata rahasia. Kalian pernah dengar streamer game bernama Otome-shark?" Jui-sensei kembali menatap anak-anak.


"Tentu saja, dia sangat terkenal!"


"Yang tidak main game saja pada tahu."


"Wajahnya tidak diketahui sih."


Jui-sensei tersenyum.


"Dia ada di kelas kita."


Anak-anak langsung terkaget.


"Hah? Yang benar? Siapa?!"


"Otome-shark ada di kelas kita?!"


Para murid saling menatap satu sama lain, mencari siapa sebenarnya orang tersebut.


"Shino, sebutkan orangnya."


Sebagai orang yang tahu banyak rahasia, tentu Shino sudah mengetahuinya sejak lama.


"Otome-shark itu Hashimoto."


"Woooh!!!"


Para murid langsung heboh.


"Ternyata dia!"


"Pantas saja selama ini memakai topeng terus!"


"Waah, waaah, sekarang aku jadi segan pada Hashimoto. Aku ini fans beratmu loh, oi!!!"


Hashimoto hanya terbatuk sebagai reaksi. Dia tidak bermaksud merahasiakan identitasnya terhadap teman-temannya, hanya saja memang tidak ada yang bertanya.


"Berarti Town Fighter dan Skill Zero diwakili Hashimoto, ya?"


"Ya!"


Setelah itu, mereka melanjutkan diskusi tentang penempatan tiap murid pada masing-masing lomba yang dikategorikan. Semua harus ikut serta. Tidak boleh ada yang tidak ikut dengan alasan takut menjadi beban. Jui-sensei ingin menjadikan ajang ini sebagai ajang bersenang-senang di luar ajang persaingan dengan kelas-kelas lain.


"Semua wajib ikut. Kecuali... Kensel. Maaf ya."


Kensel yang sedang berwujud kakek Sugiono hanya melambaikan tangannya.


Jui-sensei telah selesai memotivasi para muridnya. Mereka sekarang tampak bersemangat dan bergairah. Apalagi setelah diberitahu bahwa hadiah juara pertama adalah uang tunai sebanyak 1 juta yen. Tiap anak akan kebagian 50.000 yen jika berhasil menjadi juara.


"Aku akan tunjukkan bahwa anak-anak kelasku juga sama hebat seperti para murid kelas lain," batin Jui-sensei.

__ADS_1


__ADS_2