
"Erza, ohayou!"
Seorang gadis berambut panjang merah api merangkul bahuku di lorong sekolah. Bagian dadanya agak menyentuh tubuhku.
Tenang Erza, tidak boleh gugup. Dia memang gadis cantik tomboy sepantaran yang sesuai dengan seleraku dan ingin sekali kunikahi.
Tapi dia itu laki-laki!
"Oi, jangan rangkul-rangkul begini. Kau sedang jadi perempuan."
"Hahaha, tidak usah dipikirkan."
Seperti yang aku bilang. Gadis sepantaran yang berdiri di sebelahku adalah ketua kelas kami, Shirakawa Roman. Seorang lelaki penuh percaya diri yang selalu membawa api semangat dalam hidupnya.
Laki-laki yang sangat kuhormati. Orang yang selalu berdiri paling depan untuk melindungi murid-murid Kelas 1-F. Sekarang, dia sedang berada dalam mode perempuan.
Tentu disebabkan oleh kutukannya.
Kutukan milik Roman adalah dia akan berganti kelamin setiap kali hujan turun.
Saat pertama kali datang ke sekolah, Roman berada dalam wujudnya yang sekarang. Seorang gadis berambut merah panjang dengan paras yang amat cantik. Bisa dibilang, kami semua jatuh cinta padanya pada pandangan pertama.
Akemi, Sera, Yurina, dan Keiko memang cantik, tapi kecantikan Roman saat berada di mode perempuan berada di level yang berbeda. Apalagi posturnya juga tinggi bak model, membuat dirinya semakin menarik perhatian.
Seminggu pertama, Roman terus berada dalam wujud perempuan, membuat kami berpikir bahwa dia benar-benar perempuan. Apalagi saat perkenalan, dia bilang kutukannya adalah akan berubah menjadi laki-laki saat hujan turun dari langit.
Sifat Roman saat menjadi perempuan memang agak tomboy. Dia lebih sering bergaul dengan laki-laki daripada perempuan. Tapi tak ada satu pun dari kami yang berpikir bahwa Roman sebenarnya laki-laki.
Sampai di penghujung pekan pada minggu pertama berjalannya semester, kutukannya aktif, dan kami melihat wujud laki-laki Roman untuk yang pertama kalinya.
Dia bilang.
"Akhirnya kembali ke wujud asliku."
Saat itu, aku, Hoshi, dan Shuu adalah orang yang paling jelas mendengarnya.
__ADS_1
Shuu sampai bertanya lagi untuk memastikan.
"Wujud asli?"
"Ah, maaf, sebenarnya aku ini laki-laki. Aku pura-pura jadi perempuan untuk menipu kalian. Maaf, ya, hahaha."
"O-oh... oh begitu, ya."
Kami sempat jijik pada Roman selama beberapa hari. Para anak lelaki sudah dibuat terpesona olehnya, dibuat tersipu malu oleh sifatnya yang sok akrab dan suka tiba-tiba merangkul. Dia akrab dengan semua lelaki sampai-sampai kami saling menebak, siapa di antara kami yang disukai oleh Roman.
Ternyata dia laki-laki.
***
Kutukan milik Roman memang tampak tidak berbahaya, berbeda dengan kutukan Rock atau Lullin. Namun, meski begitu, dia sering dirugikan gara-gara kutukan miliknya tersebut.
Contohnya saat dia akan melakukan latih tanding bola voli melawan sekolah lain. Saat itu, hujan tiba-tiba turun, dan Roman berubah jadi perempuan.
Dia yang sudah bersiap untuk bertanding, keluar lagi dari lapangan.
"Diam kau! Aku sedang kesal!" Roman marah-marah di pinggir lapangan.
Entah apa alasannya, tetapi Roman selalu dipanggil Lemon oleh anak-anak klub voli saat dia berada dalam wujud perempuan. Tanpa sadar, kami sekelas pun mulai memanggilnya begitu.
"Lemon!!! Main dengan kami saja!!!" Para gadis dari klub voli memanggilnya.
"Eh, tapi...."
"Saat pertama gabung, kamu daftar sebagai anggota perempuan, jadi tidak apa-apa!"
"Serius? Aku ini jago banget, loh," ucap Roman dengan suara perempuan.
"Justru bagus! Ayo, bantu kami mengalahkan lawan!"
"Oke!"
__ADS_1
Sejak saat itu, keanggotaan Roman menjadi dua sekaligus. Dia bisa bermain dengan anggota laki-laki, bisa juga bermain dengan anggota perempuan. Aku tak melihat ada kerugian di sini, kehadirannya membuat tim laki-laki dan perempuan menjadi kuat.
Aku dan Shuu menonton pertandingan tersebut, fokus kami tentu saja lebih tertuju pada Roman dalam mode perempuan.
"Shuu, apa kau masih deg-degan saat melihat Lemon?" tanyaku.
"Bodoh, tentu saja tidak. Dia itu laki-laki!"
"Tapi, fisiknya...."
"Secantik apapun kalau dalamnya laki-laki... huekkk!!!"
Melihat Roman yang bisa beraktivitas dengan normal di klub rasanya agak melegakan. Klub ekstrakurikuler yang kami ikuti rasanya seperti jadi rumah kedua, karena mereka menerima kami dengan baik, asal punya bakat, maka boleh bergabung.
Roman di klub voli, Gen di klub basket, Nana di klub menjahit, Ota di klub memasak, mereka berempat diperlakukan dengan baik oleh para anggota klub. Sisanya tidak masuk klub karena malas dan juga takut mendapat perlakuan yang tidak mengenakan.
Aku sempat ingin masuk klub lari, tapi gara-gara di sana banyak Kelas 1-A yang jelas membenci kelasku, aku jadi mengurungkan niat.
Ah, seandainya mereka bisa menerima kami.
***
Author's Note
Arc pengenalan murid sudah selesai, terima kasih sudah membaca sampai bab ini!
Murid Aneh tercipta atas ketidakpuasan diriku atas alur di versi sebelumnya. Meski tamat di chapter 371, aku merasa cerita itu masih belum maksimal, masih banyak hal yang bisa dibahas, tapi belum sempat aku bahas.
Berhubung ada beberapa perbedaan dengan versi sebelumnya, cerita ke depannya juga pasti akan berbeda. Bisa dibilang, versi yang sekarang adalah versi yang paling kuinginkan. Berani kubilang 'rute sebenarnya'.
Sejujurnya, sense of comedy-ku rasanya udah hilang, udah lama hilang setelah chapter 200 ke atas di versi sebelumnya. Jadi, maaf kalau komedinya kurang terasa, dan cerita lebih mengarah ke romance, drama, atau malah ecchi :v
Aku sangat menikmati menulis series ini, jadi kemungkinan Murid Aneh akan jadi cerita yang cukup panjang!
Sampai jumpa di bab berikutnya!
__ADS_1