Murid Aneh!

Murid Aneh!
Ch. 38 - Kampung Hantu 2


__ADS_3

Tok tok tok


Erza dan yang lain mengetok pintu rumah yang lain, tapi kali ini tidak ada yang membuka.


"Permisi... ada paket~"


Setelah mengatakan itu, barulah pintunya terbuka. Lagi-lagi sesosok bayangan hitam muncul di rumah itu. Makhluk itu menyodorkan tangannya.


Erza menyerahkan pensil pada makhluk itu.


"Apa di sini ada Lullin?"


Makhluk itu menggeleng, kemudian menutup pintunya kembali.


"Tuh kan, harus bilang ada paket, kalau enggak gak bakal dibuka pintunya." Erza menatap semuanya.


"Itu cuma kebetulan!" sanggah Hide.


"Sudah dua kali, loh."


"Baru dua kali."


"Ya sudah, coba kau ketuk pintu rumah yang lain."


"Oke."


Hide pun menyanggupi. Dia mengetuk pintu rumah yang berada di sebelahnya sebanyak tiga kali.


Tok tok tok


"Permisi...."


Tidak ada jawaban.


Tok tok tok


"Permisi... ada hantu?"


Tok tok tok


"Buka woy!"


Tidak ada yang menyahut. Dibuka paksa pun tidak bisa, karena pintu dalam keadaan terkunci.


Erza geleng-geleng kepala sambil berdecak, merasa sudah menang dari Hide.


"Aku sudah bilang, tidak akan dibuka kalau hanya mengetuk. Sekarang ketuk lagi, tapi dengan menyebutkan kata kunci."


Hide pun terpaksa menurut.


"Permisi... ada paket."


Barulah pintu itu terbuka. Berdiri sesosok bayangan hitam tanpa tangan kiri ataupun tangan kanan.


"Dia buka pintunya gimana njir?" batin anak-anak.


Bayangan itu memaju-majukan kepalanya, pertanda menagih paket yang mereka antarkan.


Giana menawarkan diri untuk memberikan penghapus miliknya.


Bayangan itu menunduk-nunduk, memberi isyarat agar Giana menaruh penghapus itu di lantai.


Giana pun menurut.

__ADS_1


"Apa di dalam ada Lullin?" tanya Giana setelahnya.


Bayangan itu menggeleng, lalu menutup kembali pintunya.


Mereka bertujuh saling memandang.


"Gimana ini? Apa kita harus cek semua isi rumah di kampung ini? Barang kita bisa habis, loh," ucap Keiko.


"Benar. Bisa-bisa aku hanya pakai ****** ***** saja sepulang dari sini." Erza menghela napas.


"Lalu bagaimana?" Giana menatap semuanya.


"Ini kampung hantu, kan? Menurut kalian kenapa mereka semua ada di dalam rumah?" tanya Hide.


"Mereka semua introvert?" jawab Yurina.


"Bukan! Sekarang masih siang, para hantu mungkin tidak bisa berkeliaran di siang hari. Mereka mungkin akan beraktivitas saat malam sudah tiba." Hide memberikan teorinya.


"Masuk akal." Rock mengangguk-angguk.


"Jadi kita harus tunggu sampai malam?!" tanya Nana.


"Lebih baik begitu, daripada buang-buang waktu dan tenaga dengan memeriksa semua rumah satu per satu. Di malam hari, mereka mungkin akan berkeliaran. Kita bisa menanyakan Lullin pada mereka."


Giana membuka ponselnya, sudah dalam keadaan mati. Ponsel milik Erza dan yang lain masih menyala, tapi tidak ada sinyal. Hanya menunjukkan waktu yang masih kurang dua jam menuju tengah hari.


"Ini di mana sih? Gak bisa cek di GPS!"


"Ibuku belum membalas pesan."


"Pesanku masih tidak terkirim."


Beberapa jam tanpa internet, mereka sudah merasa tersiksa.


"Kau ingat jalan pulangnya, kan?" tanya Hide.


"Ingat, kok. Aku sudah memotret setiap sudut rumah yang kita lewati tadi, jaga-jaga agar tidak tersesat. Aku juga sudah memotret patokan rumah yang dekat dengan gerbang masuk."


"Bagus, kalau begitu, ayo kita kembali."


Dengan Keiko yang menjadi pemimpin perjalanan, mereka berjalan kembali menuju pintu gerbang.


Rumah-rumah yang terlihat kosong padahal ada isinya itu benar-benar terlihat menyeramkan. Siang hari tak pernah semenakutkan ini bagi mereka.


Tak seberapa lama, mereka pun kembali ke titik awal. Namun, yang mereka temui bukanlah gapura yang mereka masuki tadi, melainkan perkampungan rumah yang terus berlanjut membentang jauh ke depan.


"Keiko, kau tidak salah jalan, kan?" Giana khawatir.


"Tidak, ini jalan yang benar! Lihat, aku sudah memotret pintu gerbangnya, dekat pohon kecil yang satu ini. Tapi... kenapa gerbangnya malah jadi rumah?"


Erza dan yang lain menatap foto di ponsel Keiko yang menunjukkan gapura tepat di sebelah pohon kecil. Posisinya sama persis. Pohon kecil, rerumputan hijau, tong sampah, sumur yang sudah tak terpakai, semuanya berada tepat di sekitar pintu gerbang.


Saat dibandingkan dengan yang ada di hadapan mereka, semua letak dan posisinya memang sama persis, kecuali pintu gerbang yang tiba-tiba berubah menjadi rumah.


"Oi oi, pintu gerbangnya pergi ke mana?!" Erza mengucurkan keringat.


"Sepertinya hilang."


"Ehh?? Terus kita pulangnya gimana?!" Nana panik.


"Mu-mungkin gerbangnya pindah tempat. Ayo kita jalan terus ke depan." Keiko mencoba berpikir positif.


"Y-ya."

__ADS_1


Mereka pun lanjut berjalan ke depan, terus melangkah tiada henti sampai waktu telah melebihi tengah hari.


"Astaga... pintu gerbangnya di mana? Seberapa besar sih kampung ini?" Rock mengucurkan keringat.


"Kita terus berjalan, tapi yang kita temukan cuma rumah, kedai, rumah, kedai, lapangan, sungai, rumah, sungai, dan rumah lagi. Apa luas kampung ini tak terbatas?" Keiko mengeluh.


"Jangan-jangan... ini yang dimaksud orang yang sudah masuk tidak bisa keluar lagi. Karena pintu gerbangnya menghilang?!" Nana mencoba menebak.


Erza menatap Hide.


"Oi, Hide! Kau bilang hantu-hantu di sini baik? Kenapa mereka tidak mengizinan kita pulang?! Kau bilang orang yang masuk sini bisa kembali pulang... kan?"


Erza termangu melihat ekspresi Hide yang tiba-tiba berubah.


Hide tersenyum, dan kemudian tertawa-tawa.


"Hide? Siapa itu Hide?"


Wujudnya tiba-tiba berubah menjadi sesosok bayangan hitam berbadan setengah.


Erza dan yang lain terkaget.


"Kita dijebak...."


***


Sementara itu di SMA Subarashii.


"Satu minggu telah berlalu, pihak kepolisian dan kru pencari telah menyusuri berbagai wilayah di seantero Jepang. Masih belum ada tanda-tanda keberadaan 8 murid SMA Subarashii yang hilang."


Lemon dan murid-murid kelas 1-f yang lain menonton tayangan berita bersama-sama di ponsel miliknya. Mereka semua tertunduk lesu, khawatir dengan keadaan teman-temannya yang hilang.


"Ini semua salahku, seharusnya aku menghentikan mereka minggu lalu." Lemon menatap keluar jendela.


"Tidak, Roman, itu bukan salahmu. Tidak ada yang tahu mereka akan menghilang." Sera coba menenangkan.


"Astaga... mereka pergi ke mana, ya? Apa mereka diculik alien?" Hoshi berteori.


"Apa jangan-jangan mereka sudah meninggal, dan jasadnya dikubur sangat dalam?"


Perkataan Hashimoto membuat keadaan semakin suram.


"Mereka baik-baik saja."


Di sela keheningan yang mulai menyelimuti, Akemi mengeluarkan suara.


"Hei, kau tahu dari mana Akemi?"


"Firasat."


"Firasat saja terus! Memangnya kau ini cenayang, ya?"


"Aku bukan cenayang, tapi aku yakin mereka baik-baik saja."


Akemi kembali melamun. Mengingat kembali foto aneh yang dia lihat di album foto keluarga neneknya hari kemarin.


Di sana ada foto Lullin yang sedang bergandengan tangan dengan neneknya. Saat Akemi tanya, neneknya bilang itu kakak perempuannya yang hilang lima puluh tahun lalu, dan belum pernah ditemukan, namanya Tsuruga Saori.


Tsuruga adalah nama perawan nenek Akemi sebelum menikah dan berganti marga menjadi Yoshino.


Akemi tidak yakin apa gadis di foto itu Lullin atau bukan. Namun, fakta bahwa mereka sangat mirip tak bisa terbantahkan.


"Apa ada hubungan antara Lullin yang menghilang dengan foto gadis yang mirip dengannya itu? Apa jangan-jangan Lullin adalah kakak perempuan nenek yang sudah lama menghilang?" batin Akemi.

__ADS_1


__ADS_2