Murid Aneh!

Murid Aneh!
Ch. 50 - Mid Girl


__ADS_3

(POV Oka Maggiana)


Adalah sebuah kesalahan pergi jalan-jalan dengan dua gadis tercantik di kelas 1-f. Sejak awal mereka mengajak di grup kelas, aku sebenarnya sudah punya perasaan tidak enak untuk ikut, tapi aku membuang jauh perasaan itu, dan memutuskan berpikir lebih positif. Namun, hasilnya ternyata memang sesuai dugaanku.


Tidak ada yang salah dengan Sera maupun Keiko. Keduanya hanya ingin berbelanja di mall dan mengajak teman-teman gadis di kelas.


Akemi dan Lullin tidak bisa ikut, mereka pulang kampung ke Osaka. Emili, Shino, dan Nana sudah ada acara masing-masing. Yurina tidak bisa ikut karena sedang tidak enak badan. Praktis hanya aku saja yang luang. Diam di rumah tidak ada kegiatan, jadinya aku ikut pergi ke mall dengan Sera dan juga Keiko.


Hasilnya?


Aku kehilangan rasa percaya diri.


"Hai, apa kalian punya waktu?"


"Ayo, ikut kita bermain. Lebih banyak orang lebih asik."


Dua orang pria datang menghampiri kami bertiga. Mereka sedang menggoda kami, dan meminta kami untuk pergi bersama mereka.


Tentu saja, yang mereka goda bukan aku, melainkan Sera dan Keiko.


"Maaf, kami sibuk!"


"Lain kali saja, ya."


Kami bertiga kabur dari dua pria penggoda itu.


Setelah pergi cukup jauh, Keiko bersungut-sungut.


"Ada apa sih hari ini? Kenapa para pria menggoda kita terus?" keluh Keiko.


"Dari pertama kita bertemu di tempat janjian, sudah lima kali kita digoda oleh para pria asing. Ah, pasti karena kau mantan idol!" Sera menatap Keiko.


"Tidak, pasti karena tubuh seksimu, Sera. Lihat ukuran dadamu. Mereka pasti mengira kau idol gravure."


"A-apa kau bilang?!"


Mendengar mereka ngobrol asik begitu, kupingku jadi panas. Dilihat dari mana pun, kedua gadis ini memang jauh lebih menarik dibanding diriku.


Keiko jelas cantik. Mantan idol. Tubuhnya ramping, tapi berisi. Tubuh Keiko adalah body goals bagi para anak perempuan.


Sedangkan Sera, hm, tanpa dadanya yang besar saja dia itu sudah idaman. Wajahnya sangat cantik. Kulitnya bening. Auranya dewasa. Otaknya juga jenius. Sera adalah cewek high class yang punya berbagai aspek yang diidam-idamkan oleh para anak laki-laki.


Keiko dan Sera punya standar kecantikan masing-masing. Keiko cantik dan tomboy, sedangkan Sera anggun dan dewasa. Keduanya jelas akan sangat mudah menarik perhatian anak laki-laki.


Sedangkan aku... ya, aku hanya gadis biasa-biasa saja. Kalau tidak punya kutukan, tidak mungkin aku bisa berteman dengan gadis berlevel tinggi seperti mereka. Di satu sisi, aku senang, tapi di sisi lain, aku juga merasa sedih.


"Giana, ayo kita lanjut."


"Semoga tidak ada yang menggoda lagi, deh."


"I-iya...." Aku hanya tersenyum.


Kami berniat beli baju baru di mall. Lagi-lagi aku dibuat khawatir. Apa jangan-jangan uang yang kubawa terlalu sedikit? Maksudku, Sera itu jelas anak orang kaya, uangnya sangat banyak. Keiko juga mantan idol, pasti punya banyak simpanan di tabungan. Sedangkan aku?


Argh... kenapa aku harus ikut, sih?!


Sudah benar teman mainku itu Nana dan Lullin!


Kalau bersama Keiko dan Sera, aku merasa jadi rendah.


"Haii!"

__ADS_1


"Kalian berdua sibuk? Pergi karaoke, yuk."


Lagi-lagi kami dihadang dua pria asing. Kelihatannya mereka mahasiswa. Mereka berdua lagi-lagi mengarahkan pandangannya pada Sera dan Keiko.


Satu laki-laki menatap mata Keiko, satunya lagi bolak-balik menatap mata dan dada Sera. Tidak ada satu pun yang melirikku.


Seharusnya aku senang, tapi entah mengapa aku merasa kalah. Apa aku ini benar-benar tidak menarik? Dadaku F-Cup, loh! Hanya kalah sedikit dari Sera! Apa kalian tidak berpikir aku juga seksi?!


Ahhh... pikiranku sudah mulai kacau. Tidak seharusnya aku bersikap murahan begini. Erza bilang aku ini cantik, seharusnya itu cukup untuk membuatku percaya diri. Shino bilang juga iri dengan ukuran dadaku. Tidak ada yang salah dengan tubuhku. Aku tidak jelek, aku bukannya tidak menarik, Keiko dan Sera saja yang terlalu bersinar!


"Halo manis... ada waktu?"


Ketika Sera dan Keiko sibuk digoda oleh dua pria asing, seorang lelaki datang menyapaku.


"Lah... Lev?"


"Apa kau sibuk, manis? Mau senang-senang di game center bersamaku?" Dia pura-pura tidak kenal.


"A-anu... y-ya... aku mau."


Rasanya aku ingin menangis. Lev seperti seorang pangeran berkuda yang datang menyelamatkanku. Dia tahu aku sedang dalam kondisi tidak nyaman, dan dia mencoba menghiburku.


"Maaf, kami sudah ada janji dengan pria tampan ini. Lain kali saja, ya!"


"Dadah...."


Keiko menarik lengan Lev, dan Sera menarik lenganku. Kami berempat berhasil menghindar dari dua lelaki penggoda tadi.


"Sedang apa kau di sini, Lev?" tanya Keiko.


"Aku sedang jalan-jalan, kebetulan melihat kalian. Ya sudah, aku datang saja."


"Begitu, ya." Keiko mengangguk.


Lev hanya tersenyum, lalu menatap ke arahku.


Entah kenapa, aku tak bisa melihat wajahnya, dan langsung memalingkan pandangan.


"Kalian mau berbelanja kan, ya? Ya sudah, aku pergi dulu." Lev hendak pamit.


"Eh, gak mau bareng kami?"


"Ikut kami saja, Lev."


"Tidak, ini acara kalian, para anak perempuan. Aku sudah beli yang aku mau di sini. Sudah saatnya pulang."


"Baiklah, kalau begitu sampai jumpa."


Aku sedari tadi menunduk. Hanya mendengar percakapan mereka. Rasanya kondisiku sedang tidak baik-baik saja saat ini. Sera dan Keiko tidak punya salah apa-apa, tak sekali pun mereka berbuat jahat padaku. Ini hanya aku saja yang terlalu bersikap merendah. Kalau yang ada di posisiku itu Emili, dia pasti akan tetap baik-baik saja. Aku sungguh menyedihkan.


"A-anu... aku sedang tidak enak badan. Sepertinya aku mau pulang saja."


Saat aku mengangkat wajah, mereka bertiga menatap ke arahku.


"Ah, begitu ya, pantas sedari tadi kau diam."


"Kau memang terlihat tidak nyaman."


"Ahahaha, maaf...." Aku merasa bersalah berbohong seperti ini.


"Kalau begitu, tolong antar Giana pulang, Lev," ucap Keiko.

__ADS_1


"Iya, kasihan kalau dia sendirian." Sera menambahkan.


"Ya, aku mengerti."


Kami pun berpisah. Keiko dan Sera naik ke lantai atas menggunakan eskalator, sedangkan aku duduk di kursi panjang di sebelah Lev.


Jantungku berdebar dengan kencang. Tidak biasanya seperti ini. Aku tahu Lev itu tampan dan baik hati, dari lama aku mengaguminya, tapi tak pernah sampai seperti ini. Mungkin ini reaksi kimia hasil dari perbuatannya tadi padaku.


Saat ini pun dia begitu pengertian padaku. Dia tak bicara atau menanyakan apa-apa. Hanya menurut saat aku mengajaknya untuk duduk sebentar.


"Lev, maaf, sebenarnya aku tidak sakit. Aku hanya merasa tidak nyaman berjalan bersama Sera dan Keiko. Bukan karena mereka jahat, tidak, mereka berdua sangat baik. Hanya saja, aku merasa tidak cocok dengan mereka berdua." Aku berbicara panjang lebar.


"Begitu, ya." Lev membalas singkat.


"Kau bilang tadi mau mengajakku ke game center? Apa itu sungguh-sungguh?"


"Iya, aku sungguh-sungguh."


"Ya sudah, kalau kau mau, ayo kita ke sana!" Aku berdiri, mencoba untuk memperbaiki suasana hati.


"Ya sudah, ayo."


Hari itu, aku mengubah rencana liburanku, dari yang awalnya beli baju dengan Sera dan Keiko, menjadi main ke game center bersama Lev.


Sudah kuduga, acara pengganti ini jauh lebih menyenangkan dibanding yang utama tadi. Suasana hatiku mendadak membaik. Tidak ada pemikiran negatif lagi. Berada di sisi Lev membuatku lebih merasa tenang.


"Waah, lihat dia tampan sekali."


"Apa gadis itu pacarnya?"


"Ah, tidak mungkin, speknya beda jauh."


Ternyata, meskipun berjalan sama Lev, tetap saja aku dibanding-bandingkan. Hahaha. Tapi, entah mengapa, rasanya tidak sesakit yang tadi.


"Tolong jangan dipikirkan, ya. Mereka hanya orang asing. Maaf sudah membuatmu mendengar kata-kata yang tidak menyenangkan."


"Tidak usah minta maaf. Itu bukan salahmu."


Lev benar-benar jadi pusat perhatian. Banyak anak perempuan yang melirik ke arahnya saat kami jalan bersebelahan.


Orang-orang pun pasti mengira aku pacarya Lev. Entah mengapa aku merasa senang.


"Mau ke mana lagi sekarang?" tanya Lev setelah kami keluar dari game center.


"Kau mau menemaniku?"


"Ya, khusus hari ini."


"Kalau begitu ke tempatmu saja, yuk. Aku ingin istirahat."


"Ke tempatku? Aku ini laki-laki, Giana. Kau tidak takut?"


Aku tertawa kecil.


"Aku tahu, tapi kau itu orang baik, Lev. Kau tidak akan berbuat macam-macam. Lagipula, aku ini lebih kuat darimu. Kau tidak mungkin bisa mengalahkanku!" Aku memegang kacamataku.


"Kau jangan meremehkanku, Giana. Kalau serius, aku bisa mengalahkanmu meski kau berada dalam wujud raksasamu itu. Aku ini kuat, loh."


Jarang sekali Lev bersikap percaya diri seperti itu. Dia terlihat keren.


"Ya, pokoknya aku mau main ke tempatmu, Lev. Aku penasaran bagaimana isi kamarmu. Tapi kalau tidak mau ya tidak apa-apa. Aku tidak memaksa, kok."

__ADS_1


Lev tersenyum.


"Baiklah, khusus hari ini saja, ya."


__ADS_2