
(POV Teruaki Lev)
Tidak sering aku ada di sekolah pada sore hari. Biasanya aku akan langsung pulang untuk tidur, dan pergi ke bar malam harinya.
Namun, hari ini aku terjebak di sekolah. Hujan deras tiba-tiba mengguyur saat aku baru selesai mengikuti ujian susulan kimia bersama Akemi di Kelas 1-F.
Saat itu, aku sedang sakit, sedangkan Akemi ada urusan keluarga sehingga tidak masuk pada saat ulangan harian kimia dilaksanakan.
Ini benar-benar menyebalkan. Terjebak di sekolah saat hujan itu menyebalkan. Lebih enak cepat pulang ke apartemen untuk menonton televisi sambil berselimut di atas sofa yang empuk.
"Ah...." Aku menatap hujan yang semakin deras di jendela kelas.
Akemi tidak melakukan apa-apa. Hanya duduk melamun di bangkunya sembari memainkan pensil mekaniknya.
Aku yang juga tidak ada kerjaan segera mengambil kursi, dan menaruhnya di sebelah bangku Akemi.
Kami berdua tidak terlalu akrab. Jarang sekali kami berbicara. Namun, entah mengapa, aku punya perasaan misterius padanya. Aku ingin mengungkapkannya saat ini juga.
"Akemi."
"Ya," jawabnya tanpa menoleh.
"Boleh aku menanyakan sesuatu yang tidak masuk akal?"
"Ya."
"Tolong jangan bilang aku aneh. Aku tidak tahu apa ini mimpi, khayalan, atau buah pikiran yang terlintas di benakku secara tiba-tiba. Tapi ini tampak begitu jelas, seolah-olah memang pernah atau akan terjadi di masa depan. Apa kau mau mendengarnya?"
"Ya."
Aku mengambil napas.
"Anu, Akemi... apa kita pernah menikah?"
Akemi langsung menoleh ke arahku. Matanya semakin lama semakin membesar.
"Aku... juga merasa seperti itu."
"Kau merasakan hal yang sama?"
Akemi mengangguk.
"Saat pertama melihatmu di kelas ini, aku merasa tidak asing denganmu. Aku merasa sudah mengenalmu sangat lama. Aku pun berpikiran sama denganmu. Aku merasa kita berdua pernah menikah."
Mulutku terbuka sedikit. Aku coba tetap tenang, tapi ini terlalu mengagetkan. Bagaimana mungkin dua orang yang saling tidak mengenal mempunyai ingatan yang sama soal pernikahan?
"Anak kita ada 2, benar?" tanyaku.
"Ya, sepasang kembar lelaki dan perempuan."
"Namanya...."
"Leo dan Ayane, kan?" jawabnya.
Astaga.
Bagaimana bisa?
Aku dan Akemi memiliki ingatan misterius yang sama.
"Akemi, apa kau punya perasaan padaku?" tanyaku serius.
"Tidak."
"Aku pun tidak punya perasaan padamu. Lantas ingatan siapa yang kita miliki ini. Akemi?"
Kami berdua terdiam cukup lama. Hujan mulai mereda, tapi aku dan Akemi larut dalam pembicaraan yang serius. Kami berdua masih memikirkan ingatan misterius ini.
__ADS_1
"Mungkin karena efek samping kutukan murid lain."
"Efek samping kutukan?"
"Jangan pura-pura bodoh. Kau sendiri sudah tahu efek samping kutukanmu, kan?"
Tak kusangka Akemi juga tahu soal ini.
Aku pun mengangguk.
"Ya."
Akemi melanjutkan.
"Efek samping kutukanmu membuatmu kebal dari kutukan milik orang lain, kan? Makanya kau tidak pernah pingsan saat Lullin menguap. Pikiranmu pun tak bisa dibaca oleh Shino. Hanya itu satu-satunya jawaban yang masuk akal."
Aku terkikik.
"Wah, Akemi memang hebat, bisa tahu rahasiaku. Aku pun tahu efek samping kutukanmu, Akemi. Kau bisa memprediksi sesuatu dengan tepat, kan? Makanya kau bisa tahu cara untuk menghentikan kutukan milik orang lain seperti kacamata Hide, bisikan Ota, juga softlens Nana. Aku benar, kan?"
Akemi tertawa kecil.
"Maaf, tapi jawabanmu salah. Itu semua hanya percobaan iseng yang kebetulan berhasil. Aku tidak sehebat itu, kok. Percobaanku yang gagal banyak. Aku pernah meminta Shino pakai topi sekolah, topi petani, topi kuli, helm motor, topeng anonymous, tapi tetap saja gagal. Shino masih bisa membaca pikiran orang lain."
"Oh, begitu."
Hujan kali ini benar-benar reda. Sudah tidak terdengar lagi gemercik air di luar ruangan.
"Lalu apa efek samping kutukanmu, Akemi?"
"Aku tidak tahu, tidak pernah aktif, tapi aku bisa menebaknya."
"Apa itu?"
"Rahasia. Kalau kujawab dan ternyata salah, nanti aku malu."
Kami lalu pergi meninggalkan kelas, bersiap pulang ke rumah masing-masing. Meski sama-sama pakai bis, tapi kami beda rute.
"Soal ingatan misterius itu, apa menurutmu itu kenyataan? Apa sebenarnya kita memang pernah menikah?" tanyaku serius.
Akemi menatap langit yang mulai cerah kembali.
"Menurutku itu kenyataan. Tapi bukan di dunia ini. Mungkin di alam mimpi atau alam khayalan."
"Kalau kita menikah, apa Leo dan Ayane benar-benar akan terlahir? Wajah mereka, tergambar dengan jelas di benakku."
"Leo berambut hitam dan pendiam, sedangkan Ayane berambut silver dan ceria. Ayane pandai pelajaran, sedangkan Leo pandai berolahraga. Keduanya sulit akur, tapi diam-diam saling menyayangi. Benarkan?" Akemi melirikku dan tersenyum.
Lagi-lagi aku tertegun.
Akemi berhasil menebak dengan tepat sosok Leo dan Ayane yang tergambar dalam ingatanku. Bukan hanya fisik, tapi juga sifatnya.
Tidak mungkin ini semua kebetulan.
"Bagaimana kalau kita menikah saja Akemi?"
Aku sebenarnya sudah tidak punya niat berpacaran lagi setelah putus dengan pacar terakhirku, tapi kalau dengan Akemi, sepertinya tidak masalah.
"Jangan terbawa suasana, Lev. Itu mungkin hanya ingatan buatan yang terproyeksikan ke dalam kepala kita dikarenakan efek samping kutukan murid lain. Ya, sebuah ingatan buatan."
"Ingatan buatan, ya?"
Akemi mengangguk.
"Shino juga pernah bercerita padaku. Dia bilang punya ingatan menyuapi Erza makan sambil mengenakan pakaian maid. Padahal mereka tidak pernah melakukannya. Masuk akal, bukan? Ingatan buatan."
Aku tertawa.
__ADS_1
"Kalau itu sih, mereka mungkin memang pernah melakukannya, loh."
Akemi langsung memukul lenganku.
"Tidak, tidak mungkin! Erza dan Shino tidak sedekat itu!"
"Kenapa kau marah, Akemi?" Aku mengelus-elus tanganku.
Akemi memalingkan pandangan.
"Apa jangan-jangan itu impian terdalam Erza, ya? Oh... Erza pengen disuapin sama cewek yang pakai baju maid...."
Akemi berbicara sendiri, lalu kembali menatapku.
"Ah, soal ingatan menikah, Giana juga pernah mengatakan hal yang sama. Dia bilang punya ingatan menikah dengan Kensel. Tapi saat kutanya Kensel, dia malah tidak punya ingatan apa-apa. Sudah kupastikan itu ingatan buatan."
Aku tersenyum.
"Kalau Akemi yang bilang begitu, mungkin memang benar."
Tanpa sadar kami malah terus mengobrol di depan gedung sekolah tanpa melangkahkan satu kaki pun.
"Soal yang tadi, aku serius Akemi, mau menikah denganku tidak?" tanyaku lagi.
"Tidak."
"Wah, langsung ditolak."
"Kau tidak serius, Lev. Kau hanya kesepian karena pacarmu melupakanmu gara-gara kutukanmu. Kalian sebenarnya tidak putus, kan?"
Aku berdecih.
"Kenapa sih kau tahu segalanya?"
"Tidak, kok. Aku diberitahu Sera."
"Hah? Sera? Aku merahasiakan pacarku dari orang-orang, loh. Kenapa Sera bisa tahu?"
"Orang tua pacarmu bekerja di rumah Sera sebagai sopir pribadi keluarganya. Dia memberitahu semua hal tentang putrinya pada Sera. Jadi Sera tahu."
Aku langsung menepuk kepalaku.
"Astaga, jadi seperti itu. Pantas saja. Pantas saja Sera terlihat penasaran padaku."
Akemi tak membalas.
"Padahal aku sudah mendapat restu dari ayahnya. Dia senang aku berpacaran dengan putrinya. Tapi, gara-gara kutukan ini... Asuka, Otou-san... mereka berdua melupakanku."
Tidak, tidak boleh seperti ini. Aku tak boleh terlihat lemah di hadapan orang lain.
"Sera tidak memberitahu nama pacarmu, sih. Jadi Asuka, ya? Jangan-jangan... Inami Asuka murid Kelas 1-E?" Akemi melirikku.
"Iya, pacarnya Hide yang sering datang ke kelas."
Akemi tertegun.
"Ah, tapi tenang saja Akemi, aku sudah melupakannya, kok. Aku tak punya niat untuk merebutnya lagi dari Hide. Asuka terlihat lebih bahagia sekarang."
Akemi masih menatapku tanpa mengatakan apa-apa.
"Aku baik-baik saja, Akemi. Tidak perlu khawatir."
Akemi memejamkan matanya, lalu menepuk pundakku tanpa mengatakan apa-apa.
Dia mengepruk-ngepruk seragamnya, lalu menatapku lagi sebelum melangkah pergi meninggalkanku.
"Kau orang yang kuat, Lev."
__ADS_1