Murid Aneh!

Murid Aneh!
Ch. 30 - Move On


__ADS_3

"Kyaa, Lev-kun!"


"Teruaki-san!"


Para murid gadis dari kelas lain tersipu ketika Lev berjalan melewati mereka di lorong sekolah. Meski sudah sering melihat, tetapi parasnya yang menawan masih dapat menyihir mereka.


"Ah, Lev-kun... ingin sekali aku jadi pacarnya."


"Hei, Lev itu bukan untuk dijadikan pacar. Dia itu pangeran kita semua!"


"Yang berani ngajak Lev pacaran akan diberi hukum pancung!"


Meski mereka bilang begitu, faktanya banyak dari mereka yang diam-diam mengirim surat pada Lev. Mereka tahu akan ditolak, tapi sengaja menggunakan kesempatan itu agar bisa bertemu dan mengobrol berduaan di tempat yang sepi. Ditolak sama sekali bukan masalah.


"Pa-pangeran... sejak kapan aku disebut pangeran?"


Lev merasa malu dipanggil seperti itu.


Di tengah perjalanan, Lev dihentikan oleh tiga gadis yang mengaku sebagai tiga kandidat terkuat untuk menjadi pasangannya. Tiga gadis ini dimusuhi para penggemar Lev karena terlalu sering mendekat secara terang-terangan. Mereka adalah Yuzuki si murid sultan, Inaba si atlit basket, dan Kugimiya si anak wakil kepala sekolah.


"Teruaki-san, sudah saatnya kita bersentuhan!"


"Aku akan memegang tanganmu kali ini, Lev!"


"Kau tidak boleh kabur!"


Tiga gadis itu tiba-tiba bernafsu ingin menyentuh Lev.


Lev seketika mundur.


"Oi, oi, kalian ingin melupakanku?"


"Tenang saja! Dengan kekuatan cinta, aku tidak akan melupakanmu, Teruaki-san."


"Aku juga, Lev-kun!"


"Aku juga!"


Ketiga gadis itu mulai berjalan perlahan mendekati Lev sembari mengarahkan tangan mereka seperti serigala yang hendak memangsa seorang gadis.


"STOP!" Shino muncul dari belakang dan menghentikan mereka. "Tidak boleh ada yang menyentuh Lev kami!"


Ketiga gadis itu langsung memasang wajah jijik.


"Hah? Kau ini siapa? Orang jelek!"


"Kau cuma teman sekelasnya! Jangan sombong, orang bodoh!"


"Kau yang seharusnya menjauhi Lev, orang miskin!"


Shino sudah terlalu sering mendengar ejekan dari para murid SMA Subarashii. Sekarang dia sudah kebal.


"Hahaha, menggonggonglah sesuka kalian, karena kalian...." Shino menggerayangi tubuh Lev. "Tidak bisa melakukan ini, hahaha!"


Shino menyentuh-nyentuh kulit Lev dengan tangannya.


Tiba-tiba Yurina datang.


"Hahaha! Kalian iri, kan? Kalian iri, kan? Cuma kami yang bisa menyentuh Lev!"


Yurina memegangi pipi Lev dengan kedua tangannya. Mengacak-ngacak rambutnya juga sampai berantakan.


Yuzuki, Inaba, dan Kugimiya menggigit bibir bawahnya.


Giana yang baru datang langsung masuk ke permainan.


Tanpa ragu, dia menggandeng tangan Lev dengan mesra.


"Kalian tidak bisa melakukan ini, kan?! Kami bisa melakukannya tiap hari, loh! Hohohoho!!!" Giana tertawa-tawa seperti ratu yang jahat.


Shino, Yurina, dan Giana menyentuh-nyentuh Lev dihadapan para gadis yang tidak diizinkan untuk menyentuhnya. Mereka terlihat semakin panas.


"Weee!!! Gak bisa nyentuh, Lev! Weee!!!"

__ADS_1


"Gak bisa nikah sama Lev, weee!!!"


"Weee!!!"


Yuzuki, Inaba, dan Kugimiya pun merasa sebal. Mereka langsung pergi meninggalkan Lev dan yang lain.


"Dasar cewek-cewek kampung."


"Mentang-mentang punya kutukan, nyentuh Lev sembarangan."


"Kalian akan menyesal para ******!"


Lev menghela napas.


Begitu mereka pergi, Shino, Giana, dan Yurina melepas pegangan mereka dari Lev.


"Kalian ini benar-benar seperti anak kecil," ucap Lev.


"Hahaha! Tidak apa-apa, saya suka melihat wajah kesal mereka."


"Kerja bagus, Shino!" Giana mengajaknya tos.


"Kalau ketemu lagi langsung peluk saja Levnya, biar mereka iri!"


Lev menghela napas lagi.


***


Sepulang sekolah, Lev pergi menonton pertandingan sepak bola di balik pagar. Dia berdiri menyelinapkan jari-jarinya di kawat besi, memfokuskan pandangannya pada lapangan.


Sambil menonton, dia merenung.


"Ah, bosan. Pulang ke apartemen paling langsung tidur. Aku sudah berhenti kerja di bar. Benar-benar nganggur. Apa daftar jadi pacar rental saja, ya? Gak mungkin."


Alasan Lev datang ke tempat ini karena di klub sepak bola banyak teman Lev sewaktu SMP. Mereka dulu anggota satu klubnya di ekstrakurikuler sepak bola, tapi semuanya sudah lupa pada Lev.


"Ah, tahu begini dulu aku masuk klub basket saja, atau voli. Tapi, hasilnya pasti sama saja, sih."


Seseorang menyapa, berdiri di sebelahnya.


"Kenji-senpai?" Lev menoleh.


"Kenapa kau ke sini, Lev? Apa kau mau masuk klub sepak bola lagi?"


"Tidak, aku...."


"Kalau begitu masuk klub basket saja! Kami selalu menanti kedatanganmu, Lev! Yukimura-kun juga ingin kau bergabung."


"Ah, Gen, ya. Dia kan angin-anginan. Kenapa bisa masuk klub basket?"


Kenji menutup matanya.


"Ya, di saat normal dia memang angin-anginan, tapi ketika masuk mode 'Greed', Yukimura tak terhentikan."


"Begitu, ya."


"Ayo Lev, bergabunglah, kalau kau masuk, tim kita pasti akan menjuarai interhigh lagi setelah dua tahun berturut-turut kalah di final. Kau dan Yukimura akan jadi partner yang ideal!"


Lev merasa senang dengan pujian yang diberikan oleh Kenji. Semenjak dulu, dia memang berbakat dalam bidang olahraga. Sepak bola, voli, basket, bisbol, Lev terbilang handal di hampir setiap bidang olahraga. Dia sampai diperebutkan oleh banyak klub.


Namun, pada akhirnya memilih klub sepak bola karena teman sekelasnya banyak di sana.


"Ingin sih, tapi dengan kondisiku yang sekarang, tidak mungkin aku bisa ikut olahraga yang berhubungan dengan fisik lagi. Tidak mungkin kan di tengah pertandingan kawan satu tim tiba-tiba melupakanku?" Lev tertawa kecil.


Kenji menghembuskan napas panjang.


"Fuuh... benar juga. Ahhhh sayang sekali. Padahal kau sangat berbakat, Lev. Bakatmu alami. Aku iri, loh."


"Kau ini suka merendah, kau jauh lebih hebat dariku, Kenji-senpai. Buktinya kau selalu jadi kapten."


"Aku cuma jago bertahan. Dalam hal memasukkan bola, kau adalah juaranya. Aku masih ingat ketika kau mencetak three point sepuluh kali berturut-turut saat festival olahraga kelas satu. Rahangku sampai terjun ke tanah."


"Ahahaha, kau berlebihan."

__ADS_1


Lev jadi teringat kembali masa kejayaannya di mana bakat yang dimilikinya jauh lebih keren dibanding wajah tampannya. Yang tersisa dari Lev sekarang memang hanya wajahnya saja. Para gadis sangat menyukainya.


Ketika sedang mengobrol, Lev melihat ada seorang gadis yang hendak jatuh ketika sedang berlari melewatinya. Dengan refleks, Lev langsung menangkapnya hingga gadis itu tidak jatuh ke tanah.


"Te-terima kasih sudah menolongku," ucap gadis itu sembari ngos-ngosan.


"Ya, sama-sama, hati-hati, ya." Lev melepas pegangannya dari gadis itu.


Dia menatap Lev dengan wajah sumringah.


"Waah, seperti yang dirumorkan para gadis, kau ternyata memang tampan, Teruaki-san, hehe."


"Y-ya."


Lev merasa ada yang janggal di sini.


"Tu-tunggu! Kau tidak melupakan Lev?!" Kenji-senpai berteriak.


Lev pun menyadari kejanggalannya.


"Eh? Eh!!! Benar juga! Kenapa aku tidak lupa pada Teruaki-san?!"


Lev menelan ludah. Baru kali ini ada orang normal yang tidak lupa padanya setelah mereka bersentuhan.


"A-anu... boleh aku memegang tanganmu... lagi?" pinta Lev.


"Ya, boleh."


Lev pun menyentuh tangan gadis itu, mencengkramnya cukup erat.


"Kau masih mengingatku?" tanya Lev sembari menggenggam tangannya.


"Y-ya! Aku masih mengingatmu, Teruaki-san!" Gadis itu tersenyum.


Lev langsung menunduk. Merasa terharu.


"Terima kasih, kau sudah boleh pergi."


"Ya... aku pergi dulu, ya." Gadis yang tingginya sepantaran Erza itu kembali melanjutkan berlari.


Lev dan Kenji saling menatap.


"Lev, jangan-jangan kutukanmu sudah hilang?"


"Tidak, belum tentu! Jangan sentuh aku dulu, Kenji-senpai! Akan kucoba pada orang lain!"


Lev pun berjalan keliling sekolah. Kenji mengikutinya.


"Itu dia, Inaba!" Lev berjalan ke arahnya.


Gadis itu langsung tersipu.


"Lev! Tu-tumben kau memanggilku? Sedang apa kau dengan kapten?"


Tanpa berkata apa-apa, Lev langsung memegang tangan Inaba.


"Inaba, apa kau...."


Perlahan sorot mata antusias Inaba memudar jadi gelap. Tatapannya sekarang menjadi begitu asing.


"E-eh?! Kamu siapa? Ke-kenapa memegang tanganku?!" Wajah Inaba memerah.


"Inaba... melupakanku?"


Lev seketika melepas tangannya dari Inaba, dan pergi meninggalkannya.


Kenji mengikuti.


"Senpai, sepertinya, gadis pelari yang hendak jatuh tadi orang yang spesial."


"Begitu, ya."


"Tidak... mungkin dia juga punya kutukan."

__ADS_1


__ADS_2