
"Sensei, izin ke kamar mandi, mau beol." Nana mengangkat tangannya di tengah pelajaran matematika.
Para murid perempuan langsung menoleh ke arahnya.
"Nana, gak boleh ngomong gitu, kamu perempuan!"
"Nana jorok!"
Bukannya tersinggung, Nana malah tersipu malu.
"Hehe, kalian bisa saja."
Nana pun pergi meninggalkan kelas.
Seumur hidup, aku baru pertama kali menemukan gadis seperti Nana. Dia terlalu blak-blakan dan tampak tidak peduli dengan pandangan orang-orang.
Dia selalu mengatakan apa yang ada di kepalanya tanpa berpikir dua kali. Selalu melakukan hal-hal konyol yang tidak ada feminimnya sama sekali.
Hal ini membuat teman-teman sekelasnya khawatir pada gadis berpostur pendek itu. Mereka khawatir Nana tidak akan punya pasangan.
"Nana imut sih, tubuhnya kecil seperti anak SD, pasti ada kok yang mau sama dia, tapi kalau kelakuannya begitu...."
"Apa jangan-jangan Nana memang masih SD, ya? Makanya kelakuannya begitu."
"Tidak, Nana sudah SMA, tahun lahirnya sama dengan kita."
Giana, Emili, dan Keiko membicarakan Nana saat jam istirahat di kelas.
Aku yang laki-laki juga khawatir pada teman sekelasku tersebut. Kalau Nana bersikap tanpa malu terus, bisa-bisa dia tidak dianggap perempuan lagi.
Saat jam istirahat, mereka bertiga meminta Nana untuk duduk bersama mereka.
"Nana, ada yang perlu kita bicarakan," ucap Giana.
"Apa itu?"
"Anu... berhentilah bersikap blak-blakan. Kamu harus punya rasa malu, Nana!" ucap Giana.
"Itu benar, perempuan gak boleh kentut sembarangan atau bilang mau beol di depan umum. Gak boleh, Nana." Emili menambahkan.
"Nanti kamu gak punya pacar, loh!" Keiko menegaskan.
__ADS_1
Mendengar hal itu, Nana langsung tertawa-tawa.
"Hahaha, kalian semua memang bodoh. Apapun yang kulakukan, aku ini bakal mudah dapat pacar. Siapapun laki-lakinya pasti akan jatuh cinta padaku. Mau artis, CEO, murid populer, semuanya pasti jatuh cinta padaku. Hahahaha."
Mereka bertiga tidak bisa membalas. Aku pun teringat dengan kutukan yang Nana miliki, dan tidak bisa menyangkal perkataannya.
"Hoshi-hentai!" Nana memanggil.
"Ya?" Hoshi menoleh.
"I love you."
Wajah Hoshi langsung memerah saat mendengar kalimat itu dari Nana.
"I-I love you too."
Nana tersenyum dengan bangga, lalu menghadap teman-temannya lagi.
"Lihat, sangat mudah bukan mendapatkan laki-laki?"
Mereka bertiga tidak bisa membalas.
Aku harus berhati-hati pada Nana. Kalau tidak, aku juga akan jatuh cinta padanya.
Kutukan ini bersikap mutlak dan tak bisa ditolak. Setiap laki-laki yang bertatapan dengan Nana akan jatuh cinta padanya selama satu jam, dan tidak bisa dibatalkan.
Aku pun pernah jatuh cinta pada Nana sekali, dan rasanya sangat mendebarkan. Aku ingat betapa aku menyukai dirinya saat terpengaruh dalam kutukan. Namun, setelah satu jam, perasaan itu langsung hilang.
"Itu curang, Nana. Itu bukan cinta sejati!"
"Kau tidak boleh bersikap kekanak-kanakkan! Mengerti?"
"Sebagai teman, aku ingin kamu bersikap lebih feminim!"
Nana dibentak oleh mereka bertiga, dan hampir menangis.
Hoshi langsung datang untuk membela Nana.
"Hei, apa yang kalian lakukan pada Nana?! Terserah dia mau bersikap bagaimana! Itu haknya!"
Giana, Emili, dan Keiko menghela napas.
__ADS_1
"Kau sedang terpengaruh kutukan Nana, Hoshi. Kau juga pernah bilang Nana itu tidak akan pernah punya pasangan." Giana menjelaskan.
"Hah? Aku tidak ingat pernah bilang begitu! Nana itu sangat imut, cantik, dan elegan! Pasti banyak laki-laki yang mau dengan Nana! Salah satunya aku!" Kepala Hoshi tidak bersinar.
"Ah, sudahlah, percuma berdebat dengan orang yang lagi jatuh cinta." Keiko pergi meninggalkan bangku.
"Aku pamit." Emili juga pergi.
Nana yang tadi hendak menangis malah tertawa-tawa di hadapan Giana.
Giana berdecih. Dia gagal lagi untuk memberi ceramah pada Nana.
"Nana." Roman memanggil.
"Ya?" Nana menoleh.
"Ugh."
Roman langsung terpengaruh oleh kutukannya. Seketika itu juga, ketua kelas kami langsung jatuh cinta pada Nana.
Kutukan yang benar-benar mengerikan!
Meski begitu, ada satu anak laki-laki yang sama sekali tidak terpengaruh oleh kutukan milik Nana. Meskipun bertatapan mata berjam-jam, anak itu tetap tidak jatuh cinta pada Nana. Dia adalah Lev.
Saat ini, dia berjalan mendekati bangku Nana, dan berbicara padanya dengan santai.
"Nana, sekali-sekali dengarkan omongan temanmu. Mereka bilang begitu karena sayang."
Ucapan Lev membuat Giana terharu, tapi Nana tidak mempedulikannya.
Dia terus mencoba membuat Lev jatuh cinta padanya, tapi masih gagal.
"Kenapa? Kenapa kau tidak jatuh cinta padaku, Lev-hentai?!"
Lev hanya menyeringai, membuat gadis itu merasa kesal.
"Kenapa? Kenapa? Padahal kita sudah bertatapan!"
Sampai bel masuk, Nana terus gagal membuat Lev jatuh cinta.
Malah aku yang jatuh cinta padanya gara-gara dia tiba-tiba menoleh ke arahku.
__ADS_1
"Ah, Nana...."