Murid Aneh!

Murid Aneh!
Ch. 16 - Murid Terbeda


__ADS_3

"Aku suka anak kecil," ucap Gen.


"Oi! Kau sadar apa yang kau katakan? Kau bisa ditangkap polisi, loh!"


"Aku suka anak kecil karena mereka lucu. Aku ingin jadi guru TK di masa depan. Salahnya di mana?"


"Oh, kirain...."


"Nanti aku nikahi salah satu muridku."


"Oi!"


Keesokan harinya, Gen melontarkan pernyataan lain.


"Aku benci anak kecil."


"Lah, katanya suka?"


"Hah? Kapan aku bilang begitu? Anak kecil itu merepotkan! Di masa depan, aku ingin childfree!"


"Hadeuh...."


Satu jam kemudian, pernyataannya berubah lagi.


"Erza, kalau menikah, kau harus punya anak, ya. Kalau tidak, siapa yang akan mengurusmu saat kau sudah tua? Anak adalah penerus generasi, kau harus memilikinya saat menikah dengan Akemi nanti."


"Siapa yang akan menikah dengan Akemi!"


Itu tadi adalah Gen, temanku yang paling labil. Kepribadiannya berubah-ubah. Di detik ini dia bisa mengatakan bahwa bumi itu bulat, tapi pada jam berikutnya dia mungkin akan mengatakan bahwa bumi itu bentuknya trapesium.


Kepribadian Gen berubah-ubah, begitu pula pola pikirnya. Ini semua dikarenakan kutukannya.


Kutukan milik Gen adalah kepribadian ganda.


Berbeda dengan Kensel yang berubah wujud menjadi orang lain, kutukan Gen hanya merubah kepribadiannya.


Sejauh yang aku tahu selama ini, Gen memiliki sekitar tujuh kepribadian berbeda. Semuanya adalah tujuh dosa besar. Pemarah, pemalas, penafsu, pengiri, perakus, peserakah, dan penyombong.


Saat menjadi perakus, makanan kesukaan dan gadis yang disukai berbeda. Hobinya berbeda, bakatnya berbeda, teman dekatnya juga berbeda.


Saat menjadi pemarah, gadis yang disukai Gen adalah Keiko, tapi saat menjadi penafsu, yang disukainya adalah Nana.


Saat menjadi pemalas, otak Gen jadi encer, tapi payah olahraga. Sedang saat menjadi peserakah, fisiknya mendadak bagus, tapi otaknya jadi lemot.


Bentuk tersempurna dari kepribadian Gen adalah saat dia jadi penyombong. Dia jadi pandai melakukan berbagai hal. Berbanding terbalik saat dia menjadi pengiri. Gen mendadak jadi introvert dan tidak bisa melakukan apapun.

__ADS_1


Dari semua sifat itu, yang paling sering Gen dapatkan adalah penafsu. Dia jadi orang mesum yang menyukai semua perempuan di kelas, terutama Nana. Gen sangat menyukai gadis SMA yang berperawakan anak SD itu.


***


"Nana, aku masukkan sekarang, ya."


"Tunggu, Gen-hentai, aku belum siap."


"Ayolah, tidak akan sakit, kok."


"Ini pertama kalinya bagiku. Benar tidak sakit?"


"Iya, aku jamin."


"Ba-baiklah... aku siap."


Aku tidak sengaja menguping pembicaraan Gen dan Nana yang sedang berduaan di kelas.


Apa Gen sedang dalam mode penafsu? Apa dia sedang mencoba menodai Nana yang masih polos? Aku tidak akan membiarkannya!


"Oi! Kalian sedang apa?!" Aku membuka pintu kelas, memergoki mereka.


"Ah, Erza! Gara-gara kau softlens-nya jadi jatuh! Jangan mengagetkan begitu, dong!" Gen menatap ke arahku.


"Eh, softlensnya jatuh?!" Nana panik.


"Ma-maaf... aku pikir...."


"Lain kali jangan ngagetin gitu, ya."


"Softlensnya jatuh!!! Bagaimana kalau kotor?!!"


"Tenang saja, tidak apa-apa, kok."


Sambil terus menjaga pandangan dari Nana, aku berjalan menghampiri mereka. Gen mungkin sudah jatuh cinta pada Nana, tapi aku tidak mau.


"Nana, Gen sedang mode apa sekarang?"


"Hmm... aku tidak tahu, yang pasti bukan penafsu, soalnya wajahnya tidak menjijikkan."


"Oh... syukurlah."


Aku merasa lega.


Gen lalu memasangkan softlens pada kedua mata Nana.

__ADS_1


"Kenapa tiba-tiba pakai softlens?" tanyaku pada Nana tanpa memandang wajahnya.


"Kata Akemi kalau pakai softlens kutukanku akan hilang. Dia menyuruhku mencobanya."


"Hee...."


"Ayo Erza-hentai, coba lihat wajahku!"


"Ah, males, Gen saja deh."


"Dia sudah jatuh cinta padaku, jadi tidak bisa. Ayo cepat!"


Sambil takut-takut, aku pun menatap wajah Nana.


Dan... tidak terjadi apa-apa.


"Kau jatuh cinta padaku, Erza-hentai?"


"Tidak."


"Sungguh?!"


"Iya!"


Ini bagus. Akemi berhasil. Dia telah menemukan cara untuk mencegah kutukan Nana. Kalau begini, aku tidak perlu memalingkan wajahku lagi darinya.


"Hehe, baguslah, aku pakai saja, deh."


Ini adalah penemuan Akemi yang ketiga dalam hal menetralisir kutukan. Yang pertama kacamata untuk menahan kutukan Hide, yang kedua bisikan rahasia untuk membangunkan Ota, yang ketiga softlens untuk menetralisir kutukan Nana.


Apa dia bisa menetralisir kutukanku juga, ya? Aku tidak tahan mendengar ejekan cicak yang sedang menempel di dinding.


"Erza jelek, Erza jelek."


Aku menatap Gen. Berusaha menebak kepribadian yang ada pada dirinya saat ini. Kalau sifat dosanya tidak ditunjukkan, aku tidak bisa mengetahuinya. Sifatnya sekarang antara perakus atau peserakah. Kedua sifatnya itu agak mirip.


"Biayanya." Gen meminta tagihan pada Nana.


"Maksudnya?"


"Aku sudah memasangkan softlens di matamu. Mana biayanya?"


"Kau bilang tadi gratis!"


"Aku tidak bilang begitu."

__ADS_1


"Iya, kau bilang begitu, Gen-hentai!"


Ah, sepertinya aku tahu kepribadiannya sekarang.


__ADS_2