
(POV Oka Maggiana)
Tak tahu dari mana asal mula keinginan ini, tiba-tiba saja aku ingin mampir ke tempat tinggal Lev. Setahuku dia sangat pemilih, bahkan anti ketika teman-teman sekelas ingin datang ke apartemennya. Tidak ada satu pun murid kelas yang pernah datang ke tempat Lev kecuali Roman.
Mungkin gara-gara itulah aku jadi penasaran. Memanfaatkan kondisiku yang sedang tidak baik-baik saja, Lev mungkin akan lebih simpati, dan mau mengizinkanku untuk datang ke sana.
Tak terasa, kami pun sampai, apartemen Lev ternyata tidak terlalu jauh jaraknya dari sekolah. Di lihat dari bangunannya sudah jelas ini apartemen elit, lebih bagus dari apartemen tempat tinggal Yurina. Apa Lev juga orang kaya seperti Sera?
Kami naik lift sampai tiba di lantai 5, berjalan di beranda dan berhenti di depan kamar bernomor 505.
"Kau adalah orang ketiga di kelas 1-f yang kuundang masuk ke kamarku. Saat di dalam nanti, jangan ambil foto apa-apa, ya."
"Orang ketiga? Selain Roman siapa lagi?"
"Erza."
"E-eh... Erza itu sepertinya dekat dengan semua orang, ya."
"Iya, dia cukup sering membantuku."
"Aku juga."
Lev lalu membuka pintu kamarnya, dan kami segera masuk.
Isi kamarnya...
Ya, sesuai dugaan, sih. Sesuai dengan label elit apartemen ini.
Kamarnya luas dan memiliki banyak ruangan. Ruang tengah, ruang makan, dapur, dan kamar tidur semuanya terpisah. Dibanding kamar, tempat ini lebih seperti rumah pribadi. Ya, apartemennya memang besar sih, wajar ruang kamar Lev juga besar.
Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan di sini. Aku tak pernah main ke rumah laki-laki sebelumnya. Apalagi sekarang hanya berduaan saja. Rasanya jadi semakin gugup.
Aku duduk di sofa bermain ponsel, sementara Lev mengambil minuman dingin di kulkas dan menaruhnya di atas meja beserta dengan gelas kosongnya.
"Silakan, bersantai saja di sini."
Lev lalu duduk di sebelahku.
"Anu... kau aslinya orang mana, Lev?" tanyaku basa-basi.
"Aku lahir di Rusia, dan tinggal di sana sampai umur lima tahun. Lalu pindah ke Kyoto sampai lulus sekolah dasar. Mulai dari SMP, aku pindah ke Tokyo, dan tinggal di sini sendirian."
Ah, benar juga, Lev itu punya keturunan Rusia. Dia terkadang memang berbicara bahasa Rusia dengan Yurina.
"Kau mandiri sekali ya Lev, dari SMP sudah tinggal sendirian. Apa orang tuamu sering mampir?"
Lev terdiam sejenak.
"Orang tuaku sudah lama meninggal."
__ADS_1
"Eh?"
"Saat aku duduk di bangku sekolah dasar, tepatnya saat kelas 4, seluruh keluargaku pergi berlibur ke Hiroshima menaiki mobil pribadi. Ibu, ayah, kakek, nenek, dan adik perempuanku, Leona, semuanya ikut. Aku tinggal di rumah karena sedang sakit, bibiku menjagaku di sana. Malamnya, aku dapat kabar, katanya mereka mengalami kecelakaan lalu lintas, dan semuanya meninggal di tempat. Aku sudah sendirian sejak saat itu. Tidak punya siapa-siapa lagi."
Mulutku terbuka saat mendengar cerita Lev. Aku sama sekali tidak tahu bahwa Lev ternyata seorang anak yatim.
"Setelah mereka meninggal, bibiku yang mengurusku di rumah. Dia satu-satunya keluarga yang aku miliki. Meski begitu, rasanya sangat canggung tinggal di rumahnya. Dia memiliki suami, juga dua anak yang harus dibesarkan. Aku merasa tidak nyaman tinggal di sana. Aku merasa seperti beban. Jadi kuputuskan, aku ingin pergi dari tempat itu secepat mungkin, dan tinggal sendirian di sini."
Aku tetap diam dan terus mendengarkan.
"Aku pernah menceritakan soal ini pada temanku saat SMP. Kau tahu apa tanggapannya? Dia bilang: "Ya sudah lah, bersyukur saja kau masih hidup. Kau itu tampan Lev, kau mudah mendapatkan pacar, orang-orang menyukaimu, orang tuamu juga punya simpanan uang yang banyak, tidak usah mengeluh lah. Anggap saja kematian mereka adalah harga yang harus kau bayar atas segala kesempurnaan yang kau miliki. Kau punya segalanya Lev, hidupmu enak, kau punya banyak keberuntungan. Dibandingkan kau, hidupku jauh lebih berat. Kuhajar kau kalau mengeluh lagi." Sejak saat itu, aku mulai berpikir, mungkin perkataannya memang benar, aku ini orang yang beruntung, tapi kenapa ya, kenapa ya, kenapa aku selalu ingin menangis ketika mengingat keluargaku? Apa aku ini memang anak yang beruntung, ya?"
Mendengar Lev bercerita begitu, dan nada suaranya yang mulai berubah, aku jadi ingin menangis.
Aku tidak ada bedanya dengan teman yang Lev ceritakan barusan. Aku sendiri sering mengira Lev itu anak yang sangat beruntung, tanpa aku tahu bahwa dia pun pasti punya masalahnya sendiri.
"Aku pernah punya pacar, tapi dia selingkuh dengan teman dekatku, orang yang kuceritakan barusan. Lalu aku dapat pacar baru, tapi dia melupakanku gara-gara kutukan yang kumiliki. Apa benar aku... ahaha, maaf, kenapa aku malah bercerita ini padamu, ya. Maaf, Giana, lupakan saja apa yang sudah aku bilang, ahahaha."
Aku terdiam, rasanya aku marah pada diriku sendiri. Hanya karena lebih jelek dari Sera dan Keiko, aku sampai merendah seperti ini. Dibanding aku yang masih punya keluarga utuh dan punya teman-teman yang baik, Lev mungkin lebih kesepian dariku. Apalagi dia tidak bisa menyentuh orang-orang, dan aku tahu, diam-diam pasti banyak yang membencinya. Kenapa aku... kenapa aku merasa jadi orang yang paling menderita?
"Lev... boleh aku memelukmu?"
"Hah? Tidak, Giana, tidak apa-apa. Ah... aku menyesal menceritakan soal keluargaku padamu. Sekarang kau pasti jadi merasa kasihan padaku, kan? Tidak apa-apa Giana, sungguh. Aku hanya ingat mereka saja gara-gara kau tadi bertanya."
Aku berdiri dari tempat dudukku, lalu memeluknya dengan erat. Ini sangat memalukan. Tak pernah aku memeluk seorang laki-laki sebelumnya. Tapi, aku sangat ingin memeluknya sekarang, tak tertahankan lagi.
"Kalau kau tidak suka, kau boleh mendorongku, Lev."
Tanpa mengatakan apa-apa, Lev balas memelukku.
Aku dapat merasakan hangat tubuhnya, jantungku berdegup kencang. Aku tiba-tiba jadi semakin menyukainya.
"Kau tahu, seandainya berubah menjadi jelek bisa mengembalikan keluargaku, aku rela menjadi jelek saat ini juga. Aku rindu ibuku, ayahku, Leona, aku tidak punya siapa-siapa lagi sekarang. Untuk apa aku berjuang? Siapa yang harus kubanggakan? Bukankah membanggakan kedua orang tua adalah impian semua orang anak? Aku tidak tahu untuk apa aku hidup sekarang, tapi aku tahu, aku harus tetap hidup. Aku tidak ingin mereka bersedih di atas sana."
Lev sama sekali tidak menangis, malah aku yang membasahi bajunya. Aku tidak tahu sekuat apa anak laki-laki dalam menahan tangis, tapi Lev benar-benar kuat dalam menahannya.
Setelah beberapa saat, kami pun berhenti berpelukan.
"Kenapa malah kau yang nangis, hahaha."
"Maaf... tapi ceritamu memang sangat menyedihkan. Aku tak tahu kau begitu kesepian."
"Ah, tidak juga, kok. Terkadang memang sedih tiap ingat keluarga, tapi tak lama kemudian baik-baik saja, kok."
"Tetap saja...." Aku menyeka air mataku.
Tak seberapa lama, Lev pergi ke kamar mandi. Aku tiba-tiba jadi malu mengingat apa yang terjadi barusan. Memeluk Lev secara tiba-tiba. Astaga... kenapa tiba-tiba aku jadi pemberani seperti itu?
Lev lalu kembali duduk di sebelahku.
__ADS_1
"Sebenarnya, aku masih punya keluarga di Rusia. Nenek dari ibuku masih hidup. Dia menawariku untuk tinggal di sana. Tapi aku tidak mau, aku lebih suka tinggal di Jepang. Jadinya dia hanya bantu membayar apartemen ini saja, aku beruntung sih, haha."
"Jangan pergi, Lev. Pokoknya jangan pergi! Kau harus tetap di Jepang, jangan ke Rusia!"
Tiba-tiba aku jadi bersikap posesif padanya, entah mengapa, tapi aku sudah tidak peduli.
"Iya, iya, aku mengerti, aku kan punya kutukan. Mana mungkin aku ke Rusia, hahaha."
Ah, tidak, sial... sepertinya aku jatuh cinta pada Lev sekarang. Perasaan kagumku padanya telah berubah dan berkembang menjadi rasa sayang. Ini gara-gara dia menyelamatkanku barusan, gara-gara aku tahu Lev yang sebenarnya, gara-gara aku tahu bahwa dia tak sesempurna yang aku pikirkan.
Ah, bagaimana ini... aku tak bisa menatap Lev seperti biasa lagi sekarang. Aku jadi semakin penasaran padanya. Perasaanku menggebu-gebu.
Tidak, tidak boleh, perasaan ini tidak boleh ada, aku tidak boleh menyukai Lev. Tidak mungkin orang sepertiku cocok dengannya. Dia harus memiliki pasangan yang lebih kuat darinya. Orang seperti Akemi mungkin lebih cocok.
"Daripada diam saja, mending nonton film yuk, aku punya beberapa kaset yang belum kutonton. Kau mau?" tawarnya.
"Ya, aku mau!"
Siang itu, aku pun menghabiskan waktu di apartemen Lev. Menonton sebuah film aksi yang menyenangkan.
Aku lalu diantar pulang olehnya, menaiki sepeda motor yang aku baru pertama kali melihatnya. Rasanya sangat nyaman dibonceng olehnya.
"Giana, soal keluargaku tadi, tolong jangan beritahu siapapun, ya. Aku hanya memberitahumu saja, sungguh. Roman dan Erza bahkan tidak tahu," ucap Lev setelah membuka helm.
"Baik... tapi kenapa kau tadi memberitahuku?"
"Aku sendiri tidak tahu, tiba-tiba ingin bercerita saja. Sudah lama aku tidak berkeluh-kesah. Makasih ya sudah mau mendengarkan." Lev tersenyum.
"I-iya...."
"Ya sudah, kalau begitu aku pulang dulu."
"Anu, Lev!"
"Ya?"
"A-aku... boleh aku mampir ke tempatmu lagi kapan-kapan?"
"Ya, tentu, bilang saja."
"Ya-yatta, terima kasih!"
"Ya sudah, aku pergi dulu. Sampai jumpa lagi, Giana."
Aku tahu betul, aku telah jatuh hati pada Lev saat dia menggodaku tadi siang. Saat dia menyelamatkanku dari perasaan rendah diri.
Dan setelah aku mengetahui segala tentangnya, perasaan ini jadi semakin mendalam. Ada perasaan ingin membahagiakan Lev, menyayanginya dengan tulus, merawatnya dengan ikhlas, serta memeluknya di saat dia merasakan kesepian.
Aku tak pernah sejatuh cinta ini sebelumnya. Aku sampai langsung masuk kamar dan menenggelamkan kepalaku di atas bantal dan menahan teriakan.
__ADS_1
Aku sedekat itu dengan Lev barusan. Aku tahu rahasianya. Kami berpelukan cukup lama.
Aku seharusnya tidak boleh jatuh cinta pada Lev, dia terlalu tinggi untuk kugapai, tapi kalau hanya mencintainya saja tanpa mengatakan apa-apa... itu tak masalah, kan?l