Murid Aneh!

Murid Aneh!
Ch. 35 - Shy Girl


__ADS_3

Gletak!


Roman pingsan.


"Maaf!"


Gletak!


Hide pingsan.


"Maaf!"


Gletak!


Nishimura-sensei pingsan.


"Maaf!"


Lullin menundukkan kepalanya berkali-kali, merasa bersalah karena orang-orang di sekitarnya terkena kutukan.


"Kenapa? Kenapa aku mudah sekali menguap?!"


Lullin merutuk dirinya sendiri.


"Ahh, aku tidak layak duduk di sini. Aku tidak layak bernapas di sini, aku tidak layak menatap murid-murid di sini."


Lullin beranjak dari tempat duduknya, pergi ke pojokan kelas, dan duduk memeluk lututnya sambil terus menunduk.


Giana yang melihat, langsung pergi mendekatinya.


"Oi... Lullin... kau baik-baik saja?"


"Aku... aku ini... murid terkutuk...."


"Ya emang."


"Huhu...."


"Murid-murid di sini terkutuk semua, bukan cuma kau."


"Kutukanku paling sering aktif, paling merepotkan."


"Tidak ada yang kerepotan, kok. Semuanya maklum. Buktinya gak ada yang protes, kan?"


".... aku merasa tidak enak pada Nishimura-sensei."


"Ya sudah, nanti aku temani kau minta maaf, deh." Giana menepuk-nepuk pundaknya.


Pelajaran terhenti karena guru yang mengajar kolaps. Roman dan Hide pun masih tidak sadarkan diri.


Jam pelajaran berubah menjadi jam kosong. Masih ada waktu lebih dari setengah jam sampai jam istirahat tiba.


"Teman-teman, ayo kita main UNO!" Shuu mengeluarkan kartunya dari dalam tas. "Jarang-jarang kan ada jam kosong gini? Ayo kita main!"


Beberapa murid berjalan mendekatinya. Yurina, Emili, Shino, Hoshi, Erza, dan Kensel yang sedang berwujud orang berotot berkulit hitam.


"Lullin, mau ikutan?" tawar Giana.


Lullin menggeleng.


"Ya sudah, kalau mau ikut, langsung gabung, ya."


Giana pun pergi dan bergabung untuk bermain UNO dengan Shuu dan yang lain.


"Kita main Truth or Dare ya, buat yang kalah."


"Truth or Dare itu apa?" tanya Yurina.


"Jadi yang kalah dalam permainan harus memilih salah satu hukuman. Pilih menjawab jujur atau melakukan sesuatu yang diperintahkan, gak boleh nolak." Emili menjelaskan.


"Oh, ya, ya, saya mengerti!"


"Ayo, kita mulai!"


Permainan pun dilakukan. Shuu yang mengocok dan membagikan kartu pada semuanya. Permainan ini sangat mudah dilakukan, tidak perlu memikirkan strategi rumit. Asal mendapat kartu yang bagus, pemain bisa menang.

__ADS_1


"Yah, aku kalah."


Di pertandingan pertama, Giana yang kalah, dan Shuu yang habis paling pertama.


"Baiklah Giana, pilih truth atau dare?"


"Truth saja, deh."


Di permainan truth or dare, orang-orang cenderung memilih truth karena berkata jujur lebih mudah dibanding harus melakukan sesuatu yang aneh-aneh.


Tapi, karena yang bertanya Shuu...


"Apa ukuran BH-mu, Giana?" tanya Shuu dengan serius.


"Oi! Pelecehan itu oi!" Erza protes.


"Diam kau, Erza! Aku tau, kau juga penasaran!"


Erza terdiam. Para murid gadis menatap Shuu dengan jijik.


"Ayo Giana, kau sudah memilih truth, ayo jawab."


Wajah Giana memerah.


"Tidak perlu dijawab, Giana. Minta Shuu ganti pertanyaan saja," saran Kensel.


"Dasar orang mesum, astaga...." Emili menepuk jidatnya.


Mulut Giana perlahan mulai terbuka.


"F... F-Cup." Giana menjawab dengan malu-malu.


Hidung Shuu langsung mengeluarkan darah.


"Sasuga."


"Jangan melihat dadaku terus!"


Plakk!


Pertandingan kedua dimulai.


Kali ini, Erza yang kalah, dan Shuu menang lagi.


"Cih, padahal aku ingin Shino yang kalah. Ya sudah, pilih truth atau dare?" Shuu menatap dengan malas.


"Dare!" Erza menjawab dengan lantang.


"Baiklah, tatap mata Akemi selama satu menit!"


"Itu saja? Hah gampang!"


Erza pun pergi menuju bangku Akemi. Si pemilik bangku sedang membuka buku pelajarannya.


Tanpa mengatakan apa-apa, Erza merebut buku pelajaran Akemi, dan langsung menatap matanya dengan intens.


"E-Erza... kamu sedang apa?"


Erza tidak membalas, hanya terus menatap matanya.


Akemi mulai salah tingkah. Wajahnya mulai memerah.


Dia memalingkan pandangan sejenak, kemudian menatap Erza lagi, lalu memalingkan pandangan lagi, lalu memaksakan diri untuk menatap Erza lagi dengan ekspresi yang tidak terkondisikan.


Akemi yang tidak kuat, tiba-tiba memejamkan mata, membuat Erza yang kali ini berdebar-debar.


"Ke-kenapa dia memejamkan mata?!"


Berhadapan wajah dan memejamkan mata, Akemi seperti berada dalam posisi hendak dicium. Erza menahan diri untuk tidak berbuat lebih jauh.


Satu menit berlalu, Erza pun kembali ke tempat permainan dengan ngos-ngosan.


"Bagaimana rasanya menatap gadis terpopuler di kelas kita, Erza? Aku baik, kan?" Shuu tersenyum.


"Aku akan membalasmu, Shuu."

__ADS_1


Di pertandingan ketiga, Shuu yang kalah, dan Erza yang menang.


Shuu memilih truth.


"Tatap mata Rock satu menit!"


"Lah, kenapa harus cowok jir?!"


"Kalau cewek, nanti kau ditampar. Aku baik, kan?"


"Cih!"


Shuu pun berjalan mendekati Rock, dan langsung menatap wajahnya.


"Hoo, mau main adu tatap ya, siapa takut!" Rock tersenyum.


Baru berjalan beberapa detik, Shuu sudah berteriak.


"Uwaaaa! Jangan bunuh aku, Rock!"


"Siapa yang akan membunuhmu? Aku hanya melemparkan tatapan tajamku!"


"Kau terlalu menyeramkan!"


"Be-begitu, ya? Baiklah, aku tidak akan berekspresi."


Mereka kembali bertatapan. Meski tidak melempar tatapan tajam, Shuu tetap ngeri melihat Rock. Wajahnya memang mirip seperti pemimpin gangster yang sering adu tatap dengan musuhnya. Rock seperti sudah biasa bertatapan.


Satu menit berlalu, Shuu pun kembali.


"Aku akan melihat foto onee-san seksi selama satu jam setelah ini," ujar Shuu, merinding setelah bertatapan satu menit dengan sesama lelaki.


Di permainan keempat, Emili kalah, dan Yurina yang menang.


"Syukurlah bukan Shuu yang kalah." Emili mengelus dada. "Aku pilih truth, gak mau disuruh yang aneh-aneh."


Yurina pun mengangguk.


"Emili... cowok paling tampan di kelas menurut kamu siapa?"


"Jangan Yurina! Sudah pasti dia jawab Lev! Kasih pertanyaan lain!" Giana mengkoreksi.


"Ehh... apa ya... oh iya! Kenakalanmu yang paling parah selama di sekolah apa?"


"Aku pernah menyelinap ke ruang gantiĀ  klub basket dan bersembunyi di salah satu lemari untuk lihat mereka ganti baju. Tubuh mereka... uwaaah!!!" Hidung Emili mimisan.


"Heee...."


"Ketahuan tidak?" tanya Erza.


"Tidak, dong. Aku ini ahli dalam hal menguntit!" Emili menjawab dengan bangga.


Mereka pun terus melanjutkan permainan. Roman dan Hide sudah mulai bangun, tapi Nishimura-sensei belum.


Lullin merasa bersalah.


"A-apa Nishimura-sensei mati?!"


Berlawanan dengan pemikiran negatifnya, Nishimura-sensei pun terbangun. Kepalanya terlihat sangat pusing.


Lullin segera berjalan mendekatinya.


"Maaf sensei! Maafkan saya!" Lullin menundukkan kepala berkali-kali.


"Sudah cukup! Aku tidak tahan lagi dengan kelas ini! Hilang udara, pingsan, amnesia, diteleportasi! Dan juga siapa orang berotot berkulit hitam itu?! Aku lelah menjadi guru kalian! Aku capek harus mengulang materi terus! Aku pergi sekarang! Mulai besok aku tidak akan mengajar di sini lagi!"


Nishimura-sensei melangkah pergi, dan membanting pintu dengan keras.


Mulut Lullin menganga, dia lalu menundukkan kepalanya lagi.


Tak seberapa lama, Nishimura-sensei kembali. Dia berjalan menuju anak-anak yang sedang bermain kartu, dan merampas mainan itu.


"Jadi ini yang kalian lakukan selama aku pingsan? Astaga, kalian itu murid SMA Subarashii! Kalian seharusnya malu mengotori tempat elit dengan kelakuan kampungan kalian itu! Aku akan menyita barang ini dan melaporkan kalian ke guru BK!"


Nishimura-sensei kembali membanting pintu kelas.

__ADS_1


"Ini salahku... ini salahku...." Lullin terus menerus bergumam.


__ADS_2