Murid Aneh!

Murid Aneh!
Ch. 27 - Murid Terjahil


__ADS_3

Yurina Nikolov adalah sebuah anomali. Gadis pirang asal Rusia yang kutukannya tidak sama seperti murid-murid lain di kelas ini. Kutukan Yurina tidak merugikan dan dapat dia kendalikan. Dibanding kutukan, sesuatu milik Yurina itu lebih tepat disebut sebagai kekuatan super.


Kutukan milik Yurina adalah dia dapat menteleportasi orang lain.


Sekilas memang terdengar biasa saja, tapi kutukannya itu benar-benar di luar nalar. Dia bisa memindahkan orang yang dia teleportasi dengan jarak lintas negara.


Misal kamu sedang makan di kantin Jepang, tiba-tiba Yurina datang dan menggunakan kutukannya padamu. Detik berikutnya, kamu mungkin sudah ada di negara Jerman.


Ya, hanya dengan satu kedipan, Yurina bisa memindahkan seorang murid ke tempat yang dia mau. Sebuah tempat yang pernah Yurina kunjungi.


"Saya pernah masuk kandang singa, melintas segitiga bermuda, juga masuk pedalaman hutan amazon. Kalian mau pindah ke mana? Atau mau wisata ke Bulgaria? Saya bisa antar!"


Yurina mengatakan itu sambil tersenyum, tapi perkataannya sungguh menakutkan.


Karena kutukannya inilah, bahkan Shino pun tidak berani mengumbar rahasianya. Berani macam-macam, orang itu akan Yurina teleportasikan.


"Ah, bosan sekali, punya kutukan tapi gak kepake. Teleportasi Roman saja, deh."


Dengan satu kedipan, Roman yang sedang tertawa-tawa di kelas langsung hilang seketika.


"Yurina! Kamu teleportasikan ke mana Roman?" Sera tampak tidak senang.


Dengan mengedipkan mata, Sera pun langsung hilang sekejap mata.


Para murid langsung menoleh ke arahnya.


"Tenang saja, saya tidak menteleportasi mereka ke tempat berbahaya, kok. Saya menteleportasi Roman dan Sera agar mereka bisa berduaan. Saya orang baik, kan?"


Tidak ada yang berani protes. Kalau protes, orang itu akan diteleportasi oleh Yurina. Akemi saja sampai berkeringat dingin setiap kali bicara dengan Yurina. Dia tidak bisa melakukan apa-apa terhadap Yurina.


"Baiklah anak-anak, sekarang saatnya ulangan--"


*tring!


Jui-sensei menghilang, diteleportasi oleh Yurina.


"Saya lagi tidak mau ulangan, maaf ya, hehe."

__ADS_1


"Kamu teleportasi dia ke mana?" tanya Giana.


"Ke atap."


Tak lama, Jui-sensei tiba lagi di kelas dengan ngos-ngosan.


"Yurina! Kamu jangan!"


*tring!


Jui-sensei kembali hilang.


Kami semua merasa kasihan pada Jui-sensei, tapi Yurina sama sekali tidak terlihat bersalah. Dia hanya bersiul seperti burung sembari melihat ke luar jendela.


"Hosh! Hosh! Hosh! Yurina, kali ini!"


*tring!


Jui-sensei diteleportasi Yurina untuk ketiga kalinya.


"Kenapa sih Jui-sensei tidak capek-capek!"


Yurina tampak ketakutan, tidak bisa membalas, tidak bisa menteleportasi Lev juga karena lelaki itu kebal terhadap kutukan.


"Iya, iya, saya tidak akan teleportasi Jui-sensei lagi," balas Yurina dengan bahasa Jepang.


Para murid langsung bersorak. Lev memang menjadi satu-satunya murid yang bisa menghadapi Yurina. Yurina tidak bisa berbuat macam-macam padanya.


"Jangan teleportasi orang sembarangan lagi, ya. Siapapun itu, baik murid atau Jui-sensei! Mengerti, Yurina?" Lev yang biasanya kalem berbicara dengan tegas.


"Iya."


Kupikir Yurina sudah sadar akan kesalahannya setelah dimarahi oleh Lev, tapi kelakuannya tetap tidak berubah. Kapan pun Yurina mau, dia selalu menteleportasi orang lain untuk bersenang-senang.


Yang paling sering di antara semuanya adalah Jui-sensei. Alasannya karena Yurina sering malas untuk belajar. Namun, Jui-sensei selalu bersabar, dan tidak menjatuhinya hukuman.


Dinasehati Lev berapa kali pun, Yurina seperti tidak mau mendengarkan. Dia tetap membuat ulah dengan menteleportasi para murid yang ada di kelas.

__ADS_1


Lev angkat tangan, begitu pun dengan Akemi.


"Erza, selain aku, kau adalah satu-satunya murid yang tidak pernah diteleportasi oleh Yurina. Mungkin kau bisa mengatakan sesuatu padanya?"


Kalau dipikir benar juga. Aku sama sekali tak pernah diteleportasi olehnya. Jangankan diteleportasi, mengobrol saja hampir tidak pernah. Yurina selalu menghindar setiap kali aku ingin mengajaknya bicara.


Meski aku mudah akrab dengan orang lain, tapi kalau dengan Yurina, agak susah. Dia seperti memasang dinding padaku. Kami hanya mengobrol jika topiknya soal pelajaran.


"Mungkin kau benar, pulang sekolah, akan kucoba mengobrol dengannya."


Sesuai saran Lev, aku melabrak Yurina sepulang sekolah. Gadis itu selalu sendirian. Tidak akrab dengan siapapun, bahkan dengan para murid gadis.


"Yurina!" Aku menghalangi jalannya.


Dia memalingkan pandangan.


"Ada apa?"


"Aku ingin berbincang denganmu."


"Berbincang soal apa?"


"Banyak hal, aku ingin mengenalmu lebih jauh."


Dia lalu menatap ke arahku.


"Kalau begitu di apartemen saya, ya. Saya ada kue dan teh mahal dari Rusia. Sekalian saya ada game yang ingin dimainkan berdua denganmu. Mau tidak?"


Ekspresi wajahnya tiba-tiba menghangat. Tak sedingin sebelumnya. Aku tahu Yurina gadis yang ceria, tapi kalau padaku, dia selalu dingin.


Aku senang dia bersikap normal padaku sekarang.


"Ya, aku mau!"


"Ya sudah, ayo berangkat."


Semenjak kejadian itu, aku dan Yurina jadi sangat dekat. Dia sangat lengket padaku sampai ingin ikut ke mana-mana. Agak merepotkan, tapi berkat itu, aku bisa mengakrabkan dia dengan para murid gadis.

__ADS_1


Masalah Yurina yang kurang berbaur memang sudah teratasi, tapi sifat jahilnya masih saja tidak hilang. Dia masih sering menteleportasi orang lain meski tak sesering sebelumnya.


Ya, sudah lah.


__ADS_2