
(POV Teruaki Lev)
"Teruaki-kun, sudah berhenti saja kerja di sini. Tidak baik murid SMA sepertimu bekerja di bar."
Lagi-lagi pemilik memintaku untuk berhenti. Padahal dia tahu, aku menjadi daya tarik beberapa pelanggan wanita di sini.
"Tidak apa-apa, Yamamoto-san. Sekolahku baik-baik saja. Aku sudah tidur sepulang sekolah, jadi besok tidak akan mengantuk."
"Sungguh? Baguslah kalau begitu. Tapi kalau ada masalah bilang, ya. Atau jika kau ingin libur, bilang saja kapan pun itu. Oke?"
"Iya. Aku mengerti."
Sudah hampir tiga bulan aku bekerja di sebuah bar yang mulai buka setiap pukul sembilan malam. Aku bekerja sebagai bartender di sini, meracik minuman beralkohol bagi para pelanggan yang datang.
Aku tentu tidak mengerti pada awalnya, tapi pemilik terus mengajariku sampai aku bisa handal dan punya beberapa pelanggan tetap sekarang. Aku merasa punya bakat di pekerjaan ini.
Alasan mengapa aku diterima, tentu karena penampilanku yang menarik. Di suatu malam Pak Pemilik mendatangiku yang sedang termenung di taman. Dia mengira aku orang dewasa, dan menawarkan pekerjaan ini.
Saat itu, aku menjawab.
"Maaf, tapi aku seorang pelajar, dan aku punya sebuah kutukan yang membuatku tidak boleh bersentuhan dengan orang lain."
Pak Pemilik yang agak mabuk akhirnya tersadar.
"Ah, kau pemilik kutukan itu?! Yah, sayang sekali, padahal kalau kau bekerja di tempatku, aku yakin tempatku akan lebih ramai."
Aku menelan ludah.
"Kalau kau tidak keberatan dengan kondisiku, aku mau kok kerja di tempatmu. Tapi aku tidak tahu apa-apa soal menjadi bartender."
"Tenang saja, aku akan mengajarimu semuanya."
Sejak saat itu, aku pun mulai bekerja di tempat ini. Gajinya cukup besar. Bisa aku gunakan untuk membayar sewa apartemen dan biaya hidup sehari-hari. Uang beasiswa dari sekolah aku tabung untuk biaya hidup di masa depan.
"Teruaki-kun!"
Seorang wanita berpakaian kantoran duduk di konter. Menaruh tasnya di atas meja.
"Selamat malam, Reika-san."
"Seperti biasa, ya."
"Siap."
Dia adalah Reika-san, seorang wanita karir yang sudah berumur lebih dari tiga puluh, tapi masih belum menikah. Kata Pak Pemilik, dia mulai sering datang semenjak aku bekerja di sini.
"Teruaki-kun... aku dimarahi sama bos lagi. Padahal kerjaku tidak salah. Dia yang salah karena telat memberi instruksi. Para senior pun memberikan tugas yang belum selesai padaku. Mereka benar-benar menyebalkan." Reika-san lalu meneguk cocktail yang baru saja aku buat.
"Kau sudah berusaha keras, Reika-san. Istirahatlah dulu sekarang." Aku tersenyum.
__ADS_1
Pelanggan seperti ini tidak butuh dinasehati. Mereka hanya ingin didengar. Oleh karena itu, aku hanya bicara seadanya.
"Teruaki-kun... kapan kau lulus? Nikah sama aku, yuk." Reika-san menatapku.
"Ahaha, masih terlalu cepat untukku, Reika-san. Kau cantik. Pasti banyak laki-laki di luar sana yang mau denganmu."
"Kau selalu saja bilang begitu. Bilang saja tidak mau dengan tante-tante sepertiku...."
Aku hanya tertawa kecil.
"Teruaki-kun... kenapa kau tidak jadi model saja? Atau pemain film? Gajimu pasti lebih besar dibanding bekerja di tempat ini. Ayo, aku yang akan menjadi agen dan promotormu. Aku ingin segera pergi dari kantor sialan itu."
Reika-san tampak sudah agak mabuk.
"Aku tidak suka pekerjaan yang mencolok. Begini saja sudah cukup."
"Hmm...."
Tak lama, pelanggan lain masuk.
"Yo, Lev!"
Seorang lelaki dewasa melambaikan tangannya padaku dengan sok akrab.
Ya, dia wali kelasku.
"Jui-sensei, mau apa kau ke sini?"
"Menjijikkan. Hentikan itu."
"Hahaha, aku pesan Pina Colada, ya!"
"Siap."
Kami sudah membuat perjanjian. Aku meminta Jui-sensei untuk membiarkan aku bekerja di sini, dan tidak memberitahukannya pada pihak sekolah. Di SMA Subarashii, kerja paruh waktu itu dilarang.
Sebagai gantinya, Jui-sensei memintaku untuk meningkatkan nilai matematikaku. Dia bilang, kalau aku ingin tetap bekerja di sini. Nilai matematiku di setiap ujian tidak boleh kurang dari delapan puluh.
Aku menyetujuinya.
***
Meski aku bilang pada Akemi sudah melupakan Asuka, tapi ternyata aku tetap masih belum terbiasa melihat dia bermesraan dengan Hide.
Ini bukan salah Hide atau Asuka, keduanya sama sekali tidak bersalah. Asuka tidak selingkuh, dan Hide tidak merebut Asuka dariku. Mereka bersatu karena memang saling menyukai. Tidak ada hubungannya denganku.
Yang membuatku pilu adalah hubunganku dan Asuka yang belum mencapai kata putus. Aku masih merasa bahwa dia adalah pacarku. Tapi kalau sudah begini, aku anggap saja kami sudah putus.
Di jam istirahat ini, aku tidur saja deh, biar malam nanti tidak ngantuk.
__ADS_1
"Hei."
Aku menoleh.
Sera duduk di sebelahku.
"Ada apa, Tuan Putri?"
"Kenapa kau memanggilku begitu?"
"Tidak apa-apa. Ingin saja."
Dia terlihat tidak suka.
"Bagaimana Lev... kau yakin tetap bersikap begini? Soal Inami."
Ah, benar. Selain Akemi, Sera juga tahu bahwa Asuka dulunya adalah pacarku.
"Asuka pacar Hide. Dia bukan siapa-siapa bagiku."
"Tapi kalian belum putus, kan? Tidak mungkin kalian putus. Aku tahu betapa kalian saling mencintai karena sopirku sering menceritakan tentang kalian padaku."
"Tidak apa-apa, Sera. Asuka pacar Hide sekarang. Aku menerimanya, kok. Aku anggap kami sudah putus. Kesalahanku karena membiarkannya menyentuhku. Itu adalah pertanda bahwa hubungan kami memang harus berakhir."
Sera mencengkram lenganku. "Tapi bagaimana dengan perasaanmu? Kau masih menyukainya, kan?"
"Tidak apa-apa. Begini lebih baik. Tidak mungkin kan aku tiba-tiba bilang bahwa Asuka adalah pacarku. Bagaimana perasaan Hide nantinya? Aku tidak ingin orang-orang tahu. Aku harap kau juga merahasiakannya."
Sera menggertakkan gigi.
"Selalu saja begini. Kau selalu saja mengalah. Kau selalu saja menjadi pihak yang menderita. Dari kelas satu SMP, sampai sekarang, kau sama sekali tidak berubah. Kau selalu bersembunyi di balik senyum palsumu itu. Tolong pikirkan juga kebahagiaanmu, Lev!"
Aku kaget Sera berbicara selantang itu. Para murid sampai melihat ke arah kami.
"Maaf kalau sok akrab, tapi aku sudah lama ingin mengatakan itu padamu. Maaf."
Aku tersenyum lagi. Tidak tahu apa ini tulus atau tidak. Aku hanya sudah terbiasa.
"Aku bahagia, kok. Melihat Asuka dan Hide yang begitu bahagia, aku juga ikut bahagia. Asuka teman lamaku, dan Hide teman baruku. Aku senang melihat keduanya berbahagia. Sungguh."
Mata Sera memerah. Dia seperti ingin menangis.
"Kalau memang begitu, baiklah. Aku terima ucapanmu. Tapi tolong dengar juga perkataanku. Sekali-kali, cobalah bersikap egois. Kita mungkin jarang bicara. Tapi aku selalu memperhatikanmu dari jauh. Kau juga berhak bahagia, Lev."
Setelah mengatakan itu, Sera pergi meninggalkanku.
Mendengar kata-kata darinya, aku jadi merasa lebih baik. Tak kusangka dia memperhatikanku sampai sejauh itu. Kupikir dia hanya penasaran.
Aku memang masih belum terbiasa melihat Asuka yang bermesraan dengan Hide, tapi bukan berarti aku tidak menerimanya. Aku hanya butuh waktu. Setelah beberapa bulan, aku yakin perasaan sakit ini akan hilang.
__ADS_1
Perasaan sakit ini tidak ada apa-apanya. Aku tak selemah itu sampai harus dihibur segala. Kehilangan Asuka bukan akhir dunia. Dia hanya satu dari sekian gadis yang pernah mampir dalam hidupku.
Jauh dari perasaan sakit kehilangan Asuka, aku lebih ingin menangis setiap kali mengingat bahwa seluruh keluargaku telah lama tiada.