
Matahari kian tenggelam sepenuhnya. Erza, Yurina, Giana, Rock, Keiko, dan Nana yang duduk pasrah di sebuah kursi panjang dekat pohon besar mulai melihat rumah-rumah sepi itu menyalakan lampunya bersamaan dengan langit yang semakin menggelap.
Suasana kampung sekarang dipenuhi oleh bola lampu berwarna oranye. Orang-orang mulai keluar dari sarang mereka. Berduyun-duyun seperti menyambut pagi dan siap untuk memulai aktivitas.
"Oi... bukankah penghuni rumah di sini semuanya bayangan? Kenapa malah jadi manusia?" Erza bertanya-tanya.
"Sepertinya ini wujud asli mereka."
"Mungkin mereka hanya bisa beraktivitas saat malam, jadi saat siang mereka hanya berbentuk bayangan."
"Aku takut...."
Mereka berenam dijebak oleh bayangan yang berubah menjadi Hide. Alasan mengapa Hide tahu bis hantu dan cara untuk memasuki tempat ini sekarang menjadi masuk akal.
Itu karena makhluk tadi memang berasal dari sini. Dan memang berniat untuk menculik mereka berenam.
"Bagaimana ini? Apa kita lanjutkan pencarian?" Erza melirik teman-temannya.
"Aku lapar, dari pagi belum makan." Nana memegangi perutnya.
"A-aku juga." Keiko mengangkat tangannya dengan malu.
"Saya juga."
Perut Rock dan Giana juga berbunyi.
"Kalau begitu, ayo kita cari kedai makan dulu."
Tempat ini menjadi sangat berbeda saat malam hari. Tidak terlihat seperti kota mati seperti siang tadi. Penerangan lampu oranye yang tersebar di mana-mana membuat kampung ini seperti sedang mengadakan sebuah festival.
"Aduh, maaf."
Giana bertabrakan dengan salah seorang hantu.
"Ah, tidak apa-apa. Itu salahku. Maaf, ya." Hantu berwujud lelaki muda itu menundukkan kepalanya.
"Waah... ramah sekali," batin Giana.
Mereka berjalan di antara kerumunan orang yang sangat ramai. Saling berpegangan tangan karena khawatir terpisah.
Ada banyak tempat makan yang bisa mereka kunjungi, tapi kebanyakan sudah dipenuhi oleh pengunjung.
"Mereka ini hantu atau manusia, sih?!"
"Nana, jangan keras-keras ngomongnya!"
"MEREKA INI HANTU ATAU MANUSIA, SIH?!"
"Nana!!!"
Nana salah dengar. Dia pikir suaranya kurang keras.
Mereka berhenti di dekat kursi kosong, dan istirahat sejenak.
"Astaga... orangnya banyak sekali. Ini benar-benar seperti festival." Erza ngos-ngosan.
"Mereka tidak sadar kita ini manusia?" Keiko bertanya-tanya.
"Sepertinya mereka juga manusia, deh. Mereka tidak ada bedanya dengan kita," ucap Nana.
"Tapi ini kan kampung hantu, masa isinya manusia semua?" Giana membantah.
__ADS_1
"Mungkin... mungkin mereka hantu yang berwujud manusia." Rock mengeluarkan suaranya.
"Saya juga berpikir begitu."
Erza berdecak. "Tidak ada gunanya mempermasalahkan hal itu. Sekarang kita cari tempat makan dulu, aku sangat lapar."
Mereka kembali masuk ke kerumunan orang-orang, mencari rumah makan yang kosong. Berbagai macam orang mulai dari anak kecil sampai kakek-nenek ada di sini. Mereka tampak begitu bahagia.
Tak seberapa lama, mereka akhirnya menemukan sebuah kedai yang kosong. Bertuliskan Yukihiramen.
"Ayo masuk!"
Meski hanya ramen, itu sudah cukup untuk mengganjal perut mereka. Kalau tidak cepat-cepat masuk, nanti tempatnya penuh lagi.
Mereka duduk di meja panjang untuk enam orang. Seorang pelayan laki-laki menghampiri meja mereka, menyodorkan buku menu.
"Ti-tidak ada harga yang tertera di sini... bagaimana kalau mahal?" Rock menatap semuanya.
"Tenang, aku bawa banyak uang di dompet. Kalau cuma ramen pasti tidak akan terlalu mahal." Keiko mengeluarkan dompetnya.
Mereka pun mulai memesan ramen masing-masing. Semuanya memesan ramen spesial porsi jumbo karena memang sudah sangat lapar.
Saat menyeruput kuah ramen itu, mereka semua disadarkan oleh satu hal.
Ramen yang ada di mangkuk mereka adalah Ramen terenak yang pernah mereka cicipi seumur hidup.
Semuanya berpikiran sama.
"Aku pesan satu porsi lagi!" Giana mengangkat tangan.
Erza dan yang lain menatap ke arahnya, kaget dengan mangkok Giana yang sudah kosong melompong.
"Oi oi, itu porsi jumbo, loh."
Mereka kembali melanjutkan makan malam yang nikmat itu. Ramen spesial dengan toping lengkap berisi daging, telur, sayur, dan makanan laut membuat lidah mereka terasa dimanjakan. Aroma nikmat serta kuah kental gurih yang masih hangat benar-benar tak tertahankan.
Mereka semua setidaknya menghabiskan dua mangkuk ramen porsi jumbo, sedangkan Giana dan Yurina mampu menghabiskan empat.
"Ahhhh, kenyang sekali!!! Aku tak pernah makan senikmat ini sebelumnya!!!" Giana memegangi perutnya.
"Enak sih, tapi dua mangkok itu... uhh... aku tidak akan makan ramen lagi selama dua minggu." Keiko menahan muntah.
"Ini ramen ternikmat yang pernah saya cicipi!" Yurina tampak begitu puas.
Giana menatap pada Yurina.
"Hee... jadi makanmu banyak juga, ya?"
"Begitulah."
"Tapi kenapa kamu tetep kurus? Aku makan dikit langsung nambah berat badan, loh."
"Hehehe... saya juga tidak tahu."
Giana langsung menenggelamkan kepalanya di atas meja.
"Ahhhh... berat badanku pasti naik setelah ini! Ahhh... tapi ramennya enak banget! Mau lagi!" Giana berkeluh kesah.
Keiko menatap tangan kanannya.
"Aneh... sudah 12 jam lebih, tapi tanganku tidak bergerak sendiri. Biasanya gerak minimal sekali."
__ADS_1
"Aku juga." Erza menyahut. "Aku tidak bisa mengerti bahasa kucing yang tadi kulihat di jalanan. Yang kudengar hanya meong-meong."
"Apa di sini kutukan kita hilang, ya?" Keiko menatapnya.
Yurina yang mendengar percakapan mereka langsung mencopot kacamata Giana dengan paksa.
"Eh?!!! Apa yang kau!!!"
Tidak terjadi apa-apa.
Giana tidak berubah menjadi raksasa saat kacamatanya lepas.
Yurina menjulurkan lidahnya.
Nana berkeringat dingin.
"Be-berarti... Yurina tidak bisa menteleportasi kita keluar dari sini?"
Selama ini Nana bersikap tenang karena yakin masih bisa pulang dikarenakan kutukan milik Yurina. Sekarang, ketenangannya mulai hilang.
Yurina mengedipkan sebelah matanya pada Nana, tapi tidak terjadi apa-apa.
"Tidak bisa, kutukan saya tidak aktif."
Giana memasang copotkan kacamatanya, masih tidak percaya kutukannya sudah tidak aktif sekarang.
"Su-sudah, kita bayar dulu saja makanannya, nanti kita pikirkan caranya bersama-sama." Keiko mencoba menenangkan.
Seorang pelayan berjalan menghampiri mereka setelah Keiko panggil.
"Anu, berapa semuanya?"
"Gratis," jawab si pelayan.
"Hah? Gratis?!"
Pelayan itu tersenyum. "Iya, gratis."
"Ke-kenapa gratis?!"
"Kami tidak akan disuruh cuci piring, kan?"
Pelayan itu tampak kebingungan, namun kemudian tersenyum.
"Ah, kalian pendatang baru, ya?"
"Pendatang... baru?"
"Iya, karena kalian tidak tahu peraturan di kampung ini. Itu berarti kalian pendatang baru. Waah, sudah lama tidak melihat orang luar masuk ke sini. Tahun berapa di luar sana sekarang?"
Mereka berenam terheran.
"2023." Giana yang menjawab.
"Waah, berarti sudah 100 tahun ya, ahahaha. Aku datang ke sini tahun 1923. Sudah selama itu ternyata."
Nana dan yang lain kaget sekaligus bingung.
Erza menelan ludah.
"Anu, apa kita bisa keluar dari kampung ini?" tanya Erza.
__ADS_1
"Keluar? Tentu saja tidak bisa. Kalau sudah masuk ke sini, kalian tidak akan bisa keluar lagi."