Murid Aneh!

Murid Aneh!
Ch. 43 - Kampung Putus Asa


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu semenjak Erza dan yang lain bertemu dengan Lullin di penginapan. Mereka berenam mulai tinggal di penginapan ini, dan masing-masing mendapatkan satu kamar.


Kehidupan mereka mulai berbanding terbalik dibanding saat hidup di dunia lama dulu. Mereka sekarang terbangun di malam hari, dan tertidur saat siang bersama para bayangan yang mulai masuk ke rumah masing-masing.


Di pagi hari, pukul delapan, ketika orang-orang sudah tertidur, dan suasana di luar sepi, Yurina mengetuk pintu kamar Erza.


"Erza...."


"Ya...." Erza membuka pintu.


Seketika itu juga, Yurina langsung memeluknya.


"Yu-Yurina... ada apa?"


Yurina tak mengatakan apa-apa, hanya memeluknya dengan erat, lalu mendorong Erza ke ranjang sampai jatuh. Yurina masih tetap memeluknya.


"Yurina...."


"Erza, jangan tinggalkan saya. Pokoknya selama berada di sini, kamu adalah milik saya. Tidak boleh berhubungan dengan gadis lain."


Masih dalam keadaan terbaring di ranjang dan dipeluk oleh Yurina, Erza menjawab.


"Aku tidak berhubungan dengan gadis mana pun, kok."


"Semalam kamu ngobrol akrab banget sama Keiko. Kalian tertawa-tawa. Kamu terlihat senang. Kamu suka ya sama dia?"


"Ha-hah? Tentu saja tidak. Aku dan Keiko cuma teman."


"Pasti karena dia mantan idol, ya. Kamu dulu ngefans sama dia, kan? Pasti pernah kepikiran untuk pacaran sama dia, kan?"


"Tidak, Yurina, bicara apa kau ini?"


"Saya tidak mau kehilangan kamu. Saya tidak mau kamu suka sama Keiko, Giana, Nana atau gadis lain di kampung ini. Kamu adalah milik saya, Erza."


Yurina bangkit, duduk menindih Erza dan menatapnya dengan raut wajah yang kemerahan.


"Yurina...."


"Saya akan menandai kamu sekarang. Kamu adalah milik saya, Erza." Yurina mengarahkan bibirnya pada leher Erza.


"STOP!!!"


Giana dan Keiko masuk ke dalam kamar, dan menghentikan Yurina yang hendak memberi ****** pada Erza.


"Lepaskan! Lepaskan saya!" Yurina meronta-ronta.


"Tenang, Yurina! Kami tidak akan mencuri Erza darimu!"


"Aku sudah menyukai laki-laki lain di desa ini! Aku tidak akan mengambil Erza!"


Keiko dan Giana berhasil menghentikan Yurina. Gadis itu akhirnya tidak melawan lagi. Hanya berdecih kecewa.


"Saya hanya ingin menandai Erza, apa salahnya?" Yurina manyun sembari memalingkan pandangan.


"Tidak boleh, Yurina! Kasihan Erza, nanti bekasnya kelihatan!" Keiko membalas.

__ADS_1


"Kau juga kenapa tidak melawan, Erza? Jangan-jangan kau sebenarnya mau, ya?!" Giana melotot.


"A-aku tidak bisa berkutik lawan perempuan."


Rock dan Nana sudah tertidur pulas di kamar mereka masing-masing.


Erza, Yurina, Keiko, dan Giana masih terjaga. Mereka duduk melingkar di lantai kamar, bersiap membicarakan sesuatu yang serius.


"Yurina, bukankah kita sudah sepakat? Kita harus menghindari perbuatan tidak senonoh selama tiga tahun ke depan. Tidak ada skinship berlebihan antara laki-laki dan perempuan. Soalnya, kita masih di bawah umur. Tiga tahun lagi, setelah kita dewasa secara hukum, barulah kau boleh melakukan apa pun pada Erza. Perkosa saja dia sepuasmu!"


"Oi, Giana! Jaga mulutmu!" Keiko mencubit lengannya.


"Maaf... aku sedang kesal." Giana berdecak.


"Saya tahu... tapi kenapa harus menunggu tiga tahun lagi? Kita sudah tidak berada di Jepang sekarang. Tidak ada hukum yang mengatur soal itu lagi sekarang. Lama sekali kalau harus menunggu tiga tahun, toh umur kita akan lima belas terus."


Giana dan Keiko menatap intens pada Yurina.


"Yurina... kau sudah sangat tidak tahan, ya?"


"Astaga... tak kusangka nafsumu besar sejaki."


Wajah Yurina memerah.


"Sa-saya hanya ingin menandai Erza!" Yurina membantah. "Lagipula, bukankah itu wajar dilakukan oleh sepasang kekasih?"


"Kalian sudah pacaran?!" tanya Keiko dan Giana berbarengan.


"Tidak, tidak! Ini hanya permisalan! Saya dan Erza hanya sahabat dekat! Tidak lebih!"


Erza yang sedari tadi diam, tiba-tiba berdehem.


"Kalian ini ya, tolong kalau bicara disaring. Aku ini laki-laki, loh."


"Memangnya kenapa?"


"Ya aku nafsu, lah! Kalian pikir aku tidak nafsu Yurina nempel-nempel terus?! Aku selalu menahan diri, karena Yurina adalah temanku!"


Yurina berganti menatap Erza. "Jadi, kalau saya bukan temanmu, kamu gak bakal menahan diri?"


Erza memalingkan pandangan.


"Ya sudah, pacaran, yuk!" Yurina menatap langsung wajah Erza, memegangi kedua tangannya.


"Tidak, aku tidak mau! Aku tidak memandangmu seperti itu, Yurina. Aku tidak punya perasaan suka padamu, aku hanya bernafsu. Dan bukan padamu saja, aku juga bernafsu pada Giana dan Keiko!" Erza menatap keduanya.


Reaksi kedua gadis itu di luar ekspektasi Erza. Dia pikir keduanya akan langsung menampar Erza begitu dia mengucapkan kata-kata tersebut. Namun, yang terjadi wajah Giana dan Keiko malah memerah.


"E-eh... tak kusangka kau memandangku begitu."


"Kukira pikiranmu bersih, Erza. Ternyata kau memang laki-laki, ya."


Erza berdiri dari duduknya.


"Ah, sudah, sudah! Jangan membicarakan hal ini lagi! Kita masih di bawah umur!" Erza menendang-nendang lantai.

__ADS_1


Keiko tertawa kecil.


"Kau benar, untuk sesaat, aku terpincut saat kau mengatakan itu padaku. Aku jadi ingat kata-kata dari seseorang yang terkenal. Dia bilang, saat laki-laki dan perempuan sedang berada dalam kondisi putus asa, keinginan mereka untuk bereproduksi jadi semakin meningkat. Kita sepertinya sedang berada di kondisi itu sekarang."


"Ah iya, aku juga pernah mendengarnya. Ibarat laki-laki dan perempuan yang terjebak di pulau terpencil, dan tidak bisa keluar dari sana. Rangsangan seksual antar keduanya pasti akan menguat." Giana mengangguk-angguk.


Yurina tidak mendengarkan ucapan mereka, dia masih tercengang oleh perkataan Erza yang mengagetkan baginya.


"E-Erza tidak menyukai saya?"


Erza menghela napas sekali lagi.


"Sesuai perjanjian, kita tidak boleh melakukan hal tidak senonoh sampai umur kita mencapai dewasa. Aku tidak ingin lingkungan tempat kita tinggal ini jadi sarang perbuatan mesum. Ada anak kecil di sini, Nana. Kalau dia tahu, akan gawat. Juga Rock. Berbeda denganku, pikirannya memang bersih. Aku tak mau menodainya."


Keiko dan Giana mengangguk.


Yurina masih mematung.


"Karena itu, jika aku lepas kendali dan menyerang kalian, tolong hentikan aku. Pukul aku sekuat tenaga!" Erza menundukkan kepalanya.


"Aku juga, kalau aku tiba-tiba menyerangmu. Kau juga harus memukulku, Erza!" Giana menatap serius.


Erza tercengang.


"Ka-kalau itu... aku tidak yakin."


"Woi!" Keiko men-chop kepala Erza. "Jangan lembek meski lawanmu perempuan, Erza!"


"Iya, iya, aku akan mencoba keras pada perempuan sekarang."


Keiko menatap curiga.


"Jangan-jangan... kau ini M ya, Erza?"


"Hah? Tentu saja tidak!"


"Heee...." Giana juga menatap curiga.


Mereka mengakhiri pembicaraan itu dengan baik sementara Yurina masih mematung mengetahui fakta Erza tidak menyukai dirinya.


"Aku masih belum menyerah untuk pulang. Setidaknya sebelum kita berubah menjadi manusia bayangan seperti para penduduk lain." Erza berkata dengan serius.


"Iya, aku juga. Aku akan pergi mencari buku di perpustakaan. Siapa tahu ada cara untuk pulang." Keiko mengangguk.


"Aku juga akan berusaha." Giana menambahkan.


Mereka mulai mengantuk setelah cukup lama berbicara. Giana membopong Yurina yang masih tenggelam dalam fantasinya.


"Kami pergi ke kamar dulu, ya." Giana mewakili.


"Iya."


"Omong-omong... Lullin kok tidak pernah muncul ya saat siang?" celetuk Keiko, menoleh ke belakang.


"Benar juga, ya. Ke mana Lullin pergi saat siang?"

__ADS_1


"Entahlah...."


__ADS_2