
(POV Hoshi)
Itu adalah cinta pada pandangan pertama ketika aku membuka pintu kelas 1-F untuk pertama kalinya. Aku melihat sesosok gadis berambut panjang dengan balutan syal merah yang memiliki eskpresi sangat bosan.
Dia tidak berinteraksi dengan murid lain. Mengabaikan segala keramaian dengan tetap duduk tanpa melakukan apa-apa.
Kesanku pertamaku padanya, dia adalah gadis pendiam yang cantik.
Aku ingin mengajaknya berbicara saat itu, ini pertama kalinya jantungku berdebar sangat kencang. Apa orang-orang tidak sadar bahwa gadis ini sangat cantik? Mengapa tidak ada yang mengajaknya bicara?
Kakiku gemetaran. Tapi aku tak ingin melepas kesempatan ini. Dengan memaksakan diri, aku pun melangkahkan kaki menuju tempatnya.
"A-anu... apa kau Akemi?" tanyaku, asal mengucap nama agar saat dia menyangkal, aku akan bilang bahwa dia mirip temanku yang bernama Akemi, sehingga aku tidak dianggap modus.
"Ya, aku Akemi. Kau Tamaki Hoshi, kan?"
"Hah? Namanya benar Akemi?! Aku ngasal, loh!"
Jantungku berdegup semakin kencang. Rasanya ini seperti takdir.
"Ke-kenapa kau tahu namaku?"
"Kau muncul di berita, tentu saja aku tahu. Kau tahu namaku dari berita juga, kan?"
"I-iya."
Kepalaku bersinar.
Akemi menatapku datar.
"Ma-maaf, sebenarnya bukan dari berita. Kau mirip temanku yang bernama Akemi, kupikir kau dia, hahaha."
Kepalaku kembali bersinar.
Akemi masih tidak memberi reaksi.
"Ma-maaf, aku hanya ingin menyapamu saja. Sampai jumpa, Akemi."
__ADS_1
Aku masih belum terbiasa dengan kutukanku. Meski tahu kepalaku akan bersinar setiap kali berbohong, aku selalu saja membuat kebohongan. Ini sangat sulit dihindari.
***
Satu minggu berlalu, Akemi masih tidak berinteraksi dengan murid lain. Bukan tidak punya teman, hanya saja dia lebih senang menghabiskan waktu sendirian. Setiap jam istirahat dia selalu menghilang entah ke mana, tidak bergabung bersama para murid gadis yang sering makan bersama di kelas.
Masuk kelas ini adalah sebuah keberuntungan. Para gadis di sini, menurutku memiliki wajah yang cukup lumayan, meski beberapa dari mereka memiliki sifat yang menyebalkan.
Di antara semuanya, Kusakawa Keiko lah yang paling mencolok mengingat dia mantan idol, serta Honma Sera yang merupakan anak kepala sekolah.
Tapi bagiku, Akemi tetap yang terbaik.
Sifat pendiamnya, aku penasaran. Apa yang ada di pikirannya, aku penasaran. Cara dia memandang hidup, aku penasaran.
Semakin hari, aku semakin menyukai Akemi. Setiap ada kesempatan, aku selalu berbicara padanya, berusaha mencari topik agar kami bisa mengobrol. Dia selalu menjawab dengan serius, balik bertanya padaku, meskipun raut wajahnya tidak pernah berubah. Aku merasa nyaman berbicara dengannya, dia tidak menganggapku sebagai pengganggu. Di waktu tertentu, Akemi juga melambaikan tangannya padaku saat kami berpapasan.
Awalnya kupikir aku bisa semakin dekat dengan Akemi, diam-diam akrab, kemudian berakhir dengan menjadi pasangan.
Namun, aku terlalu naif. Gadis secantik Akemi memang tidak akan mudah untuk didapatkan. Apalagi bagi laki-laki biasa sepertiku.
Semenjak itu, aku jadi semakin sering memperhatikan Akemi. Lebih sering dari biasanya. Lebih lama dari biasanya.
Apa Akemi baru menyukai Erza? atau sudah dari lama tapi aku tidak sadar? Kapan mereka berinteraksi? Apa yang membuat Akemi menyukai Erza?
Akemi jarang tersenyum, jarang mengubah ekspresi, tetapi ketika dia melihat wajah Erza, ekspresinya selalu melembut.
Ya, cara memandang Akemi pada Erza memang begitu. Anehnya, saat mereka mengobrol, Akemi justru bereskpresi seperti biasa. Aku langsung memiliki asumsi. Apa Akemi menyembunyikan perasaannya pada Erza?
Puncaknya ketika aku hendak mengunjungi cafe Banana Chips bersama adik perempuanku. Kulihat di depan mataku sendiri, Erza sedang menyuapi Akemi sepiring spaghetti.
Aku langsung berhenti melangkah. Melihat mereka dari jauh. Memastikan apakah itu memang Erza dan Akemi?
Dan ternyata memang benar.
Aku langsung mengajak adikku untuk pulang. Membungkus makanan yang telah kami pesan.
Aku tidak bisa melihat pemandangan seperti ini. Aku tidak ingin mengganggu mereka.
__ADS_1
Cinta pertamaku telah gugur bahkan sebelum bulan berganti. Aku mulai berpikir tidak mungkin bisa mendapatkan gadis yang menatap seorang lelaki dengan cara seperti itu.
Di hari itu juga, aku menyerah untuk mendapatkan Akemi.
***
Aku berusaha untuk tetap diam, dan tidak menanyakan ini pada Erza. Tapi akhirnya kukatakan juga hari ini. Apalagi setelah Akemi melempar kode keras kemarin.
"Erza, apa kau dan Akemi berpacaran?"
"Hah? Kata siapa?"
"Aku pernah melihat kalian makan berdua di cafe banana chips. Kau sedang menyuapi Akemi spaghetti."
"Eh? Kau melihatnya? Astaga, itu sangat memalukan. Tolong jangan ceritakan pada siapa-siapa!" Erza memohon.
"Oke, jadi apa kalian berpacaran?"
Erza lalu menjelaskan bahwa dia dan Akemi dulunya adalah teman satu SD. Erza bilang dulu punya hutang janji pada Akemi, dan dia harus melakukan semuanya sesuai perintah Akemi.
"Aku tidak ingat membuat berapa janji. Aku curiga Akemi membuat-buat agar bisa menyuruhku, hahaha."
Ah, sial, aku sangat iri. Kalau aku ada di posisi Erza. Aku pasti akan senang melakukan apapun janjinya.
"Tapi, aku baru tau, Akemi dulunya ternyata bodoh dan pendiam, ya."
"Iya, bahkan dulu lebih pendiam dari sekarang. Bicaranya gagap, sering gugup, dan tidak ada percaya dirinya sama sekali."
"Lalu kau datang dan mengubah Akemi, begitu?"
"Aku hanya mengajaknya berteman. Akemi berubah karena usahanya sendiri."
Begitu, pantas saja Akemi menyukai Erza. Pantas saja dia menolak banyak ajakan pacaran dari orang lain. Lelaki ini ternyata adalah pahlawan kecilnya.
"Erza, kau sadar tidak sih, Akemi itu menyukaimu?"
Ingin sekali aku mengatakan itu, tapi aku sudah berjanji pada Shuu untuk tidak mengurusi urusan percintaan orang lain.
__ADS_1