
Keesokan harinya, Lev berkeliling kelas lain untuk mencari keberadaan murid gadis itu. Mudah bagi orang-orang untuk menemukan Lev, tapi sulit bagi Lev untuk menemukan gadis random kemarin.
Pertama Lev mengunjungi Kelas 1-E, dia mengintip lewat jendela mencari keberadaan gadis itu.
"Teruaki-kun! Kau sedang cari siapa?"
Tanpa sadar sudah banyak gadis-gadis yang berkerumun di belakangnya.
"Aku sedang cari seorang gadis yang cukup tinggi, rambutnya diikat, dan berasal dari klub lari. Apa kalian tahu?"
Para gadis lantas saling menatap dan bertanya-tanya. Tapi tidak ada satu pun yang mengetahuinya.
"Memangnya ada urusan apa dengan gadis itu?" tanya para gadis.
Lev tidak bisa mengatakannya.
"Dia murid Kelas C." Asuka yang bergabung ke dalam pembicaraan langsung menjawab. "Orang yang kau maksud mungkin Hosokawa-san. Aku melihat kalian mengobrol kemarin."
"Terima kasih, Inami-san." Lev tersenyum, kemudian pamit.
"Waah, beruntung sekali Inami, kau diberi senyum oleh Teruaki-kun!"
"Aku iri!"
Asuka hanya tertawa kecil, masih tidak menyangka murid populer tadi adalah pacarnya yang sudah dia lupakan.
Di depan kelas 1-C, Lev langsung bertanya pada para murid lelaki yang sedang mengobrol soal game.
"Anu, maaf mengganggu, apa Hosokawa ada di dalam?"
"Hosokawa?" Lelaki itu langsung mengintip lewat pintu. "Ya, dia ada."
"Bisa panggilkan dia untukku?"
"Ya."
Lelaki itu kembali memasukkan kepalanya ke lubang pintu, lalu berteriak.
"Hosokawa! Pangeran dari kelas f mencarimu!" Lelaki itu berteriak dengan kencang.
"Pangeran dari kelas f? Maksudnya Teruaki?"
"Lev datang ke sini?!"
Hosokawa yang dipanggil langsung berjalan menuju pintu, dan menemui Lev yang berdiri tegak di hadapannya.
Para murid gadis mengintip Hosokawa dari belakang.
"Hosokawa, bisa ikut aku sebentar? Ada yang ingin kubicarakan padamu."
Wajah gadis itu memerah. "A-apa yang ingin kau bicarakan, Teruaki-san?"
"Sudah, ikut saja." Lev melangkah pergi lebih dulu.
Hosokawa akhirnya mengikuti.
Para murid gadis lain juga hendak mengikuti beramai-ramai, tapi dua lelaki tadi segera menghadang agar mereka tidak mengikuti Lev.
"Teruaki bilang tidak ingin diganggu."
"Dia hanya punya urusan dengan Hosokawa."
Para murid gadis menunduk kecewa.
Lev berjalan dengan tenang, membawa Hosokawa ke tempat sepi di lantai tiga. Di sana sudah ada Shino dan Emili yang duduk menunggu. Mereka berdua melambaikan tangan pada Hosokawa yang baru saja datang.
"Hosokawa, boleh aku memegang tanganmu lagi?"
"E-eh? Ya, boleh." Hosokawa yang malu memalingkan pandangannya.
"Kalau begitu, permisi, ya."
Lev segera menggenggam tangan Hosokawa saat itu juga.
Emili menggigit bibir bawahnya, merasa sangat iri melihat orang lain bersentuhan dengan Lev. Dia hendak lepas kendali, tapi Shino menahannya.
"Apa kau masih mengingatku, Hosokawa?"
__ADS_1
Gadis itu mengangguk.
"Y-ya, aku masih mengingatmu, Teruaki-san."
Lev langsung menoleh pada Shino dan Emili.
"Kalian lihat?"
Shino dan Emili tampak takjub.
"Hosokawa, apa jangan-jangan kau juga punya kutukan?" tanya Emili
"Kutukan? Tidak, tidak, aku sama sekali tidak memilikinya."
Emili langsung bertanya pada Shino yang sedang membaca pikirannya.
"Benarkah, Shino?"
"Itu benar. Hosokawa tidak sedang menyembunyikan sesuatu. Dia benar-benar tidak punya kutukan."
Emili kembali menatap iri pada Hosokawa.
Hosokawa yang ditatap seperti itu merasa tidak enak.
"Mungkin dia punya kutukan, tapi tidak sadar. Ayo kita periksa seluruh tubuhnya di kamar mandi," ucap Emili.
"Kau benar, mungkin saja ada tanda bintang merah tersembunyi di tubuhnya."
Shino dan Emili lantas membawa Hosokawa ke kamar mandi, dan memeriksa seluruh tubuhnya. Gadis itu ditelanjangi agar Shino dan Emili bisa menemukan tanda bintang merah itu dengan mudah.
Beberapa menit kemudian, mereka bertiga keluar dari kamar mandi. Hosokawa menutup wajahnya dengan tangan, seperti malu karena sudah dilecehkan.
"Tidak ada tanda bintang merah di tubuhnya. Hosokawa murid normal," ucap Shino.
"Aku sudah mencari bahkan ke tempat-tempat sensitifnya, tapi sama sekali tidak ada." Emili menambahkan.
"Hosokawa sepertinya memang murid yang spesial."
"Aku tidak mengerti kenapa dia tidak lupa pada Lev, padahal sama-sama murid normal, loh! Apa aku coba juga sentuhan sama Lev?!"
"Cih, begitu ya, ahh aku iri, iri!"
Hosokawa yang menutup wajahnya dengan tangan, perlahan membukanya, dan mengintip wajah Lev. Begitu Lev menoleh, gadis itu langsung menutupnya lagi.
"Hosokawa." Lev memanggil.
"Ya?" Dia membuka kembali wajahnya.
"Maukah kau jadi pacarku?"
Di hadapan Shino dan Emili, Lev menyatakan cinta pada Hosokawa tanpa merasa malu.
"Lev! Oi, itu anak orang! Jangan dikerjain!" teriak Emili.
"Aku tidak sedang mengerjainya, aku serius!" Lev menatap Hosokawa. "Dia adalah gadis yang selama ini aku cari. Cantik, tinggi, energik, dan bisa bersentuhan denganku. Tidak ada gadis yang paling pas untuk kujadikan pasangan selain Hosokawa!"
"Ke-kenapa tidak denganku saja, Lev?! Kita kan bisa bersentuhan juga!" Shino protes. "Kalau kita pacaran, aku bisa memamerkanmu ke teman-teman SMP-ku!"
Lev menghela napas, tidak memikirkan perkataannya. Lev tahu, Shino tidak serius. Itu karena Shino tidak pernah blushing ketika sedang bersama dengan dirinya, tidak seperti murid-murid gadis dari kelas lain.
Emili pun hanya mengincar tubuhnya. Dibanding suka, Emili cenderung ke nafsu.
"Tidak, Lev, kau tidak boleh berpacaran dengan murid gadis kelas lain! Kau adalah aset kelas kami! Kalau mau pacaran, pacaranlah dengan Sera, Yurina, Giana, Nana, Lullin, Keiko, atau perlu sana pacaran sama Akemi!"
"Tidak, aku tidak mau! Hosokawa adalah tipeku!"
"Sama Keiko saja, yuk. Aku makcomblangin!" Shino menggeret tangannya.
"Tidak! Keiko itu mantan idol! Aku bisa dihajar para fansnya jika bertemu di jalan!"
"Kalau gitu, Sera! Ya, Sera!"
"Sera menyukai orang lain!"
"Ah, Akemi saja deh! Dia paling sempurna untukmu! Nikah sama Akemi, dan buat dia melahirkan Ayane dan Leo!"
"Akemi? Ti-tidak, aku tidak mau, dia bukan tipeku." Lev memalingkan pandangan, malu berkata jujur bahwa dia pernah ditolak olehnya.
__ADS_1
"Dengan Nana kalau gitu! Kau sebenarnya lolicon, kan?!"
"Tidak, aku bukan lolicon!"
"Giana! Oppainya besar!"
"Tidak!"
Lev lalu menggenggam tangan Hosokawa, menatapnya dengan serius.
"Hosokawa, aku mungkin tidak sempurna, tapi aku berjanji, aku akan berusaha untuk membahagiakanmu. Maukah kau jadi pacarku, Hosokawa?"
Emili dan Shino akhirnya pasrah melihat aset kelasnya menyatakan cinta pada gadis lain.
Hosokawa meneteskan air mata. Merasa senang, sekaligus kaget. Tidak menyangka akan mendengar kata-kata yang ingin didengar oleh para gadis di SMA Subarashii.
"Ma-maaf! Aku tidak bisa, Teruaki-san! Aku sudah punya pacar!"
"Eh...." Lev mematung.
"Aku, aku sangat senang kau suka padaku, dan ingin jadi pacarku. Tapi, tapi, aku tidak bisa mengkhianati pacarku! Aku sangat menyayanginya! Maafkan aku, Teruaki-san!"
Untuk yang kedua kalinya, Lev ditolak oleh perempuan. Dua kali nembak dua kali ditolak. Lev langsung kehilangan energinya.
"Be-begitu, ya. Ya sudah, tidak apa-apa, Hosokawa."
Berbeda dengan Lev yang kehilangan energi, Shino dan Emili malah berpelukan dan bersorak riang bersama-sama.
"Se-sebagai permintaan maaf, kau boleh minta apa saja padaku, Teruaki-san! Aku akan mengabulkannya!"
"Tidak perlu, Hosokawa. Saat menolak gadis pun, aku tak menawari mereka untuk melakukan sesuatu. Kau tidak perlu merasa bersalah."
"Tapi kau berbeda, Teruaki-san! Kau istimewa! Diajak pacaran oleh orang luar biasa sepertimu, tidak semua gadis bisa merasakannya! Jadi tidak apa-apa, mintalah sesuatu sebagai permintaan maaf dariku. Aku mohon!" Hosokawa membungkuk.
Melihat Hosokawa yang bersikap begini membuat Lev semakin menyukainya. Berani menolak Lev untuk pacarnya saat ini, berarti gadis ini benar-benar orang yang setia.
"Pacarmu benar-benar beruntung, ya," ucap Lev.
"Dia dari sekolah lain, kami sudah jarang bertemu, tapi aku masih menyukainya." Hosokawa tersenyum.
"Begitu, ya."
"Jadi, apa permintaan yang kau inginkan dariku, Teruaki-san? Tidak apa-apa bilang saja!"
Lev menghela napas.
"Kau tidak boleh begini, Hosokawa. Kalau kau menolak laki-laki dan bilang dia boleh minta apa saja darimu, nanti orang itu bisa minta yang aneh-aneh. Jangan lakukan lagi, ya."
Hosokawa menggeleng.
"Aku melakukan ini karena tahu kau adalah orang yang baik, Teruaki-san. Kalau yang menyatakan cinta padaku orang lain, aku tidak akan berkata begitu."
Lev tersipu mendengarnya. Wajahnya memerah. Dia langsung menundukkan kepalanya.
"Be-begitu, ya."
"Karena itu, ayo minta apa saja dariku! Jangan sungkan."
"Ka-kalau begitu." Lev mengulurkan tangannya. "Maukah kau berteman denganku?"
"Eh... kalau ini sih tidak usah diminta. Ayo yang lain saja!"
"Tidak, ini sudah cukup. Tolong, jabat tanganku sekarang."
"Ba-baiklah."
Mereka pun bersalaman.
Lev tidak pernah merasa gugup seperti ini sebelumnya. Bahkan saat berpacaran dengan Asuka pun, tidak sampai seperti ini.
Berbeda dengan Asuka yang pemaksa dan selalu menggeret Lev dari zona nyamannya, Hosokawa justru tenang dan menerima Lev apa adanya. Sifatnya yang gak enakan juga berbanding terbalik dengan Asuka yang suka seenaknya.
Sifat keduanya cocok dengan Lev, tapi Hosokawa jauh lebih membuatnya berdebar-debar.
"Waah, bel masuk sudah berbunyi." Hosokawa melirik arlojinya.
"Iya, ayo kita kembali ke kelas." Lev mengangkat wajahnya dengan berat.
__ADS_1