Murid Aneh!

Murid Aneh!
Ch. 41 - Kampung Hantu 5


__ADS_3

(POV Kihara Lullin (Tsuruga Saori))


53 tahun yang lalu (1970)


Aku dan Shiori adalah sepasang saudara yang akrab. Dia selalu mengikutiku ke mana pun aku pergi, selalu meniru apa yang aku lakukan, sampai tidak sadar, kami berdua telah menggemari berbagai hal yang sama.


Pada awalnya, aku senang, aku berpikir suatu saat Shiori juga akan sepertiku, sampai suatu hari, aku dicengangkan oleh sebuah fakta bahwa Shiori ternyata berbeda denganku.


Aku hanyalah gadis kampung biasa, sedangkan Shiori adalah orang yang istimewa.


"Wah, luar biasa Shiori-chan, kau berhasil mengalahkan Takada-kun!"


"Iya, padahal kau masih kelas 5 SD."


"Masuklah ke klub Shogiku, Shiori-chan!"


"Tidak, dia akan masuk ke klubku!"


"Kalian sedang bicara apa? Shiori akan menjadi muridku!"


Para orang dewasa berdebat memperebutkan adik perempuanku. Bagaimana tidak, di umurnya yang masih 10 tahun, dia sudah mengalahkan Takada-san yang merupakan salah satu pemain Shogi muda kuat di kampung kami.


"Jadi, kau mau gabung perguruan mana Shiori-chan?"


Dengan polos dan tanpa ragu, Shiori menjawab. "Aku gabung klub yang ada Onee-chan nya!"


Dua lelaki dewasa tampak kecewa, satu lagi mengepalkan tangan dan berteriak kegirangan.


"Yossha! Syukurlah Saori-chan ada di klubku!"


Aku hanya tersenyum kaku melihat Shiori yang melambaikan tangannya padaku. Aku tidak bisa tersenyum dengan tulus, karena saat itu aku kalah dalam pertandingan turnamen tersebut.


"Onee-chan, Shogi itu sangat menyenangkan, ya!"


"Hahaha, iya, kau sudah lebih kuat dariku sekarang."


"Ini semua karena Onee-chan mengajarkan semuanya padaku!"


"Iya."


"Onee-chan harus lebih berusaha lagi! Jangan kalah sama aku!"


"Iya, iya."


Sejak saat itu, aku latihan dua kali lebih keras dari sebelumnya. Aku membaca buku-buku Shogi di perpustakaan, bertanding melawan teman-teman di klub shogi sekolah, juga menghadapi para pemain di perguruan.


Persentase kemenangku cukup bagus, aku lebih hebat ketimbang banyak pemain shogi seumuranku.


Kupikir aku sudah melangkah maju dan bisa mendekati Shiori, tapi setelah melihat dia bertanding melawan wakil ketua dan berhasil mengimbanginya, seketika itu juga, aku sudah menyerah pada bidang permainan ini.


"Aaah!!! Akhirnya menang juga! Astaga, kau hebat sekali, Shiori-chan! Kalau begini, kau sudah bisa menjadi pemain pro saat masuk SMP nanti!" Wakil ketua tampak begitu bangga melihatnya.


Shiori sama sekali tidak senang dipuji seperti itu. Disanjung seperti apa pun, baginya kalah tetap saja kalah.


"Ayo main sekali lagi! Kali ini aku akan lebih serius!"


"Eh, sudah cukup untuk hari ini, Shiori. Sekarang sudah malam. Kau harus sekolah besok."


"Hee sekali lagi, sekali lagi!"


Wakil ketua menatap ke arahku. "Saori, bawa adikmu pulang."

__ADS_1


"I-iya."


Di sepanjang perjalanan pulang, Shiori menangis. Meski posturnya tinggi melebihiku, tapi Shiori tetaplah seorang anak SD yang masih kecil. Dia masih begitu cengeng.


"Kenapa nangis? Biasanya juga enggak meskipun kalah."


"Aku sudah berusaha sangat keras! Aku sudah yakin akan menang! Tapi gara-gara satu kesalahan, aku malah jadi kalah! Aku benar-benar bodoh!" Shiori menyeka air matanya.


"Sudahlah, lawanmu kan wakil ketua, wajar kau kalah."


Shiori mengangguk.


Dibandingkan Shiori, aku ini ternyata tidak ada apa-apanya. Shiori lebih cantik dariku, lebih tinggi, lebih pintar, dan lebih pandai bersosialisasi. Padahal dia masih kelas 5 SD.


Kupikir Shogi akan menjadi satu-satunya bidang di mana aku bisa lebih unggul darinya, tapi hanya beberapa bulan setelah dia mengerti permainannya, Shiori melesat jauh mengungguliku.


Aku benar-benar kalah telak dari Shiori. Tak ada satu hal pun yang aku lebih baik dari dirinya.


Seharusnya aku senang, karena bagaimana pun, dia adalah adikku, aku seharusnya bangga pada prestasi keluargaku sendiri, tapi entah mengapa hati kecilku tidak bisa menerima.


***


"Aku akan berhenti bermain Shogi," ucapku.


"Eh??? Kenapa???" Shiori terkaget.


"Aku sudah bosan. Aku ingin coba sesuatu yang baru."


"Kalau begitu, aku juga berhenti!" balas Shiori.


"Hah? Kau ini bilang apa? Kau sangat pandai di permainan ini, tekuni terus, Shiori!"


"Tidak mau!!! Kalau Onee-chan berhenti, aku juga berhenti!!!"


Aku pergi meninggalkannya, dan masuk ke dalam kamar.


Untuk pertama kalinya, kami bertengkar saat itu. Kami tidak saling bicara. Aku sudah tidak pergi ke perguruan Shogi lagi, begitu pun dengan Shiori.


Kupikir ini adalah jalan keluar agar diriku tidak merasa inferior lagi terhadap adikku, namun ternyata setan Shogi tidak mau pergi dari hidupku.


"Saori-chan, aku mohon, bergabunglah kembali dengan klub Shogi! Shiori tidak mau main kalau kau tidak ada di sana! Gadis itu memiliki bakat yang sangat luar biasa. Dia bisa mencetak sejarah sebagai pemain shogi wanita terhebat di Jepang!" Ketua perguruan bicara langsung padaku sepulang sekolah.


Aku tak senang dimintai paksa seperti ini. Aku sudah tahu ini akan terjadi, tapi tetap saja aku kesal.


"Ta-tapi... aku sudah tidak berminat lagi pada Shogi."


"Kumohon Saori-chan! Ini demi desa kita! Kalau Shiori berhasil menjadi pemain professional, dia akan menjadi kebanggaan desa tercinta kita ini! Desa kita akan memiliki seorang pemain Shogi yang terkenal! Tolong, jangan sampai Shiori-chan membuang bakat istimewanya!"


Pada akhirnya, aku menerima permintaannya itu. Aku kembali datang ke perguruan untuk bermain Shogi. Meski malas, aku terus bermain. Aku sering kalah, tapi sudah tidak merasa kesal lagi.


Si jenius Shiori sekarang sudah berhasil mengalahkan wakil ketua, tinggal ketua saja yang belum dia kalahkan, satu-satunya pemain shogi professional di perguruan.


Begini saja tidak apa-apa, asal Shiori senang, agar orang-orang di desa senang, aku tidak keberatan melakukan sesuatu yang membosankan ini.


"Onee-chan kalah lagi, ya? Onee-chan yang serius dong mainnya!" bentak Shiori.


"Kakak sudah berusaha, kok, tapi lawan Kakak memang terlalu jago. Kakak harus berlatih lebih keras lagi."


"Mau berlatih denganku, Kak?"


"Ehh, tidak usah, nanti kalau Kakak sudah jago, Kakak akan berlatih denganmu. Oke?"

__ADS_1


Shiori tersenyum.


"Baiklah."


***


Aku mulai terbiasa dengan kehidupan seperti ini. Menjadi pendamping Shiori yang jago bermain Shogi. Aku pun mulai kembali serius, walau tahu prestasiku tidak akan pernah bisa menyamainya.


Aku mulai bisa menerima bahwa Shiori adalah orang berbakat dan jenius, jauh melebihi diriku yang merupakan orang biasa.


Namun, satu kejadian itu, mengubah semuanya.


"Saori, apa Shiori-chan akan bersekolah di sini nanti?" tanya Yamada, teman sekampung sekaligus murid laki-laki yang kusukai di kelas.


"Ya, kenapa memangnya?"


"Kalau iya, aku akan menolak ajakan pacaran dari gadis dari kelas sebelah. Aku akan menunggu Shiori-chan."


"E-eh...."


Kupikir selama ini dia menyukaiku. Kupikir dia tertarik padaku karena selalu dekat-dekat denganku. Yamada adalah alasan aku masih betah di sekolah meski tidak punya satu orang pun teman di kelas.


Sekarang, Shiori akan mencurinya dariku.


Aku tidak tahan lagi dengan kondisi ini. Hidup bersama Shiori membuatku tersiksa. Kenapa harus selalu dia?


Aku sudah muak disangka adik perempuannya Shiori. Sudah muak disangka bahwa aku mungkin bukan saudaranya. Sudah muak mendengar kedua orang tuaku membanggakan Shiori saat kami berada di meja makan.


Aku masih bisa menahan.


Tapi sekarang sudah tidak bisa lagi.


Yamada, yang menjadi satu-satunya sumber kebahagiaanku, juga akan pergi dariku.


Aku tidak pulang ke rumah sepulang sekolah. Aku pergi ke kolong jembatan, dan duduk merenung di sana. Hujan turun dengan deras, pikiranku melayang ke mana-mana.


Saat itu, muncul seorang lelaki berseragam SMP yang tampak seumuran denganku.


Seolah tahu isi hatiku, dia langsung berkata tanpa berbasa-basi.


"Apa kau ingin pergi meninggalkan dunia ini?"


Aku mengangguk.


"Kalau begitu, ikut aku. Aku akan membawamu ke tempat yang tidak ada penderitaan."


Lelaki itu mengulurkan tangannya.


"Tunggu, kau mau membawaku ke mana?"


"Sisi lain dunia."


"Ha-hah?"


"Di sana kau akan lebih diterima dan dicintai. Kau bisa menjalani kehidupan yang kau inginkan. Mau ikut?"


Meski terdengar tidak masuk akal, entah mengapa aku tidak mencurigai lelaki itu. Senyumnya begitu tulus sampai-sampai aku tidak merasakan ancaman darinya.


"Kau tidak akan membunuhku, kan?"


"Tidak, kau akan hidup tenang di sana. Selamanya... tanpa penderitaan."

__ADS_1


Hidup di sini pun tidak ada artinya. Hanya ada kesedihan yang akan menantiku di masa depan.


Aku pun menerima uluran tangannya, dan menghabiskan waktu 50 tahun di sisi lain dunia.


__ADS_2