Murid Aneh!

Murid Aneh!
Ch. 45 - After 53 Years


__ADS_3

(POV Kihara Lullin)


Hari ini, Akemi mengajakku untuk bertemu dengan neneknya di Osaka. Kami pergi menaiki kereta api bersama Shino yang entah kenapa malah ikut bersama kami. Tapi tidak aneh mengingat kedua orang itu memang cukup dekat.


Aku sangat gugup sekarang. Perasaan rindu dan takut bercampur aduk. Bagaimanapun, apa yang telah kulakukan dulu adalah sebuah kesalahan. Aku harus meminta maaf padanya saat bertemu nanti.


"Akemi, sepertinya tidak usah deh, nenekmu pasti memarahiku saat bertemu nanti. Aku takut." Aku berniat kembali pulang meski sekarang sudah turun dari stasiun.


"Dia itu adikmu. Kau tidak perlu takut, Saori Obaa-san."


"Jangan panggil aku begitu! Kita ini seumuran, Akemi!"


"Baiklah, kalau begitu, Lullin Obaa-san."


"Kita seumuran!"


Shino hanya tertawa saja melihat percakapan kami.


Tak lama, sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti di depan kami. Kaca jendela mulai terbuka. Seorang wanita cantik berkacamata terlihat dari tempat kemudi.


"Ayo masuk."


Akemi membuka pintu depan, dan duduk di sana. Aku dan Shino duduk di belakang berdua. Wanita cantik berambut pendek ini ternyata ibunya Akemi, namanya Yoshino Akane.


"Yoshino itu marga ayahku, bukan suamiku. Aku sudah bercerai dengannya sejak Akemi masih kecil. Akemi bahkan belum pernah melihat ayahnya."


Tanpa diminta, Akane-san terus bercerita tentang dirinya dan juga Akemi padaku. Shino tidak terlihat kaget, seperti sudah pernah mendengar sebelumnya.


"Oh, jadi Yoshino itu marga kakeknya Akemi, ya?" tanyaku.


"Iya."


"Marga ayahku apa?" tanya Akemi.


"Tidak akan kuberitahu."


"Kenapa? Dari kecil aku penasaran, kenapa Ibu selalu merahasiakannya?"


"Dia masih hidup, aku tidak mau kau mencarinya."


"Hee...."


Akemi tampak akrab dengan ibunya. Jika melihat Akemi yang bersikap seperti ini, rasanya aneh menganggap dia anak yang pendiam.


Akane-san sering curi-curi pandang padaku lewat spion depan. Meski dia anak dari adikku, tetap saja dia lebih tua dariku. Mental usia dia lebih dewasa. Aku gugup dilihat terus seperti itu.


"Saori... ehm... Lullin. Kau ini kakak perempuan ibuku, kan? Apa aku harus memanggilmu Tante?"


"Eh, tidak, tidak. Panggil Lullin saja, Akane-san!"


"Haha, baiklah. Tapi kau ini benar-benar mirip seperti yang ada di foto, hanya saja sedikit lebih dewasa. Yang di foto itu saat kau masih SMP, ya?"


"Iya."


"Berarti, 53 tahun yang lalu?"


"Benar."


Tak lama, kami pun sampai di rumah Akemi. Akemi bilang seluruh keluarganya tinggal di sini. Aku jadi semakin gugup.


"Tidak banyak orang, kok. Di rumah ini hanya ada ibu, nenek, dan dua orang yang lain. Aku tidak punya saudara, aku ini anak tunggal." Seolah tahu akan kegugupanku, Akemi tiba-tiba menenangkan.


Saat kami masuk, seorang wanita tua sudah berdiri di depan pintu sambil bersedekap tangan. Wajahnya tua renta, tapi aku masih dapat mengenalinya.


Dengan perasaan penuh bersalah, aku pun mengangkat tangan.


"Hai!"


"Dasar anak bodoh!" Shiori menampar pipiku.

__ADS_1


Namun, sebelum aku membalas, dia langsung memelukku dengan erat.


"Selamat datang, Onee-chan. Aku merindukanmu." Kucuran air mata mengalir di leherku. Aku tiba-tiba ingin menangis juga, tapi masih aku tahan.


"Aku pulang, Shiori."


Saat aku datang, meja makan sudah penuh dengan hidangan masakan yang lezat. Akemi bilang mereka memang akan menyediakan makanan, jadi kami sengaja menunda makan siang.


"Ini semua nenek yang masak. Ibuku tidak bisa masak," ucap Akemi sembari melihatku.


"Akemi!!!"


"Sudah, ayo kita makan, Saori Obaa-san."


"Akemi!!!"


"Saat di sini namamu adalah Saori."


"Ba-baiklah...."


Kami pun makan di meja makan berlima. Aku duduk di sebelah Shiori. Dia tampak begitu bahagia melihat kedatanganku yang mungkin tidak pernah dia duga sebelumnya.


"Jadi, setelah aku pergi, apa kau melanjutkan bermain Shogi?" tanyaku.


"Shogi? Ah, sudah lama sekali aku tidak menyentuh papan itu. Tapi seingatku, aku tidak main Shogi lagi semenjak Onee-chan pergi. Aku main Shogi karena Onee-chan. Kalau kau tidak ada, untuk apa aku bermain Shogi!"


Meski sudah tua, aku bisa melihat tingkah kekanak-kanakannya. Mungkin sudah lama dia tidak bermanja-manja pada seseorang yang lebih tua darinya.


"Umurmu berapa sekarang? Apa suamimu masih hidup?"


"Umurku 63. Suamiku sudah meninggal tiga tahun lalu. Anakku hanya satu, Akane saja. Meski tidak terlihat pintar, dia itu lulusan Universitas Tokyo, loh!" ucap Shiori sembari menatap Akane.


"Apa maksud Ibu aku tidak terlihat seperti orang pintar?!"


"Memang tidak kan, Onee-chan?"


Semua orang menatapku.


Jawabanku membuat Akane-san senang, dan membuat Shiori geleng-geleng kepala. Akemi tampak tidak peduli.


Buah memang jatuh tidak jauh dari tangkainya. Kepintaran Shiori turun pada anak sekaligus cucunya. Melihat Akemi yang pintar seperti ini, aku jadi penasaran, apa anaknya nanti akan pintar juga?


"Onee-chan, alasanmu dulu kabur karena apa? Apa karena aku terlalu jago main Shogi sehingga membuatmu selalu dibanding-bandingkan denganku?"


"Tidak, tidak, bukan itu, kok. Itu memang cukup menggangguku, tapi bukan itu alasan utamanya."


"Lalu apa alasan utamanya?"


Aku lalu menceritakan soal laki-laki yang kusuka, tapi malah menyukai Shiori. Aku agak malu menceritakan ini, rasanya alasannya terlalu bodoh, tapi saat itu hatiku benar-benar sedang terguncang.


"Oh, Yamada-san. Dia memang pernah mengajakku pacaran, tapi aku menolaknya."


"Kenapa?!"


"Ya, karena aku tahu, Onee-chan menyukai Yamada-san. Jadi jaga-jaga Onee-chan kembali, aku terus menolak ajakan pacaran darinya, dan memilih untuk menikah dengan Kyojuro. Kakeknya Akemi."


Ah, benar juga. Yoshino adalah nama teman dekat Yamada saat di sekolah dulu. Dia teman sekelasku. Murid terpintar di kelas. Yoshino Kyojuro... tak kusangka dia menikah dengan Shiori.


Kami berbincang banyak hal setelah selesai makan. Shiori mendominasi pembicaraan. Shino dan Akemi terkadang menimpali, merasa penasaran dengan hubungan kami dulu. Akane-san lebih sering diam.


"Aku benar-benar merasa bersalah. Seharusnya aku sudah setua dirimu sekarang, Shiori. Atau mungkin sudah meninggal. Rasanya aku sudah menyalahi aturan dunia."


"Tidak apa-apa, Onee-chan. Bisa melihatmu lagi saja sudah membuatku senang. Apalagi kau masih semuda ini, aku jadi bersyukur kau akan memiliki kehidupan yang panjang. Ah, semoga saja umurku cukup untuk melihatmu punya pasangan nanti. Aku penasaran bagaimana anakmu, apakah akan mirip denganmu? Hahaha."


Aku bersyukur masih bisa melihat Shiori. Dia masih tampak sehat di usianya yang sudah mencapai kepala enam. Banyak hal yang ingin kutanyakan padanya. Tentang 50 tahun yang hilang. Tentang bagaimana dia tumbuh dewasa, mendapat pekerjaan, dan juga pasangan. Tentang bagaimana dia menyikapi kehilanganku yang merupakan kakak tercintanya.


Sepertinya, malam ini aku akan tidur bersama dia, dan bercerita banyak hal.


"Omong-omong, bagaimana reaksi ibu dan ayah saat aku pergi? Mereka pasti marah besar, kan? Makam mereka ada di mana? Tolong antar aku ke sana, Shiori!"

__ADS_1


Saat mengobrol dengan Shiori, rasanya aku bisa menjadi diriku sendiri, tidak menjadi pemalu seperti saat bicara dengan orang lain. Aku bahkan tidak sadar sedang diperhatikan oleh Shino dan juga Akemi.


"Makam? Onee-chan bicara apa? Mereka masih hidup. Sana tanyakan saja bagaimana reaksi mereka saat itu!"


Shiori lalu menunjuk ke arah pintu. Ada dua orang tua yang jauh lebih renta lagi dari Shiori, keduanya memakai topi petani, menjinjing keranjang yang berisi buah apel. Mereka tersenyum padaku.


Tanpa sadar, air mataku berlinang, aku berlari ke arah mereka dan memeluk keduanya. Sungguh, tak kusangka mereka masih hidup.


"Ibu, Ayah, maafkan aku!!!"


Keduanya mengelus-elus kepalaku. Rasanya sungguh nostalgia. Sudah lama aku tidak bermanja-manja pada seseorang.


"Kalian kenapa masih hidup? Usia kalian berapa sekarang?!" tanyaku.


"Ayah 85."


"Ibu 84."


"Heee...." Aku tersenyum dan memeluk keduanya lagi.


Ternyata ada kemungkinan seperti ini. Ada kemungkinan di mana kedua orang tuaku masih hidup. Kupikir aku sudah sendirian di dunia ini. Rupanya keluargaku masih utuh.


Aku semakin senang karena ibu dan ayah juga masih tampak begitu sehat. Syukurlah mereka berdua adalah seorang petani.


"Akemi, cepat nikah dan punya anak. Aku ingin melihat cucu dari cucuku," ucap ayah.


"Iya, sana cepat lamar si Erza Erza itu, sebelum diambil orang." Ibu menambahkan.


Wajah Akemi memerah.


"A-aku tidak berpikir sampai ke sana! Erza itu hanya teman!"


"Heee... tapi di setiap festival tanabata, harapanmu selalu ingin bertemu lagi dengan Erza. Hebat ya, impianmu sudah terkabul sekarang," ucap Akane-san.


"Ibu ngintip kertas yang aku gantung di pohon bambu?!"


"Setiap tahun."


"Aaaaargggh!!!" Akemi langsung teriak dan menenggelamkan kepalanya di atas meja.


Rasanya lucu melihat ekspresi Akemi yang malu-malu begitu. Tidak pernah terlihat saat di sekolah.


Setelah itu, aku menghabiskan waktu tiga hari di Osaka, di rumah Akemi, kami sampai bolos satu hari dengan alasan acara keluarga. Mungkin ini salah satu alasan mengapa Shino ingin ikut ke sini.


Aku menghabiskan banyak waktu untuk mengobrol dengan orang tua dan saudaraku. Meski usia mereka terpaut jauh dariku, rasanya masih sama seperti saat berkumpul dulu. Aku sudah tidak merasa kesepian lagi sekarang. Aku benar-benar bahagia, sampai tidak bisa mengungkapkannya.


Di malam hari, sambil melihat bulan bersinar di balkon, aku dan dan Akemi berbicara.


"Karena orang tuamu masih ada, apa kau mau mengganti marga dan nama depanmu lagi seperti dulu? Menjadi Tsuruga Saori lagi? Kau sudah punya wali yang sebenarnya sekarang."


"Tidak, Tsuruga Saori sudah lama tiada. Aku hanya menjadi Tsuruga Saori saat berada di sini. Saat di luar, aku akan tetap jadi Kihara Lullin. Aku ingin hidup dengan namaku yang baru."


"Heee, bicaramu sudah lancar ya sekarang. Tidak gugup seperti dulu lagi. Seperti yang diharapkan dari kakaknya nenek. Hebat."


"E-eh? A-apa aku terlalu bersikap sok akrab?! Ma-maaf Akemi, tapi setelah tahu kau cucunya adikku, aku tidak bisa menganggapmu orang lain. Kau sudah kuanggap seperti keluargaku, Akemi! Begitupun dengan Akane-san."


Akemi tersenyum. "Iya, tidak apa-apa, kok. Aku justru senang."


Aku menatap Akemi yang tersenyum padaku.


"Akemi, coba kau tersenyum seperti itu pada Erza. Dia pasti akan menyukaimu."


Wajah Akemi memerah. "Bo-bodoh! Tidak usah bahas itu, Saori Obaa-san!" Dia meninju bahuku.


"Eeehh...."


Kami lalu berbincang soal Erza di sana. Shino tidak ikut karena dia sudah tidur. Akemi bilang sudah melakukan yang terbaik untuk mendekati Erza. Tapi Akemi merasa Erza selalu menghindar atau pura-pura tidak peka.


Aku tidak tahu bagaimana cara menasehati teman sekaligus cucuku yang satu ini, soalnya kisah cintaku sendiri tidak berakhir dengan baik.

__ADS_1


Aku hanya menyampaikan sepatah kata saja padanya.


"Teruslah berjuang, Akemi!"


__ADS_2