Murid Aneh!

Murid Aneh!
Ch. 59 - Pacar Hoshi


__ADS_3

(POV Tamaki Hoshi)


Pagi-pagi sekali, aku sudah bangun, pukul enam pagi, di hari minggu, adalah sebuah rekor seorang Tamaki Hoshi sudah membuka mata dan tidak bermalas-malasan. Bagaimana mungkin aku tidak bersemangat, Akemi akan datang ke rumahku hari ini! Bukan sebagai teman, melainkan sebagai seorang pacar!


Tentu hanya pacar pura-pura.


"Tumben sudah bangun." Shina yang sedang cuci piring menyapa. "Kenapa senyum-senyum begitu? Menjijikkan tahu."


"Jam delapan nanti..................... pacarku mau datang."


Aku menyelipkan kata 'seseorang yang berpura-pura jadi ' di jeda perkataanku dengan berbisik, jadinya kepalaku tidak bersinar.


"Pa-pacar?! Kau punya pacar, Onii-chan?"


Aku mengangguk.


"To-tolong buatkan sarapan yang agak banyak. Dia bilang mau ikut sarapan."


Shina langsung lari ke ruang tengah, bicara pada ibuku. Dari sini, aku bisa mendengar bahwa ibuku juga terkaget.


"Hoshi, apa benar pacarmu akan datang ke sini? Sejak kapan kau punya pacar?!"


"Sudahlah, cepat buatkan sarapan."


Ibuku masih terlihat kaget. "Kenapa tidak bilang dari kemarin! Shina, ayo kita beli bahan-bahan makanan yang mahal! Kita adakan sarapan pagi yang mewah hari ini! Hoshi, kau lanjutkan cuci piringnya!"


"Tanganku masih sakit."


"Ah, benar juga, ya sudah, biarkan saja, kau dandan yang rapi, jangan bikin malu!"


"I-iya...."


Aku tak bermaksud berbohong, tapi demi menghibur diriku sendiri yang jomblo ini, aku pun melakukannya.


Mereka yang terlalu antusias sampai tidak menyadari bahwa aku sedang membohongi mereka. Tidak masalah, aku tidak merugikan siapapun.


Sayang sekali harus berkencan dengan Akemi dalam keadaan tangan diperban, tapi kalau tidak ada tangan berperban ini, mana mungkin aku bisa berkencan dengan Akemi.


Dengan gelisah, aku terus memilah-milih pakaian yang cocok. Seumur hidup belum pernah berkencan sekalipun. Hanya bisa melihat di manga atau di anime. Kali ini aku yang akan melakukannya sendiri meski hanya pura-pura.


Aku tidak boleh menyianyiakan hari ini. Aku harus bersenang-senang!


Tepat pukul delapan, Akemi pun sampai. Dia mengirim pesan bahwa dia sudah berdiri di depan rumahku. Aku buru-buru keluar untuk membukanya.


"Selamat pagi."


Mulutku terbuka.


Aku sudah pernah melihat Akemi yang mengenakan pakaian bebas seperti ini, tapi tetap saja aku merasa terpukau. Berapa kali pun aku melihatnya, Akemi memang benar-benar cantik. Penampilannya hari ini pun begitu.


"Selamat pagi, Akemi, ayo masuk."


Dia pun masuk ke rumahku.


Di rumah, ibu dan Shina tampak antusias menyambut pacar palsuku ini. Aku merasa bersalah, tapi setidaknya untuk hari ini saja, aku ingin percaya bahwa Akemi adalah pacarku.


"Ibu, Shina, ini Akemi."


Akemi langsung menundukkan kepalanya.


"Perkenalkan, namaku Yoshino Akemi. Salam kenal."


Ibu tampak senang, begitu pun dengan Shina.


"Wah, wah, salam kenal, Akemi-chan. Aku ibunya Hoshi. Panggil saja Okaa-san."


"Apa benar kau pacarnya Kakak?" tanya Shina.


Tanpa ragu, Akemi menjawab. "Itu benar."


Shina tersenyum lebar. "Namaku Shina, salam kenal ya, Akemi-san!"


"Salam kenal, Shina-chan."


"Ya sudah, ayo duduk sini, Akemi. Kita sarapan sama-sama."


"Ah, iya, terima kasih sudah mengundangku, Okaa-san."


Akemi yang cuek di kelas itu ternyata bisa beramah tamah. Aktingnya itu benar-benar gila sampai aku merasa bahwa semua ini kenyataan, bukan sebuah settingan.


Kami pun sarapan sama-sama. Akemi benar-benar diperlakukan spesial oleh ibuku.


"Akemi-chan, kenapa kau mau dengan Hoshi? Apa yang spesial dari dirinya?"


"Hoshi lucu. Aku suka."


"Ah, begitu, ya, dia memang agak lucu, sih. Hahaha."


E-eh... aku lucu? Tapi jawaban Akemi itu terdengar natural sekali. Kalau dia menjawab panjang dan dengan alasan yang logis malah terlihat seperti dibuat-buat. Dia benar-benar hebat bisa menjawab seperti itu.


"Yang nembak duluan siapa?" tanya Shina.


"Hoshi. Dia itu sangat menyukaiku. Setiap hari sering memperhatikanku diam-diam di kelas. Dia juga sering perhatian. Akhirnya nembak deh. Iya kan, Hoshi?"


Aku hanya menjawab, merasa malu.


"Diam kau, Akemi."


Perkataannya sama sekali tidak salah. Di kenyataan, aku memang sangat menyukainya. Sering memperhatikan diam-diam, dan terkadang juga perhatian. Apa dia sadar akan hal itu?


"Kenapa Akemi-san mau menerimanya?"


"Hmm... kenapa, ya? Aku tidak punya alasan untuk menolak. Hoshi baik, perhatian, dan yang terpenting dia sangat menyukaiku. Rasanya sayang saja kalau ditolak. Soalnya dia juga tampan."


"Hoshi tampan?!" Shina terkaget.


"Ya, memang tampan, kan? Botak begini saja sudah tampan, bagaimana nanti kalau rambutnya sudah tumbuh."


Aku tahu Akemi cuma bercanda, tapi tetap saja itu benar-benar membuatku senang.


"Benar! Hoshi memang tampan! Kau tidak akan menyesal sudah memilihnya, Akemi-chan!" Ibu menimpali.


Akemi hanya tersenyum.


Sarapan pagi itu pun berakhir. Akemi membantu ibuku mencuci piring-piring bekas sarapan tadi. Rasanya dia seperti pacar sungguhanku.


"Akemi-san sangat baik, ya," ucap Shina.


"Memang."


Setelah itu, ibu dan Shina membiarkanku untuk berduaan dengan Akemi. Aku mengajak Akemi masuk ke kamarku. Kalau ngobrol di ruang tengah takutnya tidak nyaman.


Akemi pun menurut, dan ikut bersamaku ke kamar.


"Wah, ternyata begini kamarnya Hoshi." Akemi tampak terpukau.


"Sudah, Akemi, tidak usah berakting."


"Tidak, Hoshi, aku tidak berakting, aku memang terpukau dengan kamarmu. Banyak sekali poster grup musiknya. Kau penggemar band Queen, ya?"


"Y-ya... kau tahu band itu?"


"Ya, aku tahu. Lagu paling terkenalnya Bohemian Rhapsody, kan?"

__ADS_1


"Benar. Selain itu ada lagu lain yang kau tahu?"


"We Are The Champions, We Will Rock You, Don't Stop Me Now... sepertinya hanya itu saja."


Aku tersenyum. "Kau memang tahu segalanya ya, Akemi."


"Aku tidak tahu segalanya, kebetulan saja aku tahu."


"Akemi... itu dialog Hanekawa dari anime Bakemonogatari, kan? Kenapa kau bisa tahu?"


"Aku diberitahu Erza. Dia bilang aku agak mirip Hanekawa yang serba tahu."


"Eh... aku juga tahu dari Erza. Dia merekomendasikan animenya. Aku hanya nonton satu season karena bosan."


"Aku malah tidak nonton."


Percakapan pun berakhir. Aku terdiam sembari duduk menyender di ranjang. Akemi berkeliling melihat seisi kamarku. Memeriksa komik-komik di rak bukuku, dan melakukan berbagai hal lain. Dia tampak selalu penasaran.


Sebagai seorang pacar, Akemi terlihat lucu dan menggemaskan. Dia tidak sekali pun membuka ponselnya atau menunjukkan raut wajah bosan. Gadis seperti Akemi yang menghargai pasangannya pasti akan membuat siapapun merasa senang.


"Hoshi, mau pergi ke mana hari ini? Apa kau sudah membuat rencana?" tanya Akemi setelah duduk di sebelahku.


"Ah, soal itu... sepertinya tidak jadi. Aku tidak ingin pergi ke mana pun hari ini. Aku ingin diam di rumah. Maaf sudah membuatmu kecewa, Akemi. Kau sebenarnya sedang ingin jalan-jalan, kan?"


"Begitu... tidak apa-apa kok, Hoshi. Aku akan menemanimu di sini seharian."


"Aku takut... seandainya tiba-tiba bertemu Erza di luar. Meski kemungkinannya kecil, tapi firasatku mengatakan begitu. Aku merasa akan bertemu Erza di luar. Aku tidak ingin dia salah paham."


Akemi tertawa kecil.


"Tidak usah khawatir soal itu. Aku sudah bilang kok ke Erza. Aku bilang aku main ke rumah Hoshi dan berpura-pura jadi pacarnya hari ini. Erza hanya kaget dan bilang oke."


"Kau memberitahu Erza soal ini?!"


"Iya."


Akemi... aku jadi malu kalau begini. Tapi, memang Akemi banget, sih. Dia pasti tidak ingin berpikir bahwa dirinya sudah mengkhianati Erza.


Ah, tidak, itu pasti hanya alasan saja. Akemi pasti hanya ingin Erza tahu apa yang sedang dia lakukan hari ini.


"Begitu, tolong jangan beritahu yang lain. Cukup Erza saja yang tahu."


"Iya, tenang saja."


"Dan juga, aku tetap tidak mau pergi ke luar, aku ingin di rumah seharian ini."


"Iya, tidak apa-apa, Hoshi. Sebagai pacar yang baik, aku menghargai keinginanmu itu. Aku akan tinggal di sini dan menghabiskan waktu bersamamu. Oke?"


"I-iya... terima kasih, Akemi."


Santai, santai, ini cuma akting. Aku tidak boleh terbawa perasaan.


"Akemi... ada sesuatu yang selalu ingin aku lakukan seandainya aku punya pacar."


"Oh, apa itu?"


"Aku... aku ingin kita mendengarkan musik sambil berbagi earphone. Sambil... berpegangan tangan juga jika boleh...."


Akemi membuka mulutnya.


"Ide bagus. Aku tak pernah kepikiran sebelumnya. Ayo kita lakukan, Hoshi."


"Kau tidak keberatan berpegangan tangan denganku?"


"Tidak apa-apa, hanya berpegangan tangan biasa. Anggap saja aku ini pacar rentalmu. Mengerti?"


"Y-ya...."


Aku pun mengambil ponsel dan memasang earphone putih yang berkabel. Aku taruh earphone kiri di telingaku, dan yang kanan di telinga Akemi. Baru sampai tahap ini saja jantungku sudah berdebar kencang.


"Playlistnya lagu-lagu Queen. Tidak keberatan, kan?"


"Ya, aku ingin mendengar lagu-lagunya."


"Baguslah."


Aku pun mulai memutar lagunya. Mode acak. Lagu pertama yang terputar berjudul Love of My Life.


"Akemi...." Aku menyodorkan tangan kiriku.


"Iya...." Akemi menggenggamnya, sela-sela jari kami saling bertautan.


Jantungku rasanya mau meledak. Deg-degan parah. Mendengarkan lagu mellow sembari berbagi earphone dan berpegangan tangan dengan Akemi, ini adalah momen paling membahagiakan dalam hidupku.


Aku mulai memejamkan mata, dan menikmati lagunya.


Meski lagunya berjudul Love of My Life, tapi liriknya berisi tentang kesedihan seorang pria yang disakiti dan ditinggalkan oleh kekasihnya. Si pria itu sangat menyayangi kekasihnya, dan berharap kekasihnya tidak pergi lagi meninggalkannya.


Liriknya agak sesuai dengan perasaanku pada Akemi. Setelah ini, Akemi akan membuatku sakit dan pergi meninggalkanku, karena semua ini hanyalah sebuah kepura-puraan.


Kami duduk bersebelahan dengan bahu saling beradu. Tangan kami saling menggenggam. Earphone berwarna putih menghubungkan telinga kami. Posisi ini jauh lebih romantis dibanding kencan ke tempat mana pun. Aku sangat menikmatinya.


Satu per satu lagu mulai terputar. I Want to Break Free, Under Pressure, Killer Queen, sampai Little Crazy Thing Called Love. Mendengarkan sendiri saja aku selalu menikmati, apalagi sekarang mendengarkannya bareng Akemi dan saling berpegangan tangan.


"Akemi, bagaimana? Apa kau menyukai lagunya?"


"Ya, lagunya unik-unik. Aku mungkin akan memasukan lagu Under Pressure ke playslist laguku nanti."


"Ah, kebetulan, itu juga lagu paling favoritku di Queen."


"Ah, begitu, ya."


Syukurlah Akemi menikmati. Aku semakin erat menggenggam tangannya, dan Akemi pun membalasnya. Aku dapat merasakan panas tangan serta halus kulitnya. Jantungku benar-benar dibuat tidak aman.


Berbeda denganku, Akemi pasti biasa saja, tidak ada perasaan sama sekali.


Di saat kami sedang melakukan ini, ibuku tiba-tiba masuk ke kamar sembari membawa dua cangkir es teh. Dia tersipu saat melihat tanganku dan Akemi saling berpegangan.


Akemi hanya tersenyum padanya.


"Ini tehnya... siapa tau kalian haus." Ibuku menaruh dua gelas es teh.


"Terima kasih, Okaa-san. Aku jadi merasa tidak enak sudah merepotkan Okaa-san seperti ini." Akemi membalas.


"Eh... tidak apa-apa... kalian mau pergi kencan jam berapa?"


"Hoshi bilang mau istirahat di rumah saja. Aku akan menemaninya di sini seharian. Tidak apa-apa, Okaa-san?"


"Tentu saja tidak apa-apa! Anggap rumah sendiri, ya!"


"Te-terima kasih, Okaa-san." Akemi tersenyum.


Dia menatapku sejenak, memberi tatapan seakan dia bangga terhadapku, lalu pergi meninggalkan kamar.


Kami melanjutkan playlist sampai selesai. Menikmati setiap lagu yang berputar sambil ngobrol dan berpegangan tangan. Akemi hebat sekali bisa melakukan ini tanpa merasakan sesuatu apapun.


Begitu playlist selesai, aku pun menawari Akemi untuk menonton film bersama-sama.


"Kau mau pilih yang mana?" Aku menyodorkan tiga DVD. Ketiganya belum kutonton. Satu film horror berjudul Idle Hand, satu film romantis berjudul You Are The Apple of My Eyes, satu lagi movie anime berjudul Hello World.


Di luar dugaan, Akemi memilih film horror berjudul Idle Hand. Apa nantinya akan ada adegan Akemi yang ketakutan dan tiba-tiba memelukku?


"Ya sudah, ayo kita turun ke bawah."

__ADS_1


Kami pun turun ke ruang keluarga. Suasananya sangat hening sampai aku mengecek seisi rumah. Tidak ada siapapun di sini. Ibu sepertinya menyusul ayah ke toko. Sedangkan Shina mungkin pergi ke luar bersama temannya.


Apa ini artinya aku hanya berduaan saja dengan Akemi?


Aku mencoba bersikap biasa saja. Aku menaruh DVD-nya di pemutar kaset, lalu duduk di atas sofa yang menghadap langsung ke televisi layar lebar. Aku dan Akemi duduk bersebelahan.


"Siap?" tanyaku.


"Ya!"


Film pun dimulai.


Aku sudah membaca sinopsisnya dan tertarik. Idle Hand adalah film horror komedi jadul tahun 90-an. Bercerita tentang tokoh utamanya yang tidak pernah menggunakan tangan kirinya selama hidup, hingga akhirnya tangan kirinya itu dirasuki setan dan bisa bergerak dengan sendirinya. Aku langsung teringat pada kutukan Keiko. Bedanya Keiko tangan kanan.


Aku dan Akemi menikmati filmnya, dan tertawa di bagian komedinya. Film barat amerika memang punya lelucon khusus yang selalu bisa membuatku tertawa.


Namun, ada satu hal yang tidak aku sadari. Di film ini sangat banyak sekali adegan vulgarnya. Salah satunya adegan tangan kiri si tokoh utama yang sangat nakal dan sering menyentuh bagian tubuh sensitif perempuan.


Puncaknya ketika adegan di dalam mobil. Sepasang kekasih melakukan hal mesum di sana. Si gadis membuka baju dan nampak buah dadanya yang sama sekali tidak disensor. Ini sudah seperti adegan film porno. Kulihat wajah Akemi mulai memerah dan berekspresi tidak biasa. Akemi pasti tidak terbiasa melihat adegan seperti ini.


Ah, tidak, aku yang sudah terbiasa pun tetap saja deg-degan. Aku jadi merasa bersalah pada Akemi.


Tapi, wajah blushingnya itu... imut sekali. Jarang sekali aku melihat Akemi berekspresi begitu.


Tanpa terasa film pun selesai. Waktu sudah hampir mencapai tengah hari. Masih ada banyak waktu yang bisa kulakukan dengan Akemi.


"Hoshi... maaf... aku agak mengantuk. Boleh aku pinjam ranjangmu?" Akemi menatapku.


"Oh, ya, boleh."


"Maaf, seharusnya aku menghabiskan banyak waktu denganmu, tapi aku tiba-tiba ngantuk berat."


"Ya, tidak apa-apa, Akemi. Ini sebenarnya sudah cukup. Kau boleh pulang sekarang. Terima kasih, ya!"


Akemi menggeleng.


"Aku tidak punya tenaga untuk pulang. Aku ingin cepat tidur. Boleh, ya?"


"Iya, iya, silakan Akemi."


Dia pun beranjak dari sofa dan pergi ke kamarku secara alami seperti sudah terbiasa. Saat kuperiksa, dia sudah terbaring di atas ranjang dengan melepas selendang serta cardigan merah mudanya.


Aku berjalan mendekat. Melihat wajah Akemi yang sedang tertidur. Dia terlihat sangat kelelahan. Tidurnya begitu lelap.


Aku menelan ludah.


Saat tidur pun wajahnya masih saja cantik.


Aku berfokus menatap bibirnya. Jantungku berdegup kencang. Kalau aku kecup, apakah dia akan bangun?


Tidak, Akemi tidak akan bangun. Aku yakin. Tidurnya sangat lelap. Sentuhan kecil di bibir tidak akan membuatnya sadar.


Sial, sial, sial. Bibirnya sangat menggoda sekali. Aku benar-benar ingin menciumnya. Akemi tanpa pertahanan sekarang. Aku bisa melakukannya jika aku mau.


Haruskah aku melakukannya?


Aku berdiri mematung. Iblis dan malaikat berperang dalam kepalaku di saat aku menatap wajahnya yang cantik itu. Aku ingin mengelus pipinya, aku ingin membelai rambutnya, aku ingin memasukkan jariku ke dalam mulutnya.


Sial, sial, sial. Kenapa Akemi bukan pacarku? Kenapa dia malah menyukai Erza? Aku bisa lebih membuatnya bahagia! Aku tidak akan bingung seperti Erza yang masih saja mempertimbangkan Yurina! Aku akan memilih Akemi tanpa pikir panjang!


Ah, ah, ah. Ini tidak bagus. Aku benar-benar ingin mencium Akemi sekarang. Ini kesempatan emas. Tidak akan pernah ada momen seperti ini lagi selamanya dalam hidupku. Mengecup bibir saja tidak apa-apa, kan? Dia tidak akan tahu. Akemi tidak akan merasa ciuman pertamanya sudah diambil. Itu hanya kecupan. Bukan hal yang besar.


Ya, tidak apa-apa. Aku akan mencium Akemi sekarang. Aku tidak akan pernah bisa mendapatkannya, jadi ciuman saja sudah cukup bagiku. Maafkan aku, Akemi. Salahmu sendiri yang terlihat menggoda seperti ini. Salahmu sendiri karena tidak tahu aku ini sangat menyukaimu.


Perlahan, aku mulai memajukan kepalaku, mendekatkan bibirku pada bibir Akemi. Aku akan menciumnya tiga kali. Hanya kecupan kecil.


Tinggal beberapa senti saja sampai bibir kami bersentuhan. Jantungku berdegup semakin kencang. Maafkan aku, Akemi!


...


Tentu saja aku tidak melakukannya.


Aku menarik kembali kepalaku dan menghela napas panjang.


Aku tidak mau mengkhianati kepercayaan Akemi. Akemi mau berpura-pura jadi pacarku dan berani tidur di sini artinya dia sangat mempercayaiku. Aku memang sedang nafsu pada Akemi sekarang, tapi lebih dari itu, aku sangat menyayanginya. Aku tidak mau merusak Akemi dengan tindakan tak terpujiku.


Sebagai gantinya, aku mengambil ponsel dan memotret foto Akemi yang sedang tidur itu.


***


Akemi bangun jam 5 sore, dan setelah itu langsung pulang. Berpamitan pada seluruh keluargaku.


"Hoshi, antar dia pulang," pinta ibuku.


"Baik."


Aku pun berjalan keluar bersama Akemi. Dia terlihat merasa bersalah karena tertidur cukup lama di rumahku. Wajahnya masih terlihat mengantuk, tapi tetap terlihat imut.


"Maaf Hoshi, aku malah tidur seharian. Aku masih punya hutang enam jam padamu. Minggu depan kalau mau lagi boleh."


Aku menggeleng. "Tidak apa-apa, Akemi. Itu sudah cukup. Terima kasih banyak, sungguh. Untuk minggu depan sebaiknya kau habiskan waktumu bersama Erza saja."


"E-eh... baiklah... terima kasih, Hoshi." Wajahnya selalu memerah setiap aku membahas Erza.


Aku mengingat kembali kejadian tadi siang. Akemi yang kupikir sangat hebat dan sulit ditaklukan, ternyata punya banyak sekali celah. Kalau aku orang jahat, Akemi pasti sudah berada dalam keadaan bahaya.


Aku jadi ingin melindunginya.


"Sudah, sampai sini saja, Hoshi."


Kami berhenti di halte.


"Terima kasih, Akemi. Sekarang aku sudah dapat pengalaman berpacaran. Saat sudah punya pacar nanti, aku tidak akan kebingungan lagi. Sekali lagi, terima kasih."


Akemi tersenyum.


"Syukurlah. Aku pun dapat beberapa ide sekarang. Salah satunya mendengarkan musik sambil berpegangan tangan seperti tadi. Kau sangat romantis, Hoshi. Aku ingin melakukannya juga dengan pasanganku nanti."


"Maksudmu dengan Erza?"


"Y-ya... semoga dia mau."


"Dia pasti mau. Tenang saja."


"Ehehehe... semoga saja, ya."


Bis yang ditunggu Akemi pun sampai.


"Aku pulang dulu ya, Hoshi. Mari kita berjuang di pekan olahraga nanti. Ah, kau tidak ikut, sih. Tenang saja, aku akan melakukan yang terbaik!"


"Iya, semangat Akemi, menanglah untukku."


"Ya!"


Akemi pun pergi meninggalkanku. Dadaku mulai terasa sesak. Mimpi indahku berakhir sore ini. Aku tidak akan pernah bisa sedekat itu lagi dengan Akemi.


Aku menatap bis Akemi yang perlahan semakin menjauh. Akemi sudah tidak bersamaku sekarang, tapi perasaan hangat ini masih tertinggal di hati.


Ah, sial, aku benar-benar menyukai Akemi.


Tapi, tidak boleh.


Aku harus menurunkan standar gadis kesukaanku.

__ADS_1


Kalau aku selalu mengharapkan gadis yang seperti Akemi, aku tidak akan pernah mendapatkan pacar.


__ADS_2