
"Pertanyaan kelima, sebutkan negara yang berawalan huruf Z?"
"Zimbabwe."
"Benar!"
Para peserta telah menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan juri kepada mereka. Soal yang diberikan kebanyakan soal-soal umum, tapi tingkat kesulitannya cukup lumayan bagi Roman. Dia keringat dingin takut terlihat bodoh di hadapan publik karena murid-murid lain semuanya bisa menjawab.
"Baiklah, berikutnya untuk Shirakawa Roman. Pertanyaan pertama, berapa hasil 77 + 33?"
Roman mengepalkan tangan. Soal yang diberikan ternyata cukup mudah.
"100!" jawabnya dengan lantang.
...
"Bruakakakakakak!" Para penonton tertawa.
Hoshi tidak mengerti dengan reaksi penonton. "Kenapa mereka tertawa? Hasilnya benar, kan?"
"Bodoh, jawabannya 110. Itu soal jebakan." Hide membenarkan.
"Sial, ini ternyata permainan pikiran. Kalau aku yang ada di atas, aku mungkin akan menjawab 100 juga." Shuu menghela napas.
"Pertanyaan berikutnya, apa nama mata uang Indonesia?"
Roman langsung menatap ke arah Erza. Erza memberi jawaban lewat gerak mulutnya.
"Dollar!"
"Jawabannya salah."
Erza tertunduk lesu, anak-anak mulai khawatir. Roman terlihat seperti orang bodoh di atas sana. Namun, Lev tetap tersenyum dan menyemangatinya.
"Pertanyaan ketiga, mana yang lebih panas. 100°C atau 0°C?"
"Ini pertanyaan jebakan," gumam Roman. "100°C!"
"Benar!"
"Woooahhh!!!"
Para murid Kelas 1-F berteriak kegirangan. Bersyukur Roman akhirnya bisa menjawan soal dengan benar.
Murid-murid kelas lain mengejek mereka.
"Astagaa, itu pelajaran anak SD, tidak usah sesenang itu juga kali."
"Dasar orang-orang udik."
Kuping murid-murid kelas 1-F yang sudah biasa dihina sama sekali tidak panas. Mereka hanya menjulurkan lidah sebagai balasan atas ejekan tersebut.
"Pertanyaan keempat, apa bahasa inggrisnya Palu?"
"Thor!" Roman kelepasan bicara.
"Salah."
"Wahahahaha! Dikira Avengers!"
"Jawaban yang benar itu Hulk, bodoh!"
"Tidak, yang benar Iron Man! Buahahaha!"
Roman berdecih. Dia baru ingat jawaban yang sebenarnya adalah Hammer.
"Pertanyaan kelima, sebutkan negara yang berawal dari huruf W?"
Roman ngeblank.
Satu-satunya yang ada di pikirannya cuma Wakanda, tapi dia tahu itu jawaban yang salah.
"Ah, ini pertanyaan yang sulit," ucap Akemi.
"Su-sulit, ya?" Giana melirik ke arahnya.
__ADS_1
"Iya, hanya ada satu negara yang awalannya huruf W." Sera menambahkan.
"Apa itu?"
"Wales."
"Ah, benar juga! Negara asal Gareth Bale!" Giana yang penyuka sepak bola langsung tahu.
"Silakan jawab dalam waktu lima, empat, tiga...."
"Wa, wa, Wahahaha aku tidak tahu." Roman menggaruk belakang kepalanya.
Para penonton kembali dibuat tertawa.
Roman malu semalu-malunya. Tak dia sangka akan ada sesi menjawab pertanyaan pada event kali ini. Dia seharusnya ingat bahwa sekolah ini standar pendidikannya sangat tinggi sampai apa-apa selalu dilibatkan dengan pengetahuan.
"Baiklah, peserta berikutnya dari Kelas 1-E, peraih peringkat 5 saat UTS kemarin. Si cantik dan jenius ini tidak lain dan tidak bukan adalah... Toshinou Akari!"
Para murid langsung bertepuk tangan.
"Dia sangat pintar, teman sekelasku saat SMP dulu. Rangkingku kejar-kejaran dengannya. Dia harusnya ada di ke Kelas 1-A, tapi kenapa malah terdampar di Kelas 1-E, ya?" ucap Sera.
"Dia bilang tidak suka dengan kelas yang terlalu diistimewakan, makanya lebih pilih Kelas 1-E." Lev yang juga teman sekelasnya saat SMP, menjawab.
"Ah, begitu."
Para peserta sudah bersiap untuk mendengar pertanyaan dari juri sekaligus jawaban dari Akari.
"Pertanyaan pertama, berapa hasil dari satu juta pangkat nol?"
Para murid langsung tertawa dan bergumam.
"Pertanyaan yang gampang."
"Nol," jawab Akari.
"Eh?!" Para penonton terkaget.
"Ja-jawabannya salah, yang benar adalah satu."
"Lebih fokus, Akari! Masih ada pertanyaan berikutnya!"
"Semangat Akari!"
Pertanyaan berikutnya kembali diberikan.
"Apa ibukota dari Amerika?"
"New York!"
"Salah... jawabannya Washington D.C."
"Eh... sudah pindah, ya?"
"Akari, yang serius!"
Para penonton kebingungan mengapa Akari tiba-tiba menjadi bodoh. Namun, Erza tiba-tiba tersenyum, mulai sadar apa yang dilakukan oleh Akari.
"Dia gadis yang baik. Dia tidak ingin membuat Roman malu sendirian. Kalau murid bodohnya ada dua, maka orang-orang akan lebih maklum pada Roman. Cih, tak kusangka ada murid seperti dia di kelas lain." Erza terharu.
"Mungkin dia dipaksa ikut event ini, padahal aslinya tidak mau." Rock berkomentar.
"Bisa jadi begitu, tapi di mataku, dia terlihat ingin membantu Roman."
"Ya, itu karena Kelas 1-E adalah sahabat kita!" Emili menambahkan.
Pertanyaan berikutnya terus diberikan, dan Akari menjawab semua pertanyaan dengan salah. Impresi para murid padanya pun mulai turun. Namun, teman-teman sekelasnya tampak begitu bangga padanya.
Setelah semua peserta menjawab pertanyaan, sesi satu pun berakhir dan dilanjutkan ke sesi berikutnya.
"Baiklah, peserta pertama, Kojima Setsuna. Silakan maju ke depan."
Siswi yang menjadi unggulan pertama itu maju ke depan.
"Silakan buat pidato dengan tema: Kursi. Waktunya satu menit. Dimulai dari sekarang."
__ADS_1
Kojima mengangguk.
"Kursi adalah benda yang sangat berguna dalam hidup. Kursi tercipta untuk memudahkan segala aktivitas manusia. Belajar, makan, berkendara, menunggu, segala kegiatan itu menjadi mudah dan nyaman berkat adanya benda berharga ini. Kita bisa belajar dari betapa hebatnya sebuah kursi. Menjadi seseorang yang bermanfaat untuk orang lain, memudahkan segala urusan orang lain, dan yang lebih penting, menjadi penyangga yang tahan banting dan terus berdiri selama bertahun-tahun untuk mengabdi pada masyarakat dunia. Terima kasih."
Para penonton bertepuk tangan.
Murid-murid kelas 1-f terpukau.
"Gi-gila... hanya dari kursi dia bisa membuat kalimat sepanjang itu." Hoshi takjub.
"Padahal yang ada di pikiranku soal kursi ya cuma buat duduk saja." Shuu memijat kening.
"Apa Roman akan baik-baik saja?" Ota khawatir.
Murid selanjutnya maju.
"Baik, tema untukmu adalah: Telepon Genggam. Waktunya satu menit."
"Baik, telepon genggam. Ada sebuah...."
*gletak
Murid itu tiba-tiba pingsan.
Semua murid langsung menatap ke arah Lullin.
"Tidak, tidak, aku tidak menguap!" Lullin tampak panik.
Siswi itu ternyata memang pingsan secara natural. Bukan pengaruh dari Lullin.
Para panitia pun menggotongnya ke UKS.
"Baiklah, kita lanjut saja. Peserta berikutnya!"
Para peserta dapat membuat pidato yang bagus dengan tema yang diberikan oleh para juri. Roman heran kenapa mereka bisa bicara selancar dan senyambung itu. Roman sama sekali tidak kepikiran akan berpidato seperti apa nanti.
"Selanjutnya, Shirakawa Roman. Tema: Kucing. Waktunya satu menit."
Roman menghela napas, mencoba menenangkan diri. Dia menatap ratusan audiens di hadapannya, dan melirik teman-temannya yang mendukung paling depan. Kegugupannya menghilang secara perlahan.
"Si-sial... ternyata mental Lemon dan Roman itu berbeda. Saat menjadi laki-laki, aku jauh lebih percaya diri. Sial...." batinnya.
"Mulai."
"Kucing... ah... aku sangat ingin sekali menjadi kucing. Makan, tidur, bermalas-malasan, tidak perlu memikirkan masa depan, hanya meong-meong lalu dielus oleh para gadis. Aku ingin tidur seharian, berjalan-jalan ke mana pun aku mau. Tidak perlu sekolah, tidak perlu memikirkan hal yang rumit, hanya bersantai seharian. Kucing... oh... kucing... kuharap aku menjadi kucing. Sekian."
Tepat setelah Roman selesai pidato, Akemi bersin dan berubah jadi kucing.
Para penonton langsung tertawa.
"Pidato macam apa itu?!!"
"Buahahahaha!"
"Meong, meong, ke sini kau kucing!"
Para murid kelas 1-f tertunduk lesu. Pidato Roman memang tidak salah, tapi juri pasti mengharapkan sesuatu yang lebih, bukan curhat soal kemalasan seperti itu.
"Mereka sengaja menjebak Roman. Kalau aku yang pidato, aku akan bilang, jadilah seperti kucing yang selalu disayang meski oleh orang tidak dikenal. Jadilah seperti kucing yang memberikan kebahagiaan dan ketenangan pada orang-orang. Jadilah seperti kucing yang menjadi lambang penghormatan bagi orang-orang Mesir." Sera menghela napas. "Tapi aku senang dengan jawaban jujur seperti itu."
Akemi yang berubah jadi kucing langsung berlari dan lompat ke pangkuan Erza.
"Meong~"
"Iya, iya, aku akan menjagamu, Akemi."
Setelah itu, pidato berlanjut. Toshinou Akari kembali membuat pidato aneh seperti yang Roman lakukan. Para penonton kembali dibuat terheran.
Roman tersenyum padanya.
"Dasar... kau tidak harus melakukan itu, kok."
"Maksudnya apa, ya?" Akari pura-pura tidak tahu.
Setelah semua peserta berpidato, babak akhir pun dimulai, yaitu kontes membuat laki-laki blushing.
__ADS_1