
"Erza, ayo ke kantin, makan siang." Yurina berjalan ke arah bangku Erza sendirian.
"Yurina... kau ini pacarku, ya?"
"Bukan."
"Lalu kenapa kau terus menerus mendekatiku?"
"Tidak apa-apa, ingin bareng saja. Hehe." Yurina tersenyum dengan polos.
Hoshi dan Shuu mendekati bangku Erza.
"Sudahlah Erza, tidak apa-apa. Ayo kita ke kantin bareng, Yurina." Shuu menatap ke arahnya.
Hoshi mengangguk-angguk.
"Ya, baiklah."
Mereka berempat akhirnya pergi meninggalkan kelas. Tanpa sepengetahuan Erza, Akemi menatap tajam dari belakang. Hoshi yang sadar langsung merinding.
"Astaga... Yurina ini memang nempel banget ya ke Erza. Kenapa kalian tidak pacaran saja?" saran Shuu.
"Tidak!"
Keduanya menjawab berbarengan.
"Erza adalah sahabat saya, tidak untuk pacaran."
"Aku tidak ingin pacaran dengan Yurina."
Yurina dan Erza memberi jawaban berbeda.
"Tapi kalau begini terus, orang-orang akan salah paham, loh. Mereka pasti mengira kalian berpacaran." Hoshi memberi komentar.
"Tidak apa-apa."
"Tidak akan!"
Kali ini keduanya memberi jawaban berbeda.
"Saya tidak keberatan disangka pacaran sama Erza."
"Aku akan menjelaskan kesalahpahaman ini pada semua orang."
Di kantin itu, mereka berempat pun makan bareng semeja.
Semenjak kenal dekat dengan Erza, Yurina jadi selalu menempel padanya. Ke mana pun Erza pergi, Yurina selalu ingin ikut. Bahkan sudah berkali-kali Yurina mampir ke kos-kosan Erza yang notabene merupakan indekos khusus laki-laki.
Yurina memang selalu disangka pacarnya.
"Yurina, bukankah kau sudah akrab dengan para murid perempuan? Kenapa tidak makan dengan mereka?" tanya Erza.
"Iya, memang sudah akrab, tapi saya lebih senang makan bareng Erza."
"Kenapa?"
"Karena Erza adalah sahabat saya!" ucapnya sambil memeluk Erza, membuat mereka menjadi pusat perhatian di kantin.
"Yurina... jangan peluk-peluk. Ini tempat umum," protes Erza.
"Oh, jadi Erza inginnya dipeluk di tempat yang sepi?"
"Bukan begitu!"
Tak lama, Giana, Nana, dan Lullin datang dan menaruh pesanan mereka di meja yang sama dengan mereka berempat. Ketiga gadis itu mulai sering menghabiskan waktu bersama belakangan ini. Mereka menjadi teman yang akrab.
"Waah, tumben makan di kantin," sapa Hoshi.
"Hari ini memang berencana makan di kantin," jawab Giana.
"Lagi males bikin bekal." Nana ikut bicara.
Lullin hanya menunduk-nunduk merasa malu. Tidak menatap Erza dan yang lain.
Selama makan di kantin, mereka masih saja dibicarakan oleh murid-murid kelas lain dari belakang. Sudah beberapa bulan berlalu, tapi keberadaan mereka masih belum diterima.
"Sudah, abaikan saja." Giana melanjutkan makan.
"Perlukah saya teleportasi mereka?" Yurina menawarkan diri.
"Jangan!" Erza mencegah.
"Astaga... sepertinya hanya Akemi, Sera, Keiko, dan Lev-hentai saja yang diakui murid kelas lain. Aku jadi merasa sedih." Nana menghela napas.
"Roman dan Gen juga diakui, kok. Tapi oleh anggota ekskul mereka saja." Erza menimpali.
"Yah, mau gimana lagi, bisa sekolah di sini saja sudah aneh," ucap Hoshi setelah menyeruput sup.
"Kita ini orang sial yang beruntung." Shuu merangkum pembicaraan.
Di tengah-tengah waktu makan, Erza berdiri dari tempat duduknya.
"Aku mau ke kamar mandi dulu."
"Mau apa?" tanya Hoshi.
"Pake nanya."
__ADS_1
"Oh, iya."
Yurina ikut berdiri.
"Saya ikut!"
"Lah, ngapain?"
"Saya juga ingin ke kamar mandi!"
"Oh, ya sudah."
Keduanya pun meninggalkan kantin untuk pergi ke kamar mandi bersama.
Yurina tersenyum-senyum, bersenandung seperti burung. Erza curiga Yurina hanya ingin mengikutinya saja.
Sesampainya di depan kamar mandi, benar saja, hanya Erza yang masuk.
"Saya tunggu," ucapnya.
Erza hanya berdecih.
***
Sepulang sekolah, Yurina kembali mendekati bangku Erza.
"Ayo pulang bareng."
"Arah rumah kita berbeda, Yurina."
"Saya ingin main ke kosmu."
"Mau apa? Dua hari lalu kan sudah mampir!"
"Saya kangen sama Crispy! Sama Julio, Javier, Roberto, Alexander, saya kangen sama semuanya!" Yurina membicarakan hewan-hewan peliharaan Erza.
Erza cukup lemah soal ini. Kalau hewan peliharaannya dipuji, Erza mudah senang.
"Ba-baiklah kalau begitu."
Di pintu keluar, Akemi menghadang mereka berdua.
"Aku ikut."
"Ikut?"
"Aku mendengar pembicaraan kalian. Aku juga ingin melihat Crispy, Julio, Javier, Roberto, dan Alexander. Tolong ajak aku juga." Akemi menatap serius.
"Ya, tentu." Erza tersenyum.
***
"Mereka pengen ketemu hewan peliharaan gua katanya."
"Oh... jadi pacar lu yang bener yang mana? Yurina atau Akemi?" Udin melirik keduanya secara bergantian.
"Gak ada, dua-duanya temen."
"Cih, membosankan."
Seekor ayam yang berkeliaran di kosan tiba-tiba mendekati Erza dan berkokok padanya.
Erza mengangguk-angguk.
"Artinya apa Bang Erza?" tanya Udin.
"Dia bilang jangan begadang malam ini."
"Oh...."
Akemi dan Yurina pun masuk. Keduanya menjadi pusat perhatian para penghuni kos yang isinya laki-laki jomblo semua. Hanya Erza penghuni di sini yang rutin membawa seorang perempuan.
"Waahh, jadi ini tempat tinggal Erza," batin Akemi.
Dia mengendus berbagai sudut ruangan. Menyentuh perabotan, menyapa hewan-hewan, dan yang terakhir membaringkan kepalanya di atas ranjang.
"Erza, Akemi ngendus-ngendus kasur kamu." Yurina melapor.
Akemi langsung bangkit.
"Bodoh, mana mungkin Akemi melakukan itu. Memangnya dia kau."
"Eh... beneran!"
"Maaf Erza, kasurnya sangat empuk, aku tiba-tiba ingin membaringkan kepalaku di sini." Akemi bersikap sopan.
"Tidak apa-apa." Erza tersenyum.
Seperti niat awal, Yurina datang ke tempat Erza memang ingin bertemu hewan-hewan peliharaan Erza. Yurina bermain dengan ayam, ular, kalajengking, juga salamander peliharaan Erza. Semua hewan itu jinak, dan tidak membahayakan.
"Yurina bilang setelah besar ingin jadi dokter hewan. Dia sangat menyukai hewan." Erza bercerita pada Akemi. "Yurina! Javier bilang jangan pencet-pencet matanya, sakit!" Erza berteriak menerjemahkan.
Melihat keakraban Erza dengan Yurina, dan memiliki hobi yang sama, Akemi merasa kalah. Dia pikir dia sudah bersikap cukup agresif pada Erza, tapi nyatanya masih jauh dibanding Yurina.
"Akemi, kau takut, ya?"
"Ka-kata siapa?!"
__ADS_1
"Haha, kelihatan jelas."
Wajah Akemi memerah.
"Kau bermain dengan Alexander saja. Kalau hamster tidak takut, kan?"
Akemi mengangguk.
Erza pun mengambil hamster itu, dan memberikannya pada Akemi.
"Di-dia tidak akan menggigit, kan?" Akemi khawatir.
"Tenang, tidak akan, kok. Aku sudah bilang padanya."
"Ba-baiklah."
Akemi pun bermain-main dengan Alexander. Dia menyentuhnya dengan lembut. Mengelus-ngelus tubuhnya, juga memberinya makan.
Erza melihat sisi lain Akemi yang jarang muncul. Penampakan seorang gadis yang terlihat tentram bermain dengan seekor hewan peliharaan.
"Imutnya...."
Akemi menoleh.
"Ah, tidak, Alexander bilang, kau sangat imut."
"Benarkah?"
Erza mengangguk-angguk.
Akemi pun kembali bermain dengan Alexander.
Sore itu, Yurina dan Akemi menghabiskan waktu cukup lama di tempat Erza. Tidak hanya bermain dengan hewan peliharaan, mereka juga bermain game dan menonton film di kamar kos tersebut.
"Sudah hampir malam, kalian sebaiknya pulang." Erza berdiri, meregangkan badan.
"Iya Akemi, sebaiknya kau segera pulang."
"Kau juga pulang, Yurina!"
"Saya mau menginap di sini, Erza!"
"Hah? Mana boleh! Ini kos-kosan laki-laki!"
"Saya sudah bilang ke pemilik kos, katanya boleh, kok!"
"Aku yang tidak membolehkan!"
"Cih...."
Akemi dan Yurina pun pergi meninggalkan tempat Erza.
Di perjalanan, Akemi bertanya.
"Yurina... kau menyukai Erza, ya?"
Sudah lama Akemi ingin menanyakan hal ini.
"Tidak, Erza itu sahabat saya."
"Oh, cuma sahabat, ya." Akemi tersenyum.
"Tapi saya tidak akan menyerahkan Erza pada siapapun, kecuali kalau orangnya layak dan pantas buat Erza."
Akemi tiba-tiba berkeringat dingin.
"Hee... yang layak dan pantas buat Erza itu yang seperti apa?"
"Dia harus cantik, pintar, baik, dan juga jago masak. Tapi yang terpenting harus lebih tahu soal Erza lebih dari saya!"
"Hee... kalau tidak ada yang cocok bagaimana?"
"Kalau tidak ada yang cocok, ya sudah, berarti saya yang akan jadi pacarnya Erza."
Akemi terdiam sesaat.
"Itu berarti... kau menyukai Erza kan, Yurina?"
"Tidak." Yurina kembali membantah. "Erza adalah sahabat saya."
"Ahaha, tidak mau mengaku nih...."
"Tidak, Erza memang sahabat saya, kok."
"Iya deh, iya...."
Yurina menoleh ke arahnya.
"Akemi jangan-jangan suka sama Erza?"
"Tidak kok, tidak. Erza itu kenalanku sejak SD, jadi kami cukup dekat."
"Oh, begitu, ya. Saya baru tahu."
"Iya, Erza sempat sekolah di Jepang selama satu bulan. Dia masuk sekolahku di Osaka."
"Oh...."
__ADS_1
Akemi tersenyum, tapi hatinya menangis tersedu-sedu.
"Kenapa Yurina harus menyukai Erza juga, hiks."