
(POV Erza Junisar)
Tidak aneh mengapa murid-murid Kelas 1-A marah Jui-sensei diambil oleh kami. Pria dewasa ini memang sangat pandai dalam hal memotivasi. Terutama saat dia mengutarakannya secara pribadi. Kata-katanya membuatku tersihir dan semakin bersemangat untuk menjuarai pekan olahraga minggu depan.
Setelah dirundingkan kemarin, kami berhasil mendapat susunan murid yang akan berlaga di pekan olahraga minggu depan.
Beregu:
● Bola Basket Putra: Gen, Ota, Hoshi, Shuu, Hide
● Bola Basket Putri: - (Tidak ikut)
● Bola Voli Putra: Roman, Lev, Erza, Rock, Hashimoto, Gen
● Bola Voli Putri: Keiko, Giana, Sera, Yurina, Emili, Shino
● Mini Soccer (Putra - Putri) - Tidak ikut dua-duanya
● Lari Estafet Putra: Roman, Lev, Erza
● Lari Estafet Putri: Akemi, Emili, Keiko
● Tarik Tambang (Putra - Putri) - Semua ikut
● Three-Legged Race: Lullin & Ota
● Scavenger Hunt: Nana & Kensel
● Cavalry Battle - Semua ikut
Individu:
● Shogi - Lullin
● Catur - Hashimoto
● Lari 100M Putra: Erza
● Lari 100M Putri: Keiko
● Renang Putra: Lev
● Renang Putri: Emili
● Tenis Tunggal Putra: Lev
● Tenis Tunggal Putri: Sera
● Badminton Tunggal Putra: Lev
● Badminton Tunggal Putri: Giana
● Town Fighter X: Hashimoto
● Zero Skill 3: Hashimoto
Seperti yang dilihat, kami melepas dua bidang perlombaan, yakni mini soccer dan bola basket putri. Mau bagaimana lagi, itu karena kami kekurangan personil. Kalau dipaksakan ikut akan percuma dan hanya berakhir dengan kekalahan dan kelelahan. Lebih baik menggunakan waktu itu untuk istirahat atau berlatih untuk lomba di hari berikutnya.
__ADS_1
Secara keseluruhan, aku ikut lomba voli putra, lari estafet, lari 100M, tarik tambang dan yang terakhir cavalry battle.
Jui-sensei mengatakan bahwa kami tidak boleh takut pada kelas mana pun, terutama pada Kelas 1-A. Kami diminta fokus pada kekuatan diri sendiri dan berusaha meraih hasil semaksimal mungkin saat pekan olahraga nanti.
Jui-sensei bilang.
"Tenang saja, kalian adalah murid-muridku. Guru terhebat di SMA Subarashii. Kalian pasti menang."
Kata-kata penyemangat yang singkat itu membuat semangat kami membara. Kata-kata itu mensugesti kami, bahwa kami adalah murid-murid yang hebat. Tak pernah sebelumnya kutemui ada guru yang sepercaya diri Jui-sensei.
***
Sore ini, kami hendak berlatih untuk pertama kalinya, namun saat pergi ke sana, gedung olahraga sudah dikuasai oleh murid-murid kelas lain.
Lapangan voli dan basket sudah penuh. Semangat kami untuk berlatih mendadak turun.
"Sial, kita keduluan." Roman berdecih. "Aku lupa bahwa kita harus berebut tempat latihan."
Gedung olahraga dipenuhi oleh murid-murid Kelas 1-B dan Kelas 1-E. Aku bisa tahu karena di sana ada murid-murid asal Indonesia dan mantan pacarnya Hide.
"Kelas 1-A dan 1-C latihan di mana, ya?" tanya Hoshi.
"Mereka latihan di sport center milik salah satu murid. Kelas 1-A mungkin latihan di tempatnya Eguchi, Kelas 1-C aku tidak tahu, tapi kelas itu isinya atlet-atlet berbakat. Mereka pun pasti punya tempat latihan pribadi," ucap Lev.
"Kita latihan di rumahku saja bagaimana? Di sebelah rumahku ada lapangan basket dan voli milik keluarga pribadi. Mau?" Sera memberi penawaran.
Kami semua langsung takjub. Ya, untunglah gadis ini merupakan teman sekelas kami. Anak pintar, kaya, sekaligus putri dari kepala sekolah. Aku sangat bersyukur bisa berteman dengannya.
"Ya, ayo!"
Pada akhirnya, kami memutuskan untuk latihan di tempat Sera. Kami dijemput oleh bis pribadi yang isinya sangat mewah. Aku ingin geleng-geleng kepala, tapi Sera ini memang sangat kaya.
Bis yang kami tumpangi masuk melewati gerbang, dan berhenti di tempat parkir. Di sebelahnya, berjejer sembilan bis yang modelnya sama persis seperti bis yang sedang kutumpangi.
Gila.
Keluarganya sepertinya menyewakan bis ini khusus untuk kalangan konglomerat. Bis pariwisata apalagi bis sekolah levelnya sangat jauh dibanding bis yang kami tumpangi ini.
Saat turun, aku merasa sedang menginjakkan kaki di istana kerajaan. Pepohonan dan tanaman-tanaman antik, berjejer menghiasi sepanjang jalan. Patung-patung manusia, air mancur, taman bunga, dan rumput dengan warna hijau segar dapat aku lihat di mana-mana.
"Maaf ya teman-teman, rumahku kekecilan," ucap Sera.
"Kecil matamu!"
Kami semua pasti mengatakan itu dalam hati.
Saat kami masuk, belasan laki-laki berjas hitam sudah menyambut dan menundukkan kepala mereka.
"Selamat datang Sera Ojou-sama. Selamat datang juga teman-teman sekelas Sera Ojou-sama." Mereka berbicara dengan serempak.
Seperti yang kutonton di anime, hal-hal seperti ini ternyata benar-benar ada.
"Ah... inilah kenapa aku malas datang ke rumah utama. Kayak di kerajaan aja. Haaaah." Sera tampak mengeluh.
"Emang biasanya kamu tinggal di mana?" tanya Nana.
"Biasanya tinggal di rumah bibi."
__ADS_1
"Oh, gitu."
"Sera, bagi pelayannya satu boleh?" tanya Emili dengan wajah antusias.
"Eh, kamu mau? Ya ambil aja, tapi gaji sendiri, ya."
"Ugh... tidak jadi, deh."
Kami hanya menaruh tas dan berganti baju di rumah Sera. Kami lalu berjalan menuju gedung olahraga pribadi yang jaraknya tidak jauh dari sini.
"Erza, sepertinya aku akan coba mengincar Sera," bisik Shuu.
"Hah? Sadarlah Shuu, level kalian terlalu jauh."
Sera ini memang tipikal gadis putri raja. Dia murid paling pintar sekaligus paling kaya di kelas kami. Wajahnya cantik dan juga jago bermain piano. Akan sulit mendapatkan gadis sesempurna Sera. Setidaknya, level kekayaannya harus sama.
"Memang sih, tapi kalau bisa dapat, bisakah kau rasakan kenikmatannya? Sudah cantik, kaya, dadanya juga besar seperti model gravure! Dapatkah kau bayangkan nikmatnya jadi suami Sera, Erza?!" Hidung Shuu kembang-kempis.
"Ujung-ujungnya dada lagi, hadeuh...."
"Hehehe."
Tapi, yang dikatakan Shuu memang ada benarnya. Sera adalah contoh nyata dari gadis yang sempurna. Gadis yang sangat sulit untuk digapai.
Tapi... seandainya Sera menyukaiku dan menyatakan cinta padaku... aku akan terima tidak, ya?
"Aw!"
Seseorang tiba-tiba mencubit lenganku.
Ternyata Akemi.
"Maaf Erza, tadi ada nyamuk demam berdarah yang mencoba menggigitmu. Berterima kasihlah sudah kutolong," ucapnya dengan ekspresi datar.
"Pasti bohong." Aku menatapnya curiga.
"Tidak Erza, tadi memang ada nyamuk yang hinggap di lenganmu, loh," ucap Shino.
"Eh, beneran?"
"Iya." Shino tersenyum.
"Oh, kalau begitu, terima kasih ya, Akemi."
Akemi memalingkan pandangan.
"Sama Shino percaya, tapi sama aku tidak. Cih."
Akemi ngambek.
"Ma-maaf...."
Shino tertawa-tawa.
Tak lama, kami pun sampai di gedung olahraga. Tempatnya kosong dan sangat bersih.
"Meski jarang digunakan, tapi tempat ini selalu dirawat setiap hari. Ayo kita latihan teman-teman!" ucap Sera.
__ADS_1
Dengan begitu, hari pertama kami latihan pun dimulai. Jui-sensei tidak bisa datang mendampingi kami, tapi kami akan tetap semangat, dan berlatih dengan sangat keras.