
(POV Yoshino Akemi)
Mengapa... mereka menjauhiku?
Apa karena aku pemalu? Apa karena aku bodoh? Apa karena aku suka main latto-latto?
"Yoshino ngomongnya gak jelas."
"Sudah kelas empat masa tidak bisa ngomong."
"Suara Yoshino membuat telingaku sakit."
Aku selalu mendengar ocehan itu setiap hari. Tak ada yang mau berteman denganku. Semuanya menjaga jarak.
"Yoshino bodoh."
"Jangan dekat-dekat Yoshino, nanti suaramu hilang."
"Mana mungkin ada anak SD yang bodoh, jelek, pendiam, dan suaranya membuat orang kesakitan. Dia pasti dihukum Dewa karena menjadi anak yang nakal."
Apa aku memang dihukum Dewa, ya?
Pagi itu, suasana hatiku sangat buruk. Rasanya selalu malas untuk pergi berangkat sekolah.
Tapi, aku tidak mau jadi anak yang nakal. Ibuku bilang anak baik selalu rajin datang ke sekolah.
Aku ingin menghapus hukuman dari Dewa, jadi aku harus tetap berangkat sekolah meskipun tidak ada yang menjadi temanku di sana.
"Anak-anak, pagi ini kita kedatangan murid baru dari Indonesia. Dia akan bersekolah di sini selama satu bulan. Berteman yang baik, ya."
Anak-anak langsung ribut saat Minami-sensei mengumkan akan datang murid baru. Baru kali ini kelas kami kedatangan murid pindahan dari luar negeri.
"Waah, murid baru dari Indonesia! Tunggu, Indonesia itu di mana, sih?!"
"Dasar bodoh, Indonesia itu tetangganya Bali. Aku pernah pergi ke sana bersama keluargaku!"
"Asik-asik murid baru, semoga perempuan!"
Tak lama, masuklah seorang anak lelaki berambut acak-acakan yang tampak bersemangat. Beberapa anak lelaki langsung murung karena murid barunya bukan perempuan.
"Ayo nak, perkenalkan dirimu." Minami-sensei membimbing.
Anak lelaki itu berdiri tegap, dan memperkenalkan diri dengan suara lantang.
"NAMAKU ERZA JUNISAR! DARI INDONESIA! SALAM KENAL!"
Kami semua menutup kuping karena lelaki itu tiba-tiba berteriak dengan kencang.
"Woy, ngajak ribut, ya?!"
"Pelan-pelang ngomongnya!"
Erza menggaruk belakang kepalanya dengan wajah yang memerah. "Maaf, aku terlalu bersemangat, hahaha."
"Dasar, hahaha."
"Hahaha."
"HAHAHA."
Murid-murid di kelas tiba-tiba tertawa semua. Aku juga ingin tertawa, tapi menahannya karena malu.
"Erza, kau duduk di sebelah Yoshino, ya." Minami-sensei menunjuk bangku kosong di sebelahku.
"Jangan, Erza! Yoshino dikutuk iblis! Kau akan terkena kutukan juga jika duduk di sebelahnya!"
__ADS_1
"Iya, Erza! Duduk di sebelahku saja!"
"Ini masih ada tempat kosong, kau tidak perlu duduk di sebelah Yoshino."
Aku langsung menundukkan kepala. Merasa malu di hadapan murid baru itu. Mungkin mereka benar, aku ini memang dikutuk iblis.
"Dikutuk iblis? Keren!"
"Loh?!" Para murid terkaget.
"Aku ini pahlawan pembasmi iblis! Aku akan mengalahkan iblis yang ada di tubuh gadis itu!"
"Eh?!!"
Erza lalu berjalan ke arahku dengan raut wajah yang bersemangat. Dia duduk di sebelah, dan mengulurkan tangannya.
"NAMAKU ERZA JUNISAR! DARI INDONESIA! SALAM KENAL!"
Aku menutup telinga karena kaget.
"Erza jangan teriak-teriak!"
"Aku sedang mengusir iblis itu!" balasnya.
"Oh, kalau begitu lanjutkan!"
"Kalahkan iblis itu, Erza!"
Erza masih mengulurkan tangannya. Aku pun menyalaminya.
"A-aku... Yoshino Akemi. Dari Jepang. Sa-salam kenal."
Erza menatap lurus padaku. Aku menundukkan kepala karena malu.
Para murid langsung tertawa.
"Yo-Yoshino Akemi."
"Tidak kedengaran."
"Yoshino Akemi!"
"Bicara yang keras, Alkemi! Kau harus membunuh iblis dalam tubuhmu!"
"NAMAKU YOSHINO ALKEMI!!!"
Para murid langsung tertawa. Aku menundukkan pandangan sekali lagi. Sudah teriak, salah pula.
"Suaranya ternyata tidak seburuk itu."
"Siapa yang bilang suara Yoshino menyakiti telinga?"
Erza berdecak, membuat semua murid menatap ke arahnya.
"Alkemi sudah mengalahkan iblis dalam tubuhnya. Sekarang dia sudah menjadi gadis yang normal!" Erza tersenyum sembari menunjuk wajahku.
Hari itu telah mengubah alur kelam hidupku. Masalah yang tidak bisa aku selesaikan selama tiga tahun, berhasil Erza tuntaskan hanya dalam waktu satu menit.
Setelah kejadian itu, aku mulai bisa berbaur dengan teman-teman sekelas. Mereka mulai mau mendekatiku, karena di sisiku selalu ada Erza.
Erza bilang, dia tertarik padaku karena aku pernah dirasuki iblis. Dia ingin bersiaga jika suatu saat ada iblis lain yang merasuk dalam tubuhku. Dia juga bilang, dia suka namaku yang keren, meski sebenarnya dia salah sebut.
Kepercayaan diriku mulai tumbuh semenjak kedatangan Erza. Bicaraku mulai lancar, nilai-nilai pelajaranku semakin meningkat. Murid-murid di kelas terkaget saat aku mendapat nilai seratus di pelajaran matematika.
Namun, saat membahagiakan itu hanya berlangsung sementara. Sabtu pagi di penghujung musim gugur, Erza berpamitan pada kami semua. Satu bulan telah berlalu tanpa terasa.
__ADS_1
"Erza, jangan tinggalkan kami!"
"Kau masih belum berkunjung ke rumahku!"
"Duel kita yang kemarin masih belum selesai!"
Tanpa kami sadari, Erza telah menjadi sosok yang penting di kelas kami. Para murid menangis ketika anak lelaki asal Indonesia itu hendak berpamitan.
"Hei, jangan menangis, aku jadi berat untuk pulang." Erza mengucurkan air mata.
"Jangan pergi, Erza! Kamu tetap di sini saja!"
"Biarkan orang tuamu pulang, kamu jangan!"
"Kamu boleh tinggal di rumahku!"
Erza menyeka air matanya yang mengucur.
"Aku harus pulang teman-teman, aku tidak bisa tinggal di sini terlalu lama."
"Kenapa?"
"Aku rindu ibu dan ayamku! Aku ingin bertemu dengan mereka!"
"Kau punya hewan peliharaan?"
"Iya, kalau tidak cepat pulang, ibu bilang akan menggorengnya."
Para murid tersenyum.
"Kalau begitu, pulanglah Erza, tapi kau harus berjanji suatu saat akan datang ke sini lagi!"
"Bawa ayam peliharaanmu itu, aku ingin lihat!"
Suasana sedih itu pun berubah menjadi suasana yang gembira. Para murid mulai bisa melepas kepergiannya.
Kecuali aku.
Aku masih ingin menghabiskan waktu bersamanya.
"Aku titip pesan pada kalian." Erza menatap semua murid.
"Apa itu Erza?"
"Tolong jaga Alkemi. Jangan sampai dia dirasuki iblis lagi! Kalian tahu kenapa seseorang bisa dirasuki iblis? Itu karena dia ditinggalkan sendirian, jadi iblis datang untuk menemaninya! Itu permintaan terakhirku, aku serahkan keselamatannya pada kalian!"
Suasana kembali sendu. Aku ingin menangis saat itu juga. Tapi kutahan sebisa mungkin agar aku terlihat kuat di mata Erza.
"Baik, kami akan menjaga Akemi, Erza!"
"Kami tidak akan membiarkan siapapun sendirian lagi!"
"Kami adalah para pembasmi iblis!"
Setelah itu, Erza pun pergi dan tak pernah kembali.
Kesalahan terbesar kami adalah tak pernah menanyakan nomor teleponnya, sehingga sulit bagi kami untuk berhubungan dengannya lagi.
Satu bulan yang kuhabiskan bersama Erza lebih berarti dibanding tiga setengah tahun masa sekolah yang telah aku lewati. Awan gelap yang selama ini menyelimuti hatiku perlahan mulai berubah menjadi langit yang cerah.
Sampai sekarang, saat aku sudah menginjak kelas sepuluh, saat aku sudah bertemu kembali dengannya, aku masih mengingat jelas memori itu.
Erza mungkin sudah lupa. Saat menatap wajahku, reaksinya biasa-biasa saja.
Aku jadi sulit untuk menagih janjinya.
__ADS_1