Murid Aneh!

Murid Aneh!
Ch. 22 - Second Promise


__ADS_3

Ada dua perjanjian yang dilakukanku dengan Akemi ketika berteman saat sekolah dasar. Yang pertama, jika dia mendapat rangking satu di kelas, aku harus menggendongnya keliling lapangan sepuluh kali. Yang kedua, jika dia mendapat rangking satu seangkatan, kami harus menikah di masa depan.


Saat itu, aku sama sekali tidak mengerti apa itu pernikahan. Terlalu menganggapnya enteng. Namun, Akemi sepertinya menganggap itu sebagai hal yang serius.


Setelah aku tahu bahwa Akemi adalah gadis yang kutolong sewaktu sekolah dasar, aku langsung ingat pada janji-janji kami saat itu. Aku langsung ingat pada hari di mana Akemi bilang ingin menjadi istriku di masa depan, dan aku mengatakan iya.


Kupikir Akemi sudah melupakan janji itu karena dia tidak pernah membahasnya. Namun, siang ini, dia tiba-tiba mengajakku ketemuan di cafe Banana Chips. Dia bilang ingin menagih janjinya yang kedua.


Perasaanku bercampur aduk. Sejak pertama bertemu, aku memang sudah tertarik pada Akemi, tapi tak pernah sekalipun terbayang untuk menjadi pasangannya. Aku tahu kapasitasku, tidak mungkin orang biasa sepertiku bisa menjadi kekasihnya.


Di luar dugaan, keadaan ternyata malah mendukungku. Akemi ternyata gadis yang berjanji akan menikah denganku di masa depan. Aku tentu senang, dan sulit untuk menolak.


"Kapan kau sampai? Aku sudah nunggu lama, nih."


Akemi mengirim pesan padaku.


"Iya, sebentar lagi sampai."


Aku langsung memesan spaghetti dan milkshake durian, dan membawanya ke lantai dua tempat Akemi duduk.


"Maaf, menunggu lama." Aku menaruh pesananku di meja.


"Iya, tidak apa-apa."


Saat kulihat pesanan Akemi, dia ternyata memesan makanan yang sama. Spaghetti dan milkshake durian.


Entah mengapa dia tidak terlihat kaget. Seperti sudah tahu bahwa pesanan kami akan sama persis. Dia tidak bereaksi apa-apa.


"Hee, pesanan kita sama. Kau bisa meramal pesananku, ya?" ucapku.


"Setiap ke sini aku memang selalu pesan ini, kok."


"Tidak kusangka kau suka milkshake durian, padahal orang-orang Jepang biasanya benci."


"Ya, kebanyakan yang pesan minuman ini memang bukan orang Jepang, melainkan orang-orang asia tenggara. Pemilik cafe ini orang Thailand, makanya menu ini bisa ada."


"Begitu, ya."


Aku tidak bisa fokus mendengarkan perkataannya. Aku sedang fokus melihat penampilan Akemi yang tidak biasa. Hari ini dia mengenakan penjepit rambut, baju bebas, serta rok merah muda yang imut. Ini seperti outfit untuk berkencan.


Ah, sial, dia ternyata memang sangat cantik.


"Erza, aku mau menagih janji kita saat ini juga. Janji yang kedua." Dia menatap serius padaku.


"Janji kedua, ya. Jujur aku lupa, yang mana sih?"


"Jangan pura-pura lupa, Erza. Aku tahu kau masih ingat."


"Tidak, aku benar-benar lupa. Ayo cepat katakan, Akemi."


Dia tampak tidak senang karena aku melupakan janjinya. Dia cemberut, dan memejamkan matanya.


"Baiklah, aku akan mengatakan janji kedua kita sekarang."


Aku menelan ludah.


"Erza... suapi aku spaghetti ini sampai habis."

__ADS_1


...


"Hah? Janjinya itu, ya?" tanyaku.


"Iya. Janjinya adalah jika aku mendapat rangking satu seangkatan, kau akan menyuapiku makan sphagetti sampai habis. Itulah janjinya, Erza."


"Eh... begitu, ya."


Entah mengapa, aku agak sedikit kecewa.


"Benar itu kan janjinya? Memang yang mana lagi?"


"Iya, iya, memang itu, maaf, aku lupa."


Ah, sial, aku jadi malu karena mengharapkan itu. Apa ingatanku salah, ya?


"Ayo, cepat suapi aku, Erza." Akemi melirik piring spaghettinya di meja.


"Akemi... kau serius? Di sini banyak orang, loh."


"Memang kenapa? Ayo cepat!"


Aku menatap wajahnya dengan teliti. Apa benar gadis di hadapanku ini Akemi? Dia seharusnya pendiam dan tidak banyak bicara. Kenapa tiba-tiba jadi agresif begini?


"Baiklah."


Aku melilit spaghettinya dengan garpu, lalu mengarahkannya ke mulut Akemi.


Tanganku gemetaran.


"Lagi," ucapnya dengan datar, sama sekali tidak terlihat malu.


Akemi menyantapnya lagi.


"Lagi."


Beberapa orang mulai melihat ke arah kami. Ekspresi Akemi masih tidak berubah. Dia menatap layar ponselnya dengan wajah bosan.


Sungguh, apa dia tidak merasa malu?


"Erza, ayo cepat, mana suapannya?"


"I-iya...."


Pada akhirnya, aku tidak menyantap spaghetti milikku sendiri. Aku hanya menyuapi Akemi sampai makanannya habis.


"Wah, ternyata makan disuapin rasanya lebih enak," ucapnya.


"Tanganku pegal."


"Ahaha, maaf, maaf. Silakan, kau boleh makan punyamu sekarang."


Aku pun menyantap makananku sendiri setelah menyuapi Akemi selama beberapa menit. Itu tadi benar-benar memalukan.


"Anu, lanjut saja makannya, tapi tolong dengar ceritaku."


"Ya."

__ADS_1


"Jadi begini, Erza, aku mau bertanya. Seandainya mantan pacarmu berpacaran dengan teman sekelas kita. Kira-kira apa yang akan kau rasakan?"


Pertanyaan yang agak berat.


"Bohong kalau aku tidak merasakan apa-apa. Pasti sedikit-sedikit merasa sakit."


"Lalu, bagaimana kalau begini. Kau punya pacar yang sangat kau sayangi, lalu tanpa mengatakan putus, dia tiba-tiba berpacaran dengan teman sekelasmu. Apa yang akan kau rasakan?"


"Kalau itu, tentu lebih sakit lagi."


"Kalau pacarmu tiba-tiba lupa padamu, dan malah berpacaran dengan teman sekelasmu bagaimana?"


"Kalau itu... tunggu. Jangan-jangan, Lev?"


"Benar."


Setelah itu, Akemi bercerita bahwa siswi kelas 1-E yang sering datang ke kelas untuk bertemu Hide, ternyata adalah pacar Lev yang amnesia.


Mendengar itu, aku tiba-tiba hilang nafsu makan. Tak dapat kubayangkan bagaimana sakitnya menjadi Lev.


Mungkin alasan dia tidak pernah menerima ajakan pacaran dari gadis lain, bisa jadi karena dia masih terikat dengan pacar lamanya.


"Erza, ayo kita tolong Lev. Aku tahu bagaimana rasanya memendam rasa sakit sendirian di kelas. Aku ingin kau menolong Lev seperti saat dulu kau menolongku. Ayo, kita bantu dia bersama-sama."


Akemi menatapku dengan serius. Aku pun ingin menolongnya. Tapi, bagaimana caranya?


"Apa sebaiknya kita beritahu Hide bahwa Inami sebenarnya adalah pacar lama Lev? Masalah seperti ini, kita tidak bisa ikut campur. Harus diselesaikan oleh orang bersangkutan," ucapku.


"Menurutku juga begitu. Sekalian beritahu Inami-san bahwa dia dulunya adalah pacar Lev. Tidak bermaksud untuk meminta Inami kembali pada Lev. Hanya meminta dia untuk mengajak Lev putus agar Lev bisa tenang."


Aku mengangguk.


"Kalau begitu, ayo kita bertemu Hide dan Inami besok. Kita beritahu mereka berdua kejadian sebenarnya."


"Iya."


Kalau ada di posisi Hide, aku pasti tidak akan merasa nyaman jika tahu bahwa pacarku ternyata pacar Lev yang amnesia. Namun, aku akan semakin merasa tidak nyaman jika tidak mengetahui hal sepenting ini. Aku pasti akan merasa bersalah pada Lev.


Oleh karena itu, masalah seperti ini, daripada dipendam dan dirahasiakan, lebih baik dihadapi langsung meski akan ada rasa sakit yang dirasakan nantinya.


Setidaknya, aku ingin membuat Lev merasa tenang. Ingin membuat Lev mendengar kata putus dari pacar tersayangnya.


"Terima kasih sudah memberitahuku, Akemi. Aku tidak tahu kalau Inami adalah pacarnya, Lev. Pantas saja dia selalu terlihat stress saat jam istirahat."


"Iya, sama-sama. Nanti aku tagih janji kita yang ketiga, ya."


"Hah? Memangnya ada?!"


"Ada!"


"Apa janjinya?"


"Tidak akan kuberitahu sekarang. Nanti saja."


"Baiklah...."


Apa benar kami membuat janji yang ketiga? Janji kedua tadi saja aku tidak ingat. Apa jangan-jangan Akemi mengarang janji agar bisa menyuruh-nyuruhku seenaknya?

__ADS_1


Ah, tidak mungkin. Akemi tidak akan membuat kebohongan untuk memanfaatkan orang lain.


__ADS_2