Murid Aneh!

Murid Aneh!
Ch. 36 - Guilty


__ADS_3

Sudah satu minggu Lullin tidak masuk semenjak insiden marahnya Nishimura-sensei di kelas 1-f. Tidak ada yang tahu tempat tinggal Lullin sehingga tak ada satu pun murid yang datang menjenguknya.


"Aku tidak peduli Nishimura-sensei tidak mengajar di sini lagi, aku lebih khawatir pada Lullin yang hilang tanpa kabar. Ayo, kita cari dia!" Giana menggebrak meja.


"Kau yakin dia hilang? Belum tentu, loh. Bisa saja dia mengurung diri di kamar."


"Iya, bisa jadi. Mengingat sifat Lullin yang pemalu, mungkin dia merasa sangat bersalah atas kejadian kemarin, dan tidak berani datang ke sini lagi."


Shuu dan Hoshi memberi komentar.


"Karena itu, ayo kita jenguk ke rumahnya!"


"Tidak ada yang tahu rumahnya, Giana. Bahkan Jui-sensei pun tidak tahu." Sera menghela napas.


"Aku tahu, tapi kita harus tetap mencarinya!"


"Mau dicari ke mana?" tanya Roman.


"Aku tidak tahu, tapi jika kita semua bekerja sama, aku yakin rumah Lullin pasti bisa ditemukan!"


Giana sudah berteman cukup dekat dengan Lullin, dia tidak ingin kehilangan temannya begitu saja.


"Aku tidak ikut. Kalau tidak tahu tempatnya ngapain repot-repot cari. Mending lapor polisi saja. Beres." Kensel yang sedang berwujud pebalap moto gp, pergi meninggalkan kerumunan.


"Aku juga. Menurutku lebih baik diserahkan pada polisi saja."


"Aku punya kesibukan sepulang sekolah."


"Maaf Giana, bukan aku tidak peduli, tapi hal seperti ini lebih baik kita serahkan pada orang dewasa saja."


Para murid meninggalkan kerumunan satu per satu, menyisakan dirinya beserta Erza, Yurina, Rock, Keiko, juga Roman.


"Akhem... Giana... sebenarnya kepergian Nishimura-sensei cukup berdampak untuk kita. Setelah dia pergi, belum ada guru bahasa inggris lagi yang ingin menggantikan posisi beliau. Aku dan Jui-sensei sedang berusaha membujuk guru lain untuk menggantikannya. Jadi, maaf, aku tidak bisa ikut mencari Lullin bersamamu."


"Ya, tidak apa-apa."


Roman pun pergi meninggalkan mereka.


Giana menatap empat murid yang masih bertahan bersamanya.


"Kenapa kalian tidak pergi juga?"


Rock menggaruk kepalanya. "Aku... khawatir pada Lullin. Aku ingin mencarinya."


"Bukankah sepulang sekolah kau harus menjaga toko kuemu? Pergi saja Rock, tak apa-apa."


"Aku bisa izin, kok. Kalau cuma satu hari."


Giana berganti menatap Keiko.


"Aku sudah bukan idol lagi sekarang. Aku punya banyak waktu luang."


Selepas pensiun dari idol, Keiko berganti profesi menjadi seorang youtuber makanan. Itu hanya sekedar hobi, Keiko melakukannya tidak serius, tapi pengunjung channel-nya tetap saja banyak.


Giliran Yurina yang ditatap.


"Saya hanya ikut Erza."


Erza yang ditatap Giana dan Yurina berdehem.


"Sebenarnya... aku tahu di mana Lullin sekarang."


Perkataannya itu membuat Rock, Keiko, serta Giana terkaget.


Giana langsung mencengkram bahu Erza.


"Benarkah itu, Erza?!"


"Ya."


"Kenapa kau diam saja?!"


"Aku baru tahu tadi pagi."


Giana berhenti mencengkram bahu Erza, dan membiarkannya berbicara.

__ADS_1


"Burung gagak. Aku diberitahu oleh burung gagak yang kuberi makan dekat kosanku tadi pagi. Dia bilang seorang gadis yang mengenakan seragam sama denganku, telah pergi ke sisi dunia lain satu minggu yang lalu."


"Sisi dunia lain?"


"Ya, gagak itu bilang... Lullin telah pergi ke kampung hantu."


Yurina, Giana, dan Keiko mematung mendengar ucapan Erza tersebut. Terasa tidak nyata, tapi Erza tak terlihat seperti sedang bercanda.


"Ah... kampung hantu, ya. Aku pernah dengar." Rock mengangguk.


Erza dan yang lain langsung menoleh padanya.


"Seperti apa itu Rock?"


"Aku pernah mendengar rumornya saat SMP. Kasus itu sangat ramai di sekolahku. Kalian benar tidak pernah mendengarnya?" Rock kembali memastikan.


"Tidak." Giana dan Keiko menjawab kompak.


Erza dan Yurina sudah pasti tidak tahu karena mereka tidak bersekolah di Jepang saat SMP.


"Kampung hampu itu seperti apa?" tanya Keiko.


"Aku sebenarnya tidak tahu, ini hanya desas-desus. Kalian tetap mau dengar?"


Semuanya mengangguk.


Rock berdehem sebelum bercerita.


"Seperti namanya, kampung itu isinya cuma hantu. Tidak ada manusianya. Manusia yang datang ke sana, tidak akan pernah bisa kembali lagi. Temanku saat SMP pun tidak pernah kembali. Tapi karena dia sudah tidak punya orang tua, tidak ada yang mempedulikannya. Pihak sekolah pun membuat keterangan palsu dengan mengatakan dia sudah ditemukan, tapi pindah sekolah karena merasa trauma. Itu semua dilakukan untuk menjaga nama baik sekolah. Sudah hampir setahun berlalu, aku tidak tahu apa dia sudah ditemukan atau belum."


Cerita Rock yang panjang lebar membuat yang mendengar bergidik ngeri, terutama Giana.


"Lalu, apa itu artinya Lullin tidak akan pernah bisa kembali?!"


Giana menekan Rock, membuat dia sulit untuk menjawab.


"Ya... sejauh yang aku dengar begitu."


Mulut Giana terbuka.


"Ma-maaf... aku tidak tahu." Rock memalingkan pandangan.


Giana berdecih.


"Kalian mau pergi ke kampung hantu? Aku ikut, aku tahu lokasinya." Hide tiba-tiba sudah berdiri di belakang mereka.


"Be-benarkah itu?! Di mana?!" Giana tampak antusias.


Hide membetulkan kacamatanya. "Setiap hari Jumat, saat tidak hujan, tepat pada pukul 5 sore, sebuah bis akan muncul di halte Naniwa, sebuah halte yang sudah lama tidak beroperasi. Itu adalah rute yang biasa dilalui Lullin saat pulang. Kalian tahu halte tersebut?"


Mereka saling bertatapan.


"Tidak tahu."


"Jalur pulangku dan Lullin berbeda."


"Aku juga."


Hide mengangguk-angguk.


"Jalurku juga berbeda, tapi aku pernah melihat dia berjalan melewati halte tersebut."


"Kalau begitu, bisa kau antar kami ke sana?!" Giana mendesak, sudah tidak sabar.


"Ya, sepulang sekolah nanti, kita pergi ke sana bersama-sama."


"Bagaimana kalau kita mengajak...."


"Jangan terlalu banyak mengajak orang. Itu adalah kampung yang sepi. Terlalu banyak yang datang bisa membuat mereka terganggu."


"Baiklah...." Giana yang berencana mengajak teman sekelas mengurungkan niatnya.


***


Sepulang sekolah, mereka pun berkumpul kembali. Giana, Keiko, Rock, Erza, Yurina, dan Hide.

__ADS_1


"Ayo kita berangkat."


Tepat di depan gerbang, Nana berdiri menghalangi mereka berenam. Dia merentangkan kedua tangannya.


"Kalian tidak boleh pergi!"


"Nana... ma-maksudmu apa, ya?" Giana mengucurkan keringat.


"Aku tahu, kalian semua mau pergi ke kampung hantu, kan?! Aku tidak mengizinkan!" Nana menolak dengan tegas.


"Kenapa?!"


"Aku tidak ingin kalian hilang seperti Lullin! Biar Lullin saja yang hilang, kalian jangan!"


"Nana! Lullin itu teman kita, kita harus menyelamatkannya!"


Nana mengusap air matanya yang hendak keluar.


"Aku tahu, tapi... orang yang sudah ke sana tidak akan bisa kembali lagi, kan? Aku mendengar pembicaraan kalian. Aku tidak ingin kalian pergi!"


Giana dan Nana hendak berdebat saat itu juga, tapi Hide langsung berkata.


"Tenang saja, orang yang sudah pergi ke sana bisa kembali, kok," ucapnya dengan tenang.


"Benarkah?!"


Nana dan Giana menatap bersamaan.


"Ya, bukan hanya teman sekelas Rock, teman sekelasku saat SMP pun pernah pergi... ehem... diculik ke kampung hantu, tapi dia berhasil pulang."


Secercah harapan pun muncul.


"Apa itu artinya Lullin bisa pulang?!"


"Ya."


"Yatta!" Giana dan Nana berteriak.


"Kalau gitu, aku juga ikut!" Nana antusias.


"Jangan Nana, kau masih kecil," ejek Erza.


"Hah?! Aku ini seumuran denganmu, Erza-hentai!"


"Seumuran?! Aku pikir kamu lompat kelas," balas Keiko.


"Saya juga berpikir begitu."


"Tidak! Aku ini seumuran kalian!" Nana berteriak.


Mereka pun tertawa bersama-sama.


Giana menatap keenam temannya sekali lagi.


"Kalian yakin ingin ikut? Aku tidak bisa jamin kita bisa kembali dari tempat itu. Benarkan, Hide?"


Hide mengangguk. "Aku sama sekali tidak tahu bagaimana isi kampung hantu. Aku hanya diberitahu teman. Aku mungkin tak banyak membantu. Kalian mau tetap pergi?"


Keiko menghela napas.


"Tegang sih, tapi aku penasaran, aku ingin tahu bagaimana isi kampung hantu."


"Aku juga."


"Saya juga!"


"Aku ingin membantu saja."


Keiko, Erza, Yurina, dan Rock memberi jawaban mereka.


"Kalau begitu, ayo kita bawa pulang Lullin!"


Di Jumat sore yang cerah itu, 7 murid kelas 1-f pun pergi menantang maut dengan menyebrang ke sisi lain dunia.


Tidak ada yang tahu apakah mereka akan kembali atau tidak, tapi tekad mereka untuk menyelamatkan Lullin sudah bulat.

__ADS_1


__ADS_2