
Malam ini Sevia dan Abhi sedang belajar matematika di meja yang sama. Besok pagi akan ada ulangan harian untuk mapel itu.
Keduanya fokus dengan buku masing masing.
" Ni pelajaran susah amat ya? Mana harus menghafal rumus rumus lagi, bikin pusing kepala gue aja." Gerutu Sevia menggunakan pensilnya untuk menggaruk kepalanya.
Abhi tersenyum menatap ke arahnya.
" Mana yang tidak bisa? Sini aku ajari." Ujar Abhi.
" Semuanya gue nggak bisa, walaupun lo ajari gue nggak akan paham, gue paling malas sama pelajaran matematika dari dulu sampai sekarang." Sahut Sevia.
" Pertama tama kamu harus menyukai matematika dulu, dengan begitu kamu bisa dengan mudah memahaminya." Ujar Abhi.
" Males ah, mendingan besok lo kasih contekan ke gue aja, gimana?" Ujar Sevia.
" Nggak bisa!" Sahut Abhi membuat Sevia cemberut.
" Pelit amat." Cebik Sevia.
" Kamu harus belajar supaya bisa Se, sebenarnya matematika bukan hal yang sulit kok." Ujar Abhi.
" Ya itu untuk otak cerdas seperti otak lo, lha kalau buat otak gue? Bukan hanya sulit tapi sangat sulit karena memang matematika pelajaran yang sulit bagi gue, sesulit melupakan reyhan." Cerocos Sevia.
" Siapa Reyhan?" Selidik Abhi.
" Itu loh yang lagi viral di medsos." Sahut Sevia.
" Itu tuh sebabnya kamu malas sama pelajaran, karena yang kamu tonton cuma medsos sama berita yang lagi viral aja, harusnya dari pada buat mainan ponsel, mending kamu buat belajar, biar pintar." Ujar Abhi.
" Ya ya terserah lo." Sahut Sevia.
Drt... Drt....
Sevia segera mengambil ponselnya. Ia mengerutkan keningnya karena yang meneleponnya nomer baru.
" Halo, siapa ini?" Tanya Sevia mengangkat panggilannya.
" Ini gue, Ezzar." Sahut Ezzar di seberang sana.
" Ezzar?" Sevia melirik ke arah Abhi. Ia beranjak keluar lalu duduk di teras.
Abhi menatapnya dengan tatapan kecewa.
" Kau pergi karena kau tidak mau aku mendengarkan obrolan kalian." Batin Abhi.
" Lo dapat nomer gue dari mana?" Tanya Sevia.
__ADS_1
" Dari Hana lah, lo jahil banget pakai ngasih nomer Hana ke gue, gue kan mintanya nomer lo bukan nomernya." Ujar Ezzar.
" Sorry, gue paling anti ngasih nomer gue ke orang lain." Sahut Sevia.
" Lo menganggap gue orang lain? Kirain kita udah jadi teman." Ucap Ezzar.
" Gue orangnya nggak suka berteman sama orang asing, udah ah gue lagi belajar, nggak usah ganggu." Ucap Sevia mematikan sambungan ponselnya.
Di sana Ezzar tersenyum menatap profil Sevia.
" Gue jatuh cinta sama lo Sevia, jatuh cinta pada pandangan pertama.... Papi... Mami... Anakmu sedang jatuh cinta." Monolog Ezzar mengembangkan senyumnya.
Sevia masuk ke dalam. Ia mengerutkan keningnya saat Abhi sudah tidak ada di sana.
" Kemana Abhi? Apa dia udah tidur ya? Ah bodo' amat, gue mau tidur aja." Ujar Sevia membereskan bukunya.
Ceklek....
Sevia membuka pintunya, ia melirik sebentar ke arah Abhi yang sedang duduk di sofa single dan fokus pada laptopnya.
" Sudah selesai bertukar kabarnya? Atau masih mau kangen kangenan?" Tanya Abhi kesal.
" Ye syirik! Terserah gue donk mau ngapain, mau kangen kangenan kek, mau sayang sayangan kek, nggak ada urusannya sama lo." Sahut Sevia naik ke atas ranjang.
" Terima atau tidak terima sekarang aku suamimu Se, sampai kapan kamu tidak menghargai aku sebagai suamimu?" Pertanyaan Abhi membuat Sevia menatap ke arahnya sambil mengerutkan keningnya.
" Berapapun yang lo minta, gue akan kasih asalkan lo membebaskan gue dari pernikahan ini." Sambung Sevia.
Lagi lagi ucapan Sevia membuat darah Abhi mendidih, ia berjalan mendekati Sevia. Ia mengukung tubuh Sevia di atas ranjang membuat jantung Sevia berdetak sangat kencang. Ia takut Abhi akan berbuat macam macam kepadanya.
" Aku bukan cowok matre seperti yang kamu pikirkan, aku tidak menginginkan seberapa uang yang kau tawarkan kepadaku, tapi sepertinya tubuhmu menarik juga, gimana kalau aku minta tubuh kamu sebagai gantinya?" Tanya Abhi menatap tubuh Sevia mulai dari wajah sampai kaki.
" A... Apa maksdumu?" Tanya Sevia gugup.
" Layani aku!" Ucap Abhi menatap Sevia penuh gairah.
" Tiga malam saja, setelah itu aku akan melepaskanmu sebagai janda muda yang sudah ternoda, dengan begitu tidak akan ada pria yang mau menikahimu." Ucap Abhi menatap mata Sevia.
" Tidak! Gue tidak mau!" Sahut Sevia.
" Jadi?" Tekan Abhi.
" Baiklah gue minta maaf, gue janji nggak akan ngomong gitu lagi, gue nggak akan minta pisah sama lo, kecuali lo sendiri yang melepas gue." Ucap Sevia.
" Bagus! Gadis pintar." Abhi mengacak rambut Sevia.
Sevia bernafas lega saat Abhi kembali ke sofanya.
__ADS_1
" Astaga... Serem juga kalau lagi kesal, hah gue nggak lagi lagi deh ngucapin kata pisah ataupun sejenisnya, dari pada gue jadi janda ternoda." Ucap Sevia dalam hati.
" Kau imut sekali kalau lagi ketakutan gitu, aku akan memberikanmu pelajaran kalau kau berani meminta pisah dariku, gadis kesayanganku." Batin Abhi melirik Sevia sekilas.
Abhi kembali fokus pada laptopnya sedangkan Sevia tidur berbaring merasuk ke alam mimpinya.
Nyatanya Abhi tidak bisa fokus pada apa yang ia kerjakan. Tindakannya tadi membuat sesuatu di bawah berdiri tegak.
" Bersabarlah adik kecilku! Belum waktunya kau merasakan kepuasan, tunggu kira kira satu tahun lagi, maka aku akan mengijinkanmu masuk ke dalam rumahmu." Batin Abhi memejamkan matanya.
Sevia mengerjapkan matanya. Ia melihat jam dinding yang menunjukkan jam tiga pagi. Ia menoleh ke samping dimana biasanya Abhi tidur namun tidak ada.
Sevia tersenyum menatap Abhi yang ternyata tidur di sofa dengan posisi duduk. Laptop di depannya di biarkan menyala begitu saja.
" Laporan keuangan? Abhi malah mempelajari laporan keuangan." Gumam Sevia menatap laptop itu.
Sevia mencoba menscroll laptop Abhi.
" Tapi ini seperti laporan keuangan perusahaan dan masih aktif sampai minggu ini, tapi perusahaan siapa? Apa Abhi bekerja di suatu perusahaan sebagai acounting? Atau dia bekerja sebagai peretas data?" Pertanyaan pertanyaan itu muncul di kepala Sevia.
" Siapa sebenarnya pria yang aku nikahi ini? Apakah dia menyembunyikan sesuatu dari kami?" Ujar Sevia menatap Abhi.
Abhi mengerjapkan matanya, tatapan keduanya saling bertemu. Abhi menatap laptop yang masih menyala.
" Kamu ngapain Se?" Tanya Abhi menutup laptopnya.
" Gue yang seharusnya bertanya sama lo, lo ngapain ngecek laporan keuangan perusahaan? Apa lo bekerja di sana? Atau lo...
" Aku hanya mencoba mempelajarinya saja Se, siapa tahu nanti aku bisa bekerja di perusahaan besar seperti milik Papamu, aku berharap bisa membuatmu bahagia dan bangga suatu hari nanti." Sahut Abhi.
Sevia tidak percaya begitu saja, pasalnya laporan keuangan itu masih aktif, itu berarti Abhi terkait dengan data terbarunya.
" Ya udah sekarang ayo tidur lagi, besok kita harus bangun pagi supaya tidak terlambat sampai ke sekolah." Ucap Abhi menuju ranjangnya.
" Aku tidak yakin dengan jawabanmu Bhi, tapi bodo' lah mau lo bekerja ataupun hanya mempelajarinya saja gue nggak peduli." Batin Sevia.
Keduanya tidur di ranjang yang sama dengan guling sebagai pembatas di tengahnya.
Hayoo Siapa sebenarnya Abhi?
Jangan lupa like koment bote dan hadiahnya ya...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensupport author semoga sehat selalu...
Miss U All...
TBC....
__ADS_1