
Hari berlalu begitu cepat, tak terasa usia kehamilan Nada mencapai sembilan bulan. Ia sudah kesusahan untuk berjalan jauh. Richard selalu siap siaga di sampingnya.
Pagi ini Richard membawa Nada ke taman kota. Keduanya nampak berjalan jalan di atas rumput Jepang. Richard terus menggandeng tangan Nada seolah tidak mau terpisah dari sang istri tercinta.
" Mas kok perutku sedikit mulas ya." Ucap Nada menghentikan langkahnya.
" Mulas gimana sayang?" Tanya Richard.
" Mulas seperti mau pup, pinggangku juga terasa panas." Ujar Nada.
" Atau jangan jangan kamu mau melahirkan sayang." Tebak Richard.
" Aku juga kurang tahu Mas, ya udah di bawa jalan aja deh nanti kalau tambah mulas kita ke rumah sakit." Ujar Nada.
" Baiklah sayang, nanti kalau tambah sakit bilang sama Mas." Sahut Richard.
Mereka kembali berjalan, saat baru mencapai lima langkah tiba tiba...
Pyak.... Syur....
Seperti air mengalir dari sela sela kaki Nada.
" Mas air." Ucap Nada.
Richard melihat air itu, ia menyentuhnya dengan jarinya.
" Ini air ketuban sayang, berarti kamu memang mau melahirkan, kita ke rumah sakit sekarang!"
Richard menggendong Nada ala bridal style masuk ke dalam mobilnya. Ia segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
Sesampainya di rumah sakit, Nada segera di tangani oleh dokter spesialis kandungan.
Di dalam ruangan bersalin, nampak Nada sedang berjuang melahirkan anaknya ke dunia ini, Richard terus menggenggam tangan Nada memberikan support untuknya.
Sepuluh menit terdengar suara tangisan bayi.
Oek... Oek...
" Alhamdulillah." Ucap mereka bersamaan.
" Selamat Nona, Tuan! Bayinya laki laki, sempurna dan sangat tampan." Ucap dokter Mila.
Richard nampak sangat bahagia, ia menciumi kening Nada berkali kali.
" Terima kasih sayang kau telah memberikan kebahagiaan ini." Ucap Richard.
Tiba tiba Nada mengalami kejang kejang membuat semua yang ada di ruangan itu merasa panik.
" Sayang... Kamu kenapa sayang." Teriak Richard.
" Maaf Tuan silahkan anda menunggu di luar dulu! Kami akan menangani istri anda." Ucap suster.
" Tapi Sus..
" Mohon kerja samanya Tuan supaya kami bisa bekerja dengan maximal."
" Baiklah, selamatkan istriku bagaimanapun caranya." Ucap Richard keluar ruangan.
Richard duduk di kursi tunggu dengan gelisah.
" Ya Tuhan... Selamatkan istriku! Jangan kau ambil dia dariku Tuhan! Aku sangat menyayanginya, aku sangat mencintai mereka, aku mohon jangan ambil dia!" Richard terus berdoa demi keselamatan Nada.
Nyonya Rani berjalan cepat menghampiri Richard setelah mendapat kabar darinya.
" Richard, bagaimana Nada?"
Richard menatap mama mertuanya.
" Dokter sedang menanganinya Ma, doakan Nada baik baik saja Ma, aku tidak mau kehilangannya." Ucap Richard sedih.
" Mama selalu berdoa untuk keselamatan kalian semua Nak, kau yang sabar ya." Ujar nyonya Rani menepuk pundak menantunya.
Richard menganggukkan kepalanya.
Cek lek...
Dokter Mila keluar dari ruangan.
" Bagaimana kondisi istri saya Dok? Tanya Richard menghampirinya.
" Maaf Tuan, tekanan darah nona Nada terlalu tinggi, dan itu menyebabkannya mengalami kejang kejang dan dengan berat hati kami mengatakan jika nona Nada mengalami koma."
" Apa?" Pekik Richard.
" Ya Tuhan.... " Richard terduduk di kursi yang tadi di dudukinya.
__ADS_1
" Sayang kenapa kau tega melakukan ini padaku, aku mohon segera sadar sayang! Kami menunggumu." Monolog Richard.
" Ya Tuhan putriku." Nyonya Rani tidak menyangka semua ini akan terjadi pada putrinya.
" Ma, bagaimana putraku hidup tanpa maminya, dia masih sangat kecil Ma, bagaimana dia bisa bertahan hidup." Ucap Richard.
" Sabarlah Richard! Ada Mama di sini yang akan merawat putramu, kita berdoa saja semoga semua ini akan cepat berlalu." Ujar nyonya Rani.
" Iya Ma aku mengerti." Sahit Richard.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mendengar kabar tentang keadaan Nada, Setia dan Abhi bergegas ke rumah sakit. Keduanya masuk ke dalam ruangan rawat Nada.
Oek... oek...
" Richard." Abhi menghampiri Richard yang sedang menggendong babbynya sedangkan Nada masih berbaring setia menutup matanya.
" Kak Richard kenapa babbynya menangis?" Tanya Setia.
" Mungkin dia haus Sev, aku bingung karena dia tidak mau menyusu pakai dot." Sahit Richard sambil terus menimang putranya.
" Apa boleh aku menyusuinya?"
Richard menatap Sevia dengan mata berbinar.
" Benarkah kau mau menjadi ibu susu untuk putraku?" Tanya Richard memastikan.
" Ya aku mau Kak, aku tidak tega melihatnya menangis seperti ini, aku akan menyusuinya dan menganggapnya sebagai putraku." Sahut Sevia.
" Bagaimana menurutmu Dad? Apa aku boleh menyusui babby mungil ini?" Sevia menatap Abhi.
" Tentu sayang! Aku sangat bangga dengan niat muliamu ini." Sahut Abhi tersenyum padanya.
" Berikan dia padaku!" Ucap Sevia.
Richard memberikan babbynya pada Sevia. Sevia membawanya duduk di sofa. Ia segera menyusul babby yang baru di lahirkan oleh Nada.
Richard duduk di samping ranjang bersama Abhi.
" Aku turut prihatin Chard dengan apa yang menimpa adik kesayanganku saat ini." Abhi menatap wajah Nada yang terlihat sangat pucat.
" Terima kasih Bhi, doakan supaya Nada segera bangun dari komanya." Ucap Richard.
" Doa terbaik untuk kalian berdua, kau tidak perlu khawatirkan putramu, biarkan putramu bersama kami! Kamu fokuslah pada kesembuhan Nada." Ucap Abhi.
" Kita pindahkan saja Nada ke rumah sakit kota, supaya kau bisa setiap hari menemui putramu, kalau Sevia yang di sini tidak mungkin, ada Barra yang menantinya di rumah." Ujar Abhi.
Richard nampak sedang berpikir.
" Kecuali kalau kamu bisa menemukan ibu susu untuk putramu di sini, kau tidak perlu repot repot memindahkan Nada." Sambung Abhi.
" Aku tidak mau putraku di susui oleh sembarang orang Bhi, aku akan ikuti saranmu memindahkan Nada ke rumah sakit pusat kota, lagian di sana fasilitasnya lebih lengkap." Sahur Richard.
" Itu lebih baik, putramu akan menjadi adik dari putraku, pasti Barra senang banget punya teman bermain." Ujar Abhi.
" Terima kasih sudah membantuku! Aku merasa lega setelah kedatanganmu." Richard menepuk pundak Abhi.
" Aku melakukan ini demi adikku." Sahut Abhi.
Sevia menimang babby Richard setelah menyusuinya.
" Apa dia tidur sayang?" Tanya Abhi.
" Iya Dad, sepertinya dia kekenyangan atau kelelahan karena lama menangis." Sevia menatap babby imut berkukit merah.
" Terima kasih Sev, aku tidak tahu bagaimana jadinya kalau kamu tidak datang ke sini." Ujar Richard.
" Sama sama Kak, aku senang bisa membantumu." Sahut Sevia.
" Siapa namanya Kak?" Tanya Sevia.
" Kami sepakat menamainya Aksa Adhitama, tampan indah dan bersih air mukanya." Sahut Richard.
" Hai babby Aksa, semoga kelak kau akan menjadi anak sholeh dan berbakti kepada kedua orang tuamu, saat ini doakan supaya mamimu cepat sadar dari komanya supaya mamimu bisa mengurusmu dengan penuh kasih sayang, doakan mamimu ya sayang." Sevia mencium pipi Aksa.
Mereka semua berharap Nada akan cepat sadar dari komanya.
Satu bulan berlalu, Nada masih menempati ruang rawat yang ada di rumah sakit pusat kota. Dengan setia Richard selalu menemaninya.
" Sayang bangunlah! Apa kau tidak mau melihat putra kita? Dia sudah bertambah besar sekarang, badannya gemuk dan pipinya gembu. Dia mengalahkan Barra sayang, dia selalu menghabiskan asi Sevia sendiri, bahkan Barra sampai menangis karena rebutan mommynya. Mas mohon bangunlah! Kasihan Sevia yang harus mengurus putra kita sayang, kasihan Barra juga kalau terus terusan tidak mendapat jatah Asi. Bangun dan lihat keseruan mereka sayang, mereka seperti saudara kembar, sebentar lagi tubuh anak kita tidak jauh dari Barra, anak kita benar benar tumbuh dengan sehat." Richard mencium punggung tangan Nada.
Tak lama jari jemari Nada bergerak membuat Richard senang.
" Sayang kamu metespon ucapan Mas. Mas akan panggilkan dokter."
__ADS_1
Richard segera memanggil dokter untuk memeriksa Nada.
" Bagaimana Dok?" Tanya Richard.
" Kondisinya mulai stabil Tuan, mungkin sebentar lagi pasien membuka matanya." Ujar dokter.
Dan benar saja, Nada membuka matanya tepat saat Sevia membawa masuk putranya.
" Sayang kau sudah sadar." Pekik Richard.
Mendengar itu Sevia menghampiri Nada.
" Nada kamu sudah sadar? Alhamdulillah." Ucap Sevia.
Nada menatap babby yang di gendong Sevia.
" Kak Sevia dia...
" Dia putra kita sayang." Sahut Richard.
" Pu.. Putra kita." Nada menutup mulutnya.
" Iya sayang, kau mau menggendongnya?" Tawar Richard.
" I.. Iya Mas." Sahut Nada.
Richard membantu Nada bersandar pada tumpukan bantal.
" Hati hati kamu masih lemas soalnya." Sevia memberikan Aksa pada Nada.
Nada menciumi wajah putranya berkali kali.
" Anak Mami... Aksa... " Ucap Nada.
" Iya.. Aksa Adhitama." Ucap Richard memeluk Nada.
" Mas sangat bahagia sayang akhirnya kau kembali pada kami." Ucap Richard.
" Aku pasti kembali Mas." Sahut Nada.
Nada menatap Sevia. Ia tahu kalau selama ini Sevia yang merawat anaknya karena setiap hati Richard menceritakan padanya.
" Terima kasih atas jasamu selama ini Kak, aku tidak bisa membalasnya dengan apapun." Ucap Nada.
" Kau bisa membalasnya dengan memberikan putramu padaku."
Deg..
Nada dan Richard menatap Sevia tidak percaya.
" Ha ha ha aku hanya bercanda saja." Kekeh Sevia.
" Kau membuat jantungku copot saja Kak, terima kasih sekali lagi." Ucap Nada.
" Sama sama, aku ucapkan selamat untukmu, kau sekarang sudah menjadi ibu, jaga selalu kesehatanmu dan babbymu." Ujar Sevia.
" Dia babby kita Kak, biarkan Aksa memanggilmu mommy seperti Barea suatu hari nanti."
Ucapan Nada membuat Sevia melongo.
" Benarkah?" Tanya Sevia memastikan.
" Iya Kak." Sahut Nada.
" Terima kasih kau telah memberikan gak itu padaku, Dad... Aku punya dua orang putra yang sangat tampan." Sevia menatap Abhi.
" Selamat sayang!" Ucap Abhi.
Nada menatap Richard.
" Mas aku ingin membeli rumah di samping Kak Sevia, bagaimanapun caranya kau harus bisa mendapatkannya." Ucap Nada.
" Tentu sayang." Sahur Richard.
Lengkap sudah kebahagiaan mereka, mereka akan menjadi keluarga yang sebenarnya. Nada dan Sevia saling melempar senyuman kebahagiaan.
...THE END...
Terima kasih untuk readers yang telah mensuport author selama ini. Author hanya bisa mendoakan semoga sehat selalu dan selalu dalam LindunganNya.
Mohon maaf jika ceritanya kurang berkenan di hati readers terzezeng sekalian...
Mohon maaf jika ada salah kata...
Love u full pokoke lah...
__ADS_1
Bye... Bye....
Jangan lupa dukung karya author yang lainnya...