Musuh Tambatan Hatiku

Musuh Tambatan Hatiku
Saling Serang


__ADS_3

Setelah menjemput Nada di rumahnya, Abhi segera kembali ke rumah sakit tempat Reno di rawat. Abhi, Sevia dan Nada menuju ruang rawat Reno.


Ceklek....


Abhi membuka pintunya, mereka bertiga masuk ke dalam menghampiri Reno yang terbaring lemah di atas brankar.


" Abhi, Sevia dan.... " Reno menjeda ucapannya saat melihat Nada yang tersenyum manis kepadanya.


" Nada! Kau di sini?" Tanya Reno tidak percaya.


" Iya Mas, aku ke sini untuk memastikan keadaanmu saja." Sahut Nada mendekati ranjang Reno.


" Maafkan aku! Gara gara aku kau jadi begini." Ucap Nada.


" Bukan salahmu, dengan begini sekarang aku jadi tahu kalau sebenarnya kau punya perasaan yang sama kepadaku." Ucap Reno.


Nada menatap Abhi dan Sevia bergantian.


" Salah paham apa lagi yang kau artikan Mas? Sudahlah! Kau tidak perlu membalas hal itu lagi! Lupakan aku! Aku tidak ada perasaan apapun kepadamu." Ujar Nada.


" Kau tidak perlu membohongiku Nada, karena aku bisa membaca semua situasinya, aku tahu kalau kau sengaja menghindari ku demi menyelamatkan aku dari para ajudan papamu itu kan? Dan siapa pria yang di jodohkan sama kamu? Richard.... Ya Richard.. Walaupun dia lebih tua dariku tapi aku tidak takut padanya, aku akan merebutmu darinya dan membuatmu mengakui cintamu kepadaku." Sahut Reno.


" Jangan konyol dan jangan keras kepala! Kau belum melakukan apa apa saja sudah berakhir di sini dengan kondisi seperti ini, apalagi jika berani melawan mereka? Kau akan berakhir di rumah masa depan." Ucap Nada.


" Seharusnya kau mendoakan aku yang baik baik, bukan malah mendoakan yang jelek begitu." Ujar Reno.


" Kau tidak akan mampu melawan Papaku, Richard dan ajudannya, jadi berdamailah dengan hidupmu yang sekarang." Sahut Nada.


Abhi menuntun Sevia ke sofa. Mereka berdua membiarkan Nada dan Reno memperdebatkan cinta mereka.


" Ternyata Reno menjadi keras kepala kalau sudah jatuh cinta." Ujar Sevia.


" Maklumlah, dia tidak pernah jatuh cinta, jadi sekali merasakan cinta, dia terobsesi ingin memilikinya." Sahut Abhi.


" Tapi aku rasa Reno tidak akan menang melawan orang orang yang tadi Nada sebutkan, kecuali kalau Reno punya kekuatan yang sama dengan mereka." Ujar Sevia.


" Kita harus membantu Reno untuk mendapatkan Nada, dia sudah berbuat banyak untukku, sekarang saat aku berbuat sesuatu untuknya." Ucap Abhi.


" Aku akan mendukungmu Yank." Sahut Sevia.


Mereka kembali menonton adegan live perdebatan calon pasangan kekasih itu.


" Nada.... Sebenarnya kaulah yang keras kepala bukan aku, kalau saja kamu mau mengaku dan memberikan signal untukku, itu akan memudahkan jalanku Nada, kita akan sama sama menghadap papamu dan mengatakan kepadanya kalau kita saling mencintai." Ucap Reno.


" Gila kamu Mas! Jika itu kita lakukan makan yang terjadi adalah kau akan kehilangan nyawamu." Sahut Nada.


" Aku akan...


" Udah deh nggak udah mikirin itu! Lebih baik kamu fokus pada kesembuhanmu, lagian aku masih sekolah, selama itu kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi, jadi hentikan keras kepalamu itu dan fokus pada kesembuhanmu, kau mengerti?" Nada menatap Reno.


Reno menganggukkan kepalanya.


" Apa kamu sudah minum obat?" Tanya Nada.


" Sudah barusan." Sahut Reno.


" Baiklah sekarang istirahatlah! Semoga cepat sembuh dan maaf aku tidak bisa berlama lama di sini karena aku takut Mas Richard akan melacak keberadaanku." Ujar Nada.


" Baiklah hati hati! Terima kasih sudah mau menjengukku." Sahut Reno.

__ADS_1


" Sama sama." Sahut Nada.


Nada menghampiri Abhi dan Sevia.


" Kak aku pulang dulu ya! Terima kasih udah membawaku ke sini." Ucap Nada.


" Lhah kamu pulangnya naik apa? Kakak antar ya?" Tawar Abhi.


" Tidak usah Kak, aku naik taksi aja." Sahut Nada.


" Ya sudah hati hati." Sahut Abhi.


" Iya Kak, mari Kak Sevia." Ucap Nada.


" Silahkan." Sahut Sevia.


Nada membuka pintu, tiba tiba....


Deg....


Jantung Nada berdetak sangat kencang saat melihat Richard yang sedang berdiri di depannya.


" Ma... Mas Richard." Ucap Nada dengan gemetar.


" Mas Richard ngapain ke sini?" Tanya Nada.


" Untuk memberikan pelajaran kepada pria itu." Sahut Richard masuk ke dalam.


Nada segera mengikutinya.


" Mas jangan lakukan apapun!" Nada mencekal tangan Richard.


" Mas ini tidak seperti yang kau pikirkan, aku tadi ke sini karena ingin menemui Kak Abhi." Ucap Nada menunjuk Abhi.


Richard menoleh ke arah Abhi.


" Selamat siang Tuan Richard." Sapa Abhi.


Richard berjalan ke arahnya.


" Selamat siang Tuan Abhisek." Sahut Richard menjabat tangan Abhi.


" Kenalkan ini istri saya." Ucap Abhi.


" Richard."


" Sevia." Keduanya saling berjabat tangan.


Nada menghela nafasnya lega melihat hal itu.


" Silahkan duduk!" Richard duduk di sofa depan Abhi.


" Saya tidak menyangka jika anda kekasihnya Nada." Ujar Abhi.


Richard menoleh Nada yang masih berdiri terpaku di tempatnya.


" Sayang sini duduk, kau akan capek kalau berdiri terus seperti itu." Ucap Richard.


Nada menghampiri Richard lalu duduk di sampingnya.

__ADS_1


" Nada adalah calon istriku, setelah dia lulus sekolah kami akan menikah." Richard menggenggam tangan Nada.


" Saya ucapkan selamat untuk kalian berdua, tapi bukankah rumornya anda sedang dekat dengan sekretaris anda?" Tanya Abhi.


Nada menatap Richard menanti jawabannya. Ia akan menjadikan rumor itu sebagai jembatan menjauh dari Richard.


" Itu hanya rumor saja Tuan Abhi, bukankah wajar kalau bos dan sekretaris saling dekat? Seperti layaknya anda dengan sekretaris baru anda." Sahut Richard.


Kali ini Sevia yang menatap ke arah Abhi. Ia terkejut dengan ucapan Richard karena Abhi tidak memberitahu apapun padanya.


" Tidak juga, kami dekat hanya sebatas pekerjaan saja." Ujar Abhi.


" Ya seperti itulah saya dan sekretaris saya Tuan Abhi, Nada juga tahu seperti apa hubungan saya dengan sekretaris saya." Ucap Richard.


" Apakah Nona Sevia tahu bagaimana kedekatan Tuan Abhi dengan sekretarisnya?" Sambung Richard menatap Sevia.


" E... Sa... Saya.. Saya tahu Tuan." Sahut Sevia akhirnya.


" Apa anda tahu kalau beberapa hari yang lalu Tuan Abhi dan sekretarisnya keluar kota?" Tanya Richard membuat Sevia terkejut.


" Ke... Keluar kota?" Sevia mengerutkan keningnya.


" Ya... Tuan Abhi mengantar sekretarisnya menjenguk ayahnya yang sedang sakit." Sahut Richard.


" Itu saya lakukan karena memang kebetulan saya sedang acara di kota ini Tuan Richard, anda mengundang kesalah pahaman di antara kami." Ucap Abhi.


" Anda dulu yang membuat kesalahan pahaman antara saya dan Nada Tuan, perlu anda ketahui kalau ada apa apa saya selalu meminta ijin kepada Nada, saya selalu memberitahu Nada kemanapun saya pergi, padahal kami belum menikah, tapi saya ingin Nada merasa istimewa." Ujar Richard.


Abhi menggaruk kepalanya menatap Sevia. Niat hati ingin menyerang Richard justru kini ia yang tersudutkan.


" Ayo sayang kita pulang! Mas ada meeting dengan client setelah ini, atau kamu mau ikut Mas meeting sekalian kita makan siang." Tawar Richard menatap Nada.


" Tidak usah Mas, aku akan bosan berdiam diri di sana." Sahut Nada.


" Kamu itu calon istriku sayang, kalau kita sudah menikah nanti, Mas akan sering memintamu untuk menemani Mas meeting." Ucap Richard.


" Baiklah aku ikut, ayo." Sahut Nada.


Richard menggandeng tangan Nada menghampiri Reno.


" Aku tidak tahu apa hubungan kalian berdua, yang jelas Nada milikku dan selamanya dia hanya akan menjadi milikku, jadi berhentilah berharap jika kau sayang pada nyawamu." Ucap Richard.


Keduanya berjalan keluar dari ruangan Reno.


Abhi menatap Sevia yang nampak murung.


" Yank aku...


" Aku tidak mau mendengar apapun penjelasanmu." Sahut Sevia motong ucapan Abhi.


Nah loh ngambek.... Makanya bang jangan usil jadi orang, jadi kena batunya kan....


Jangan lupa like koment vote dan 🌹nya buat author biar author semangat nih...


Apalah artinya author tanpa dukungan kalian semua....


Author hanya bisa mengucapkan banyak Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...


Miss U All....

__ADS_1


TBC


__ADS_2