
Pagi ini Abhi muntah muntah membuat Sevia kebingungan.
Huek... Huek...
Abhi memuntahkan cairan kuning di dalam wastafel kamar mandi. Bukannya memijat Abhi atau membantu Abhi biar agak mendingan, Sevia malah berjalan mondar mandir di belakang Abhi.
Huek....
" Yank kemarin yang muntah muntah aku, kenapa sekarang jadi kamu yang muntah muntah ya? Apa kamu masuk angin? Atau kamu salah makan? Atau kamu keracunan makanan ya? Atau..... " Belum selesai Sevia ngomong tiba tiba...
Brugh...
" Astaga Abhi." Pekik Sevia membantu Abhi berdiri.
" Sayang aku lemas banget, tolong bantu aku ke ranjang." Lirih Abhi.
" Baiklah." Sahut Sevia.
Sevia memapah Abhi menuju ranjangnya. Ia membantu Abhi bersandar pada head board.
" Mau aku buatkan minuman hangat?" Tawar Sevia menatap Abhi.
" Aku mau yang itu." Abhi menunjuk dada Sevia.
Sevia mengikuti arah tangan Abhi lalu langsung menutup dadanya sendiri dengan tangan.
" Mesum kamu Yank, masih sakit juga." Ucap Sevia.
" Tapi beneran Yank, aku mau itu sekarang." Ucap Abhi.
" Ini masih pagi Abhi, ada ada aja permintaannya deh." Ujar Sevia.
" Ayo lah Yank, aku mau itu sekarang dan nggak bisa di tunda lagi, pengin banget Yank." Ucap Abhi manja.
" Kamu kan lagi sakit, gimana bisa gitu coba." Ujar Sevia.
" Ya pasti bisa lah Yank, ayo." Ucap Abhi.
Abhi menarik tubuh Sevia ke atas ranjang. Ia menyibak kaos yang di pakai Sevia hingga menampakkan bra hitamnya. Tanpa basa basi Abhi langsung membuka pembungkus terakhir itu dan menikmati dua buah yang masih segar itu. Sevia hanya bisa pasrah saja.
Tubuh Sevia menggelinjang menikmati sensasi panas dingin yang di berikan oleh Abhi.
" Shhh Abhi." Des*h Sevia.
" Iya sayang." Abhi terus bermain di sana.
Keduanya terbakar gairah di pagi hari. Abhi benar benar memanjakan Sevia dengan penuh kelembutan. Ia menguasai tubuh istrinya hingga satu jam lamanya.
Suara erangan dan desa**n memenuhi kamar mereka. Terkadang suara decapan keduanya pun menghiasi indahnya pagi hari yang cerah.
Setelah sama sama mencapai puncak nirwana, Abhi merebahkan tubuhnya di samping Sevia. Ia memeluk tubuh Sevia dengan mesra.
" Yank aku mau mandi." Ucap Sevia.
__ADS_1
" Biarkan sebentar saja seperti ini sayang, aku ingin menikmatinya." Ucap Abhi.
Sevia membiarkan Abhi menikmati pelukannya. Setengah jam kemudian Abhi melepaskan Sevia. Keduanya mandi bersama dalam waktu yang lama. Karena Sevia harus mandi berulang kali sampai dia merasa kesal sendiri.
Sevia menyisir rambutnya sambil cemberut. Abhi terkekeh melihatnya.
" Kenapa sih sayang kok masih cemberut gitu, nggak ikhlas banget melayani suami." Ujar Abhi.
" Lagian kamu minta sarapan berkali kali, satu kali aja kan cukup! Bikin semua tulangku rasanya hampir patah." Ujar Sevia.
" Aku juga nggak tahu sayang kenapa hormon ku meningkat gini, tapi jangan marah donk! Aku akan sedih melihatmu seperti ini." Ucap Abhi melow.
Sevia menangkup wajah Abhi.
" Iya aku tidak marah kok, apa badanmu udah mendingan?" Tanya Sevia.
" Udah nggak mual, tapi masih sedikit pusing." Sahut Abhi.
" Setelah sarapan minum obat, pasti sembuh." Ucap Sevia.
" Iya." Sahut Abhi.
" Ya sudah aku akan memasak sarapan dulu buat kita." Ucap Sevia.
" Sayang kita beli aja ya, aku ingin makan gado gado yang ada di depan kantorku." Ucap Abhi.
Sevia mengerutkan keningnya.
" Sejak kapan kamu mau membeli makanan? Bukannya kamu tidak suka kalau beli makanan di luar?" Tanya Sevia.
Abhi melakukan mobilnya ke dekat kantornya. Sesampainya di sana, Abhi menggandeng Sevia masuk ke dalam kedai gado gado bi ketul, gado gado yang terkenal nikmat luar biasa.
" Ini Den pesanannya." Ucap bi Ketul menyajikan satu porsi gado gado di depan Abhi.
" Terima kasih." Sahut Sevia.
" Udah buruan di makan Yank." Ucap Sevia.
" Aku maunya di suapi." Ucap Abhi tiba tiba membuat Sevia melongo.
" Kamu nggak salah minum obat kan Yank? Apa kamu salah makan tadi di rumah? Tapi kamu belum makan apa apa kaya'nya deh, kenapa sikapmu berubah seratus delapan puluh derajat?" Tanya Sevia bingung.
" Udah buruan di suapi, aku udah lapar banget Yank." Ujar Abhi.
Mau tidak mau akhirnya Sevia menyuapi Abhi dengan telaten. Banyak pasang mata menatap iri kepada mereka, pasalnya memang kedai ini sudah ramai pembeli.
Abhi menghabiskan makanannya dengan cepat. Setelah itu mereka kembali ke rumah. Sesampainya di rumah mereka langsung menuju kamar.
" Sayang aku mau tidur dulu ya, kalau nanti Reno telepon bilang untuk beberapa hari ke depan aku mau cuti, aku mau menghabiskan waktu denganmu." Ucap Abhi naik ke atas ranjangnya. Ia lalu memejamkan matanya menuju alam mimpi.
" Sebenarnya ada apa dengan Abhi? Kenapa tingkahnya mencurigakan sekali? Apa otaknya ke geser ya gara gara kebanyakan itu tadi." Batin Sevia menatap Abhi.
Saat Sevia hendak keluar kamar, Abhi menahannya.
__ADS_1
" Sayang aku mau di kelonin sama kamu." Ucap Abhi.
Sevia menghela nafasnya, ia naik ke atas ranjang memeluk Abhi. Abhi terlelap begitu saja dalam pelukan Sevia.
" Sepertinya ada yang salah dengan kamu Mas, kenapa sikapmu aneh sekali hari ini? Kau bahkan sangat manja kepadaku, semoga ini bukan pertanda apa apa, tetaplah sehat my hero tercintaku." Sevia mencium kening Abhi dengan lembut.
Siang hari Abhi membuka matanya. Ia mencari cari Sevia ke bawah, ia menghampiri Sevia yang sedang memasak di dapur.
Grep...
Abhi memeluk Sevia dari belakang.
" Astaga kamu bikin kaget aja Yank." Gerutu Sevia.
" Mau masak apa sayang?" Tanya Abhi.
" Ayam kecap sama udang cabai hijau." Sahut Sevia.
" Sini aku bantu potong ayamnya." Ucap Abhi.
Abhi mengambil baskom berisi ikan, ia mulai memotongnya namun tiba tiba perutnya mual lagi.
Huek... Huek...
" Astaga sayang, kamu kenapa lagi?" Sevia mendekati Abhi di wastafel.
" Aku tidak tahu sayang, rasanya mual mencium bau amis itu." Abhi membersihkan mulutnya dengan air bersih.
" Aneh, biasanya juga kamu bantuin aku masak ikan atau daging nggak pa pa, mendingan kita periksa aja Yank, aku takut kamu sakit parah." Ujar Sevia.
" Nggak usah Yank! Aku mau istirahat saja, maaf ya aku nggak jadi bantuin kamu." Ucap Abhi.
" Tidak masalah Yank." Sahut Sevia.
Sevia menatap kepergian Abhi dengan hati penuh tanda tanya.
" Sebenarnya Abhi kenapa ya? Dia sakit apa kok bisa muntah muntah gitu? Apa dia punya asam lambung? Secara kan dari kemarin ia lembur terus pasti makannya tidak teratur, hah semoga cepat sembuh Bhi." Gumam Sevia dalam hatinya.
" Yank." Panggil Abhi.
" Iya ada apa?" Sevia menatap Abhi.
" Aku mau rujak es krim yang ada di mal xx, kita beli yuk." Sevia melongo menatap Abhi.
Dia benar benar tidak mengerti apa yang terjadi kepada suaminya ini.
Siapa yang tahu Abhi kenapa?
Jangan lupa tekan like koment vote dan hadiahnya biar author semangat ngetiknya...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author, semoga sehat selalu...
Miss U All...
__ADS_1
TBC...