Musuh Tambatan Hatiku

Musuh Tambatan Hatiku
Rumah Baru


__ADS_3

Hari ini Sevia dan Abhi pulang ke rumah. Abhi melajukan mobilnya menuju rumahnya.


" Yank kita mau kemana?" Tanya Sevia saat Abhi melewati jalan ke rumah mereka.


" Pulang." Sahut Abhi singkat.


" Pulang kemana Yank?" Tanya Sevia memastikan.


" Ya ke rumah lah sayang." Sahut Abhi.


" Jalan ke rumah kita udah kelewatan sayang, seharusnya kita belok kanan saat di perempatan tadi, kenapa kau lurus aja? Emangnya kita mau pulang ke rumah siapa sih." Ujar Sevia.


" Kita." Sahut Abhi.


" Ckk." Sevia berdecak kesal sambil memutar bola matanya malas.


Abhi tersenyum melihat Sevia yang nampak kesal. Mobil Abhi memasuki kawasan bougenvile residense. Setelah menunjukkan kartu tanda pengenal kepada petugas, mobil Abhi kembali melaju.


Abhi menghentikan mobilnya tepat di depan pintu rumah nomer satu di kawasan itu.


" Ayo turun sayang." Abhi membuka pintu mobilnya.


Sevia turun dari mobil. Ia memperhatikan rumah mewah berlantai tiga itu.


" Kamu beli rumah baru?" Sevia menatap Abhi.


" Iya, yang itu rumah Abhi si anak SMA, kalau yang ini rumah Abhi seorang CEO." Sahut Abhi.


" Kenapa harus beli rumah baru Yank? Rumah itu banyak meninggalkan kenangan untuk kita berdua." Ujar Sevia.


" Kita akan merajut kenangan indah di sini sayang, kenangan penuh cinta dan kasih sayang, berbeda dengan kenangan di rumah itu." Sevia paham akan ucapan Abhi.


" Baiklah terserah kau saja." Sahut Sevia.


" Kalau begitu senyum donk sayang." Ujar Abhi.


Sevia tersenyum manis kepadanya.


" Terima kasih telah memberikan yang terbaik untukku, maaf jika tadi respon ku kurang berkenan di hatimu, aku hanya merasa belum rela aja meninggalkan kenangan kita di rumah lama." Ucap Sevia.


Abhi tersenyum ke arahnya.


" Tidak apa, aku memahaminya kok, ayo kita masuk." Ajak Abhi.


Abhi menggandeng tangan Sevia. Ia membuka pintunya, keduanya masuk ke dalam tiba tiba...


Blur...


" Surprise." Teriak semua orang yang ada di dalam.

__ADS_1


" Selamat datang di rumah baru balian, semoga kalian selalu berbahagia." Ucap nyonya Nadira.


" Terima kasih Ma." Sahut Abhi dan Sevia bersamaan.


" Selamat sayang, semoga berbahagia." Ucap tuan Anton.


" Terima kasih Pa." Sahut keduanya.


" Selamat sayang, selamat datang di kehidupan baru kalian, lahirkan penerus Rodeo dengan segera." Ucap pak Andi.


" Terima kasih Yah." Ucap Abhi.


" InsyaAllah Yah." Sahut Sevia.


Dan banyak tamu undangan yang menghadiri syukuran rumah baru mereka. Rumah baru yang akan menjadi saksi perjalanan cinta mereka beserta keturunannya.


Setelah acara selesai, Abhi menggandeng Sevia menuju kamarnya yang berada di lantai dua.


Ceklek......


Abhi membuka pintunya. Keduanya masuk ke dalam. Sevia mengedarkan pandangannya mengamati kamar yang dua kali lebih luas dari kamarnya di rumah.


" Gimana sayang? Apa kamu suka?" Tanya Abhi.


" Ini mah kalau kamu mau main sepak bola, juga bisa di sini Yank." Ujar Sevia.


" Iya, tapi aku main sepak bolanya di atas ranjang saja biar gol berkali kali." Sahut Abhi.


" Iyalah sayang, apalagi baru merasakan sekali kan masih penasaran." Sahut Abhi.


" Dua." Ralat Sevia.


" Ah iya dua, maaf yang pagi nggak ke hitung." Sahut Abhi.


" Ini aja kamu udah kasih kode buat aku mulai lagi." Sambung Abhi.


" Apanya?" Tanya Sevia mengerutkan keningnya.


" Buktinya kamu langsung menuju ranjang sampai di sini." Ujar Abhi menaik turunkan alisnya.


" Ya aku kan mau nyobain kasurnya empuk apa tidak? Lagian aku udah lupa kasur empukku gara gara tinggal di rumahmu beberapa tahun ini." Sahut Sevia.


" Iya maaf, sekarang aku ganti dengan kasur dari syurga yang empuknya tidak ada yang menandingi." Sahut Abhi.


" Kalau tahu kamu orang kaya, aku nggak mau ya tinggal di rumah sempit seperti itu." Ujar Sevia dengan jiwa matrelialistisnya.


" Tapi kenapa sekarang berat di ajak pindah dari sana?" Tanya Abhi.


" Kan tadi sudah aku bilang, kenapa tanya lagi sih." Gerutu Sevia.

__ADS_1


" Iya iya sayang maaf." Sahut Abhi.


Sevia merebahkan tubuhnya di atas kasur di ikuti Abhi. Keduanya menatap langit langit kamar.


" Kamu mau kuliah dimana Yank?" Tanya Sevia.


" UI." Sahut Abhi.


" Semoga lancar menimba ilmunya ya, ingat ya kamu harus jaga mata dan jaga hati! Jangan genit sama cewek cewek di sana nanti! Awas aja kalau sampai kamu keganjengan sama mereka, aku nggak akan tinggal diam." Ancam Sevia.


" Enggak lah sayang, lagian aku ambil yang daring aja karena aku sudah di sibukkan pekerjaan kantor." Sahut Abhi.


" Aku minta maaf sayang, bukannya aku ingin mencekal masa depan ataupun impian kamu, tapi aku tidak mau kalau kamu sampai capek bekerja, kamu cukup di rumah aja nungguin aku pulang dari kantor, mengurus rumah dan anak anak kita nanti, biar aku yang kerja buat mencukupi kalian semua." Ujar Abhi.


" Iya nggak pa pa kok Yank, lagian memang begitu kan tugas istri." Sahut Sevia.


Bukankah menurut pada suami akan jauh lebih baik? Karena apa yang kita lakukan akan sia-sia tanpa ada ridho suami di dalamnya, pikir Sevia.


" Terima kasih sayang, kau mau mengerti diriku." Ucap Abhi memeluk Sevia.


" Kau lebih mengerti diriku Yank." Sahut Sevia.


" Berarti sekarang saatnya kita buat Abhi junior, biar nanti kamu nggak kesepian kalau aku tinggal kerja, biar di rumah ada temannya." Ujar Abhi.


" Entar malem aja lah Yank, badanku masih sakit semua." Ucap Sevia menatap Abhi.


" Baiklah tidak masalah, aku bisa menahan selama satu tahun kenapa tidak hanya untuk beberapa jam lagi, sekarang istirahatlah! Nanti malam aku akan mengajakmu jalan jalan." Ucap Abhi.


" Kemana?" Tanya Sevia.


" Kemanapun kamu mau." Sahut Abhi.


" Beneran ya?" Tanya Sevia.


" Iya." Sahut Abhi.


" Kita ke pasar malam yang ada di lapangan xx." Ucap Sevia.


" Pasar malam? Kau ingin ke pasar malam?" Abhi mengerutkan keningnya. Pasalnya Sevia selalu jalan-jalan ke mall kan? Kenapa sekarang dia ingin ke pasar malam, pikir Abhi.


" Iya, emangnya kenapa? Apa ada yang salah?" Tanya Sevia.


" Ya enggak sih, cuma heran aja kenapa tiba tiba kamu mau ke pasar malam, secara kan pasar malam lebih di dominasi rakyat jelata." Sahut Abhi.


" Apa kau sudah lupa kalau beberapa tahun ini kau membuatku menjadi rakyat jelata? Aku belajar hidup dengan kesederhanaan bersamamu, tapi aku menyukai itu." Sahut Sevia.


Abhi menyadari kebodohannya, ia hanya nyengir kuda menatap Sevia.


" Sudah ingat? Sekarang tidur aja dulu, nanti aku mau bersenang senang di sana." Ujar Sevia memeluk Abhi.

__ADS_1


" Baiklah istriku yang cantik jelita, selamat beristirahat." Abhi mencium kening Sevia.


TBC.....


__ADS_2