Musuh Tambatan Hatiku

Musuh Tambatan Hatiku
Reno Terluka


__ADS_3

Selesai pemakaman pak Ferdi, Abhi dan Sevia pulang ke rumah. Abhi nampak terpuruk, baru saja ia mengetahui jika ayah kandungnya masih hidup dan bertemu dengannya namun dalam sekejap ia harus kehilangannya.


" Yank duduklah di sini! Aku akan membuatkan minuman untukmu." Ucap Sevia menuntun Abhi duduk di tepi ranjang.


Sevia hendak meninggalkan Abhi namun Abhi mencekal tangannya.


" Tetaplah di sini sayang temani aku!" Ucap Abhi.


" Baiklah." Sahut Sevia duduk di samping Abhi.


" Apa kau butuh pelukan?" Tanya Sevia merentangkan kedua tangannya.


Grep....


Abhi masuk ke dalam pelukannya.


" Terima kasih sayang, kau selalu menjadi penguatku, aku beruntung memiliki." Ucap Abhi.


" Kita satu, jadi saat kau lemah aku akan menguatkanmu begitupun sebaliknya, aku memang belum pernah kehilangan seseorang tapi aku harap kamu tidak akan terpuruk, ikhlaskan kepergiannya karena memang ini sudah takdir Tuhan yang harus kita jalani." Sahut Sevia.


" Iya sayang aku tidak terpuruk kok, aku hanya kaget saja karena pertemuan ku dengan ayah sangat singkat, aku tidak pernah membayangkan semua ini akan terjadi dalam hidupku." Sahut Abhi.


" Kau harus tetap bersyukur Yank, walaupun masa lalumu suram tapi masa depanmu bersinar, kita akan hidup bahagia bersama keluarga kecil kita, kau ingin punya anak berapa?" Tanya Sevia mencoba mengalihkan kesedihan Abhi.


" Lima, enam atau tujuh." Sahut Abhi.


" Apa? Banyak amat, masa' aku harus ngelahirin anak sebanyak itu, gimana kalau dua aja." Tawar Sevia.


" Tidak ada tawar menawar sayang, kau yang menawari aku kan, jadi keputusan sudah final kita akan memiliki lima anak saja." Ujar Abhi.


" Hah terserah kau saja lah Yank, yang penting kau mau ikut andil dalam merawat mereka." Ucap Sevia.


" Tentu sayang, aku akan merawat dan membesarkan mereka dengan baik." Sahut Abhi melepas pelukannya.


" Mau aku buatkan minuman hangat?" Tawar Sevia.


" Aku mau tiduran sambil di peluk kamu." Ucap Abhi.


" Manjanya kambuh." Sahut Sevia.


Keduanya berbaring di atas ranjang. Sevia memeluk Abhi sambil mengusap kepalanya.


" Aku memahami kesedihan yang kau rasakan Yank, semoga kesedihanmu cepat berlalu." Batin Sevia.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di kota lain, Nada baru saja keluar dari sekolahnya. Ia hendak menyebrang jalan menuju mobilnya tiba tiba ada sebuah mobil berhenti di depannya, seseorang membuka pintu mobilnya dari dalam lalu menarik Nada begitu saja.


" Culik." Teriak Nada.


" Stt! Ini aku." Ucap Reno.


Nada menatap Reno dengan mulut sedikit terbuka.


" Kenapa Mas Reno ada di sini? Mau apa coba narik narik aku sembarangan." Ujar Nada.


" Aku ingin menculikmu dan membawamu ke KUA." Sahut Reno.


" Nggak usah ngarang deh! Sekolahku aja belum selesai, lagian kalau aku udah tamat, aku nggak bakalan nikah sama kamu, aku nikah sama Richard, pria yang sudah di jodohkan sama aku." Ujar Nada.


" Aku tidak akan membiarkan itu semua terjadi, kau hanya akan menikah denganku." Ucap Reno.


" Itu bisa terjadi kalau aku mencintaimu, tapi sayangnya aku tidak mencintaimu." Sahut Nada.


Reno memajukan tubuhnya membuat Nada menyenderkan punggunya pada pintu mobil. Reno mengukungnya membuat jantung Nada berdebar kencang.


" Ma... Mau apa kamu Mas?" Ucap Nada gugup.

__ADS_1


" Aku ingin mengetesmu, apakah kau punya perasaan padaku atau tidak." Sahut Reni menatap mata Nada.


Nada memejamkan matanya, ia tak kuasa melihat tatapan tajam Reno.


" Bibirmu bisa mengatakan tidak, tapi matamu tidak bisa membohongiku, walaupun kau mengatakan tidak mencintaiku, tapi matamu mengatakan semuanya Nada." Reno mengelus pipi Nada.


" Masih mau bilang tidak mencintaiku?" Tanya Reno.


Nada menggelengkan kepala sambil terus memejamkan matanya.


" Yakin?" Nada menganggukkan kepala.


" Buka matamu dan tatap aku!" Titah Reno.


Nada menggelengkan kepala.


" Itu berarti semua yang keluar dari bibirmu adalah dusta." Ujar Reno.


" Menjauhlah!" Ucap Nada.


Reno kembali ke posisinya. Ia menjalankan mobilnya membuat Nada cemas.


" Hentikan mobilnya!" Ucap Nada.


" Tidak!" Sahut Reno fokus mengemudi.


" Kau akan membawaku kemana Mas? Jangan konyol! Jika ketahuan papaku kita bisa dalam bahaya." Ujar Nada.


" Memang itu yang aku inginkan, aku ingin tahu apa yang akan papamu lakukan sehingga membuatmu takut untuk mengungkapkan isi hatimu." Sahut Reno.


" Tidak Mas... Aku tidak takut pada siapapun, pada kenyataannya memang aku tidak mencintaimu." Ucap Nada.


" Terserah kau mau mengatakan apa, yang jelas aku mencintaimu dan akan membuatmu menjadi milikku titik." Ucap Reno.


Nada menghela nafasnya diam. Reno terus melajukan mobilnya sampai di sebuah cafe.


" Ayo turun! Kita pesan sesuatu dulu." Ajak Reno.


" Hanya pesan ini saja? Kenapa tidak memesan makanan yang mengenyangkan?" Tanya Reno.


" Aku belum lapar." Sahut Nada.


Nada memakan dessertnya, sesekali ia menyesap jusnya. Reno terus menatapnya membuat Nada jengah.


" Tidak perlu menatapku seperti itu! Makanlah lalu antar kembali ke sekolah, mobilku ada di sana." Ujar Nada.


" Aku akan mengantarmu setelah aku puas bersamamu." Sahut Reno.


Saat mereka mengobrol tiba tiba tiga ajudan papanya Nada datang menghampiri mereka.


Nada mendongak menatapnya.


" Kak Sam." Gumam Nada.


Samuel menarik Reno lalu...


Bugh... bugh.... bugh.....


Ia menghajar Reno dengan membabi buta.


" Kak Sam jangan!" Teriak Nada.


Nada hendak mendekati tubuh Reno namun kedua ajudan yang lain menahannya.


" Kak tolong hentikan! Jangan sakiti dia! Dia temanku Kak." Ucap Nada berurai air mata.


Bugh....

__ADS_1


Samuel terus memukuli Reno hingga Reno terkapar tidak berdaya.


" Lepaskan aku!" Nada mencoba memberontak dari kedua ajudan papanya.


" Tidak Nona, biarkan kami menjalankan tugas." Sahut salah satu ajudan.


" Tugas dari siapa?" Bentak Nada.


" Tuan Richard."


Tubuh Nada melemah jika sudah mendengar nama Richard.


" Kalau kalian memukulinya, seharusnya kalian juga memukulku, aku sama bersalahnya dengan dia." Ujar Nada.


" Kami tidak berani menyakiti anda Nona." Ucapnya.


" Kak Samuel tolong hentikan semua ini! Aku akan ikut kalian." Ucap Nada.


Samuel menendang perut Reno, ia menangis melihat Reno yang terkapar tak berdaya.


" Ayo Nona." Ucap Samuel.


" Ijinkan aku berbicara sebentar dengannya, ku mohon." Ucap Nada.


" Tidak bisa Nona, Tuan Richard menunggu anda di mobil." Sahut Samuel.


" Mas Reno." Lirih Nada.


Reno menatap lemah ke arah Nada. Tubuhnya terasa remuk. Ia melihat Nada di bawa kedua ajudan papanya dengan perasaan sedih, namun ia tersenyum menatapnya.


" Aku sudah menemukan jawabannya Nada, kau tenang saja! Aku tidak akan menyerah sampai di sini, aku akan kembali memperjuangkanmu." Batin Reno sebelum menutup matanya.


Nada masuk ke mobil dimana di sana sudah ada Richard.


" Bagaimana rasanya melihat selingkuhanmu di hajar di depan mata kepalamu sendiri?" Tanya Richard menatap Nada.


Richard Wijaya, seorang pengusaha berusia dua puluh lima tahun. Ia melamar Nada sejak Nada masuk SMP, benar benar gila. Dan sejak saat itu, ia menganggap Nada adalah milknya.


Ia sangat menyayangi Nada tapi jika ada pria yang mendekatinya maka dia akan menyingkirkannya.


" Dia bukan selingkuhanku, dia temanku saat aku magang, apa salah jika aku menemui temanku yang datang jauh jauh dari kota sebelah." Ketus Nada.


" Aku tidak peduli! Yang jelas siapa yang berani mendekati calon istriku maka dia akan menanggung akibatnya." Ucap Richard.


" Kedua ajudanmu tadi bahkan menyentuhku, mereka menarik tanganku dengan kasar membuat tanganku sakit, kau lihat! Ini... Merah kan." Nada menunjukkan pergelangan tangannya yang memang memar.


Plak... Plak....


Richard memukul kepala kedua ajudan yang tadi memegangi Nada.


" Ampun Tuan." Ucapnya.


" Berani kalian menyakiti calon istriku lagi, aku akan mematahkan tangan kalian." Ancam Richard.


" Sepertinya aku harus menjebak Richard supaya aku bisa terlepas darinya, Ya Tuhan tolong selamatkan Mas Reno." Batin Nada.


Berhasilkah Nada lepas dari genggaman Richard?


Jangan lupa tekan like koment vote dan hadiahnya...


Author mohon doa restu dan dukungan kalian, karya baru author sedang mendaftar lomba, semoga lulus review dari editor dan sesuai apa yang author harapkan....


Kisah ini menceritakan orang ke tiga namun bukan pelakor, kok bisa? Baca dan dukung juga ya....


Author tunggu di sana ya...


__ADS_1


Miss U All...,


TBC...


__ADS_2