
Setelah turun dari mobil, Abhi segera berlari menuju rumah. Ia masuk ke dalam mencari Sevia.
" Sayang." Panggil Abhi berjalan menuju kamarnya.
Saat Abhi melewati ruang keluarga, ia menghentikan langkahnya saat melihat Sevia sedang duduk bersama seorang pria paruh baya.
" Sayang minggir! Jangan dekat dekat dengannya!" Abhi menghampiri Sevia lalu menarik tangan Sevia.
" Kenapa Yank? Dia paman kamu." Ujar Sevia.
" Bukan." Ucap Abhi menatap tajam ke arah pria tua itu.
" Dia pamanmu sayang, dia ke sini...
" Dia pembunuh ibuku." Teriak Abhi membuat Sevia melongo tidak percaya.
" Nak dengarkan aku dulu!" Ucapnya.
" Aku tidak sudi mendengarkan apapun darimu, sekarang pergilah dari sini! Dan jangan mengganggu kehidupanku!" Ucap Abhi.
" Abhi, aku tahu aku salah, aku minta maaf! Aku tidak bermaksud mencelakai ibumu Nak, itu hanya kesalah pahaman saja." Ujarnya.
" Kesalah pahaman kamu bilang?" Abhi menatap tajam ke arahnya.
" Kau mau membunuh ayahku dengan mensabotase mobilnya, tapi naas! Ibuku yang memakai mobilnya saat itu, kau jahat! Kau tidak pantas menjadi keluargaku! Pergilah dari rumah ini!" Teriak Abhi.
" Sayang tenangkan dirimu!" Ucap Sevia.
" Semuanya bisa di bicarakan baik baik, jangan seperti ini! Bagaimanapun dia lebih tua darimu Yank." Ujar Sevia.
Pak Sandi dan Reno menghampiri mereka.
" Tuan Ferdi." Pak Sandi menatap paman Abhi yang ternyata bernama Ferdi.
" Sandi." Ucap pak Ferdi.
" Ada perlu apa anda ke sini tuan Ferdi! Jika untuk mengganggu ketenangan tuan Abhi, lebih baik anda segera pergi dari sini! Hidupnya sudah anda buat menderita dengan kehilangan ibunya, sekarang biarlah tuan Abhi hidup bahagia." Ujar pak Sandi.
" Aku ingin menjelaskan semuanya, apa yang sebenarnya terjadi antara aku, Hana dan Rodeo." Ucap pak Ferdi.
Pak Sandi menatap Abhi yang hanya diam saja.
" Baiklah! Kami akan mendengarkan anda." Sahut pak Sandi.
Mereka semua duduk di sofa.
__ADS_1
" Abhi... Bukan tanpa alasan aku ingin membunuh ayahmu." Ucap pak Ferdi membuat Abhi mengepalkan erat tangannya.
" Aku dan ibumu punya hubungan khusus di belakang ayahmu." Ucapan pak Ferdi membuat Abhi menatap tajam ke arahnya.
" Suatu hari ibumu mengandung anakku, aku ingin bertanggung jawab saat itu, tapi ibumu tidak mau melukai ayahmu, pada akhirnya ibumu mengakui jika bayi yang ada di dalam kandungannya adalah anak Rodeo." Ucap pak Ferdi.
Abhi dan pak Sandi saling paham, pasalnya mereka tidak tahu dimana anak itu.
" Suatu hari saat anak itu berumur delapan tahun, dia sakit keras dan membutuhkan donor darah, kak Rodeo ingin mendonorkan darahnya namun tidak cocok, pada akhirnya dia mengetahui jika anak itu bukan anaknya... Ayahmu sangat marah saat itu, ia berencana ingin membunuh anak itu dan ibumu, beruntung aku mengetahuinya, aku berhasil menggagalkannya." Ucap pak Ferdi mengusap air matanya.
" Saat aku menemui ayahmu ke kantor, aku mendengarnya berbicara dengan seseorang, ia merencanakan pembunuhan kepada anak itu dan ibumu, dan di situlah aku merencanakan pembunuhan untuk ayahmu, aku memotong rem pada mobilnya, sayangnya pagi itu ayah dan ibumu bertengkar, entah apa yang akan ayahmu lakukan kepada ibumu sehingga membuat ibumu berlari keluar dan menjalankan mobil itu dengan kencang, alhasil ibumu mengalami kecelakaan dan meninggal saat itu juga." Terang pak Ferdi.
" Lalu dimana anak itu sekarang? Aku bahkan tidak tahu kalau ibuku memiliki anak selain aku, dimana dia?" Tanya Abhi menatap pak Ferdi.
Pak Ferdi tersenyum menatap Abhi.
" Anak itu sekarang tumbuh dewasa dan menjadi pria yang sangat tampan, dia adalah dirimu."
Jeduar.....
Bagai di sambar petir di siang bolong, Abhi menatap pak Ferdi.
" Tidak... Ini tidak mungkin, aku anak ayahku, Rodeo." Ucap Abhi tidak percaya.
" Ini hasil tes DNA kita waktu kau baru sembuh dari sakit." Pak Ferdi menyodorkan amplop putih yang terlihat sedikit lusuh.
" Setelah ibumu meninggal, aku menemui ayahmu dan mengakui semua kesalahan kami, ayahmu menghajar ku habis habisan saat itu, tapi aku menerima kemarahan ayahmu karena aku memang bersalah." Ucap pak Ferdi.
" Aku ingin membawamu bersamaku, tapi saat itu adikku sedang merencanakan hal buruk kepadaku, aku tidak mau kamu dalam bahaya jika ikut bersamaku, pada akhirnya aku menitipkanmu pada Rodeo, Rodeo mau merawatmu dengan syarat perusahaan ku aku alihkan kepadanya, tanpa berpikir panjang aku menyetujuinya, aku juga memberikan syarat kepadanya, kalau kau yang akan memimpin perusahaan, dan jika kau belum lulus SMA, kau tidak boleh muncul dengan identitasmu yang sesungguhnya." Ujar pak Ferdi.
" Setelah itu aku pergi mengasingkan diriku demi sembunyi dari adikku, beberapa bulan yang lalu aku mendengar jika adikku sudah tiada, itu sebabnya aku kembali ke sini." Ucap pak Ferdi.
" Apa ini sebabnya ayah memberikanku pada ayah Andi? Ayah tidak mau merawatku karena aku bukan putra kandungnya." Ujar Abhi.
" Tidak... Ayahmu sangat menyayangimu, mungkin adikku telah mencurigai kalau kamu ada hubungannya denganku, lihatlah! Bukankah wajah kita terlihat mirip." Ujar pak Ferdi.
Sevia menatap Abhi dan pak Ferdi bergantian.
" Benar... Wajah kalian mirip sekali." Ujar Sevia.
" Karena Abhi memang putraku, jujur aku sangat merindukanmu Nak, ingin sekali aku memelukmu setiap hari, tapi aku selalu menahannya, aku tidak mau kau menjadi sasaran perbuatan buruk adikku, maafkan aku yang telah mentelantarkan kamu." Ucap pak Ferdi sedih.
Abhi menatap pak Sandi seolah meminta pendapatnya apakah semua yang di katakan pak Ferdi benar atau tidak, pak Sandi menganggukkan kepalanya karena memang itu benar adanya. Itulah sebabnya dia mengatakan jika pamanya datang berniat baik makan Abhi harus menerimanya.
Abhi mendekati pak Ferdi lalu ia memeluknya.
__ADS_1
" Ayah." Ucap Abhi menangis dalam pelukan pak Ferdi.
" Terima kasih Nak! Kau mau memanggilku ayah walaupun aku tidak pantas di sebut sebagai ayah." Ucap pak Ferdi.
" Tapi kenapa ayah Rodeo tidak pernah memberitahuku soal ini?" Tanya Abhi.
" Aku yang melarangnya karena aku tidak mau kamu mencariku, aku yang akan menemuimu." Sahut pak Ferdi.
" Berarti anak kita nanti masih punya dua Opa." Ucap Sevia.
" Anak kalian? Apa kamu sedang hamil Sevia?" Selidik pak Ferdi.
" Iya Om." Sahut Sevia.
" Syukurlah kau hamil di saat adikku sudah tiada, kalau dia masih ada aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan pada kalian, selama ini dia selalu mencari cari bukti kalau Abhi adalah anakku, tapi sebelum ia mendapatkan buktinya, dia sudah tiada duluan, selamat untuk kalian berdua semoga selalu berbahagia." Ucap pak Ferdi.
" Terima kasih Om." Ucap Sevia.
" Selamat untuk sayang, kau mendapatkan kejutan dengan bertemu ayah kandungmu." Ucap Sevia.
" Terima kasih sayang." Sahut Abhi.
" Aku sangat bahagia, pada akhirnya aku bisa menemui putraku sebelum ajal menjemputku." Ucap pak Ferdi.
" Uhuk... Uhuk... Uhuk..." Tiba tiba pak Ferdi terbatuk batuk.
" Ayah kamu kenapa?" Tanya Abhi.
Pak Ferdi memegangi dada kirinya.
" Ayah.... Kita harus ke rumah sakit." Ucap Abhi.
" Tidak sayang, itu tidak perlu! Mungkin ini sudah saatnya ayah pergi, jaga diri kamu baik baik dan jaga cucu ayah dengan baik, aku akan menemui ibumu dan mengatakan padanya kalau aku sudah bertemu denganmu, sekali lagi maafkan ayah yang tidak bisa menjadi ayah yang baik untukmu." Ucap pak Ferdi dengan nafas tersengal.
Pak Ferdi memejamkan matanya.
" Ayah..... " Teriak Abhi.
Kasihan ya... Baru ketemu kok udah kehilangan lagi... Mimpi apa bukan nih...
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya buat author...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author... Semoga sehat selalu...
Miss U All....
__ADS_1
TBC.....