
Keduanya memakan bakso yang di pesan masing masing. Reno terus menatap Nada membuat Nada sedikit risih.
" Mas bisa nggak sih nggak usah lihatin aku kaya' gitu, entar kalau kamu naksir aku gimana?" Ujar Nada menaik turunkan alisnya sambil tersenyum manis kepada Reno.
" Ya nggak pa pa, kamu jomblo kan? Jadi nggak masalah kalau aku suka sama kamu, sudah sewajarnya kalau laki laki suka sama perempuan." Sahut Reno menyiapkan bakso ke dalam mulutnya.
" Siapa bilang aku masih jomblo? Aku udah punya pacar Mas." Sahut Nada.
Uhuk... Uhuk... Uhuk...
Reno tersedak bakso yang sedang di kunyah nya. Nada segera memberikan minumannya kepada Reno. Tanpa berkata apa apa Reno langsung menenggaknya hingga tandas.
" Hati hati donk Mas! Jadi tersedak kan." Ujar Nada mengelus punggung Reno.
" Hah." Reno bernafas lega. Ia menatap Nada dengan tatapan yang sulit di artikan.
" Kamu sudah punya pacar? Kecil kecil kok udah pacaran? Emangnya di bolehin sama orang tua kamu? Bukannya sekolah dulu yang benar, kok malah udah pacaran." Selidik Reno.
" Ih kepo deh." Sahut Nada kembali memakan baksonya.
Hati Reno nampak kecewa dengan jawaban Nada. Ia tidak mau berkata apa apa lagi. Ia melanjutkan makannya sampai habis tak tersisa.
Setelah selesai makan, Reno melajukan mobilnya menuju kostan Nada yang sudah Nada beritahu sebelumnya. Di dalam perjalanan hanya ada keheningan saja. Reno yang biasanya cerewet kini mendadak menjadi kalem membuat Nada heran kepadanya.
" Mas Reno, kenapa sedari tadi hanya diam saja? Apa aku melakukan kesalahan? Atau ucapanku ada yang menyinggung perasaanmu?" Tanya Nada menatap Reno yang masih fokus pada kemudinya.
" Tidak! Lagi nggak mood ngomong aja." Sahut Reno cuek.
" Oh ya udah." Sahut Nada.
Dua puluh menit kemudian Reno menghentikan mobilnya di depan kostan Nada.
" Terima kasih untuk hari ini Mas, maaf tidak bisa mengajakmu mampir karena ibu kost melarang kami membawa laki laki masuk." Ucap Nada.
" Hmm." Gumam Reno.
" Aku masuk dulu." Ucap Nada turun dari mobil.
Reno segera melajukan mobilnya kembali.
" Ada apa dengan Mas Reno ya? Kenapa dia tiba tiba berubah gitu? Tapi bodo' amatlah, mungkin dia sedang banyak pikiran." Batin Nada masuk ke dalam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi hari dengan semangat empat lima, Nada datang ke kantor seperti biasanya. Ia masuk ke dalam ruangan Reno, ia kecewa karena Reno belum datang. Padahal biasanya Reno sudah stand by di sana.
__ADS_1
Nada menunggu Reno sambil memainkan ponselnya. Namun hingga jam delapan Reno belum juga datang. Hal itu membuat Nada resah karena ia tidak tahu harus melakukan apa.
Ceklek....
Pintu terbuka, Nada menatap Reno yang berjalan lalu duduk di mejanya.
" Apa Mas Reno baik baik saja? Kenapa baru datang se siang ini Mas?" Tanya Nada.
" Mulai sekarang tidak usah menungguku! Aku ke kantor sesuka hatiku mau jam berapa, jangan biasakan tergantung padaku, kau bisa mengerjakan pekerjaanmu sendiri tanpa menungguku." Sahut Reno dingin.
Ucapan Reno membuat hati Nada mencelos.
" Baiklah maafkan aku! Maaf jika selama ini aku menyusahkanmu." Ucap Nada.
" Baguslah kalau kamu sadar diri." Sahut Reno.
Nada menahan air mata yang hendak jatuh di pipinya. Sebisa mungkin ia menahan rasa sesak di dalam hatinya. Ia mulai mengerjakan pekerjaannya tanpa bantuan Reno.
" Kau pasti bisa Nada... Kau harus semangat dan berdiri pada kakimu sendiri, jangan pernah bergantung pada orang lain." Batin Nada.
Jam istirahat pun tiba. Reno meninggalkan ruangannya begitu saja tanpa menyapa ataupun mengajak Nada makan siang seperti biasanya.
Nada pergi ke kantin sendirian. Di sana ia memesan mie ayam sama teh panas.
" Hai, kenalkan aku Cavin dari divisi keuangan, kamu anak SMK yang praktek kerja di sini kan?" Tanyanya duduk di depan Nada sambil menatapnya.
" Siapa namamu?" Tanya Cavin.
" Nada." Sahut Nada.
" Nama yang bagus, Nada itu berarti embun, kau akan menjadi penyejuk orang orang di sekitarmu." Tebak Cavin.
" Semoga ya." Ucap Nada.
" Ya tentu donk! Buktinya aku merasa teduh melihat senyumanmu, semoga kita bisa berteman dengan baik." Ucap Cavin.
" Aku tidak lama kok di sini." Ucap Nada.
" Ya tidak masalah, walaupun kamu sudah tidak praktek di sini, kita kan masih bisa berteman, kita bisa berkomunikasi lewat ponsel misalnya." Ujar Cavin.
" Iya juga sih." Sahut Nada.
Keduanya terlibat perbincangan yang menyenangkan. Tanpa mereka sadari Reno melihat semuanya. Ia mengepalkan erat tangannya lalu pergi menjauh dari kantin.
Di tempat lain, tepatnya di rumah sakit. Saat ini Abhi sedang muntah muntah.
__ADS_1
Huek... Huek....
" Kamu kenapa lagi Yank?" Tanya Sevia meminta tengkuk Abhi.
Huek... Huek...
Abhi memuntahkan semua isi perutnya di wastafel rumah sakit.
" Oh ya Tuhan.... Kenapa kamu seperti ini Yank? Aku tidak tega melihatmu seperti ini." Ucap Sevia.
" Sayang... Lihatlah daddymu! Dia begitu tersiksa dengan keadaannya saat ini sayang, Mommy mohon! Kamu jangan nakal lagi ya, kasihan daddymu." Ucap Sevia mengusap perutnya sendiri.
Abhi menatap Sevia, ia menyentuh kedua pundak Sevia.
" Sayang kamu ini bicara apa hmm? Anakku tidak nakal seperti apa yang kau bilang barusan sayang, dia anak pintar, dia anak yang baik, biarkan saja aku seperti ini! Aku malah bersyukur aku yang mengalami semua ini bukan kamu, coba bayangkan kalau kamu yang mengalami semua ini, aku pasti tidak akan bisa hidup tenang setelah melihat penderitaanmu, jadi jangan pernah kamu salahkan anak kita atas kondisi ku saat ini, aku sangat menikmati peran ku saat ini." Ucap Abhi lembut.
" Baiklah sayang, aku minta maaf kepadamu karena sudah menyalahkan anakmu, aku hanya merasa tidak tega saja melihatmu seperti ini, kau yang selama ini menjadi super hero ku tiba tiba harus sakit, lemah tak berdaya seperti sekarang ini, ini membuatku sangat sedih sayang." Ucap Sevia mengalungkan tangannya ke leher Abhi.
" Hmm kau menggodaku ya." Ucap Abhi menoel pipi Sevia.
" Sedikit." Sahut Sevia.
Abhi memajukan wajahnya, ia mengecup bibir Sevia dengan lembut. Sevia membuka sedikit mulutnya, Abhi menyusupkan lidahnya mengekspos setiap inchi nya. Suara decapan memenuhi kamar mandi rumah sakit.
Setelah keduanya merasa kehabisan nafas, Abhi melepas pagutannya. Ia mengusap bibir Sevia menggunakan jempolnya.
" Terima kasih, kau tidak jijik menerima ciumanku." Ucap Abhi.
" Kenapa harus jijik? Apapun yang ada padamu, semuanya milikku, sehatmu, sakitmu, bahkan kesedihanmu adalah milikku, bukankah kita harus bersama menjalani semua itu, kita satu jadi apapun yang terjadi padamu aku harus ikut merasakannya." Ucap Sevia membuat Abhi terharu.
" Terima kasih sayang, kau memang yang terbaik, aku semakin menyayangimu, aku mencintaimu Sevia Rodeo." Ucap Abhi mencium kening Sevia.
" Aku juga menyayangimu dan mencintaimu Abhisek Rodeo, musuhku tambatan hatiku." Sahut Sevia memeluk Abhi.
Keduanya nampak bahagia dengan kebahagiaan yang Tuhan berikan kepada mereka. Mereka berharap kebahagiaan ini akan abadi selamanya. Sampai maut memisahkan mereka.
Cie cie... so sweet....
Lanjut?
Tekan like koment vote dan 🌹nya dulu buat author biar author makin semangat ngetiknya.
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...
Miss U All..
__ADS_1
Tbc....