Musuh Tambatan Hatiku

Musuh Tambatan Hatiku
Kehamilan Simpatik


__ADS_3

Huek... Huek...


Pagi ini Abhi kembali muntah muntah. Tubuhnya terasa lemas seperti orang sakit satu bulan lamanya.


" Yank kita ke dokter ya." Ucap Sevia memijat tengkuk Abhi.


" Nggak mau ah Yank, aku mau istirahat saja di rumah, nanti juga baikan." Sahut Abhi membasuh mulutnya lalu mengelap nya dengan tisu.


" Yank aku mau itu." Arah mata Abhi menuju dia gundukan kembar Sevia.


" Kamu ini terkena penyakit aneh Yank, udah tiga hari ini kalau pagi kamu mintanya begituan mulu', mending kita periksa aja ya biar kita tahu penyakit apa yang sedang menyerang tubuhmu ini." Ujar Sevia.


" Nggak mau, berikan itu aku pasti akan sembuh." Sahut Abhi.


Mau tidak mau akhirnya Sevia pun memberikan apa yang Abhi inginkan. Abhi bermain main di dua gundukan kembar Sevia seperti seorang bayi yang sedang menyusu. Desiran aneh merambat ke tubuh Sevia hingga membuat tuntutan yang lebih dari sekedar di sentuh.


" Aku mulai Yank." Ucap Abhi sekaligus meminta izin.


Abhi memulai permainan dengan sangat lembut. Sevia benar benar terbuai dengan sentuhan Abhi. Keduanya menghabiskan waktu pagi berdua dengan pergulatan panas di balik selimut. Setelah selesai, keduanya langsung mandi bersama.


" Sayang sisir rambutku donk!" Ucap Abhi memberikan sisir kepada Sevia.


Dengan telaten Sevia menyisir rambut Abhi.


" Sayang aku ingin makan rujak mangga muda sama jambu air merah yang rasanya asam itu lhoh Yank." Ucapan Abhi membuat Sevia mengerutkan keningnya.


" Ini masih sangat pagi buat makan rujak Yank, akan aku masakan sesuatu untukmu ya." Ujar Sevia.


" Tapi aku mau makan itu sayang, ayo kita beli!" Ajak Abhi.


" Kalau mau rujak itu nanti siang, sekarang aku buatkan sesuatu dulu untuk sarapan, yang ada nanti kamu tambah sakit kalau pagi pagi udah makan rujak." Ucap Sevia meninggalkan Abhi di kamarnya.


Sevia memasak ayam goreng sama sop daging sapi. Setelah selesai, ia segera kembali ke kamarnya untuk memanggil Abhi.


" Astaga apa yang terjadi denganmu Yank." Pekik Sevia mendekati tubuh Abhi yang tergeletak di lantai.


Abhi tidak sadarkan diri. Sevia segera membawa Abhi ke ranjang dengan susah payah. Setelah posisi Abhi enakan, Sevia segera menelepon mamanya untuk memanggilkan dokter.


Setengah jam kemudian nyonya Nadira datang bersama seorang dokter keluarga. Dokter Merina namanya.


" Silahkan Dok, segera periksa menantu saya." Ucap nyonya Nadira.


" Mama, sebenarnya Abhi kenapa Ma? Aku takut kalau dia kenapa napa." Ucap Sevia merangkul mamanya.


" Tenang sayang! Dokter sedang memeriksanya." Sahut nyonya Nadira.


Dokter memeriksa Abhi sambil tersenyum.

__ADS_1


" Bagaimana keadaan suami saya Dok? Apa dia terkena penyakit yang serius?" Tanya Sevia menatap dokter Merina.


" Tuan Abhi mengalami kehamilan simpatik, ini biasa terjadi pada suami yang sangat mencintai dan menyayangi istrinya, itulah sebabnya masa masa ngidam dia yang merasakannya." Terang dokter Merina.


" Berarti aku yang hamil, tapi suamiku yang ngidam, begitu Dok?" Tanya Sevia memastikan.


" Iya Nona." Sahut dokter.


" Alhamdulillah sayang, akhirnya sebentar lagi Mama punya cucu." Ucap nyonya Nadira menepuk pundak Sevia.


" Aku hamil Ma?" Tanya Sevia.


" Ada kemungkinan begitu, untuk lebih jelasnya silahkan USG ke bagian obgyn, ini vitamin yang harus di minum oleh tuan Abhi Nona." Dokter Merina memberika satu kaplet obat kepada Sevia.


" Terima kasih Dok." Ucap Sevia.


" Saya ucapkan selamat Nona, jaga kehamilannya jangan sampai kelelahan ataupun stres, makan makanan bergizi dan perbanyaklah minum air putih." Ucap dokter.


" Baik Dok, sekali lagi terima kasih." Ucap Sevia.


Dokter meninggalkan kamar Sevia bersama nyonya Nadira.


" Engh." Lenguh Abhi.


Sevia segera menghampirinya.


" Tadi kamu pingsan sayang, beruntung Mama ke sini membawa dokter untuk memeriksamu." Sahut Sevia duduk di tepi ranjang.


Abhi menggenggam tangan Sevia.


" Maafkan aku ya telah membuatmu cemas." Ucap Abhi.


" Tidak masalah sayang, kamu pingsan juga gara gara aku, kamu mengambil hakku sayang." Sahut Sevia.


" Aku mengambil hakmu? Hak apa yang kamu maksud sayang?" Abhi mengerutkan keningnya.


" Seharusnya aku yang hamil, aku juga yang ngidam, ini malah kamu yang ngidam, kan nggak asyik jadinya." Ujar Sevia.


" Hamil? Ngidam? Apa aku seperti ini karena kamu sedang hamil sayang?" Tanya Abhi memastikan.


" Masih perkiraan Yank, aku harus di periksa bagian obgyn dulu untuk memastikan." Sahut Sevia.


" A... Aku bahagia banget sayang, akhirnya aku akan menjadi papa muda, terima kasih sayang, aku sangat bahagia dengan berita ini." Ucap Abhi memeluk perut Sevia. Ia menciumi perut rata Sevia dengan bahagia.


" Ini belum pasti Yank, jangan terlalu berharap! Takutnya kamu kecewa." Ucap Sevia.


" Aku yakin kalau kamu memang hamil, buktinya bulan ini kamu nggak dapat tamu bulanan." Ujar Abhi.

__ADS_1


Sevia mencoba mengingat ingat, memang benar bulan ini dia belum datang bulan.


" Iya kau benar Yank, semoga saja benar kalau aku sedang mengandung anakmu saat ini." Ucap Sevia.


" Anaknya Papa sehat sehat di dalam sini ya, Papa sangat menantikan kelahiranmu sayang, cepat besar ya Papa udah pengin banget gendong kamu." Ucap Abhi mengelus perut Sevia.


" Mending sekarang kita ke rumah sakit Sevia, Mama akan mengantarmu, biar semuanya jelas jadi kalau benar kamu hamil, mulai sekarang kamu bisa berhati hati." Ucap nyonya Nadira masuk ke kamar mereka.


" Kamu mau ikut nggak Yank? Atau kamu mau di rumah aja." Ucap Sevia menatap Abhi.


" Aku ikut, aku mau melihat calon anakku untuk yang pertama kali." Sahut Abhi.


" Baiklah, Mama akan menjadi sopir kalian hari ini." Ucap nyonya Nadira.


Ketiganya berjalan mobil. Nyonya Nadira melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Sesampainya di sana mereka langsung menemui dokter Obgyn untuk melakukan pemeriksaan.


" Saya sudah mendengar cerita dari dokter Merina, kita langsung USG saja biar semuanya jelas Nona." Ujar dokter Mila.


" Iya Dok." Sahut Sevia.


" Silahkan berbaring di sana Nona." Dokter Mila menunjuk bed yang ada di ruangannya.


Sevia berbaring di sana, dokter Mila mengoleskan gel pada perut Sevia. Ia menggerakkan transduser ke kanan dan ke kiri.


" Lihat Nona, tuan." Ucap dokter Mila.


" Titik hitam ini adalah calon bayi kalian, masih sangat kecil ya, usianya sekitar lima minggu, janinnya sehat, kembali lagi bulan depan Nona untuk melihat pertumbuhannya." Ucap dokter Mila.


Abhi menggenggam tangan Sevia, keduanya menatap layar monitor dengan perasaan haru.


" Di... Dia calon anakku Dok? Aku tidak menyangka aku bisa melihat calon anakku hari ini, terima kasih sayang.. Terima kasih kau telah menyempurnakan hidupku sayang, aku sangat bahagia sekali,aku bahagia keinginanku terwujud, sehat sehat sayang, jaga anak kita ya." Abhi menciumi kening Sevia.


" Iya sayang, aku juga sangat bahagia akhirnya kita bisa menjadi calon orang tua, aku bahagia sayang." Ucap Sevia.


" Istirahat yang cukup, banyak minum air putih dan makan makanan bergizi Nona, saya akan meresepkan vitamin untuk anda." Ucap dokter Mila.


" Iya Dok terima kasih." Sahut Sevia.


Setelah menebus resepnya, ketiganya pulang ke rumah. Di dalam perjalanan tak henti hentinya Abhi menggenggam tangan Sevia. Bahkan sesekali ia mengelus perut Sevia dan mengajak calon anaknya berbicara.


Nyonya Nadira tersenyum bahagia melihat antusiasme Abhi menyambut calon putra mereka.


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya buat author, biar author makin semangat


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...


Miss U All

__ADS_1


TBC....


__ADS_2