
Hari ini Sevia sudah pulang ke rumahnya, tepatnya rumah Abhi. Sejak berada di rumah sakit, hubungan mereka semakin dekat, namun Sevia terlihat seperti menjaga jarak dengan Abhi. Bukan tanpa alasan, ia takut jika perasaannya hanya bertepuk sebelah tangan.
" Se kamu mau makan apa?" Abhi menatap Sevia yang terbaring di ranjang.
" Gue terserah lo aja." Sahut Sevia.
" Jangan lo gue donk, aku kamu aja, biar terasa dekat." Ucap Abhi protes.
" Akan gue usahain." Sahut Sevia.
" Ya udah aku masak dulu buat kamu." Abhi meninggalkan kamarnya.
Sevia menatap punggung Abhi.
" Ada apa sebenarnya dengan perasaanku ini? Masa' sih aku suka sama Abhi, tapi selama di rumah sakit aku nggak merasakan kesal lagi sama Abhi, atau karena Abhi tidak menghukumku seperti di sekolah kali ya? Ah bodo lah, pusing gue." Sevia menyandarkan punggungnya pada headboard. Ia mulai memainkan ponselnya.
Setengah jam kemudian Abhi membawa nampan makanan di tangannya.
" Sekarang makanlah! Aku akan menyuapimu." Ujar Abhi.
" Gue bisa makan sendiri, sini!" Sevia mengambil alih piring dari tangan Abhi.
Sevia mulai memakannya, ia sedikit berpikir kenapa Abhi bisa memasak seenak ini? Sejak menikah Abhi lah yang memasak untuk mereka berdua.
" Assalamu'alaikum."
Terdengar suara orang mengucap salam.
" Sepertinya Papa sama Mama." Ujar Sevia.
" Aku buka dulu." Abhi berjalan membuka pintunya.
" Wa'alaikumsallam Pa, Ma." Abhi menyalami kedua mertuanya dengan takzim.
" Silahkan masuk." Ucap Abhi.
Ketiganya masuk ke dalam kamar Abhi.
" Sayang gimana keadaanmu?" Tanya nyonya Nadira.
" Sudah agak mendingan Ma." Sahut Sevia.
" Sebenarnya Mama ingin kamu pulang ke rumah untuk sementara waktu, paling nggak sampai kamu sembuh biar Mama bisa jagain kamu, tapi Papa kamu melarangnya, Papa yakin kalau Abhi bisa menjagamu di sini sayang." Ucap nyonya Nadira.
__ADS_1
Sevia menatap Abhi, lalu menatap mamanya kembali.
" Abhi menjagaku dengan baik Ma, Mama tidak perlu khawatir." Sahut Sevia.
" Iya Ma, Mama jangan khawatir aku akan menjaga Sevia dengan baik, kejadian kemarin akan Abhi jadikan pelajaran." Sahut Abhi.
" Tapi kamu kan jadi tidak sekolah,ketinggalan pelajaran gimana." Ujar nyonya Nadira.
" Tidak apa Ma, aku sudah ijin ke kepala sekolah sampai Sevia sembuh, lagian aku bisa mengejar ketertinggalannya." Sahut Abhi.
" Ya sudah jika itu sudah keputusan kalian." Nyonya Nadira menghela nafasnya pelan.
" Bagaimana dengan hubungan kalian? Palah pernikahan kalian baik baik saja?" Tanya tuan Anton menatap Sevia dan Abhi bergantian.
" Baik Pa, kami tidak ada masalah." Sahut Abhi.
" Papa berharap supaya kalian bisa menjaga pernikahan ini sampai kalian menjadi seorang kakek dan nenek, Papa ingin pernikahan ini langgeng dan hanya maut yang bisa memisahkan kalian berdua, Papa selalu berdoa untuk kebahagiaan kalian berdua, setelah kalian lulus nanti, segera beri Papa cucu yang lucu." Ujar tuan Anton.
" InsyaAllah Pa, kami akan menjaga dan mempertahankan pernikahan ini selamanya." Sahut Abhi.
" Sudah gue duga kalau kalian punya hubungan."
Semua orang menatap ke asal suara.
" Kenapa lo nyembunyiin ini dari gue Sev? Apa lo nggak tahu kalau sebenarnya gue suka sama lo? Lo ngebiarin gue berharap banyak sama lo Sev, gue berharap bisa menjadikan lo pasangan hidup gue, tapi apa? Ternyata lo sudah menjadi milik orang lain." Ezzar menatap Sevia.
Tatapan Ezzar menampakkan kekecewaan yang begitu mendalam.
Ezzar penasaran dengan kedua orang tua Sevia yang hendak menjenguk putrinya, hatinya merasa kalau putri mereka adalah Sevia, karena memiliki nama yang sama.
Ezzar mengikuti mereka dari belakang, dan benar saja Ezzar mendapatkan jawaban dari semua kecurigaannya.
" Bukan begitu maksudnya Zar, kita bisa jelasin." Ujar Abhi.
" Lalu apa maksudnya? Gue yakin lo tahu kalau gue suka sama Sevia, tapi kenapa lo diam saja hah? Lo tidak mau memberi tahu gue yang sebenarnya, lo mau istri lo di ambil sama orang?" Ezzar menatap Abhi.
" Sevia tidak mau kalau pernikahan kami di publikasikan di sekolah, dia ingin belajar dengan tenang Zar, lo harus hargai itu." Sahut Abhi.
" Ok gue terima kalau Sevia tidak ingin pernikahannya di ketahui teman teman, tapi lo bisa membisikkan ke telinga gue, kalau Sevia milik lo, di rumah sakit gue udah nanya ke lo berdua, tapi kalian jawabnya tidak ada hubungan apa apa, atau lo nggak cinta sama Sevia makanya lo menyembunyikan ini dari gue hah?" Ezzar menatap Abhi dengan tajam.
Sevia menatap Abhi sambil menanti jawaban Abhi, namun Abhi bungkam karena menurut Abhi ini bukan saatnya.
" Kalau lo nggak cinta sama Sevia, berarti gue punya kesempatan buat dapetin Sevia dari lo." Ujar Ezzar.
__ADS_1
" Nggak bisa! Sevia istriku, dan selamanya dia akan menjadi milikku, aku tidak akan membiarkan orang lain mengambilnya dariku." Abhi menekan setiap ucapannya.
" Kenapa bisa seperti itu? Kalau kalian tidak ada rasa cinta buat apa hidup bersama? Mending pisah dan hidup dengan orang yang mencintai kalian." Ujar Ezzar.
" Aku bilang nggak bisa ya nggak bisa." Tekan Abhi.
" Memangnya kenapa?" Tanya Ezzar dengan nada tinggi.
" Karena aku mencintainya." Abhi membalas dengan suara keras.
Deg....
Jantung Sevia berdetak sangat kencang. Ia menatap Abhi tidak percaya. Ribuan kupu kupu dan bunga bermekaran di hati Sevia saat ini.
" Benarkah Abhi mencintaiku? Kenapa rasanya bahagia sekali mendengar dia mencintaiku, semoga ini bukan mimpi." Ujar Sevia dalam hati.
" Baiklah kalau begitu, gue harap lo bisa membuat Sevia bahagia." Ucap Ezzar.
Ezzar keluar dari kamar Sevia dengan perasaan kesal, patah hati, sekaligus kecewa.
Abhi menatap Sevia begitupun sebaliknya.
" Kamu jangan salah paham dulu Se! Aku sengaja mengatakan itu karena aku tidak mau dia mengganggumu lagi." Ucap Abhi.
Bunga bunga yang sempat bermekaran di hati Sevia layu sudah. Ada rasa sesak di dalam hati Sevia yang mendalam.
" Maafkan aku Se, aku belum bisa mengatakan yang sebenarnya saat ini, aku takut jika cintaku bertepuk sebelah tangan, dan kau malah menjauh dari hidupku." Batin Abhi.
" Owh tidak apa, lagian gue juga tidak mengharapkan itu dari lo, gue masih mau sendiri tanpa terikat adanya cinta." Sahut Sevia.
" Ma aku mau istirahat ya, kepalaku sedikit pusing." Ucap Sevia menutup tubuhnya dengan selimut.
" Baiklah sayang istirahatlah! Papa sama Mama keluar dulu, kami mau ngobrol sama Abhi." Ujar nyonya Nadira.
Mereka meninggalkan Sevia sendiri di kamarnya.
" Bodoh lo Sevia... Mana mungkin Abhi suka sama lo, apalagi mencintai lo, itu hal mustahil Sevia.... Lo jangan ke geeran jadi orang.... Lo harus melupakan semua ini, kalau tidak lo akan terus terusan merasakan yang namanya sakit hati, baiklah Abhi... Kalau lo nggak mencintai gue, gue akan mencintai orang lain, gue ikuti apa yang lo mau." Gumam Sevia.
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya...
Terima kasih untuk readers uang telah memberikan support kepada author, semoga sehat selalu.....
Miss U All...
__ADS_1
TBC....