
Pagi ini Sevia bersiap untuk pergi ke kantor Abhi. Semalam Abhi tidak pulang ke rumah, di telepon pun juga tidak di angkat. Hal itu membuat Sevia resah dan takut Abhi kenapa napa.
Dengan memakai gaun biru laut selutut, high hells lima centi, ia berjalan menuju mobilnya. Sevia kemudian melajukannya dengan kecepatan sedang.
Dua puluh menit, Sevia sampai di sana. Ia segera masuk ke dalam hendak menuju ruangan Abhi, namun seorang receptionist menahannya.
" Eh eh Mbak, kamu mau kemana? Kenapa nyelonong aja?" Tanya receptionist yang bertage name Eka.
" Saya mau ke ruangan suami saya Mbak." Sahut Sevia sopan.
" Suami Mbak? Memangnya siapa nama suaminya? Semua tamu harus melapor dulu kepada saya Mbak." Ujarnya.
" Tuan Abhisek Rodeo." Sahut Sevia.
" Apa?" Eka menatap penampilan Sevia sambil tersenyum sinis.
" Kalau menghayal jangan ketinggian deh Mbak, masa' bos besar mau menikah dengan anak kecil sepertimu, memangnya kamu lulusan apa?" Ini nih yang Sevia tidak suka dengan orang julid semacamnya.
" Memangnya kenapa mau tahu tamatan saya? Saya baru lulus SMA, puas?" Sevia memutar bola matanya malas.
" Lulusan SMA mah nggak pantas mendampingi bos besar, dia aja kuliahan, nih ya Mbak! Pantasnya seperti saya, saya lulusan s1, cocok kan mendampingi bos." Ujar Eka kegenitan.
" Dih nggak ingat umur! Saya aja yang cuma lulusan SMA bisa jadi istri bos, masa' kamu yang s1 mau jadi pelakornya." Sinis Sevia.
Sebenarnya Sevia malas meladeni hal hal receh seperti ini, tapi dia harus memberikan Eka pelajaran, walaupun usianya lebih tua darinya.
" Kurang ajar nih bocah!" Ucap Eka.
" Ada apa ini?"
Sevia menoleh ke asal suara yang sangat di rindukan nya, ya suara Abhi.
" Yank." Sevia ingin mendekat tapi Abhi menyetop nya dengan tangannya.
" Ini Pak, dia ngaku ngaku sebagai istri Bapak." Sahut Eka mencari perhatian.
Abhi menatap Sevia yang menatapnya sendu.
" Apa Bapak mengenal wanita ini?" Tanya Eka.
" Tidak!"
Deg....
Hati Sevia bagai di sayat sembilu. Cairan bening hampir menetes di pelupuk matanya. Begitu besar kah kesalahan yang ia lakukan hingga Abhi bisa bersikap seperti ini kepadanya?
__ADS_1
" Kau tidak mengenalku?" Sevia mendekati Abhi lalu menatap tajam ke arahnya.
" Baiklah tidak masalah kalau kau tidak mengenalku, ini yang kamu mau, maka dengan senang hati akan aku turuti." Sevia mengusap air matanya.
" Dan masalah obat itu, itu bukan milikku! Itu milik Ezzar yang menyuruh aku membelikannya untuk kakaknya, terserah! Kau mau percaya atau tidak sudah bukan urusanku lagi, karena kita tidak saling mengenal." Sevia pergi meninggalkan Abhi dengan perasaan kacaunya.
Abhi menatap kepergian Sevia dengan sedikit rasa bersalah, tapi kekesalan masih menguasai dirinya.
Sevia kembali melajukan mobilnya menuju rumah mamanya. Rumah ternyaman selama hidupnya. Sesampainya di sana, ia langsung masuk ke dalam kamar dan menguncinya.
Di kantor, Reno menghampiri Abhi dan Eka.
" Eka, kembali bekerja! Dan satu hal yang harus kamu tahu, kalau wanita tadi namanya Nyonya Sevia Rodeo, istri dari Abhisek Rodeo." Ucapan Reno membuat Eka melongo tak percaya.
" Mati gue." Batin Eka.
" Gue mau bicara sama lo." Reno menarik tangan Abhi ke ruangannya.
Setelah sampai di ruangan Abhi, Reno melepas tangannya.
" Lo itu apa apaan Abhi? Kenapa lo lakuin ini sama Sevia? Apa lo udah tahu kebenarannya? Jangan mengambil keputusan dengan gegabah atau lo akan menyesal nanti." Ujar Reno.
" Ingat! Sevia bukan gadis yang gampang memaafkan, lo akan kesulitan mengemis maaf darinya nanti, kalau lo tidak percaya padanya, bukankah tadi dia bilang kalau obat itu milik kakaknya Ezzar? Lo tanya aja sama Ezzar kebenarannya." Sambung Reno.
Abhi sedikit berpikir, ada benarnya juga ucapan Reno. Ia segera menelepon Ezzar.
Deg...
" A... Apa? Jadi pil kontrasepsi itu permintaan lo?" Tanya Abhi memastikan.
" Iya, kakak sepupu gue datang hari ini, dia minta di belikan obat sialan itu, dia mau beli sendiri tapi malu katanya, makanya aku menyuruh Sevia memerankan online, nanti kalau orangnya datang baru gue ambil." Terang Ezzar.
" Kenapa lo suruh Sevia yang membelinya? Emang lo nggak bisa beli sendiri?" Kesal Abhi.
" Ya kali gue di suruh beli kaya' gituan, bisa turun pamor gue, lagian Sevia nya aja mau kok situ yang repot, emangnya ada apa sih? Kaya'nya genting banget." Ujar Ezzar.
Abhi menyugar kasar rambutnya.
" Sial!" Umpat Abhi mematikan ponselnya.
" Bhi... Abhi.... Yah kok di matiin sih." Ujar Ezzar di sebrang sana.
Reno menatap Abhi yang nampak gelisah.
" Gimana Bhi? Benar nggak ucapan Sevia?" Tanya Reno.
__ADS_1
" Iya Ren, lagian Ezzar dodol amat! Kenapa dia suruh Sevia yang beli coba, kan jadi salah paham." Ucap Abhi.
" Lha kan tadi Ezzar dah bilang kalau dia malu." Sahut Reno.
" Makanya kalau ada apa apa dengerin dulu penjelasan istri lo, bukan malah marah marah nggak jelas, pakai mengaku nggak kenal segala lagi, selamat bersusah susah mendapatkan maaf dari Sevia Bro." Ucap Reno.
" Sialan lo." Umpat Abhi.
" Udah buruan pulang, atau mungkin saat ini Sevia dah pulang ke rumah orang tuanya karena merasa udah nggak di hargai sama suaminya." Ucap Reno.
" Ok, gue pulang dulu." Sahut Abhi meninggalkan Reno.
Abhi melajukan mobilnya menuju rumah mertuanya. Sesampainya di sana ia langsung berlari masuk ke dalam setelah turun dari mobil.
Ting tong
Abhi menekan bel rumahnya.
Tak lama ibu mertuanya membukakan pintu untuknya.
" Eh kamu Abhi." Abhi menyalami mertuanya dengan takzim.
" Sevia ada di sini Ma?" Tanya Abhi.
" Sevia, Mama nggak tahu pasti sih, karena Mama tidak melihat kedatangannya, tapi mobilnya ada, berarti dia ada di kamarnya." Sahut nyonya Nadira.
" Boleh aku ke kamarnya Ma?" Tanya Abhi.
" Boleh donk!" Sahut nyonya Nadira.
Abhi segera berjalan menuju kamar Sevia.
Ceklek ceklek
Ternyata pintu di kunci dari dalam.
Tok tok...
" Sayang ini aku, bukain pintunya donk! Aku mau minta maaf sama kamu, maaf aku sudah salah paham sama kamu." Ucap Abhi.
Tidak terdengar sahutan dari dalam.
" Sayang, aku tahu kamu mendengarkan aku, bukain donk Yank! Aku minta maaf." Ucap Abhi.
Lagi lagi tidak ada sahutan. Abhi memilih duduk di depan pintu menunggu Sevia keluar dari sana.
__ADS_1
" Maafkan aku sayang! Andai saja aku tidak menuruti nafsuku pasti kamu tidak akan terluka begini, andai saja aku mau memberimu kesempatan untuk menjelaskannya pasti kamu tidak akan semarah ini, maafkan akun Beri aku kesempatan untuk memperbaikinya." Batin Abhi menyesali perbuatannya.
Tbc...