
Sevia berlari menghampiri Abhi yang hendak membuka pintu mobilnya.
" Abhi..." Teriak Sevia.
Abhi menoleh ke arahnya, tiba tiba....
Grep....
Sevia menubruk dada bidang Abhi, beruntung Abhi punya keseimbangan yang bagus jadi ia tidak oleng. Abhi membalas pelukan Sevia, lalu mengelus punggung Sevia dengan lembut.
" Hei ada apa hmm?" Tanya Abhi.
" Maafkan aku yang keras kepala ini." Ucap Sevia.
" Iya, aku sudah memaafkanmu." Sahut Abhi.
Sevia melepas pelukannya, ia menatap Abhi dengan sendu.
" Jangan pergi!" Ucap Sevia.
" Aku mau kerja dulu sayang, sorenya aku harus ke kampus sebentar untuk mengumpulkan tugas." Sahut Abhi.
" Pokoknya kamu nggak boleh pergi!" Kukuh Sevia.
" Berikan satu alasan kepada suamimu ini, kenapa aku tidak boleh pergi." Ucap Abhi merapikan anak rambut Sevia.
" Karena aku ingin bersamamu, aku ingin menghabiskan waktu dengan bermanja manja denganmu." Sahut Sevia.
Abhi tersenyum manis ke arahnya.
" Baiklah sayang, aku tidak akan pergi kemanapun." Ucap Abhi menutup kembali pintu mobilnya.
" Terima kasih." Ucap Sevia.
" Apapun untukmu sayang." Sahut Abhi mencium kening Sevia.
Sevia menggandeng tangan Abhi masuk ke dalam rumah, keduanya langsung masuk ke kamar.
" Ganti dulu bajumu!" Sevia menyodorkan sebuah kaos oblong dan celana denim selutut kepada Abhi.
Abhi menerimanya lalu mengganti pakaiannya dengan itu.
" Kau terlihat tampan menggunakan baju casual seperti ini." Ucap Sevia.
" Tentu saja aku harus tampan, kan aku punya istri cantik jadi harus bisa mengimbanginya donk!" Sahut Abhi.
Abhi duduk bersandar pada head board sedangkan Sevia menjadikan pundak Abhi sebagai sandaran nya sambil memainkan ponselnya. Ia bermain game snack online.
" Kenapa berubah menjadi manja gini? Apa ada yang mengusikmu sehingga membuatmu berubah pikiran untuk berbaikan denganku?" Tanya Abhi mengelus kepala Sevia.
" Iya, ada yang meyadarkanku akan pentingnya cinta di banding segalanya." Sahut Sevia.
" Itu berarti aku harus berterima kasih pada orang itu." Ujar Abhi.
" Nggak usah, dia nggak nyadar juga kok kalau ucapannya membuatku sadar betapa dalamnya cintamu padaku." Sahut Sevia.
" Baiklah sesuai keinginanmu." Ucap Abhi.
__ADS_1
" Apa setelah ini kau mau pulang bersamaku? Atau masih mau di sini untuk beberapa hari?" Tanya Abhi.
" Kalau aku harus pulang, rumah kita kosong dan aku menyimpan beberapa dokumen penting di ruang kerjaku." Sambung Abhi.
" Ikut kamu pulang aja." Sahut Sevia membuat Abhi tersenyum bahagia.
Walaupun usia mereka sama, tapi Abhi lebih bersikap dewasa di bandingkan dengan Sevia.
Sevia terus bersikap manja sampai hari menjelang siang. Abhi sama sekali tidak mengeluh pundaknya di jadikan sandaran oleh Sevia selama beberapa jam lamanya.
" Udah mainnya! Sekarang istirahat siang, nanti bangun kita turun untuk makan siang." Ujar Abhi mengambil ponsel Sevia.
" Baiklah." Sahut Sevia menurut.
Keduanya tidur sambil saling berpelukan. Mereka berharap masalah kemarin hanyalah mimpi belaka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore hari Abhi dan Sevia kembali pulang ke rumahnya. Rumah yang sangat di rindukan oleh Sevia. Keduanya masuk ke dalam menuju kamarnya.
" Yank aku ke kampus bentar ya, aku akan segera pulang." Ucap Abhi mencium kening Sevia.
" Jangan lama lama!" Ucap Sevia.
" Iya sayang, hati hati di rumah ya! Kalau ada apa apa segera telepon aku!" Ucap Abhi.
" Iya, kamu juga hati hati." Sahut Sevia.
Abhi keluar kamarnya. Ia kembali melajukan mobil menuju kampusnya untuk mengumpulkan tugas.
Jarum jam terus berputar, tak terasa sudah hampir jam tujuh malam. Itu berarti Abhi pergi selama dua jam lamanya. Di telepon tidak di angkat. Hal itu membuat Sevia merasa gelisah.
" Aku coba telepon lagi ah." Ucap Sevia.
Tut.... tut...
Telepon tersambung tinggal menunggu Abhi mengangkatnya.
" Halo."
" Apa? Seorang wanita? Siapa dia? Sebenarnya Abhi dimana sih? Apa dia mencoba berbohong lagi padaku ya." Batin Sevia.
" Halo." Sapanya.
" Dimana Abhi? Kenapa lo yang mengangkatnya? Apa lo sedang bersamanya?" Tanya Sevia.
" Kalau gue yang ngangkat ya jelas lah gue lagi sama Abhi, dia lagi cuci sebentar di kamar mandi, maklumlah habis berduaan."
Ctit...
Tiba tiba sambungan ponsel terputus.
" Sialan! Dia mematikan teleponnya." Umpat Sevia.
" Apalagi ini? Baru saja baikan masa' harus bertengkar lagi, awas aja Abhi.... Lo berani bermain di belakang gue, gue tinggalin beneran lo biar kapok." Gerutu Sevia.
Sevia mencoba menelepon Abhi lagi.
__ADS_1
" Ya sayang, ada apa?" Tanya Abhi.
" Kamu lagi dimana? Kenapa belum pulang juga?" Tanya Sevia.
" Aku di kantor, bentar lagi aku pulang."
Sevia langsung mematikan teleponnya. Hatinya kembali sakit saat tahu Abhi membohonginya.
" Aku ingin mendengar alasan apa yang akan kau katakan nanti." Ucap Sevia.
Sevia berbaring di atas ranjang sambil memainkan ponselnya. Perutnya yang terasa lapar kini menjadi kenyang sendiri karena kesal kepada Abhi, niatnya telepon ingin meminta di belikan makanan gagal sudah.
Setengah jam kemudian Abhi masuk ke dalam kamarnya. Ia menghampiri Sevia.
" Maaf sayang terlambat pulangnya." Abhi hendak mencium kening Sevia namun Sevia memalingkan wajahnya.
" Sayang kenapa?" Abhi mengerutkan keningnya.
" Tidak perlu berpura pura lagi Bhi! Darimana kamu? Dari kencan bersama wanita yang waktu itu kita temui?" Selidik Sevia.
" Maksudmu Devi?" Tanya Abhi memastikan.
" Yah mungkin itu, atau yang lainnya." Sahut Sevia.
" Kenapa kamu berpikiran seperti itu sayang, aku tadi ke kampus terus tiba tiba Reno memintaku untuk ke kantor, aku ke kantor menyelesaikan pekerjaan untuk rapat besok, aku tidak kencan dengan siapapun." Terang Abhi.
" Lalu wanita yang mengangkat teleponku?" Tanya Sevia.
" Wanita? Kan yang mengangkat teleponmu aku sendiri sayang." Ujar Abhi.
" Sebelum kamu yang mengangkatnya, yang mengangkat teleponku perempuan Bhi, dia bilang kamu sedang di kamar mandi mencuci... Entah apa yang kamu cuci karena kalian baru saja menghabiskan waktu berdua, lalu apa itu artinya?" Sevia menatap Abhi.
" Tadi ponselku tertinggal di ruangan Reno, pas aku mau mengambilnya, tiba tiba Eka memberikan ponsel itu kepadaku, itu berarti yang mengangkat teleponmu si Eka, pegawai baru itu, harus di beri pelajaran dia." Ujar Abhi.
" Kamu pasti alasan." Ujar Sevia.
" Tidak sayang, memang begitu adanya." Sahut Abhi.
" Kamu tidak bohong?" Tanya Sevia.
" Tidak sayang, buat apa aku bermain dengan wanita lain jika yang aku inginkan hanya dirimu, percayalah kepadaku." Ucap Abhi mengelus pipi Sevia.
" Aku akan mencoba percaya padamu, tapi kalau sampai kamu mengkhianatiku, aku pastikan kau tidak akan pernah bertemu denganku lagi." Ancam Sevia.
" Iya sayang, aku janji aku tidak akan mengkhianati cinta kita berdua, aku mencintaimu." Abhi merangkul pundak Sebia.
" Aku juga mencintaimu Yank." Sahut Sevia.
Keduanya tersenyum bahagia. Adanya perbedaan pendapat ataupun perselisihan membuat keduanya semakin dewasa dan membuat cinta mereka semakin besar.
Sevia sangat bersyukur karena di sandinhkan dengan pria sebaik dan sesabar Abhi. Begitupun dengan Abhi, ia juga merasakan sangat bahagia bisa membuat wanita yang sangat ia cintai bahagia.
Jangan lupa untuk tekan like, koment, vote dan 🌹nya biar author makin semangat...
Terima kasih author ucapkan kepada readers yang telah mensuport author, semoga sehat selalu....
Miss U All...
__ADS_1
TBC...