
Malam hari selesai melakukan ritual sebelum tidurnya, Nada menghampiri Richard di ranjangnya. Ia duduk bersandar di samping Richard yang sedang memainkan ponselnya.
" Mas." Panggil Nada.
" Sebentar sayang! Mas sedang mengirim laporan lewat email." Ujar Richard.
" Iya Mas." Sahut Nada menunggu Richard selesai.
Setelah beberapa saat, Richard meletakkan ponselnya di atas nakas. Ia menatap Nada yang saat ini sedang menatapnya.
" Apa ada yang ingin kamu bicarakan?" Tanya Richard.
" Tidak Mas, maaf mengganggumu." Sahut Nada.
" Tidak sayang! Mas sudah selesai kok." Richard merangkul pundak Nada.
" Apa kau sudah mengantuk?" Tanya Richard.
Nada menggelengkan kepalanya.
Richard menangkup wajah Nada. Keduanya saling tatap untuk beberapa saat. Richard memajukan wajahnya membuat Nada memejamkan matanya.
Cup....
Richard mengecup bibir Nada.
Sadar jika tidak ada penolakan dari Nada, Richard menggigit pelan bibir bawah Nada. Nada membuka sedikit mulutnya. Kesempatan itu Richard gunakan untuk menyusupkan lidahnya. Ia mengekspos setiap inchi nya.
Richard menekan tengkuk Nada untuk memperdalam ciumannya. Suara decapan memenuhi ruangan kamar mereka.
Di rasa keduanya kehabisan nafas, Richard melepas pagutannya. Ia mengusap lembut bibir Nada menggunakan jempolnya.
" Terima kasih sayang." Richard mengecup kening Nada.
" Hmm." Nada menganggukkan kepalanya.
Hening...
" Apa kamu tidak menginginkan hal lebih Mas?" Tanya Nada memberanikan diri.
" Apa kamu mau memberikannya malam ini? Jujur saja... Mas menginginkan hal yang lebih dari ini, Mas ingin menjadikanmu milikku sepenuhnya, Mas belum tenang jika Mas belum menjadikan mu milikku sepenuhnya sayang, Mas takut kau akan berpaling dari Mas, Mas takut kau goyah." Ujar Richard.
" Kalau begitu kenapa tidak kau lakukan?" Tanya Nada.
" Apa kamu sudah siap?" Richard balik bertanya.
" Sudah Mas." Sahut Nada.
" Kau tidak terpaksa melakukannya? Kalau terpaksa mending tidak usah sayang, kita bisa melakukannya lain kali." Ujar Richard. Ia menghargai perasaan Nada yang masih belum mencintainya.
Bukankah biasanya wanita melakukannya dengan cinta bukan nafsu?
" Aku sudah siap lahir dan batin Mas." Sahut Nada.
" Baiklah Mas akan melakukannya sekarang, semoga dengan ini hubungan kita semakin erat, dan akan segera hadir Richard junior di tengah tengah kita untuk memperkuat pernikahan kita." Ucap Richard.
" Lakukanlah Mas sebelum aku berubah pikiran! Aku sudah siap memberikan hakmu malam ini." Ucap Nada.
__ADS_1
" Ini akan sakit sayang karena ini pertama bagimu, dan juga bagiku, cakar punggungku kalau kau merasakan sakit, aku akan berhenti." Ujar Richard.
" Iya Mas." Sahut Nada.
Richard kembali mencium Nada. Tangannya mulai bergerilya kemana mana. Ciuman Richard turun ke leher, ia membuat banyak stempel kepemilikan di sana membuat Nada mendes*h merasakan sensasi luar biasa.
Entah bagaimana dan siapa yang memulai kini tubuh keduanya sama sama polos.
" Mas datang ya." Ucap Richard menatap Nada dengan penuh gair*h.
Nada menganggukkan kepalanya.
Richard menuntun senjatanya menuju goa milik Nada. Hentakan pertama membuat Nada mencengkram erat sprei. Ia merasakan sesak dan sakit seperti tersayat di bagian intinya. Hentakan kedua Nada semakin erat bahkan sedikit menarik sprei sambil menggigit bibir bawahnya menahan perih. Dan hentakan ketiga senjata Richard terbenam sempurna.
" Apa ini sakit?" Tanya Richard memastikan.
" Tidak Mas." Sahut Nada.
Richard mulai memacu tubuhnya dengan pelan. Ia memanjakan Nada dengan kelembutannya. Nada benar benar di buat mabuk kepayang oleh Richard. Keduanya terbang ke nirwana bersama.
Satu jam lamanya akhirnya tubuh Richard tumbang di samping Nada.
" Terima kasih sayang kau telah menjaganya untukku." Ucap Richard.
Cup...
Richard mencium kening Nada, lalu memeluknya.
" Sama sama Mas." Sahut Nada.
Richard nampak tersenyum bahagia pada akhirnya ia bisa memiliki Nada sepenuhnya.
Pagi hari di rumah Abhi, saat ini Abhi sedang menggendong Barra. Ia sangat bahagia menjadi daddy muda untuk Barra.
Hiks... hiks..
Babby Barra terisak.
" Sttt stt sayang, anaknya daddy haus ya... Tunggu sebentar ya! Mommy lagi mandi." Ucap Abhi menimang babby Barra.
" Daddy gemes kalau lihat pipimu sayang, gembul banget sih pipi kamu mirip Daddy waktu kecil." Abhi menoel pipi Barra.
" Sayang... Buruan gih! Barra nangis sayang, dia haus." Teriak Abhi.
" Iya bentar Dad." Sahut Sevia dari dalam.
Hiks.. hiks..
Barra terisak sambil menggeliyat.
" Esh.... esh.... Sayang... Jagoan Daddy nggak boleh nangis ya... Entar gantengnya hilang lhoh."
" Aku haus Dad, Mommy kelamaan, kamu jawab gitu ya."
Ceklek....
Sevia keluar dari kamar mandi menghampiri Abhi.
__ADS_1
" Mana sini anak Mommy, haus ya, Mommy kelamaan mandinya, iya." Sevia mengambil alih gendongan Barra.
Ia duduk bersandar di ranjang sambil memangku Barra. Ia menyusui Bara dengan telaten.
" Yank aku juga pengin deh!" Ucap Abhi duduk di samping Sevia sambil menatap Barra yang sedang menyusu.
" Nunggu Barra berumur tiga bulan, baru aku kasih." Sahut Sevia.
" Kok lama amat sih Yank! Biasanya juga empat puluh hari udah bisa tancap gas." Ujar Abhi menoel noel pipi Barra.
" Aku belum KB Dad, nanti kalau kita begituan aku takut jadi terus hamil lagi gimana? Kalau mau KB aku khawatir menganggu produksi ASI ku, jadi kamu harus bersabar dulu yah! Nanti kalau aku udah KB pasti aku kasih kapan pun kamu mau." Ujar Sevia.
" Beneran yah kapan pun aku mau, awas aja nanti kalau bohong! Aku pasti akan menagihnya tiga kali lipat." Ucap Abhi.
" Iya bener masa' aku bohong sama suami sendiri, dosa Dad." Sahut Sevia.
" Emangnya kalau nggak KB kenapa sih Yank? Aku malah pengin punya banyak anak, nggak perlu di tunda." Ucap Abhi.
" Kasihan Barra Dad, dia masih sangat kecil masih butuh perhatian dan kasih sayang kita sebagai orang tuanya, aku nggak akan bisa adil membagi perhatian dan kasih sayangku kepada mereka nanti." Sahut Sevia.
" Kita pakai babby sister aja gimana?" Tanya Abhi.
Sevia menatap tajam ke arah Abhi.
" Aku nggak rela anakku di asuh oleh orang lain Dad, apapun yang terjadi aku akan mengurus mereka dengan tanganku sendiri, walaupun aku tidak tahu bagaimana cara terbaik mengurus babby, yang penting aku sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk anakku." Sahut Sevia.
" Kau benar sayang, maafkan aku! Terima kasih telah berusaha menjadi istri dan ibu yang baik untukku dan Barra sayang, kau wanita terbaik di dunia ini, aku bahagia memilikimu, aku mencintaimu." Abhi mencium kening Sevia.
" Seharusnya aku yang berterima kasih padamu Dad, kau lah pria terbaik untuk kami, kami juga mencintaimu Dad." Sahut Sevia.
" Telima kacih Daddy." Ucap Sevia menirukan suara anak kecil.
Abhi tersenyum menatap Sevia.
" Anak Daddy udah kenyang minumnya." Ucap Abhi menatap Barra yang melepaskan put*ng sus* Sevia.
" Sepertinya udah Dad, bobok sini ya sayang." Sevia menidurkan Barra di ranjangnya.
Mereka bermain main dengan Barra. Terlihat Barra berceloteh seperti burung sambil tertawa tawa memamerkan gusinya.
" Daddy suka banget lihat kamu seperti ini sayang, Daddy berharap kelak kau akan menjadi pria yang bertanggung jawab dan selalu setia pada pasanganmu seperti Daddy yang selalu setia sama Mommy kamu, Daddy jamin kau akan hidup bahagia jika menerapkan itu dalam hidupmu sayang." Abhi mencium kening dan kedua pipi Barra.
" Tentu Dad, Barra akan menuruni sifat Daddy, setia, sayang pada keluarga dan selalu menjaga hati Mommy, kau memang yang terbaik Dad." Ucap Sevia.
" Terima kasih sayang." Ucap Abhi.
" Sama sama Dad." Sahut Sevia.
Abhi merangkul pundak Sevia lalu mengecup pipinya sebagai tanda cintanya.
Keluarga Abhi udah bahagia ya... Kita akan lebih fokus ke Richard dan Nada ya...
Yuk ramein like, koment dan 🌹yang banyak buat author...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...
Miss U All....
__ADS_1
TBC...