Musuh Tambatan Hatiku

Musuh Tambatan Hatiku
Meminta Maaf


__ADS_3

Malam hari Sevia hendak turun makan malam, saat ia membuka pintu, ia kaget melihat Abhi duduk menopang kepalanya dengan kedua kakinya. Sepertinya Abhi tertidur. Tidak mau ambil pusing, Sevia berlalu begitu saja.


Abhi yang merasa ada yang membuka pintu, mendongakkan kepalanya. Ia melihat Sevia menuruni anak tangga, lalu ia segera mengejarnya.


" Sayang tunggu!" Ucap Abhi.


Namun Sevia tidak mempedulikannya.


" Malam Pak, Ma." Sapa Sevia duduk di kursinya.


" Malam sayang, apa kau tidak mendengar Abhi mengetuk pintu? Dia sampai ketiduran di depan pintu kamarmu." Ujar nyonya Nadira.


" Tidak Ma." Sahut Sevia singkat.


" Malam Ma, Pa." Sapa Abhi duduk di sebelah Sevia.


" Malam Nak." Sahut tuan Anton.


Sevia mengambil makanannya, lalu menyuapkannya ke mulutnya dengan santai.


" Sev, ambilkan makanan untuk suamimu." Ucap nyonya Nadira.


" Aku buru buru Ma." Sahut Sevia.


" Tidak apa Ma, biar aku ambil sendiri saja." Sahut Abhi mengambil makanan.


Setelah menyelesaikan makan malamnya, Sevia beranjak menuju kamarnya. Abhi segera mengikutinya.


" Sayang tunggu aku!" Abhi mencekal tangan Sevia di atas tangga.


Sevia menoleh ke arahnya.


" Apakah kita saling mengenal?" Pertanyaan Sevia menohok hati Abhi.


" Maafkan aku! Aku terlalu emosi hingga tidak memberikanmu kesempatan untuk menjelaskannya sayang, maafkan aku! Sekarang aku sudah tahu yang sebenarnya." Ucap Abhi.


" Lalu?" Sevia menarik tangannya. Ia menatap Abhi sambil melipat kedua tangannya.


" Aku mohon kembalilah ke rumah." Ucap Abhi.


" Ke rumah yang mana? Ini rumahku." Sahut Sevia.


" Sayang jangan seperti ini! Ku mohon!" Pinta Abhi.


" Lalu aku harus bertindak seperti apa dengan orang asing sepertimu?" Tanya Sevia dengan nada tinggi.

__ADS_1


" Sayang aku suamimu." Ucap Abhi menahan air matanya. Ia menyesali semua kebodohannya.


" Bagaimana tiba tiba kau bisa menjadi suamiku? Kita saja tidak saling mengenal." Sahut Sevia.


" Maaf ya Tuan, saya mau pergi tidur, dan tolong! Tolong sekali! Jangan ganggu saya." Sevia melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.


Sebelum Abhi menyusulnya, ia segera mengunci kamarnya dari dalam.


" Maafkan aku sayang." Abhi mengusap air matanya.


Abhi berjalan menuju kamar Sevia.


" Sayang, bukain pintunya donk! Ijinkan aku masuk ke dalam." Ucap Abhi berusaha membujuk Sevia.


Sevia membaringkan tubuhnya di atas kasur. Ia tidak mempedulikan suara suara Abhi di luar sana.


" Bukankah ini yang kamu mau Bhi? Aku hanya menurutimu saja." Ujar Sevia memejamkan matanya.


Cahaya matahari menyinari bumi yang indah ini. Sevia mengerjapkan matanya, ia kira kejadian kemarin hanya mimpi namun ternyata memang benar benar terjadi.


" Kau bilang tidak mengenalku, kau bahkan diam saja saat aku di hina oleh pegawaimu, tiba tiba setelah tahu kebenarannya kau minta maaf padaku, tidak semudah itu Abhi." Monolog Sevia duduk bersila di atas ranjang.


Sevia masuk ke dalam kamar mandi membersihkan tubuhnya. Setelah selesai, ia turun ke bawah untuk sarapan. Benar benar anak yang malas, turun ke bawah hanya saat makan saja.


" Sayang kamu nggak sarapan nasi?" Tanya tuan Anton.


" Aku terburu buru Pa." Sahut Sevia.


" Dari semalam jawabannya buru buru terus." Ujar tuan Anton.


" Aku ada janji sama Ezzar Pa." Sahut Sevia membuat Abhi menatap ke arahnya.


" Kamu mau pergi sama Ezzar?" Tanya nyonya Nadira.


" Iya Ma, sepupunya Ezzar datang dari Surabaya dan Ezzar memintaku untuk menemaninya membelikan obat untuk sepupunya, karena obat yang aku beli kemarin di hancurkan oleh seseorang." Sinis Sevia melirik Abhi.


" Papa lihat lihat kalian sedang ada masalah ya, kok sejak kemarin diam diaman terus, Papa juga melihat Abhi tidur di luar kamarmu tadi malam, tanpa alas lagi." Ujar tuan Anton.


" Bukannya Papa mau ikut campur, tapi bersikaplah dewasa! Jika ada masalah segera di selesaikan dengan baik, jangan menuruti ego masing masing, itu tidak akan berhasil." Tutur tuan Anton.


" Tidak ada Pa, masalah kami selesai saat itu juga, saat Abhi mengatakan tidak mengenalku maka aku anggap hubungan ini berakhir sampai di situ." Ucapan Sevia membuat kedua orang tuanya melongo.


Sebenarnya Sevia tidak ingin orang tuanya tahu, tapi sudah terlanjur biar mereka tahu kenapa dia bersikap dingin dengan suaminya.


" Apa begitu Abhi?" Selidik tuan Anton.

__ADS_1


" Maaf Pa, aku sangat emosi waktu itu, aku menginginkan seorang bayi hadir di tengah tengah kami namun sampai sekarang Sevia belum hamil juga, pada saat aku membuka almari nya aku menemukan pil kontrasepsi, aku berpikir itu milik Sevia, makanya aku sangat marah Pa, maafkan aku." Ucap Abhi.


Kedua orang tua Sevia menghela nafasnya pelan.


" Masalah dalam rumah tangga itu wajar terjadi, tapi jangan sampai berlarut larut, itu tidak baik, sekarang selesaikan dengan baik di sini, dan jadikan semua ini sebagai pelajaran untuk kalian berdua, lain kali kalau ada apa apa dengarkan dulu penjelasan dari salah satu pihak, jangan berasumsi sendiri, jadi salah paham kan jadinya." Ujar nyonya Nadira.


" Iya Ma." Sahut Abhi.


Abhi mendekati Sevia. Ia mengenggam tangan Sevia.


" Sayang maafkan aku! Aku telah salah menuduhmu, maafkan aku!" Ucap Abhi.


Sevia menarik tangannya.


" Aku memaafkanmu, tapi jangan paksa aku ikut pulang bersamamu, aku mau tinggal di sini saja." Ucap Sevia berlalu dari sana.


" Sabar Abhi! Bujuk Sevia dengan pelan saja, Mama yakin dia pasti akan luluh, mungkin saat ini dia masih merasa kesal." Ucap nyonya Nadira.


" Iya Ma, aku mengerti, aku susul Sevia dulu." Sahut Abhi.


Abhi menyusul Sevia ke kamarnya. Beruntung Sevia tidak mengunci pintunya. Ia masuk ke dalam menghampiri Sevia yang sedang mengikat rambutnya.


Tiba tiba...


Grep....


Abhi memeluk tubuh Sevia dari belakang membuat Sevia mematung.


" Aku tahu kamu sengaja menghindari ku karena kau tersinggung dengan ucapanku kemarin, aku benar benar minta maaf padamu sayang, aku menyesali perbuatanku, maafkan aku yang kemarin sempat membentakmu, bahkan aku mendorongmu, aku minta maaf sayang, kau bisa memukul ku, kau bisa menamparku, tapi tolong! Jangan lakukan ini kepadaku! Jangan mengacuhkan diriku! Jangan bersikap dingin padaku! Aku tidak bisa jauh darimu sayang, aku tidak bisa." Ucap Abhi mempererat pelukannya.


" Bukankah tadi aku sudah bilang kalau aku memaafkanmu, apalagi yang kau inginkan dariku? Kau ingin aku bersikap seperti dulu? Kau ingin aku melupakan tentang apa yang sudah kamu lakukan kepadaku? Apa kau tidak sadar jika kau telah mempermalukanku di depan pegawai songongmu itu? Apa kau tidak tahu bagaimana rasanya mendengar orang yang aku cinta bilang tidak mengenalku? Rasanya sakit Abhi.... Lebih sakit saat kau membentakmu karena obat itu, aku merasa harga diriku telah hancur di depan orang yang tidak aku kenal, lalu apa sekarang? Kau ke sini untuk meminta maaf? Hanya itu kan? Tidak apa, aku memaafkanmu! Sekarang pergilah kau sudah mendapat maaf dariku." Sevia melepas pelukan Abhi.


Ia mengambil tas selempang lalu meninggalkan Abhi sendiri di kamarnya.


" Reno benar, tidak mudah mendapatkan maaf darimi sayang, walaupun kau bilang memaafkanku tapi itu hanya di bibir saja." Gumam Abhi dalam hatinya.


Alhamdulillah bisa double up nih... Authornya lagi lempeng...


Jangan lupa like koment vote dan 🌹buat aithor biar authornya cepat sehat dan bisa terus double up.


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author, semoga sehat selalu...


Miss U All...


TBC....

__ADS_1


__ADS_2