Musuh Tambatan Hatiku

Musuh Tambatan Hatiku
Kejutan Menyakitkan


__ADS_3

" Mas.. A.. Aku... Aku... " Gugup Nada.


" Ah sudahlah! Mas sudah tahu jawabanmu." Richard keluar dari kamarnya dengan perasaan kesal.


" Maafkan aku Mas!" Lirih Nada menatap kepergian Richard dengan perasaan bersalah.


Ia belum siap memberikan hak Richard, ia masih mencoba menata hatinya. Saat ini hatinya sedang dalam proses perpindahan dari Reno ke Richard.


Nada menunggu Richard sambil duduk bersandar pada headboard. Ia berharap Richard akan segera pulang, ia akan meminta maaf pada Richard dan meminta sedikit waktu kepadanya.


Namun hingga jam dua malam, Richard tidak kunjung kembali. Akhirnya Nada memilih untuk tidur.


Ceklek.....


Richard membuka pintu dengan pelan. Ia masuk ke dalam menghampiri Nada. Richard mengembangkan senyumannya. Ia naik ke atas ranjang membaringkan tubuhnya di samping Nada.


Cup....


" Selamat malam sayang." Ucap Richard memeluk Nada.


Matahari menyinari bumi membuat Richard bangun dari tidurnya. Ia tersenyum melihat Nada yang masih tidur di sampingnya. Ia segera ke kamar mandi membersihkan tubuhnya.


Suara gemericik air membuat Nada membuka matanya.


" Ah udah pagi, Mas Richard pasti masih mandi, kapan dia kembali ya? Semalam aku berniat menunggunya malah ketiduran." Gumam Nada.


Ceklek....


Richard keluar dari kamar mandi, ia menoleh ke arah Nada yang sedang tersenyum kepadanya. Namun Richard tidak mempedulikannya. Ia berjalan menuju almari lalu memakai bajunya.


" Maaf Mas aku terlambat bangun!" Ucap Nada.


" Hmm." Gumam Richard mengancingkan kemejanya.


" Apa Mas Richard masih marah padaku? Dia hanya bergumam saja." Gumam Nada.


" Mandilah! Mas akan mengantarmu ke rumah." Ucap Richard tanpa menatap Nada.


" Apa kau tidak ikut ke rumah Mama? Kenapa hanya mengantar saja?" Tanya Nada.


" Tidak! Mas banyak pekerjaan, Mas akan menjemputmu sepulang dari kantor." Sahut Richard.


" Bukankah hari ini kamu masih cuti Mas? Lalu kenapa kau malah berangkat kerja?" Nada bertanya lagi.


" Memangnya apa yang bisa Mas lakukan di sini bersamamu?" Richard menatap Nada.


Nada diam saja.


" Tidak ada kan? Mending Mas ke kantor dapat duit, siapa tahu nanti kalau Mas banyak duit banyak cewek yang mau sama Mas, karena selama ini uangku habis untuk membiayai seseorang." Ucap Richard menohok hati Nada.


Nada turun dari ranjangnya lalu masuk ke dalam kamar mandi. Dadanya terasa sesak mendengar ucapan Richard. Richard seperti sedang menyindir nya sebagai manusia tidak tahu balas budi.


" Ya Tuhan yang Maha membolak balikkan hati, buatlah hati ini mencintai Mas Richard agar aku bisa hidup bahagia bersamanya." Ucap Nada.


Selesai mandi dan bersiap Richard mengantar Nada ke rumahnya. Ada urusan keluarga yang harus di selesaikan oleh mereka, itulah sebabnya Richard hanya mengantar Nada saja.

__ADS_1


Sesampainya di depan rumah, Richard menghentikan mobilnya.


" Sudah sampai rumah." Ucap Richard.


Nada hanya diam saja. Ia ragu untuk sekedar masuk ke dalam, ia takut akan mendapat kejutan yang justru membuat hatinya sakit.


" Turunlah! Ini sudah siang, Mas harus segera tiba di kantor." Ucap Richard dingin.


" Mas maafkan aku! Aku belum bisa memberikan hakmu sebagai suamiku, Bukannya aku tidak mau tapi aku hanya...


" Sudahlah tidak perlu di bahas! Mas harus pergi sekarang." Sahut Richard memotong ucapan Nada.


" Baiklah maaf!" Dengan lesu Nada turun dari mobil.


Richard segera melajukan mobilnya menuju kantornya.


Ceklek....


Nada membuka pintunya, ia masuk ke dalam menghampiri kedua orang tuanya di ruang keluarga.


" Kamu sudah datang sayang." Ucap pak Yoga.


" Iya Pa." Sahut Nada menyalami kedua orang tuanya dengan takzim.


" Duduklah Da!" Titah pak Yoga.


Nada duduk di samping mamanya berhadapan dengan papanya.


" Ada apa Papa memintaku ke sini?" Tanya Nada.


" Papa ingin mengatakan padamu, kalau Papa dan Mama memutuskan untuk bercerai."


Nada memang tahu jika semua ini akan terjadi, namun ia tidak menyangka kalau akan secepat ini.


" Apa karena selingkuhan dan anak haram Papa itu?" Selidik Nada menatap papanya dengan tajam.


" Sayang." Nyonya Rani menyentuh lengan Nada.


" Kenapa Ma? Apa Mama tidak sakit hati dengan apa yang di lakukan Papa selama ini? Kenapa Mama masih bertahan dengan pria brengsek sepertinya?" Teriak Nada dengan air mata berurai.


" Nada jaga bicaramu!" Bentak pak Yoga.


" Kenapa? Apa ada yang salah dengan ucapanku?" Nada berbalik membentak papanya.


Ia tidak takut sama sekali karena baginya papanya tidak pantas untuk di hormati.


" Sayang Mama tidak mengharapkan ini darimu, dengarkan penjelasan Mama sama Papa Nak!" Ujar nyonya Rani.


" Apa yang perlu di jelaskan lagi Ma? Dia tidak pantas di beri kesempatan untuk berbicara apapun!" Teriak Nada.


" Dia mengkhianati cinta Mama, dia bahkan menghabiskan uangnya untuk keluarga barunya Ma, sepertinya bukan keluarga baru lagi karena aku yakin kejadian ini sudah sangat lama." Sambung Nada.


" Apa yang kau bicarakan sayang? Papamu menghabiskan uangmu untuk membiayai sekolahmu Nak." Ujar nyonya Rani.


" Tidak Ma! Mama salah... Semua yang aku butuhkan termasuk biaya sekolah, Mas Richard yang menanggungnya Ma."

__ADS_1


Jeduarrrrr...


Ucapan Nada bagai sambaran petir bagi nyonya Rani. Bagaimana bisa ia tidak tahu akan hal ini?


Nyonya Rani menatap pak Yoga dengan tatapan menyelidik.


" Apa benar itu Pa?" Tanya nyonya Rani.


" Iya Ma." Sahut pak Yoga. Ia tidak akan bisa mengelak lagi karena Nada sudah tahu semuanya.


" Tega teganya kamu membohongiku selama ini Pa? Apa salahku padamu? Aku pikir kesalahan yang kau lakukan hanya bermain gila di belakangku saja, tapi aku tidak menyangka jika kau melakukan hal serendah ini, benar benar tidak tahu malu!" Nyonya Rani mengusap air matanya.


" Apa Mama tahu kejahatan yang telah dia lakukan kepadaku?"


Nyonya Arkana mengerutkan keningnya.


" Dia menjual ku kepada rekan bisnisnya yang umurnya tidak jauh darinya, tapi Mas Richard menyelamatkan aku dengan melamar ku kepada papa, Mas Richard ingin melindungiku dari monster jahat sepertinya Ma." Ucap Nada menunjuk papanya sendiri.


" Sayang maafkan Papa!" Ucap pak Yoga.


" Aku tidak akan pernah memaafkanmu tuan Prayoga... Kau dulu tidak punya apa apa, jabatan itu kau dapatkan atas bantuan suamiku, jadi mulai sekarang aku akan berusaha mengambil semua yang seharusnya menjadi hakku." Ucap Nada penuh penekanan.


" Apa maksudmu sayang?" Selidik pak Yoga.


" Dalam waktu dekat ini kau akan kehilangan jabatanmu, kau akan kehilangan dua keluarga sekaligus, karena aku yakin kalau selingkuhanmu tidak akan mau menerimamu dalam keadaan miskin, kau akan menjadi gelandangan yang selalu menyesali perbuatanmu, tuan Prayoga." Sahut Nada.


" Kau hanya anak kecil sayang, kau tidak akan bisa mengancam Papamu seperti ini." Ujar pak Yoga.


" Kau akan lihat bagaimana anak kecil ini membuatmu hancur." Nada menunjuk wajah papanya.


" Rumah ini milik Mamaku, jadi silahkan kau angkat kaki dari rumah ini sekarang juga!" Tegas Nada.


" Baiklah Papa akan pergi, jaga diri kalian baik baik, dan maafkan kesalahan Papa selama ini." Pak Yoga berjalan menuju pintu keluar.


" Tunggu!" Ucapan Nada menghentikan langkah pak Yoga. Ia berbalik menatap Nada.


" Jika nanti keluarga harammu menolakmu, maka jangan pernah kembali ke rumah ini!" Tekan Nada.


Tanpa berkata apa apa lagi, pak Yoga pergi meninggalkan rumah tempatnya bernaung selama enam tahun ini.


Nada menatap mamanya dengan mata berkaca kaca.


" Ma." Ucap Nada memeluk mamanya.


" Hiks..." Keduanya terisak menahan sedih di dalam hati mereka.


Pria yang selama ini mereka anggap sebagai pahlawan kini telah menyakitinya.


" Kau harus membayar setiap tetes air mata kami dengan sepuluh tetes air matamu tuan Yoga, kau lihat saja apa yang bisa aku lakukan pada keluargamu." Batin Nada.


Kita umpetin dulu si Abhi sama Sevianya ya...


Jangan lupa like koment vote dan 🌹nya buat author ya. .


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu

__ADS_1


Miss U All.. .


TBC.. .


__ADS_2