Musuh Tambatan Hatiku

Musuh Tambatan Hatiku
Lama Tak Bertemu


__ADS_3

" Udah lama kita nggak ketemu Kak, aku kangen sama kamu." Nada melepas pelukannya. Ia menatap Abhi yang masih terbengong.


" Kak Abhi lupa sama aku?" Tanya Nada yang di balas anggukan kepala oleh Abhi.


" Aku Nada Kak, gadis kecil yang suka bermain masak masakkan sama Kakak dulu, katanya Kakak tidak akan melupakan aku, tapi nyatanya sekarang kamu lupa sama aku, mentang mentang sudah menikah Kakak melupakan adik kecilmu ini." Ucap Nada cemberut.


" Astaga! Kamu Nada si gadis imut imut itu! Ya Tuhan sekarang kamu udah besar banget, udah jadi gadis cantik to." Abhi mencubit pipi Nada dengan gemas.


" Kakak aku bukan anak kecil lagi! Nanti pipiku merosot gimana? Nggak ada cowok yang suka sama aku kan repot." Ucap Nada.


" Tenang saja! Pasti banyak laki laki yang antri untuk mendapatkan adikku ini." Sahut Abhi.


Abhi menatap Sevia.


" Oh ya sayang, kenalkan dia Nada, adik kecil yng suka menjahili aku dulu, dulu kami bertetanggaan tapi dia pindah waktu lulus SD, dia sudah aku anggap sebagai adikku sendiri." Ucap Abhi.


" Hai Kak, aku Nada." Nada mengulurkan tangannya.


" Sevia." Sahut Sevia.


" Nama yang bagus Kak, cantik! Secantik orangnya." Ucap Nada di balas senyuman oleh Sevia.


" Terima kasih." Sahut Sevia tersenyum manis.


" Gimana kabar paman Andi Kak?" Tanya Nada.


" Baik! Sejak Kakak menikah paman di rumah sendiri, kapan kapan kamu main gih temui paman, pasti paman akan senang." Ujar Abhi.


" Kapan kapan deh Kak kalau ada waktu, sekarang aku masih sibuk." Sahut Nada.


" Oh ya, kenapa kalian bisa barengan ke sini nya? Apa kalian saling mengenal?" Tanya Abhi menatap Reno.


" Dia magang di perusahaanmu, dan kebetulan aku yang jadi pembimbingnya, tadi aku memintanya untuk menemaniku ke sini, eh nggak tahunya kalian saling kenal." Ujar Reno.


" Oh gitu ya, kalau begitu bimbing adikku yang benar dan harus sampai bisa, biar dia mendapat nilai yang bagus." Ucap Abhi.


" Tentu." Sahut Reno.


" Oh ya Nada, kalau Reno memarahimu bilang sama Kakak, nanti Kakak akan memarahinya." Ucap Abhi.


" Mas Reno baik kok Kak, nggak pernah marah marah, suka ngalah lagi sama aku." Sahut Nada.


Abhi menatap ke arah Reno, ia mencurigai sesuatu. Pasalnya Reno selalu bersikap dingin kepada cewek. Reno hanya tersenyum menatap Abhi.


" Apa lo menyukainya?" Lirih Abhi.


Reno hanya mengedikkan kedua bahunya saja.


Nada dan Sevia mengobrol seperti kakak dan adik sambil duduk di sofa. Sedangkn Reno duduk di kursi samping Abhi.


" Katakan padaku! Apa lo menyukai Nada? Tidak biasanya lo bersikap baik dengan cewek." Ucap Abhi.


" Gue nggak tahu, yang jelas gue suka aja ngelihatin dia, gue nyaman ada di sekitarnya, gitu aja sih." Sahut Reno.

__ADS_1


" Itu tandanya lo suka sama dia, gue sih senang kalau lo suka sama Nada, tapi gue harap lo nggak akan mainin dia! Dia gadis baik yang sudah gue anggap sebagai adik gue sendiri, jadi kalau lo berani menyakitinya, maka lo akan berhadapan dengan gue, paham kan lo!" Ucap Abhi.


" Jalani aja dulu lah, kalau gue memang suka sama dia, gue janji kalau gue akan menjaganya dengan baik dan tidak akan pernah menyakitinya, itu janji gue sama lo, kakak ipar." Ucap Reno terkekeh.


" Bagus juga panggilan lo ke gue, gue suka itu." Ujar Abhi.


" Do'ain aja yang terbaik buat kami." Ujar Reno.


" Tentu bro." Sahut Abhi.


Hari menjelang malam, Reno dan Nada pamit pulang.


" Nanti aku akan telepon Papa sama Mama, aku akan bilang kalau aku ketemu sama Kak Abhi di sini." Ucap Nada.


" Iya, salam untuk Om dan Tante." Ucap Abhi.


" Cepat sembuh ya Kak, aku pulang dulu." Ucap Nada.


" Iya, Terima kasih ya." Sahut Abhi.


Nada beralih menatap Sevia.


" Kak Sevia aku pulang dulu ya, aku titip Kak Abhi, jagain dia dengan penuh kasih sayang supaya dia cepat sembuh, kalau dia sembuh aku akan mengajaknya ke rumah baruku, boleh kan?" Tanya Nada.


" Iya silahkan kalau Kak Abhi mau! Hati hati di jalan ya, salam buat Mama sama Papa kamu." Ucap Sevia.


" Ok Kak." Sahut Nada.


" Mau langsung pulang, apa mau makan dulu? Kita kan belum makan malam." Ucap Reno melirik jam yang melingkat di tangannya.


" Makan dulu boleh kali Mas, tapi aku penginnya makan bakso." Sahut Nada.


" Baiklah, kita cari kedai bakso yang enak di sekitar sini." Ujar Reno.


" Aku nurut saja lah, aku nggak tahu daerah sini." Sahut Nada.


" Memangnya kamu tinggal dimana?" Tanya Reno memastikan.


" Kota sebelah, aku nge kost di sini Mas." Sahut Nada.


" Oh aku kirain kamu asli sini." Ujar Reno.


" Ya dulu aku tinggal di sini, tapi karena Papa pindah tugas jadi aku ikut Papa pindah ke kota sebelah." Ujar Nada.


" Papamu kerja dimana?" Tanya Reno.


" Papa seorang polisi." Sahut Nada.


" Owh, kirain pengusaha." Ujar Reno.


" Bukan, kita mau ngobrol terus apa mau cari makan nih?" Tanya Nada menatap Reno.


Reno terkekeh melihat wajah manis Nada.

__ADS_1


" Baiklah, di sana ada kedai bakso yang terkenal enak! Kita jalan aja ya." Ujar Reno menunjuk pojokan perempatan yang ada di sebrang rumah sakit.


" Ayo." Sahut Nada.


Keduanya berjalan sambil berbincang menuju kedai bakso yang di maksudkan Reno.


" Kamu kenal Abhi dari kecil?" Tanya Reno.


" Iya, waktu kecil kami selalu main bareng, pas aku lulus SD, Papa pindah tugas, jadi kami berpisah deh." Ujar Nada.


" Abhi memang orang yang baik, ia pantas di jadikan seorang kakak oleh siapapun, sikapnya nampak begitu dewasa." Ujar Reno.


" Kamu benar Mas, dulu aja aku selalu merasa terlindungi saat ada di dekatnya, aku merasa kehilangan sosok Kakak setelah aku pindah ke rumah baru, karena tidak ada yang sebaik kak Abhi, akebetulan ponselku hilang waktu itu, jadi kami kehilangan kontak deh, tapi aku bahagia pada akhirnya aku bisa bertemu dengannya lagi, Terima kasih ya Mas, berkat kamu aku jadijadi bertemu lagi dengan kakakku, kalau kamu tadi tidak mengajakku ke sini, aku pasti tidak akan pernah bertemu dengannya lagi." Ucap Nada panjang lebar.


" Iya sama sama, tapi kamu benar benar menganggap Abhi sebagai kakak kan? Bukan yang lain?" Pertanyaan Reno membuat Nada menghentikan langkahnya.


Ia menatap Reno sambil mengerutkan keningnya.


" Aku menyukainya." Ucap Nada.


Deg....


Jantung Reno serasa berhenti berdetak. Entah mengapa ia merasa tidak rela jika Nada menyukai Abhi.


" Maksudmu kau menyukainya sebagai kekasih begitu?" Tanya Reno memastikan.


Hal itu membuat Nada tertawa lepas.


" Kenapa kamu malah tertawa? Memangnya ada yang lucu ya?" Ujar Reno.


" Iya... Ekspresimu itu Mas." Sahut Nada.


" Tenang saja Mas! Aku menyukai kak Abhi hanya sebagai sosok kakak laki laki ku, aku tidak punya perasaan khusus untuknya, apalagi aku tahu kalau dia sudah menikah, aku tidak mungkin kan menikung kakakku sendiri, aku menyukai kak Abhi hanya sebagai kakakku, ingat itu!" Ucap Nada.


" Syukurlah." Sahut Reno.


" Kenapa mesti bersyukur?" Tanya Nada.


" Eh ya bersyukur aja, setidaknya kamu tidak berniat menjadi pelakor dalam rumah tangga mereka." Kilah Reno.


" Ih sorry ya, masa' cantik cantik gini jadi pelakor sih Mas, jadi idaman donk.... Idaman semua lelaki ha ha." Ucap Nada tertawa.


" Setidaknya aku mempunyai kesempatan untuk lebih dekat denganmu, semoga aku bisa segera menyadari perasaanku padamu, aku harus memastikan apakah perasaan ini perasaan cinta atau bukan." Batin Reno.


Sesampainya di kedai, mereka berdua langsung memesan dia mangkok bakso dan minuman jeruk panas. Ada rasa bahagia tersendiri dalam hati Reno, bisa mengajak Nada jalan. Apakah Reno akan mengungkapkan perasaannya suatu hari nanti?


Tekan like koment vote dan hadiahnya biar Reno makin semangat menilai perasaannya sendiri...


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu.....


Miss U All


TBC....

__ADS_1


__ADS_2