
Abhi membawa Reno pulang ke rumahnya. Setelah mengantar Reno, Abhi melajukan mobilnya menuju rumahnya sendiri. Di dalam perjalanan Sevia hanya diam saja. Abhi tahu kalau Sevia sedang ngambek padanya. Ia akan menjelaskannya di rumah nanti.
Sesampainya di rumah, Sevia segera menuju kamarnya tanpa menunggu Abhi.
Abhi masuk ke dalam kamarnya menghampiri Sevia yang sedang berbaring di atas ranjang.
" Sayang dengarkan penjelasanku dulu!" Abhi naik ke atas ranjang lalu memeluk Sevia dari belakang.
" Maafkan aku kalau aku tidak memberitahumu tentang sekretaris baruku, aku tidak tahu kalau yang aku lakukan justru menyakiti dirimu, maafkan aku." Abhi mencium rambut Sevia.
" Sekretaris baruku bernama Nina, karena yang lama sedang cuti melahirkan, saat itu aku ada pertemuan di luar kota, di saat yang bersamaan Nina mendapat kabar kalau ayahnya sakit, dia bingung mau pergi naik apa untuk menuju kota sebelah, sedangkan dia tidak punya uang sama sekali, dia baru bekerja di tempatku sayang, aku yang melihatnya merasa kasihan padanya, lalu aku memberikan tumpangan kepadanya, aku mengantarnya sampai ke rumahnya, lalu aku meninggalkannya di sana, hanya itu sayang." Terang Abhi.
" Itu hanya alasanmu saja, padahal kau senang berduaan bersama dia, atau mungkin kau berniat menjalin hubungan dengannya." Sahut Sevia.
" Tidak sayang! Aku tidak memiliki perasaan apapun padanya, yang ada dalam hatiku adalah kamu dan anak kita." Ucap Abhi mengelus perut Sevia.
" Aku tidak percaya! Sudah lah minggir! Aku capek mau tidur." Ucap Sevia kesal.
" Baiklah tidurlah dulu! Aku akan memelukmu." Ucap Abhi.
" Tidak perlu, aku lagi malas sama kamu." Cebik Sevia menjauhkan tangan Abhi dari perutnya.
Abhi hanya menghela nafas saja. Ia tidak mau membuat Sevia semakin emosi. Ia tidur terlentang menatap langit langit kamar.
Beberapa saat kemudian, terdengar dengkuran Sevia itu tandanya Ia sudah tidur. Dengan pelan Abhi memeluknya dari belakang.
Sore hari Sevia bangun dari tidurnya, ia merasa perutnya terasa berat.
" Ini pasti Abhi, rese' banget sih jadi orang!" Gerutu Sevia menjauhkan tangan Abhi.
Sevia turun dari ranjang lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi. Setelah selesai, ia pergi ke dapur ingin membuat makanan.
Namun tiba tiba ia ingin makan bakso dengan kuah yang sangat pedas.
" Duh kaya'nya enak nih makan bakso, tapi mau minta Abhi gengsi, gimana ya? Apa aku beli sendiri saja ya, ah tapi nggak ayik kalau nggak ada temannya." Monolog Sevia.
Sevia kembali ke kamarnya. Ia terpaksa membangunkan Abhi untuk mengantarnya.
" Yank bangun!" Sevia mengguncang pelan tubuh Abhi.
" Apa sayang." Abhi membuka matanya menatap Sevia.
" Antar aku beli bakso." Ujar Sevia.
" Kamu ingin makan bakso? Kenapa tidak makan nasi saja biar kenyang." Ujar Abhi.
" Kalau nggak mau ngantar ya udah nggak usah banyak alasan, aku beli sendiri saja." Ucap Sevia mengerucutkan bibirnya.
" Eh jangan donk Yank! Baiklah aku akan mengantarmu, tunggu aku mandi dulu ya." Ucap Abhi.
Abhi mengecup kening Sevia, lalu ia masuk ke kamar mandi.
Setelah Abhi selesai mandi, mereka berangkat menuju kedai bakso yang ada di alun alun kota. Setelah sampai mereka segera memesan dua mangkok bakso tanpa mie.
Tak lama pesanan mereka datang.
" Sayang kenapa sambalnya banyak sekali? Nanti perut kamu sakit lhoh." Ujar Abhi saat Sevia menuang tujuh sendok sambal hingga membuat kuah baksonya berwarna merah menyala.
" Aku inginnya yang pedas gini Yank." Sahut Sevia.
__ADS_1
" Kasihan anak kita sayang, dia akan kepanasan di dalam sana, kalau dia kenapa napa gimana?" Abhi menatap Sevia begitupun sebaliknya.
" Tapi kan anak kita juga pengin makan." Ujar Sevia.
" Baiklah kau bisa makan, tapi hanya di makan bakso nya saja, jangan sama kuahnya ya." Ucap Abhi memberi tawaran.
" Baiklah." Sahut Sevia.
Keduanya makan dengan khidmat. Abhi melihat Sevia makan malah merasa ngeri sendiri.
" Pedes nggak Yank?" Tanya Abhi konyol.
" Enggak! Manis malahan." Sahut Sevia.
" Masa' sih." Ujar Abhi.
" Cobain sendiri kalau nggak percaya." Sahut Sevia.
Abhi mencoba bakso milik Sevia tiba tiba...
Uhuk uhuk uhuk....
Abhi tersedak karena saking pedasnya bakso yang di makan Sevia.
" Minum Yank." Sevia memberikan segelas es teh kepada Abhi.
Abhi menghabiskan es teh Sevia.
" Sayang ini terlalu pedas, udah makannya! Makan punya aku aja! Perutmu bisa sakit kalau menghabiskan semuanya, lagian anak kita bakalan kepanasan seperti cacing kepanasan di dalam sana." Ujar Abhi menukar mangkok baksonya.
" Tapi aku...
Dengan perasaan dongkol, Sevia memakan bakso milik Abhi. Bakso bening tanpa tambahan apapun.
Saat mereka sedang makan, tiba tiba ada yang menghampiri Abhi.
" Tuan Abhi ada di sini?" Tanya seorang wanita sambil duduk di meja depan Abhi.
Sevia menatap wanita itu, wanita paruh baya dengan rambut hitam panjang, dan riasan natural di wajahnya membuatnya nampak cantik di usianya.
" Iya." Sahut Abhi.
Wanita itu menatap Sevia.
" Ini istri anda Tuan?" Wanita itu menunjuk Sevia.
" Iya kenalkan dia istriku." Sahut Abhi.
" Perkenalkan nyonya, saya Nina sekretaris baru tuan Abhi." Ucap wanita itu sambil mengulurkan tangannya.
" Nina? Sekretaris Abhi?" Sevia mengerutkan keningnya.
" Iya nyonya." Sahut Nina.
" Saya Sevia." Sahut Sevia membalas uluran tangannya.
Sevia menatap Abhi yang terlihat seperti sedang menahan tawanya.
" Saya ingin mengucapkan banyak terima kasih pada tuan Abhi, Nyonya, beliau sudah menolong saya dengan memberikan tumpangan kepada saya, kalau tidak ada Tuan Abhi, saya tidak bisa melihat ayah saya untuk yang terakhir kalinya." Ucap Nina.
__ADS_1
" Maksudmu ayahmu sudah tidak ada? Dia sudah meninggal?" Tanya Abhi memastikan.
" Iya Tuan, setelah Tuan Abhi pergi, ayah saya menghembuskan nafas terakhirnya." Sahut Nina.
" Saya turut berduka cita Nina, semoga ayahmu pergi dengan khusnul khotimah." Ucap Abhi.
" Amin, terima kasih Tuan." Sahut Nina.
" Sama sama." Sahut Abhi.
" Kalau begitu saya permisi Tuan, Nyonya, sekali lagi Terima kasih banyak, saya doakan semoga kalian berbahagia." Ucap Nina undur diri.
" Terima kasih." Sahut Abhi.
Sevia menatap kepergian Nina.
" Kamu cemburu padanya? Kamu cemburu pada tante tante itu?" Tanya Abhi dengan senyumannya.
Sevia menatap Abhi sambil mengerucutkan bibirnya.
" Jangan gitu Yank! Nanti aku khilaf." Ucap Abhi.
" Tau ah." Sahut Sevia.
" Kamu cemburu tanpa alasan Yank." Kekeh Abhi melebarkan senyumannya .
Sevia melotot menatap Abhi membuat nyali Abhi menciut.
" Ngomong sekali lagi nggak akan aku kasih jatah kamu Yank." Ancam Sevia.
" Eh jangan gitu donk! Baiklah baiklah aku akan diam mengunci rapat bibirku." Ucap Abhi memperagakan mengunci di depan bibirnya.
Sevia melanjutkan makannya.
" Sial!... Gue cemburu sama aunti aunti, gila... menurunkan pamor gue aja." Cebik Sevia dalam hati.
Selesai makan keduanya pulang ke rumah, Abhi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
" Yank ngomong sesuatu lah! Jangan diam gitu! Kamu malu ya ketahuan cemburu sama tante tante, aku nggak suka yang lainnya Yank, aku hanya suka kamu." Ujar Abhi menggoda Sevia.
" Nggak ada jatah selama sebulan." Sahut Sevia.
" Astaga gue lupa kalau nggak boleh ngomong itu lagi." Batin Abhi merutuki kebodohannya.
" Yank nggak boleh gitu donk, jatah tetap berjalan sesuai biasanya." Ucap Abhi.
" Nggak ada."
Abhi menghela nafasnya pasrah pada keadaan saja. Ia fokus pada kemudi nya, ia akan merayu Sevia kalau sudah sampai rumah nanti.
Jangan lupa untuk tekan like, koment vote dan 🌹nya buat author...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author, semoga sehat selalu...
Miss U All....
**TBC...
Yang belum mampir di Affair with you, author tunggu ya**....
__ADS_1