
Hari ini Sevia dan Abhi hendak berangkat ke sekolah. Mereka berdebat soal keberangkatan sekolah mau gimana.
" Kita berangkat bareng aja naik mobilmu, biar aku bisa jagain kamu." Ucap Abhi.
" Bilang aja kalau lo mau nebeng mobil gue." Sahut Sevia.
" Kalau enggak pakai motor aku aja, kamu belum pernah kan ke sekolah naik motor." Ujar Abhi menunjuk motor cb nya.
" Gue tuh nggak mau berangkat bareng lo Abhi, apa kata teman teman kalau kita yang notabennya seorang musuh berangkat bareng? Bisa bisa mereka curiga sama hubungan kita nanti, gue nggak mau ya kalau sampai teman teman tahu soal pernikahan kita ini." Sahut Sevia.
” Nanti aku turun di depan alfa dekat sekolah, jadi nggak ada yang tahu kalau kita berangkat bareng dari rumah." Ujar Abhi.
" Gue tetap nggak mau, udah deh nggak usah banyak debat, lo pergi dulu aja nanti gue belakangan, lagian masih jam enam lebih juga, gue mau bersantai dulu." Ujar Sevia membuka pintu mobilnya.
"Kamu harus berangkat bareng aku, mulai hari ini kamu tidak akan terlambat lagi, kalau kamu nggak mau satu mobil atau naik motor sama aku, aku akan mengikuti mobilmu dari belakang, yang penting aku bisa memastikan kalau kamu berangkat sekolah dengan aman, ini sudah menjadi tugasku sebagai suamimu." Tekan Abhi.
" A...
" Tidak ada protes, sekarang jalan!" Sahut Abhi memotong ucapan Sevia.
Sevia masuk ke dalam mobil dengan perasaan kesal lalu ia mulai melajukan mobilnya ke jalan raya.
" Lo mau mengikuti gue dari belakang kan? Gue pengin lihat bagaimana lo bisa ngejar gue." Sevia tersenyum smirk melihat Abhi dari spion.
Bum.....
Sevia menginjak pedal gasnya membuat jarum di spedometernya naik ke angka seratus dua puluh.
" Astaga Sevia, kenapa kau malah ngebut? Kau membahayakan dirimu sendiri, ya Tuhan lindungi istriku yang sedikit bandel itu." Gumam Abhi menambah kecepatannya.
Sevia tersenyum penuh kemenangan setelah motor Abhi tidak terlihat lagi.
Lima menit Sevia sampai di sekolah. Ia turun dari mobil berpapasan dengan Riana.
" Wow.... Ada angin apa nih guys? Si ratu telat sampai di sekolah lebih awal." Ucap Riana membuat teman temannya yang lewat menatap ke arah Sevia.
" Apa lo salah melihat jam Sevia? Lo pasti berpikir kalau saat ini sudah jam tujuh, salah... Sekarang masih jam enam dua puluh menit." Ucap Riana.
Sevia memutar bola matanya malas. Ia malas meladeni Riana pagi pagi gini.
" Kenapa lo diem? Benar kan dugaan gue?" Ujar Riana.
__ADS_1
Merasa di remehkan, Sevia maju menatap tajam ke arah Riana.
" Memangnya apa urusan lo? Mau gue telat, mau enggak, itu nggak ada ruginya kan buat lo? Berhenti mengurusi urusan orang lain, urus urusan lo sendiri." Ucap Sevia.
" Ya gue cuma heran aja, apa setelah kejadian buruk yang menimpa lo kemarin membuat lo ingin menjadi siswa yang baik? Tidak bisa Sevia.... Sekali tercoreng maka selamanya nama lo akan tercoreng, lo udah di cap sebagai wanita murahan dan tidak tahu malu, lo menggoda Abhi tapi lo nuduh Abhi yang melakukan hal itu, seharusnya lo pindah sekolah aja, dasar nggak punya malu." Cebik Riana.
" Tahu apa lo soal kebenaran masalah gue? Dan siapa lo berani menilai sikap gue? Lo bukan orang penting yang bisa menilai gue sembarangan, bukannya lo yang murahan? Lo yang ngejar ngejar Abhi kan? Padahal Abhi nggak suka sama lo, dasar murahan." Ucap Sevia tersenyum sinis.
Teman teman mereka memandang Riana dengan tatapan meremehkan.
" Sialan lo." Umpat Riana hendak menyerang Sevia namun Sevia menangkis tangan Riana lalu sedikit mendorongnya hingga membuatnya jatuh tersungkur ke paving.
" Awh." Pekik Riana.
" Sevia apa yang kau lalukan?" Abhi yang melihat Sevia mendorong Riana pun menghampirinya.
" Lihatlah Abhi cewek kasar ini! Dia mendorongku sampai lututku berdarah, lo harus hukum dia atas perbuatannya ini." Ucap Riana menunjuk lututnya yang lecet.
Abhi menatap Sevia begitupun sebaliknya.
" Kau tidak boleh bersikap kasar sama orang lain Se, dia temanmu, teman kita, tidak seharusnya kau mendorongnya, minta maaf padanya aku tidak akan menghukummu." Ucap Abhi.
" Dan satu hal yang harus lo tahu, gue tidak sudi minta maaf padanya, kalau lo mau nge hukum gue lakukan saja! Dengan senang hati gue akan melakukannya, Abhisek Rodeo." Tekan Sevia meninggalkan mereka semua dengan perasaan kesal.
" Lo ngehancurin mood gue Abhi.... sek." Geram Sevia.
Abhi menatap punggung Sevia dengan perasaan bersalah.
" Siapa yang menyerang lebih dulu?" Tanya Abhi menatap teman temannya yang lain.
" Riana." Sahut salah satu temannya.
" Kau obati lukamu sendiri, lain kali jangan menuduh orang lain untuk kesalahan yang kau lakukan, itu tidak baik, dan ya.... Berhenti mengangguku ataupun mengganggu Sevia, karena aku tidak tertarik padamu." Abhi pergi menyusul Sevia.
Riana mengepalkan erat tangannya.
Di dalam kelas Sevia duduk di bangkunya sambil memainkan ponselnya. Headset bluetooth menempel pada kedua telinganya.
" Se." Panggil Abhi namun Sevia tidak menghiraukan nya.
Ia menggeleng gelengkan kepalanya mengikuti alunan musik.
__ADS_1
Mumpung kelas masih sepi, Abhi mendekati Sevia, ia berdiri di depan Sevia membuat Sevia menghela nafasnya.
" Aku minta maaf." Ucap Abhi.
Sevia mendongak lalu ia kembali fokus pada ponselnya.
Abhi mencopot headset yang ada di telinga Sevia dengan cepat.
" Apaan sih." Sevia berdiri merebut headsetnya.
" Kalau suami lagi ngomong tuh di dengerin, jangan malah asyik sendiri." Ucap Abhi.
" Berhenti mengucapkan kata suami, di sekolah lo bukan siapa siapa gue, paham." Sevia menekan dada Abhi.
" Aku minta maaf." Ucap Abhi.
" Untuk apa? Untuk mengganggu ketenangan gue atau lo minta maaf karena udah ngebelain cewek rese' itu." Ucap Sevia.
" Aku minta maaf karena udah menyalahkan kamu tanpa tahu yang sebenarnya, aku hanya kasihan saja sama Riana tadi makanya aku membelanya." Ucap Abhi.
" Heh kasihan.... Kalau mau cari alasan yang bermutu donk." Ucap Sevia.
" Memang itu alasannya, aku tahunya kamu yang salah makanya aku kasihan padanya." Sahut Abhi.
" Ya terserah lo saja, gue maafin lo tapi jangan ganggu ketenangan gue di sini, kembali ke tempat lo sebelum ada yang lihat." Sahut Sevia.
Abhi duduk di kursinya, tak lama anak anak mulai berdatangan.
Abhi menatap Sevia yang masih asyik dengan ponselnya.
" Kesalahan pertama yang aku lakukan di hari pertama pernikahan kita adalah menuduhmu menyakiti Riana, aku akan memperbaiki kesalahan itu." Batin Abhi.
Udah double up nih?
Mau cuz bucin atau otw dulu pelan pelan?
Kasih tahu jawaban kalian di kolom komentar ya...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author, semoga sehat selalu...
Miss U All...
__ADS_1