Musuh Tambatan Hatiku

Musuh Tambatan Hatiku
Murid Baru


__ADS_3

Jam pelajaran di mulai, pak Desfian masuk ke kelas bersama dengan seorang siswa uang berperawakan tinggi semampai dan berkulit putih bersih, membuatnya terlihat sangat tampan.


" Pagi anak anak." Sapa pak Desfian.


" Pagi Pak." Sahut semuanya.


" Sebelum pelajaran di mulai, saya ingin memberitahu kalian kalau di kelas ini ada siswa baru, silahkan perkenalkan dirimu kepada teman teman." Ucap pak Desfian.


" Hai semua." Sapanya.


" Hai." Sahut semua.


" Perkenalkan nama saya Ezzar Maulana, kalian bisa memanggilku Ezzar, aku baru pindah dari kota B, salam kenal semuanya." Ucap siswa bernama Ezzar.


" Salam kenal." Sahut semua.


" Sev." Hana menyenggol lengan Sevia.


" Apa?" Tanya Sevia.


" Ganteng banget Sev, ya Tuhan.... Inikah jodoh yang Kau kirimkan untukku? Sev ganteng banget Sev, membuat jantung gue berdebar kencang, tapi tetap gantengan Abhi si." Ujar Hana.


" Biasa aja." Sahut Sevia.


" Ganteng lah, sebelas dua belas belas sama Abhi gitu kok." Ujar Hana.


" Bodo' ah." Sahut Sevia nggak mau ambil pusing.


" Ezzar silahkan duduk di meja sebelah Sevia." Ucap pak Desfian menunjuk kursi kosong.


" Iya Pak, terima kasih." Sahut Ezzar.


Ezzar menuju kursi yang di tunjuk pak Desfian, tak sengaja tatapannya bertemu dengan tatapan Sevia.



" Hai, aku Ezzar, kamu Sevia?" Ucap Ezzar memastikan.


" Hmm." Gumam Sevia cuek.


Ezzar tersenyum lalu duduk di kursinya.


Pelajaran berlangsung dengan tenang hingga bel istirahat berbunyi.


" Selamat istirahat anak anak." Ucap pak Desfian keluar ruangan.


" Sev kita ke kantin yuk." Ajak Hana.


" Iya bentar." Sahut Sevia.


" Sevia, apa gue boleh gabung sama kalian?" Tanya Ezzar menatap Sevia.


" Iya boleh kok." Sahut Hana.


" Makasih ya." Ucap Ezzar.

__ADS_1


" Iya." Sahut Hana.


Ketiganya pergi menuju kantin. Abhi menatap kepergian Sevia dengan perasaan kesal.


" Ngapain lo cuma lihatin doank? Buruan ikuti dan pantau dia, entar Sevia di embat anak baru itu lagi." Ujar Reno.


" Ayo." Ajak Abhi.


Tanpa pikir panjang keduanya menyusul Sevia ke kantin.


Di kantin Sevia, Hana dan Ezzar sedang memakan pesanan mereka, yaitu semangkok bakso dan jus strowberry.


" Sevia kalau boleh tahu, rumah lo dimana?" Tanya Ezzar.


" Nggak gue bawa." Sahut Sevia membuat Ezzar terkekeh.


" Gue tahu kalau nggak lo bawa, maksud gue alamatnya dimana?" Tanya Ezzar.


" Memangnya mau apa lo nanya alamat gue? Jangan bilang lo mau main ke sana, gue nggak nge bolehin, nyokap gue galak." Sahut Sevia.


" Ya nggak pa pa, kalau enggak lo aja yang main ke rumah gue gimana? Gue tinggal di kompleks residense xx."


Uhuk uhuk uhuk...


Ucapan Ezzar membuat Sevia tersedak kuah baksonya.


" Hati hati Sev." Ucap Hana memberikan jusnya.


Sevia segera meminumnya hingga tandas.


Sebenarnya Abhi yang melihat Sevia tersedak ingin memberikan minumannya, namun di tahan oleh Reno.


Sevia menatap Ezzar ingin memastikan sesuatu.


" Lo tinggal di sana? Nomer berapa?" Tanya Sevia.


" Nomer dua." Sahut Ezzar.


" Apa? Nomer dua?" Pekik Sevia membuat semua yang ada di sana menoleh ke arahnya.


" Sorry." Ucap Sevia.


" Iya, memangnya kenapa? Apa kau juga tinggal di sana?" Tanya Ezzar.


" Ah tidak tidak." Sahut Sevia.


" Tetanggaku namanya pak Anton, dia punya anak seumuran kita tapi beberapa hari yang lalu dia sudah menikah dan sekarang dia ikut suaminya." Ujar Ezzar.


" Haduh Papa.... Kenapa Papa harus memberitahu Ezzar, apa Papa nggak tahu kalau Ezzar sekolah di sini." Batin Sevia.


" Dan gue dengar kalau anaknya pak Anton sekolah di sini." Sambung Ezzar.


Sevia dan Hana saling melempar tatapan.


" Tapi sayang sekali, gue nggak nanya namanya siapa dan kelas berapa." Ujar Ezzar membuat Sevia bernafas lega.

__ADS_1


" Ya udah kita lanjut makan saja." Ucap Hana.


" Sev gue minta nomer telepon lo donk, kalau gue mengalami kesulitan di sekolah ini, gue mau minta bantuan lo." Ujar Ezzar.


" Boleh." Sahut Sevia memberikan nomer ponselnya.


Setelah selesai makan ketiganya kembali ke kelas.


" Han gue mau ke toilet dulu, kalian duluan aja." Ucap Sevia berbelok ke toilet.


Saat Sevia melewati lorong gudang tiba tiba ada yang menarik tangannya.


" A... To....." Teriak Sevia.


Abhi segera membungkam mulut Seviadengan tangannya sebelum yang lainnya mendengar teriakannya.


Sevia menatap Abhi sambil melotot.


" Apaan sih lo." Sevia menepis tangan Abhi.


" Kenapa kamu memberi nomer ponselmu kepada anak baru itu? Kamu suka padanya?Apa kamu lupa kalau kamu sudah punya suami? Apapun yang kamu lakukan harus seijin ku Se, termasuk memberikan nomer ponsel kamu sama dia." Ucap Abhi.


" Memangnya kenapa? Cuma tukar nomer ponsel doank! Kalaupun gue jalan sama dia, lo nggak bisa ngelarang gue." Sahut Sevia.


" Nggak bisa ngelarang kamu gimana? Aku punya hak penuh atas semua itu karena aku....


" Stop mengatakan suami, suami, suami! Gue muak mendengarnya, lo itu jadi suami hanya di atas kertas doank, jadi stop ngatur ngatur hidup gue!" Sahut Sevia memotong ucapan Abhi.


" Kamu tidak mendengarkan apa yang Mama katakan waktu itu? Kamu harus menurut sama aku, apalagi itu demi kebaikan Se. Tidak baik menjalin hubungan dengan pria lain setelah kamu menikah, itu dosa namanya." Ujar Abhi.


" Hubungan apa? Gue nggak ada hubungan apa apa kecuali pertemanan dengan Ezzar, jadi nggak usah sok posesif, dan satu lagi! Kalau sampai lo mengadukan sikap gue ke Mama, gue akan pergi dari rumah lo yang jelek itu." Ucap Sevia keluar dari sana dan....


" Lo ngapain keluar dari gudang? Lo mau nyuri sesuatu dari sana?" Sevia memutar bola matanya malas mendapat pertanyaan dari Riana.


Abhi keluar dari gudang membuat Riana melongo membulatkan matanya.


" A... Abhi... Kalian berdua ngapain di gudang hah?" Selidik Riana.


" Gue mau ngapain aja sama Abhi, bukan urusan lo, suka banget sih ngurusi urusan orang." Cebik Sevia meninggalkan mereka berdua.


" Abhi lo nggak kenapa napa kan? Apa Sevia menggoda lo lagi?" Tanya Sevia menyentuh lengan Abhi.


" Apaan sih pegang pegang." Abhi menepis tangan Riana.


" Gue cuma mau mastiin kalau lo baik baik saja." Ucap Riana.


" Gue baik baik saja, dan ingat satu hal Riana! Sevia tidak pernah menggoda gue, gue lah yang menggoda dia karena gue suka sama dia, jadi berhenti mengganggu hidup gue." Abhi meninggalkan Riana yang masih setia dengan keterkejutan nya.


" Abhi suka sama Sevia? Bagaimana bisa? Tidak.... Ini tidak boleh terjadi, gue harus lakukan sesuatu buat memisahkan mereka." Monolog Riana.


Coba tebak apa yang akan di lakukan Riana nih? Tulis di kolom komentar ya...


Jangan lupa like koment vote dan 🌹nya buat author ya....


Author ucapkan terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...

__ADS_1


Miss U All...


TBC....


__ADS_2