Musuh Tambatan Hatiku

Musuh Tambatan Hatiku
Perhatian Richard


__ADS_3

Malam ini Abhi menemani Barra yang sedang berguling guling di atas ranjang. Barra mulai bisa mengoceh dan sesekali tengkurap.


" Apa sayang? Kamu lapar? Haus?" Ucap Abhi seolah olah Barra bisa menyahut nya.


" Aha ha ha ha." Bara nampak tertawa sambil menggejolkan kedua kakinya.


" Duh anak Daddy gemesin deh." Abhi mencubit pelan pipi Barra.


" Dad makananya udah siap." Ucap Semua masuk ke dalam.


" Kamu duluan gih yang makan! Aku jagain Barra dulu." Ujar Abhi.


" Aku udah makan barusan Dad." Sahut Sevia duduk di tepi ranjang.


" Baiklah." Sahut Abhi.


" Sayang... Daddy makan dulu ya, kamu main sama Mommy." Abhi mencium pipi Barra.


" Barra minum asi dulu yuk! Terus tidur." Sevia segera menyusuinya.


Barra terus menatap mata Sevia, Sevia menggigit gigit pelan tangan mungil Barra.


" Anak Mommy udah besar ya, sebentar lagi merangkak terus berjalan." Ucap Sevia.


Abhi kembali ke kamarnya.


" Udah makannya?" Tanya Sevia menatap Abhi.


" Udah." Sahut Abhi duduk di sebelah Sevia.


" Anak Daddy kelaparan apa gimana nih? Kok minumnya banter banget." Ujar Abhi.


" Iya Dad, aku baru lari marathon." Sahut Sevia.


" Wah.. Sampai mana larinya?" Tanya Abhi.


" Sampai ke hati Daddy dan nggak bisa keluar lagi." Sahut Sevia.


Abhi menatap Sevia begitupun sebaliknya. Abhi memajukan wajahnya mengecup bibir Sevia.


" Dad ada Barra lhoh." Ucap Sevia.


" Nggak pa pa, Barra belum tahu soal beginian, lagian Barra pasti senang melihatnya daripada melihat kita berantem, ya nggak sayang." Sahut Abhi menatap Barra.


Barra tersenyum ke arahnya.


" Eh dia senyum sayang." Ucap Abhi.


" Iya, mungkin dia paham apa yang kamu katakan Dad." Sahut Sevia.


" Daddy bahagia sayang bisa memiliki kalian berdua, cepat besar ya sayang biar Daddy bisa bikin adik lagi buat Barra." Ujar Abhi.


" Anak satu masih kecil Dad udah mikirin adik." Sahut Sevia.

__ADS_1


" Makanya aku suruh cepat besar sayang." Sahut Abhi kembali mencium bibir Sevia.


Abhi menatap Barra yang memejamkan mata.


" Yank Barra udah tidur, kita main yuk!" Ucap Abhi menatap Sevia.


" Sebentar Mas aku tidurin Barra dulu." Sevia menidurkan Barra di boxnya.


Sevia duduk di samping Abhi, Abhi menatapnya dengan penuh cinta. ia mendorong pelan tubuh Sevia lalu mengukungnya.


Cup...


Abhi mengecup bibir Sevia membuatnya membuka mulutnya. Abhi mengekspos setiap inchinya, Sevia membalas ciuman Abhi dengan lembut. Suara decapan memenuhi kamar mereka.


Ciuman Abhi turun ke leher, ia menyesapnya membuat beberapa tanda merah di sana. Sevia mengeluarkan suara desah*n indahnya membuat jiwa kelakian Abhi semakin membara. Tangan Abhi meremas dua gundukan kembar milik Sevia membuat Sevia semakin menggila.


Tanpa mereka sadari kini keduanya sama sama polos. Abhi segera menuntun senjatanya menuju goa kenikmatan yang menjadi candunya.


" @hh." Des*h Sevia saat milik Abhi terbenam sempurna di bawah sana.


Abhi memacu tubuhnya dengan pelan. Ia memanjakan Sevia dengan penuh kelembutan. Suara erangan dan desa*han memenuhi kamar mereka.


Setelah mencapai puncak bersama sama, Abhi menyudahi permainannya. Ia merebahkan tubuhnya di samping Sevia.


" Terima kasih sayang." Abhi memeluk Sevia di balik selimutnya.


Keduanya terlelap menuju alam mimpi.


Huek... Huek...


Pagi ini Nada muntah di wastafel kamar mandinya. Richard segera menghampirinya.


" Sayang kamu muntah lagi." Richard memijat pelan tengkuk Nada. Nada menganggukkan kepalanya.


" Sayangnya Papi... Jangan nakal ya! Kasihan Mami kamu kalau setiap pagi harus muntah begini." Ucap Richard mengelus perut Nada dari belakang.


Nada membasuh mulutnya dengan air bersih. Ia mengusapnya menggunakan tisu.


" Sayang Mas nggak tega melihat kamu seperti ini! Maafkan Mas ya sayang, maafkan Mas yang telah membuatmu begini." Ujar Richard sedih sambil menangkup wajah Nada


Nada tidak menyangka jika orang yang kejam dengan musuhnya bisa se mellow ini.


" Mas jangan seperti itu! Aku merasa kamu menyesali perbuatanmu, seolah olah kamu tidak suka dengan kehadirannya padahal kamu sendiri yang bersikeras menginginkannya, aku tidak mau sampai anak kita mendengarnya Mas, kata orang jaman dulu namanya pamali ngomong begitu Mas, sama aja kamu nggak bersyukur dengan nikmat Tuhan yang di berikan kepada kita, aku tidak mau kalau sampai ucapanmu membuatnya meninggalkan kita, aku tidak mau kehilangannya Mas." Ucapan Nada menohok hati Richard. Ia tidak menyadari jika calon anaknya akan bisa memahami perbuatannya.


" Maafkan Mas sayang! Mas tidak akan mengulanginya lagi! Mas juga tidak mau kehilangannya, Mas sangat menantikan kehadirannya selama ini, dialah penguat hubungan kita." Ucap Richard memeluk Nada.


" Iya Mas, aku memaafkanmu." Sahut Nada.


" Mas buatkan susu khusus mual ya sayang." Ujar Richard.


" Iya Mas, aku mau yang rasa stroberi." Sahut Nada.


" Akan Mas buatkan, sekarang ayo kembali ke kamar." Richard menuntun Nada kembali ke ranjang.

__ADS_1


Setelah itu Richard ke bawah membuatkan susu untuk Nada. Sampai di ruang tamu ia menghentikan langkahnya saat melihat Yeni yang duduk manis di sana.


" Kamu." Tunjuk Richard.


Yeni beranjak menghampiri Richard.


" Pagi Mas Richard, aku ke sini mau mengantar makanan buat Mas Richard karena kebetulan saya masak banyak hari ini." Yeni menyodorkan kotak makan kepada Richard.


" Maaf Nona Yeni, saya bukan orang miskin yang kekurangan makanan, kau tidak perlu repot repot membawa makanan ke sini, jadi bawa kembali makanan anda dan berikan saja pada orang yang membutuhkan di luar sana." Tekan Richard.


" Tapi aku...


" Pergilah dari sini dan jangan ganggu kehidupanku dengan istriku! Atau kau akan menyesalinya Nona Yeni yang terhormat! Kau kemarin sudah membuat kesalahpahaman di antara kami dan aku tidak ingin istriku salah paham lagi akan hal ini, jadi sebelum istriku melihatnya silahkan keluar dari rumah saya." Tegas Richard.


" Aku ke sini juga ingin minta maaf karena kejadian kemarin Mas Richard." Ujar Yeni.


" Pergi sekarang juga!" Bentak Richard membuat Yeni berjingkrak kaget.


" Baiklah baiklah." Yeni segera keluar dari rumah itu.


" Bi Emi." Teriak Richard.


Bi Emi yang berada di dapur segera menghampiri Richard.


" Iya Den." Sahut bi Emi.


" Selalu kunci pintu dan jangan biarkan siapapun masuk ke dalam rumah ini! Kalau sampai wanita yang tinggal di rumah sebelah masuk lagi ke sini, bibi akan saya pecat." Ucap Richard.


" Baik Den." Bi Emi segera menuju pintu lalu menguncinya.


Richard melanjutkan langkahnya menuju dapur. Setelah membuat susu Richard kembali ke kamarnya.


" Ini sayang susunya." Richard memberikan segelas susu stroberi kepada Nada.


" Mas aku mendengar kamu berteriak, ada apa?" Tanya Nada.


" Tetangga sebelah datang ke sini membawa makanan untuk Mas, emangnya Mas kekurangan makan apa, bahkan uang Mas jauh lebih banyak darinya." Sahut Richard.


" Mungkin dia tertarik padamu Mas, makanya ingin mencari perhatianmu." Ujar Nada.


" Mas nggak tertarik sama sekali dengan wanita murahan sepertinya, sama sekali tidak punya harga diri! Mending istri Mas yang cantik ini, yang selalu bisa menjaga dirinya dari pria manapun, bahkan Mas sangat susah mendapatkannya sampai Mas melakukan berbagai cara supaya kau mau membalas cinta Mas." Ujar Richard.


" Tapi sekarang bahagia kan cintanya udah terbalas." Ucap Nada.


" Sangat bahagia donk sayang... Terima kasih sudah membalas cinta Mas, Mas berharap kita akan hidup bahagia selamanya." Ucap Richard.


" Amin." Sahut Nada.


TBC....


Terima kasih untuk kalian semua yang telah mensuport author semoga sehat selalu...


Miss U All...

__ADS_1


__ADS_2