Musuh Tambatan Hatiku

Musuh Tambatan Hatiku
Perhatian atau Posesif?


__ADS_3

Richard masuk ke dalam kamarnya menghampiri Nada yang sedang duduk bersandar di atas ranjang sambil memainkan ponselnya.


" Sayang... Jangan mainan ponsel terus donk! Kamu nggak boleh duduk lama lama gitu, kasihan anak kita nanti, dia nggak nyaman di dalam sana Yank." Richard mengambil ponsel dari tangan Nada.


" Mas aku lagi ngegame ih! Kamu ganggu aja!" Ujar Nada.


" Tiduran yang benar, biar oksigen yang masuk ke anak kita lancar sayang." Richard mengelus kepala Nada.


Nada memutar bola matanya malas. Pasalnya semakin ke sini Richard sama persis seperti emak emak, yang selalu bilang nggak boleh ini nggak boleh itu membuat Nada jelous.


" Sayang kok malah diam aja, lurusin punggung kamu biar anak kita enakan." Ucap Richard.


" Mas aku baru hamil beberapa minggu bukan beberapa bulan, anak kita juga masih berbentuk gumpalan belum berbentuk seorang bayi Mas, jadi kamu nggak usah cemas! Masa' apa apa di larang,nggak boleh ini nggak boleh itu lama lama aku sebel tahu nggak Mas sama kamu." Nada mengeluarkan kekesalannya.


" Sayang, kamu berani ngomong begitu sama Mas? Kamu nggak boleh meninggikan suaramu kepada suamimu sayang, dosa... Tapi kali ini tidak apa Mas memaafkannya karena Mas memaklumi kamu yang sedang hamil, emosimu labil saat ini." Ujar Richard.


" Astaga.... Aku nggak hamil aja dia posesif, apalagi sekarang ini, lama lama aku akan menjadi seekor kucing yang manis dan penurut kepadanya, pus.. pus... meong meong." Batin Nada.


Melihat Nada yang diam saja, Richard duduk di tepi ranjang, ia menggenggam tangan Nada.


" Sayang maafkan Mas! Mas tidak bermaksud memarahi kamu, jangan bersedih ya!" Richard mengelus pipi Nada.


" Nggak pa pa kok Mas, emang aku yang salah, maaf ya!" Ucap Nada.


" Mas maafin sayang, sekarang berbaring yang benar ya, Mas tidak mau kalau sampai anak kita kenapa napa, Mas sangat menantikan kehadirannya selama ini sayang, kita harus benar benar menjaganya dengan baik, kamu paham kan?" Richard berkata dengan lembut.


" Iya Mas." Sahut Nada.


Nada tidur terlentang menatap langit langit kamar, sedangkan Richard mengelus elus kepalanya.


" Sayang mulai besok kita akan pindah kamar, kita tempati kamar tamu sampai kamu melahirkan ya, Mas tidak mau kamu kecapekan naik turun tangga, Mas khawatir kamu kenapa napa sayang." Ucap Richard.


" Terserah kamu aja Mas! Lakukan yang terbaik untuk kita semua!" Sahut Nada.


" Tentu sayang." Sahut Richard terus mengelus kepala Nada.


" Oh ya sayang, kapan Mas harus menyiapkan kamar untuk anak kita? Sebenarnya Mas mau menyiapkan sekarang tapi Mas bingung karena kita belum tahu dia laki laki atau perempuan." Ujar Richard.


" Kita siapkan pas kehamilanku menginjak delapan bulan aja Mas jadi biar jelas kita akan mendekorasi karakter cewek atau cowok." Sahut Nada.


" Baiklah, Mas sudah tidak sabar menanti hari itu tiba, hari dimana Mas bisa menggendong anak kita untuk yang pertama kalinya." Ucap Richard.


" Kita masih harus menunggu sekitar tujuh bulan lagi Mas, masih lama." Ujar Nada.

__ADS_1


" Tidak apa sayang, waktu tujuh bulan itu sangat sebentar, bahkan Mas menunggu selama enam tahun lamanya." Sahut Richard.


Nada mendongak menatap mata Richard. Mata yang selalu memancarkan cinta di dalamnya.


" Terima kasih Mas sudah sabar menantiku selama itu." Ucap Nada.


" Apapun untukmu sayang karena hanya kamu yang berarti dalam hidup Mas, yang lainnya hanya berlalu begitu saja." Sahut Richard.


Richard membungkuk memajukan wajahnya hingga...


Cup...


Richard mengecup bibir nada.


" Mas akan menyiapkan makan siang untukmu, apa kau ingin memakan sesuatu?" Richard menatap Nada.


" Aku ingin ayam geprek Mas yang pedes banget." Ujar Nada.


" Big No! Kamu nggak boleh makan pedas sama asam lagi, Mas nggak mau kalau kesehatanmu memburuk karena itu, kau akan muntah muntah karena asam lambung kamu naik seperti kemarin." Sahut Richard.


Nada hanya bisa menghela nafasnya saja. Ya.. Setelah makan rujak belimbing wuluh Nada terkena penyakit asam lambung, ia terus muntah sampai sore hari. Hal itu membuat Richard marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga Nada dengan baik.


" Kamu harus banyakin makan sayuran sama buah sayang biar kamu sama anak kita sehat, Mas sudah menyuruh bi Emi membuatkan sayur bayam dan ayam goreng untuk makan siang kamu." Ujar Richard.


" Yang ikhlas donk sayang! Jangan cemberut gitu! Mas akan membelikanmu apapun kalau itu baik untuk kesehatanmu, sekarang tersenyumlah! Karena senyumanmu mengalihkan duniaku." Richard mengelus pipi Nada.


Nada tersenyum kecut ke arahnya. Richard menggelengkan kepalanya meninggalkan kamarnya.


" Seperti orang sakit apa apa nggak boleh." Gerutu Nada.


Tak lama Richard kembali membawa sepiring nasi, tiga potong ayam goreng dan semangkuk sayur bening bayam.


" Sekarang makanlah yang banyak biar sehat dan anak kita cepat besar." Richard duduk di sofa.


Nada segera menghampirinya, ia duduk di samping Richard.


" Sini Mas suapi." Ujar Richard.


Richard menyodorkan sesendok makanan ke mulut Nada, Nada segera menerimanya memang ia merasa lapar.


" Gimana enak kan?" Tanya Richard.


" Nggak enak, nggak ada sambalnya." Sahut Nada.

__ADS_1


" Kalau bi Emi masaknya nggak enak, Mas akan memecatnya."


" Eh nggak perlu Mas! Masakannya enak cuma ada yang kurang aja karena nggak ada sambalnya, itu doank." Sahut Nada.


" Main pecat orang sembarangan." Gumam Nada.


" Baiklah kalau begitu makan lagi, habiskan semua makanan ini." Ujar Richard.


Nada melongo menatapnya.


" Kenapa sayang?" Tanya Richard.


" Makanan sebanyak ini kamu suruh aku menghabiskannya? Ya nggak bisa lah Mas! Memangnya perutku sebesar apa? Kamu ini kalau nyuruh nggak kira kira." Ujar Nada.


" Kalau nggak habis biar Mas yang menghabiskannya." Sahut Richard.


" Mana boleh begitu? Masa' kamu makan sisaanku, kamu ambil sendiri aja Mas." Ujar Nada.


" Memangnya kenapa? Kita itu satu sayang, jadi apapun yang kamu nggak bisa Mas akan membereskannya, lagian ini hanya sisaan bukan bekasan." Sahut Richard.


Nada menatap Richard dengan penuh kekaguman.


" Ya Tuhan sebesar itukah cinta Mas Richard untukku? Dia bahkan rela melakukan apapun untukku, lihatlah papimu sayang! Dia sangat menyayangi kita, mami sangat bahagia memiliki suami seperti paling, semoga cintanya untuk kita tidak akan pernah luntur di makan waktu, aku mencintaimu Mas." Batin Nada mengelus perut ratanya.


Tak terasa air mata menetes begitu saja.


" Sayang kamu nangis? Kenapa hm? Apa Mas melukai perasaanmu? Maafkan Mas kalau ucapan Mas menyinggung perasaanmu." Richard nampak cemas. Ia meletakkan piringnya di atas meja lalu mengusap air mata Nada.


" Aku nggak pa pa Mas, aku hanya merasa bahagia karena memiliki suami yang sangat mencintaiku sepertimu, aku sadar kalau aku tidak akan bisa hidup tanpamu, tetaplah bersamaku dan jangan pernah tinggalkan aku sendirian Mas." Ucap Nada.


" Mas akan selalu berada di sampingmu dan selalu bersamamu sayang, Mas tidak akan pernah meninggalkanmu apapun yang terjadi sampai jiwa ini berhenti bernafas." Richard mencium kening Nada lalu memeluknya.


" Terima kasih Mas." Ucap Nada.


" Hmm." Gumam Richard.


Sweet nggak nih?


Jangan lupa tekan like komen vote dan kasih 🌹yang banyak buat author lho...


Terima kasih untuk kalian semua yang telah mensuport author semoga sehat selalu...


Miss U All.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2